TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 17


__ADS_3

Tiga puluh menit sebelumnya.


"Risya..."


Seketika Risya menghentikan langkahnya mendengar suara itu. Menoleh ke belakang, di mana sosok pria paruh baya kini menatapnya.


"Kakek," Risya segera mendekat. Membantu Sang Kakek mendekati sofa.


Pria paruh baya itu mendudukkan diri perlahan di atas sofa tunggal. Masih menatap penuh tanya pada cucunya yang terlihat begitu rapi pagi ini.


"Kamu mau ke mana?" Kakek Lingga dengan tatapan curiga. Tidak biasanya cucunya itu berpenampilan begitu rapi di pagi hari. Apalagi saat ini jam masih menunjukkan pukul 8 pagi.


Masih terlalu dini untuk keluar jalan-jalan.


Sesaat Risya diam. Bukan tak ingin mengatakan tujuannya pada Sang Kakek, hanya saja lidahnya terasa berat untuk mengutarakan kata-kata itu.


"Pagi ini aku akan ke rumah sakit. Dokter Atif menelepon semalam dan mengatakan jika ada hal penting mengenai kesehatan Kakek yang lupa ia sampaikan semalam." ujar Risya berbohong.


Kakek Lingga terlihat mengangguk mengerti, "baiklah. Segera kembali saat selesai berbicara dengan Dokter Atif, Kakek tidak bisa tenang jika kamu terlalu lama di rumah sakit itu."


Risya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya.


"Baik, kakek. Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku akan segera kembali."


Kakek Lingga menatap dalam diam punggung Risya yang perlahan menghilang dari balik pintu. Pria paruh baya itu hanya menatap datar hal tersebut, bukan tanpa sebab ia mengingatkan pada Risya agar kembali dengan cepat ke rumah.


Mengingat sosok yang ia lihat beberapa hari sebelumnya di rumah sakit, membuat Kakek Lingga tidak tenang jika Risya ingin pergi ke rumah sakit.


'Saudara kembar berbahaya itu harus menjauh sejauh mungkin dari keluarga ini. Tidak akan aku biarkan mereka mendekat,' batin Kakek Lingga memegang kuat tongkat kayu di tangannya.


"Kakek!" Sosok wanita tiba-tiba berhambur ke pelukan Kakek Lingga, membuat pria paruh baya itu terkejut lalu tersenyum bahagia saat mengetahui siapa yang memeluknya.


"Ah, cucuku Liona." ucap Kakek Lingga dengan senyum cerah di bibirnya. Memeluk erat cucu perempuannya yang telah lama tidak ia lihat.


"Kakek sangat merindukanmu," ucapnya lagi. Tak peduli sekitar, bahkan tak menyadari sosok yang berdiri tidak jauh dari ruang tamu.


Wanita bernama Liona itu semakin memeluk erat kakek Lingga.


"Liona juga sangat merindukan Kakek. Aku pikir masih sangat lama untuk kembali ke Negara ini," ucap Liona melepaskan pelukannya.


Sedikit mendongak menatap wajah sang Kakek yang tersenyum begitu lembut padanya.


"Ah, iya." Liona menoleh ke belakang, "kakak kenapa hanya berdiam di sana?"


Kakek Lingga mengalihkan pandangan. Seketika tatapannya berubah datar pada sosok pria yang kini mendekat ke arah ruang tamu sembari menarik koper milik Liona.


"Kak Liorand?" panggil Liona saat saudara kembarnya itu hanya diam.


Liorand menghela napas pelan. Melepaskan koper di tangannya, lalu melirik sang adik yang muda beberapa menit darinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Kakak pamit ke perusahaan dulu. Banyak hal yang harus Kakak kerjakan. Istirahatlah dulu sebelum bepergian, ingat untuk tidak merepotkan Kakek. Kakek baru saja keluar dari rumah sakit," ucap Liorand mengingatkan. Berbalik untuk keluar dari ruang tamu.


"Kakak tidak sarapan dulu? Kita sarapan bersama setelah sekian lama. Oh, iya. Di mana, Mommy?" tanya Liona menatap sekeliling yang sedikit sepi.


"Ibumu pergi ke rumah sakit sebentar. Dia akan segera kembali, bersabarlah." ucap Kakek Lingga mengusap rambut Liona yang tengah bersimpuh sambil menidurkan kepala di pahanya.


Liorand menghela napas pelan melihat hal itu. Dadanya terasa sangat nyeri, tapi ia mencoba menepis semua rasa iri di hatinya.


"Kita akan sarapan lain kali. Kalau begitu, Kakak pamit Liona."


Perlahan punggung Liorand menghilang dar pandangan.


