TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 34


__ADS_3

Kesunyian menguasai salah satu ruang rawat VIP. Sosok Rex terlihat berdiri diam memandang pria yang saat ini duduk berdua di sofa bersama dengan Cucu Tuannya.


"Dokter Lionardo, bisa kita bicara berdua?" Tanya Rex dengan wajah datar.


Seketika pandangan Lion mengarah pada Rex. Menarik napas dalam, lalu beranjak dari duduknya. Mengikuti langkah kaki Rex yang berjalan lebih dulu keluar dari ruang rawat itu.


"Mari, kita bicara di ruanganku." Ucap Lion sesaat setelah menutup pintu.


Rex hanya diam mengikuti langkah Lion ke ruangan pria itu.


Sesaat setelah tiba di sana, tatapan Rex kini berubah tajam menatap punggung Lion yang mendekati kursi dalam ruangan bernuansa putih tersebut.


"Jadi... Hal apa yang ingin kau katakan, Rex?" Tanya Lion to the point.


"Soal tawaran Anda... Saya tidak yakin dapat mengabulkannya."


Senyum miring terbit di bibir Lion, membuat Rex menelan kasar ludahnya.


"Itu urusanmu. Janjiku sudah terpenuhi, melakukan operasi dan menyelamatkan nyawa Tuan-mu, urusan diterima atau tidaknya itu bukan urusanku." Ucap Lion menyeringai. Lion tahu melakukan hal seperti itu sangat tercela baginya yang berprofesi sebagai dokter, karena sudah sewajarnya seorang dokter berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien.


Namun, jika tidak melakukan hal tersebut akan sulit baginya membuat pria tua itu untuk bernegosiasi tanpa kekerasan. Walau Lion akui, dia sudah melakukan kekerasan pada bawahan Kakek Lingga.


Rex menghela napas kasar. Ia cukup gusar akan reaksi Kakek Lingga saat siuman nanti. Jika bukan karena keadaan mendesak, dia tidak akan memohon pada pria di hadapannya itu. Pria licik yang memiliki dua wajah. Baik di depan Risya, tetap licik di belakang.


"Sebenarnya aku tidak membutuhkan restunya. Aku hanya mencoba untuk meminta dan terlihat baik, jika dia tidak merestui juga ya mau bagaimana lagi. Aku akan membawa anak dan istriku pergi dari Negara ini. Oh, iya. Orang-orangmu menjadi taruhannya, jangan lupa." Lion tersenyum manis mengucapkan hal itu.


'****!' Rex mengumpat kesal dalam hati, lihat seberapa liciknya pria berdarah Italia di hadapannya.


"Aku akan mencoba." Ucap Rex pasrah.


"Terima kasih, Rex. Ah, dan satu lagi."


Rex menaikkan sebelah alisnya menatap ekspresi Lion yang berubah dingin menatapnya.


"Jaga jarak dengan putriku!" Tegas Lion membuat Rex tersentak.


"Apakah itu semacam peringatan? Jika Anda lupa, sebelum Anda tiba saya sudah berada di samping Nona Liona." Ucap Rex menggeleng, merasa aneh dengan ucapan Lion.


Sedang Lion berdecak mendengar hal itu. Instingnya sebagai seorang Ayah membuatnya waspada pada Rex.


"Aku tidak peduli. Aku akan memperingatimu sekali lagi, jaga jarak dengan putriku." Lion kembali menegaskan sambil menekan kedua tangannya di atas meja.


***


Pukul 05:06 WIB.


Suara dentingan jarum jam memenuhi kamar Kaisar. Pria itu terlihat rapi dengan setelan jasnya, berdiri di samping ranjang dengan tatapan tertuju pada sosok cantik yang masih tertidur pulas di balik selimut.

__ADS_1


"Apa Anda melakukan tindakan kasar padanya? Jika iya, maka kemungkinan besar hal itulah penyebabnya. Mungkin akan bagus jika Anda membawanya ke psikolog. Dia mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tetapi mentalnya tidak."


Ucapan dokter terus terngiang di benak Kaisar.


Dia terlalu menganggap hal yang terjadi mudah untuk dilupakan. Entah pikiran naif dari mana itu.


Tok tok!


Ketukan dua kali terdengar di daun pintu, membuat Kaisar menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Sudah waktunya ke Bandara, Tuan." Ucap Polin mengingatkan.


Kedua mata Kaisar terpejam. Ia hampir lupa keberangkatannya pagi ini.


Kaisar berbalik, melangkah mendekati pintu untuk segera keluar dan berangkat ke Bandara.


Sesaat langkahnya terhenti di samping Polin, "pastikan dia aman, Polin. Aku percayakan dia saat aku tidak ada di sini." Ucap Kaisar.


