
Sosok pemillik dari perusahaan KR Group itu kini terlihat duduk melamun dalam ruang tamu apartemen adiknya. Kaisar menghela napas pelan sambil mengusap kasar wajahnya. Lagi-lagi dia melamun membayangkan kehadiran Adelia di sisinya. Nyatanya semua hanya angan sahaja.
Penampilan Kaisar sudah sedikit berubah hari ini. Begitu berbeda dari pertama kali dia menginjakkan kakinya di Milan. Raila sungguh mengurus kakaknya dengan baik.
Wanita cantik itu terus saja mengingatkan kakaknya untuk makan tepat waktu, bahkan saat Raila tak berada di apartemen tersebut, dia selalu menyempatkan diri menelepon Kaisar meski hanya beberapa menit.
“Kakak, tadi malam aku mimpi indah. Aku melihat kakak tersenyum begitu manis pada seorang wanita di sebuah taman yang penuh dengan bunga bermekaran.” Raila bercerita begitu antusias mengenai mimpinya, membuat Kaisar tersenyum kecil menanggapi hal itu sebelum akhirnya Raila berpamitan untuk pergi ke Universitas.
“Adelia…” Kaisar bergumam lirih dengan punggung bersandar pada sofa dan lengan kanan yang menutupi matanya. Penampilan saja yang sudah sedikit terurus, tapi hatinya tetap saja rapuh dan mudah menangis.
“Aku tak berharap lebih, Tuhan. Tapi ku mohon, agar Aku segera bertemu dengannya. Sekali saja, ku mohon. Aku akan menebus semua kesalahanku padanya.” Ucap Kaisar pelan menggigit bibir bawahnya menahan sesak.
Satu hari sudah berlalu. Besok siang dia akan segera ke bandara untuk kembali ke Indonesia. Dia akan kembali, tetapi kenapa Adelia tak juga kembali ke sisinya?
“Kembalikan dia padaku, Tuhan.” Lagi-lagi Kaisar berucap lirih. Berharap agar doa itu terkabul.
Sementara di salah satu gedung pencakar langit di Roma.
Devian duduk dengan tidak tenang di kursi kebesarannya. Sudah berlalu tiga jam sejak dirinya tiba di gedung pencakar langit yang ia bangun dengan usahanya sendiri itu. Namun, ketenangan hati tak pernah ia dapat sejak tadi membuatnya kesulitan fokus pada pekerjaannya yang menumpuk.
Sungguh, jika dibandingkan dengan pekerjaan gelapnya yang kapan saja dapat membuatnya dalam bahaya, masalah Saudara kembarnya dan sepupunya jauh lebih membuatnya resah. Dia bukanlah orang yang tega melihat pertingkaian terjadi dalam keluarganya, apalagi itu adalah keponakan Ibunya serta kakaknya sendiri.
Apa sekarang dia harus menyalahkan tingkah penasarannya yang membuat ia mengetahui hal itu? Devian segera menampar keras pipinya.
Suara dering pada ponsel di atas meja mengalihkan pandagan Devian hingga fokus pada benda pipih itu. Dengan segera Devian mengulurkan tangan meraih ponselnya, menggeser ikon hijau pada layar saat melihat nama yang tertera di sana.
“Dritto al punto.” Tegas Devian sesaat setelah mengangkat panggilan dari bawahannya.
(Langsung ke intinya.)
“Tuan Demian belum tiba di mansion itu, Tuan. Sepertinya dia pergi untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.”
Devian mengetukkan jarinya di atas meja. Menampilkan ekspresi serius di wajahnya dengan tatapan tajam ke depan.
“Saya tidak bisa terlalu dekat mengawasi Tuan Demian, karena sepertinya dia sudah menyadari kehadiran saya sejak mulai mengawasinya di bandara pagi tadi.” Lanjut sosok di seberang telepon.
__ADS_1
Punggung Devian bersandar dengan kasar di kursi kebesarannya. Ya, hal itu sudah jelas. Kakaknya dan dirinya tak jauh berbeda, bukan hanya dari segi wajah tapi juga kewaspadaan dan kekuasaan di dunia bawah. Hal yang berusaha Ayahnya jauhkan dari mereka, justru sekarang begitu melekat hingga membuat keduanya sulit untuk keluar.
“Terus awasi saja.” titah Devian.
“Baik, Tuan.”
Panggilan terputus sepihak. Devian beralih menelepon salah satu nomor bawahannya yang lain pada kontak ponselnya.
Devian sengaja meminta salah satu bawahannya agar mengawasi kakaknya, karena tahu jika Kakaknya itu sangat peka hingga dapat dengan mudah menyadari seseorang tengah mengawasi. Dengan begitu Kakaknya akan berlama-lama di luar dan tak mengunjungi mansion itu untuk sementara waktu.