Liona menghela napas pelan, menunduk dengan wajah sedih. Sudah cukup lama ia tidak ada di rumah itu, tapi tak ada perubahan dengan hubungan antara Kakak dan Kakeknya. Selalu terasa begitu mencekam.


"Ayo, kita makan bersama Kakek." ucap Liona kembali tersenyum simpul dengan sedikit mendongak menatap wajah kakeknya.


"Ayo, sayang."


***


Saat ini, Risya hanya bisa diam di tempat.


Otaknya terus mencerna apa yang baru saja ia dengar.


'Di-dia sungguh Li-Lion?! Ta-tapi bagaimana bisa?!' batin Risya tak percaya.


Sedang Logan melepaskan cengkeraman tangan Lion di kerah bajunya. Menghela napas melihat wajah kusut Kakaknya.


Lion menghela napas gusar. Mengusap kasar wajahnya, kemudian mengikuti langkah kaki Logan tanpa menoleh ke belakang.


Risya yang melihat hal itu, berniat untuk mengejar langkah keduanya.


“Li—“


Namun, langkah Risya terhenti saat sebuah tangan berada di pundaknya. Risya menoleh ke belakang, menatap Putranya dengan napas tak beraturan.


"Mommy baik-baik saja?" tanya Liorand yang baru saja tiba.


Pria itu mengerutkan keningnya sesaat setelah memasuki lobi dan mendapati sosok Sang Ibu yang berdiri diam tidak jauh darinya. Dengan segera Liorand menghampiri Ibunya, tapi apa yang ia lihat saat ini membuat Liorand terkejut


Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi yang sulit ia artikan dari wajah Ibunya.


Risya tak menjawab. Ia kembali menoleh dan tak lagi melihat dua orang itu.


"Hiks!" Tubuh Risya luruh ke lantai, membuat Liorand terkejut.


"Mommy!"


Risya menangis tanpa henti. Mengeluarkan semua kesedihan yang ia tahan selama ini tanpa mempedulikan suara kekhawatiran Putranya.

__ADS_1


Tidak jauh dari sana, sosok pria terlihat bersembunyi di balik tembok sambil menyilang tangan di dada. Berdiam dengan wajah datar.


"Ha'ah." Ia menghela napas pelan, menegakkan tubuhnya sambil memasukkan tangan ke saku celana kainnya.


"Daddy..." lirihnya melangkah pergi menjauh.


***


Suara pulpen yang beradu dengan kertas terdengar memenuhi ruangan kebesaran Kaisar.


Pria itu terlihat diam duduk di kursi kebesarannya dengan tangan terus bergerak tanpa henti menadatangani beberapa dokumen penting.


Tiba-tiba, gerakan tangan Kaisar terhenti. Pria itu terdiam dengan wajah datarnya, sekilas melirik jendela kaca yang memperlihatkan bangunan lainnya.


"Lucu," ucap Kaisar tersenyum kecil mengingat wanita yang gemetar tanpa henti pagi tadi.


Kaisar menghela napas kasar. Membuang kasar pulpen di tangannya ke atas meja, kemudian menyandarkan punggungnya kasar ke kursi.


"Belum ada jawaban." gumam Kaisar.


"Apa dia meremehkanku?" lanjutnya.


Kaisar tersenyum licik di bibirnya. Mengepalkan kedua tangannya kuat.


"Sialan! Tidak ada kata maaf lagi untukmu." umpat Kaisar dengan tatapan penuh amarah.


Pandangan Kaisar teralihkan saat benda pipih miliknya bergetar di atas meja. Perlahan ia mengulurkan tangan meraih ponselnya, terdiam saat melihat nama yang tertera di layar.


Kaisar menggeser ikon hijau pada layar, lalu mendekatkan benda itu ke telinga.


"Halo, Tante." sapa Kaisar lembut pada sosok di seberang telepon.


"Halo, Kaisar. Bagaimana kabarmu?"


"Baik, Tante. Tante sendiri bagaimana? Om tidak akan marah jika aku bertanya seperti ini, 'kan?" ucap Kaisar sedikit bercanda.


Suara kekehan terdengar di seberang.


"Tidak. Tenang saja. Kabarku baik, hanya saja..."


Kaisar mengerutkan keningnya, memutar kursi hingga menghadap ke arah jendela kaca. Menanti dengan sabar sosok di seberang telepon kembali berucap.


"Hari ini apa Tante bisa bertemu dengan Adelia?"


Tubuh Kaisar menegang. Menelan kasar ludahnya yang tiba-tiba terasa begitu sulit melewati tenggorokan.


"Kaisar? Kamu masih ada di sana?"


"Iya, Tante." jawab Kaisar, menyentuh tengkuknya yang mendadak tegang.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana? Apa boleh?"


__ADS_2