"Baik, Tuan." Sahut Polin patuh. Sedikit membungkukkan badannya, lalu menatap dalam punggung Kaisar yang perlahan menghilang dari pandangan.


"Semoga saja setelah kembali, Anda menjadi pribadi yang lebih baik dan lembut, Tuan." Lirih Polin melirik sekilas pada pintu kamar.


Tepat pukul enam lewat tiga puluh, Adelia terbangun dari tidurnya. Kedua matanya mengerjap dengan sedikit rasa pusing ia rasakan saat mendudukkan diri.


Tok tok tok!


"Selamat pagi, Nona." Sapa Lora tersenyum hangat.


Adelia balas tersenyum manis. Apalagi mengingat jika hari ini pria yang membuatnya tak berhenti gemetar telah pergi, walau hanya sementara.


"Bagaimana tidur Anda?" Tanya Lora seraya meletakkan nampan ke atas meja depan sofa.


Dengan segera Adelia meraih bolpoin dan kertas di atas meja samping tempat tidur.


"Sangat nyenyak."


Lora ikut tersenyum bahagia melihat raut ceria Adelia. Sangat jarang melihat kebahagiaan di wajah wanita itu saat ia tinggal di mansion tersebut.


"Hari ini, apa Anda ingin jalan-jalan keluar? Beberapa bunga di taman depan sudah mekar." Ucap Lora antusias.


Bibir Adelia sedikit terbuka mendengar hal itu. Cukup senang, lalu segera menulis sesuatu pada kertas di tangannya.


"Sungguh?"


Lora segera mengangguk mengiyakan.


Tiba-tiba, wajah Adelia berubah murung. Adelia menundukkan kepala, sedikit menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Kening Lora mengerut menatap perubahan yang begitu drastis di wajah Adelia.


"Apa boleh? Aku takut Tuan Polin tidak akan mengizinkannya." Adelia memperlihatkan tulisan itu pada Lora.


"Tenang saja. Saya yang akan meminta persetujuannya. Dia pasti akan mengizinkan," Lora berseru dengan begitu semangat, membuat Adelia kembali tersenyum.


"Sebaiknya Nona segera menyelesaikan sarapannya. Agar kita bisa keluar dan menikmati udara segar lebih cepat."


Adelia mengangguk antusias, segera beranjak dari tempat tidur memasuki kamar mandi.


Waktu bergulir dengan cepat. Sudah masuk sore hari, tepatnya pukul empat lewat tiga menit.


Adelia setia duduk di sofa dalam kamar. Ia sudah mandi, sudah mengganti pakaian dengan dress selutut berwarna pink dengan motif bunga.


Adelia menanti dengan sabar, meski di sisi hatinya merasa aneh dengan pakaian wanita yang sangat pas di badannya dalam walk-in closet di kamar itu.


Semuanya pas, seolah pakaian tersebut memang dirancang untuknya.


'Semoga saja diberi izin,' batin Adelia gugup.


Ia memainkan ujung dress-nya, hingga suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Adelia.


Sosok Lora terlihat tengah tersenyum lebar di ambang pintu.


"Ayo, Nona." Seru Lora gembira.


Adelia segera bangkit dari duduknya. Mendekati Lora dan keluar dari kamar yang terasa bagai penjara.


Sesaat Adelia tersentak saat mendapati Polin yang masih berdiri di samping pintu, menatapnya dengan wajah datar.


"Semoga Anda menikmati waktu jalan-jalan Anda, Nona." Ucap Polin tersenyum tulus.


Adelia terdiam sejenak, cukup terkejut melihat senyum di wajah datar Polin.


Adelia menganggukkan kepalanya, sebelum meninggalkan Polin bersama dengan Lora menuju tangga.


Senyum semakin mengembang di bibir Adelia saat tiba di luar mansion. Benar kata Lora, beberapa bunga mulai mekar di taman. Terlihat begitu indah. Ingin rasanya Adelia berlari keluar dari gerbang mansion, tetapi ia yakin pasti ada yang berjaga di sana.


"Ayo, Nona." Ajak Lora menarik tangan Adelia untuk mendekat ke arah taman.


Adelia mengangguk pelan, mengikuti langkah Lora dengan pandangan menatap sekeliling.


Tiba-tiba, langkah Adelia terhenti saat tanpa sengaja menangkap siluet seseorang yang berdiri di balik pohon di luar gerbang mansion.


'Apa aku salah lihat, ya?' batin Adelia bertanya-tanya, 'tapi seperti memang tadi ada orang yang berdiri di sana.' lanjutnya dalam hati, segera kembali melangkah saat mendapati Lora yang menatapnya penuh tanya.


"Bersiap malam ini lakukan rencana."

__ADS_1


__ADS_2