Tiba-tiba saja Devian mengingat ucapan Ayahnya.
“Daddy akan sangat terpukul jika Mommy kalian menghilang secara tiba-tiba.” Itulah jawaban Ayahnya saat Devian menanyakan pertanyaan aneh pagi tadi 'jika seandainya Ibunya menghilang tanpa jejak'.
“Misalnya Daddy menyiksa Mommy, lalu orang lain membawa Mommy pergi dan menyembunyikannya… apa yang Daddy rasakan?”
“Pertanyaan macam apa itu, Devian?!!”
“Hanya Misalkan saja, Dad. Semisalnya…” Devian segera meluruskan agar tak mendapat amukan Ayahnya pagi tadi.
“Hanya pria gila yang melakukan hal itu!! Menyiksa istrinya?! Padahal dia juga lahir dari rahim seorang wanita.” Geram Logan menatap tajam putra keduanya, “Daddy akan sangat menyesal dan mencoba mencari keberadaan Mommy kalian dan menebus semua kesalahan. Tapi Daddy tidak akan pernah melakukan seperti hal itu.” Pada akhirnya itu jawaban Ayahnya.
“Halo, Tuan.”
Devian menarik napas dalam sebelum membuka suara, “bagaimana keadaan mansion itu?” tanyanya to the point.
“Baik-baik saja, mengingat beberapa orang kepercayaan Tuan Demian berjaga dengan cukup ketat di luar mansion.”
Kening Devian mengerut mendengar penuturan bawahannya di seberang telepon.
Cukup ketat? Terakhir kali dia berkunjung ke mansion itu, tak ada penjagaan di luar mansion.
“Apa yang terjadi? Wanita itu baik-baik saja ‘kan?” Ekspresi wajah Devian kian serius. Tangan kiri pria itu terlihat terkepal di atas meja.
“Baik-baik saja, Tuan. Hari ini Herald mendatangkan guru privat untuk mengajarkan wanita itu atas persetujuan Tuan Demian. Tapi, sepertinya bukan hanya Anda saja yang mengawasi wanita itu sekarang.”
__ADS_1
Kedua mata Devian terbelalak. Ada orang lain? Apakah musuh kakaknya yang kini mengincar wanita itu?
“Mereka tidak mendekat, hanya saja melihat dari jauh lalu pergi.” Bibir Devian semakin bungkam, berbagai spekulasi mulai muncul di benaknya.
“Terus berjaga! Selamatkan wanita itu jika terjadi sesuatu. Aku akan segera mengabari kalian dan… hentikan beberapa transaksi untuk sementara. Walau orang-orang itu membayar dua kali lipat, jangan menerimanya. Ini perintahku! Jika ada yang menerimanya, maka peluru akan bersarang dengan indah dalam kepala kalian.” Titah Devian begitu tegas hingga membuat bawahannya menelan kasar ludah mereka.
Padahal Bos mereka yang terkenal begitu tergila-gila pada uang di dunia bawah itu tak pernah menolak transaksi apapun asalkan menguntungkan mereka.
“Baik, Tuan.” Sahutnya patuh dan panggilan pun terputus.
Devian beralih menelepon nomor lain setelah panggilan dengan bawahannya terputus.
“Hey, Kaisar.” Ucap Devian pada sepupunya saat panggilan terhubung.
“Apakah kamu sudah selesai menambahkan hal penting yang kamu maksud itu?” ucap Kaisar dengan suara serak setelah menangis beberapa saat.
“Kapan kamu ke bandara?”
Kaisar menaikkan sebelah alisnya di seberang telepon, “mungkin esok siang.” Jawab Kaisar seadanya.
“Batalkan penerbanganmu besok. Kita harus ke suatu tempat…” sesaat Devian menjeda ucapannya, “hal ini mungkin akan membuatmu bahagia.”
Pukul 16:45 WIB, Indonesia.
Suara dering mengalihkan pandangan beberapa orang di dalam ruang rawat VIP, hingga fokus pada ponsel sosok wanita setengah baya yang duduk angkuh pada sofa tunggal dalam ruangan tersebut.
“Ya?” ucapnya datar, menatap malas sosok pria paruh baya di atas brankar serta wanita yang merupakan sepupunya berdiri di samping brankar.
“Kami sudah menemukannya, Nyonya.”
Seketika dia terdiam dengan tubuh tersentak. Wanita setengah baya itu menyeringai, “di mana?” tanyanya to the point.
“La Spezia, Italia Utara.”
“Aku akan segera ke sana. Persiapkan semuanya, aku akan menjemput Putriku dengan megah.” Ucapnya, kemudian bangkit dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
...****************...
Note : 3 bab lagi😌💃💃