TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 29


__ADS_3

Seorang pria dengan setelan jas yang sedikit berantakan keluar dari lift. Tiba-tiba, pria itu menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja bertatapan dengan sosok yang baru saja berniat memasuki lift.


"Eh, kau sudah pulang?"


Demian mengerutkan kening menatap saudara kembarnya yang baru saja keluar dari lift. Tatapan menelisik Demian berikan. Menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki tubuh Adiknya.


"Kau mau ke mana?" tanya Demian dengan wajah datar.


"Ke Indonesia." jawabnya santai.


"Mommy memintamu ke sana?" tanya Demian lagi. Ia merasa aneh, karena tidak biasanya saudaranya itu tertarik untuk ke Indonesia, Negara tempat kelahiran sang Ibunda tercinta.


"Tidak. Aku menerima telepon dari Uncle Lion, dia bilang untuk segera ke sana."


Demian menghela napas pelan, "uncle yang meminta, atau kau sendiri yang ingin pergi?" tanya Demian telak, membuat saudaranya itu terkekeh pelan.


"Ya, seperti itu. Lagi pula Mommy dan Daddy ada di sana. Jadi aku rasa tidak masalah untuk sesekali berkunjung." ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dengan tatapan mengarah ke tempat lain.


Lagi-lagi, Demian menghela napas pelan. Ia melangkah melewati tubuh saudaranya mendekati lift untuk naik ke lantai 4 dan beristirahat di kamarnya.


"Jangan lupa untuk ke rumah sakit. Raila sudah siuman." ucap Demian saat berada di dalam lift.


"Oke." jawabnya santai, berniat untuk segera keluar.


"Oh, iya. Berhati-hatilah di sana, Devian. Kau mungkin akan merasa tidak nyaman jika sudah tiba di sana."


Seketika langkah pria itu terhenti. Ia menoleh ke belakang menatap pintu lift yang telah tertutup rapat.


"Hah? Hati-hati? Apa?" gumam Devian bertanya-tanya, lalu mengedikkan bahu acuh.


***


Kaisar duduk diam di kursi yang berada tepat di samping tempat tidurnya. Ia memijit pelan keningnya yang terasa berdenyut.


'Kenapa dia bisa seperti ini?' batin Kaisar bertanya-tanya.


Sungguh Kaisar sangat terkejut sesaat setelah membuka pintu kamar pelayan di mansion itu. Tepat di hadapan, Adelia tiba-tiba tak sadarkan diri dengan bibir pucat.


"Untuk saat ini keadaannya sudah mulai membaik. Akan lebih baik lagi, jika kedepannya Anda memperhatikan makanan Nyonya Adelia, Tuan Kaisar. Nyonya Adelia tidak makan dengan teratur, padahal ia penderita Maag akut. Salah sedikit saja, itu bisa membahayakan nyawanya."


Ucapan dokter beberapa menit yang lalu kembali terngiang di benak Kaisar. Pria itu mengacak rambutnya kesal, kembali melirik sosok cantik yang masih terlelap di atas tempat tidur.


'Begitu sulitnya untuk menjaga kesehatan? Kamu ingin membuat aku menjadi duda, hah?!' batin Kaisar kesal. Ingin sekali memaki, tapi ia tahan.


"Em."


Suara samar terdengar. Kaisar bangkit dari duduknya, mendudukkan diri di tepi ranjang sambil menatap kerut di wajah Adelia. Menandakan jika wanita itu akan segera membuka mata sebentar lagi.


'Kepalaku sakit.' batin Adelia, membuka kelopak matanya yang terasa berat.

__ADS_1


Deg!


Tubuh Adelia menegang dengan mata terbelalak. Tangannya bergetar hebat menatap wajah Kaisar yang berjarak cukup dekat dengan wajahnya.


"Akhirnya kamu siuman," ucap Kaisar pelan. Mengerutkan kening melihat bibir dan tangan Adelia yang bergetar hebat.


Adelia ingin segera pergi dari tempat itu. Melompat dari tempat tidur untuk menjauh. Namun, tubuhnya yang lemah membuat ia tak bisa melakukan hal itu.


"Tunggu di sini." Kaisar beranjak dari duduknya, membuat Adelia menghela napas lega dengan tubuh yang kembali tenang.


Sedang sosok Kaisar terlihat membuka pintu, berbicara dengan sosok Lora yang kini terlihat mengintip dari celah pintu untuk melihat kondisi Adelia di dalam sana.


'Syukurlah Nona sudah siuman.' batin Lora berucap syukur.


Gadis itu kembali fokus pada sosok Kaisar yang kini berdiri di hadapannya.


"Segera bawa bubur ke kamar ini." titah Kaisar.


"Baik, Tuan." Lora segera berbalik menuju dapur di lantai dasar.


Kaisar kembali menutup pintu. Berbalik dan terkejut mendapati Adelia yang kini berniat untuk turun dari tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan?!" sentak Kaisar. Segera berlari menghampiri wanita itu.


Mulut Adelia terbuka saat Kaisar mengendong tubuhnya, lalu kembali menidurkannya di atas ranjang.


"Gila, ya?!"


Kaisar terdiam. Ia menghela napas kasar merutuki dirinya. Jika berkaitan dengan Adelia, dia selalu tidak bisa menahan amarahnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


Kaisar menarik kursi yang ia gunakan tadi untuk semakin dekat dengan tempat tidur. Kemudian ia mendudukkan diri sembari menanti respon sosok di atas tempat tidur itu.


Beberapa menit berlalu, tak juga ada respon. Adelia hanya diam dengan tubuh gemetar menatap ke arah lain. Tak bisa menatap sosok yang duduk di samping kanannya, yang terlihat seperti singa menatapnya tajam terus-menerus.


"Ketika aku berbicara, tatap mataku."


Adelia tetap diam. Tak ingin menoleh. Ia ingin menangis, tetapi Adelia yakin jika pria itu tidak akan suka dan mungkin akan menyiksanya lagi.


"Kamu tidak ingin menatapku?" tanya Kaisar yang mulai geram menunggu. Ketahuilah, jika pria yang satu ini sangat tidak sabaran.


Tiba-tiba, Kaisar bangkit dari duduknya. Menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Adelia, membuat gadis itu terlonjak kaget.


Bahkan lebih mengejutkan lagi saat Kaisar mulai mengendong tubuh Adelia, lalu duduk di kursi dengan wanita itu di pangkuannya.


Tubuh Adelia tak henti-hentinya gemetar. Wanita itu menyilangkan tangannya di depan dada, air mata mulai membanjiri pipinya. Ia takut, dan kembali memejamkan mata saat melihat Kaisar mengangkat tangan.


Adelia tersentak saat sapuan lembut itu terasa di pipinya.

__ADS_1


"Padahal sedang sakit, tapi kenapa keras kepala sekali." oceh Kaisar mengusap pelan air mata di pipi Adelia.


"Kalau ingin mati, setidaknya harus melalui malam pertama." gumam Kaisar, semakin kesal.


Sedang Adelia hanya diam tanpa berani membuka matanya yang terpejam.


"Ah, tidak-tidak. Jangan mati walau sudah melakukan malam pertama, setidaknya hidup sampai tua bersama." oceh Kaisar lagi, mulai terdengar tidak jelas di telinga Adelia. Entah apa yang dibicarakan oleh pria itu, Adelia tak mengerti.


Tok tok tok!


"Masuk." ucap Kaisar tanpa menoleh ke sumber suara.


Perlahan pintu kamar terbuka, memperlihatkan Lora yang kini masuk sambil membawa nampan dengan satu mangkuk dan segelas air putih di atasnya.


Gadis itu melangkah ragu mendekati tempat tidur. Sedikit menundukkan kepala melihat pemandangan di depannya.


"Letakkan saja disitu."


"Baik, Tuan." sahut Lora patuh, meletakkan nampan itu ke atas meja kecil di samping Kaisar.


Adelia yang mendengar suara itu, sontak membuka kelopak matanya yang terpejam. Ia menatap Lora dengan mata berkaca-kaca.


"Keluar." titah Kaisar dengan suara dingin, membuat dua wanita itu tersentak.


Ceklek.


Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Kaisar dan Adelia di dalam kamar. Pria yang tadinya hanya memasang wajah datar, kini terlihat menampilkan raut wajah tak suka.


Suasana hati Kaisar kembali memburuk. Tiba-tiba, Kaisar menghela napas kasar. Memejamkan mata untuk tetap sabar, tapi rasa panas di hatinya mengingat tatapan mata memohon Adelia yang ditujukan untuk Lora sungguh sangat menganggu.


"Berhenti menatap orang lain seperti itu." sentak Kaisar menyandarkan Adelia yang terdiam menatap pintu.


Adelia lupa jika ia berada di pangkuan sosok kejam yang menyiksanya tanpa peduli dia bersalah atau tidak.


"Aku tidak suka..."


Suara dering ponsel menghentikan ucapan Kaisar. Dengan malas ia meraih benda pipih di samping nampan di atas meja.


"Ada apa?" tanya Kaisar to the point sesaat setelah mengangkat panggilan itu.


"Anda tidak akan percaya dengan informasi yang baru saja saya dapatkan, Tuan."


Kaisar menaikkan sebelah alisnya mendengar ungkapan Bram di seberang telepon.


Sedang di sisi lain.


Seorang wanita menggeliat gelisah di atas tempat tidur. Keringat dingin terlihat membanjiri kening wanita itu, hingga tiba-tiba ia terbangun dan seketika terduduk.


Deru napasnya terdengar tak beraturan. Ia meraih rambutnya dan menariknya kasar dengan ekspresi ketakutan.

__ADS_1


"A-aku tidak sengaja. Ku mohon ampuni aku. A-aku sungguh tidak sengaja." lirihnya mengucapkan kata 'tidak bersalah' secara berulang.


__ADS_2