
"Kenapa menatapku?"
Seketika Adelia tersentak. Ia menunduk dengan tubuh gemetar takut, menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku tahu, aku tampan. Kamu bisa menatapnya sepuasnya nanti." ucap Kaisar sambil meletakkan ponselnya di tempat semula.
Adelia tak mengindahkan ucapan itu. Ia tetap menunduk dengan ketakutannya.
'Ya Tuhan, apa aku melakukan salah? Ke-kenapa pria ini bersikap begini kepadaku? Apa setelah ini dia akan memberikan siksaan lebih menyakitkan?' batin Adelia. Bibirnya bergetar hebat dengan wajah pias.
Sedang Kaisar tak memperhatikan hal itu. Ia sibuk dengan pemikirannya, mencoba menebak hal seperti apa yang membuat tangan kanannya itu terdengar begitu terkejut di seberang telepon tadi.
"Hampir saja aku lupa. Kamu harus makan dengan baik."
Kaisar mengulurkan tangannya meraih mangkuk bubur di atas nampan tanpa memindahkan Adelia dari pangkuannya. Pria itu seolah tak rela melepaskan Adelia, meski hanya di atas tempat tidur.
"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu hingga buburnya habis." ucap Kaisar sedikit terdengar lembut di telinga Adelia.
Sesaat Adelia hanya diam menatap mangkuk di tangan Kaisar. Ia kembali menelan kasar ludahnya dengan pikiran yang mulai memikirkan hal negatif.
Tubuh Adelia bergetar hebat, membuat Kaisar dapat merasakannya.
Kaisar menghela napas panjang. Memejamkan mata untuk tetap tenang agar tak mengeluarkan amarahnya.
"Jangan kasar pada wanita. Kau akan jadi bujangan tua jika bersikap seperti itu terus, Kaisar."
Tiba-tiba, ucapan Ayahnya terngiang di benak Kaisar. Padahal sebelumnya ia menganggap hal itu biasa saja dan mengabaikannya, karena Kaisar pikir ia tidak akan pernah berurusan dengan wanita.
"Buka mulutmu, Adelia. Jangan membuatku marah." bisik Kaisar lembut, tepat di telinga Adelia membuat tubuh wanita itu meremang.
Adelia menatap Kaisar dengan wajah pucat. Tersentak kala melihat Kaisar yang membuka mulut.
"Aaa." ucap Kaisar membuat bibir gemetar Adelia perlahan terbuka.
Sesuap bubur masuk ke dalam mulut Adelia. Dengan susah payah wanita itu menelan bubur di dalam mulutnya.
"Pintar." ujar Kaisar tersenyum puas sambil menepuk puncak kepala Adelia.
"Makan dengan lahap, karena aku yakin kamu tidak akan suka melihat sikap seperti sebelumnya, bukan?" Perkataan itu terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Adelia. Meski terdengar lembut, suara itu juga diiringi dengan nada dingin dan penuh perintah.
Beberapa menit kemudian.
Perlahan Kaisar menidurkan tubuh Adelia di atas ranjang. Wanita itu hanya diam dengan tubuh masih gemetar ketakutan.
"Tidurlah. Mulai hari ini kamu akan tidur di kamar ini. Jangan berpikir untuk keluar dari sini dan pindah ke kamar pelayan, jika kamu tidak ingin melihat kekerasan." ancam Kaisar sebelum berbalik keluar dari kamar.
Suara deru napas Adelia terdengar begitu cepat memenuhi ruangan. Dadanya terasa sesak, sejak tadi mencoba untuk meredam ketakutannya karena tak ingin membuat pria itu marah.
"Hik!" suara cegukan terdengar di dalam kamar itu. Adelia meringkuk di bawah selimut, tubuhnya terasa dingin karena takut.
'Aku ingin pergi. Ingin keluar dari sini, siapapun, siapa saja. Ku mohon,' batin Adelia memejamkan matanya.
Sungguh ia takut. Kekerasan itu terekam begitu jelas di benaknya, membuat ia merinding. Perlakuan tak biasa yang Kaisar berikan, justru semakin membuat ia takut. Karena bisa saja ada hal buruk yang menanti dirinya di balik sikap tak biasa Kaisar kepadanya.
Tanpa Adelia sadari, ia terlelap dengan bekas air mata terlihat di pelipisnya.
__ADS_1
Sedang di lantai bawah, tepatnya ruang kerja Kaisar.
Pria itu terlihat duduk diam di kursi kerjanya, menanti sosok Bram datang membawa informasi tak terduga itu.
"Raila sudah siuman. Sebentar lagi akan keluar dari rumah sakit, tapi sedikitpun rasa sakit tak bisa aku berikan pada orang yang mencelakainya."
"****!" umpat Kaisar berdecap kesal.
Adiknya terlalu baik, begitupun keluarganya. Bagi Kaisar, penjahat haruslah menerima hukuman berat atas kejahatan yang mereka lakukan.
Kaisar pun yakin, jika suatu saat dirinya akan merasakan karma itu. Di setiap doanya, Kaisar berharap agar dirinya seoranglah yang menerima karma tersebut, ia berharap keluarga tetap baik-baik saja.
Jika demikian, Kaisar akan dengan senang hati menikmati karma itu tanpa mengeluh.
Tok tok tok!
Kaisar mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Menatap lama daun pintu ruangannya yang tertutup rapat.
"Masuklah."
Perlahan pintu terbuka. Memperlihatkan Bram yang kini memasuki ruangan dengan sedikit terburu-buru.
Bulir keringat sebiji jagung terlihat di kening pria berkacamata itu.
"Tuan."
Kaisar berbalik, mendekati Bram yang kini telah tiba tepat di samping meja kerjanya.
Bram memberikan lembaran kertas di tangannya yang diterima dengan baik oleh Bosnya.
Tangan Kaisar gemetar memegang kertas tersebut. Kedua matanya terbelalak tak percaya.
"Fvck!" Kaisar melempar penuh amarah kertas-kertas itu ke lantai hingga berceceran.
Satu tangan Kaisar menyentuh sudut meja kerjanya. Mengepalkan kuat tangannya dengan rahang mengetat.
PRANG!
Bram terlonjak hingga melompat dari tempatnya. Jantung pria berkacamata itu berdetak tak karuan dengan tubuh gemetar takut melihat vas bunga yang kini pecah di lantai akibat lemparan Tuannya.
"OMONG KOSONG!" teriak marah Kaisar. Seakan ingin membalik meja kerjanya.
"Ta-tapi, Tuan..."
"****! Sialan!" teriak Kaisar semakin frustasi.
Pantas saja, pantas saja ia merasa tidak asing dengan wajah itu. Wajah Liorandes Axelio.
"Bagaimana bisa?!" Kaisar mengacak rambutnya marah.
Jika seperti ini, maka sudah jelas sulit baginya untuk memulai pembalasannya.
"Dia ... putra Uncle Lion. Wanita sialan itu Putri Uncle Lion! Si Ja**ng itu..." Kaisar tak bisa berkata-kata lagi.
Wanita penyebab kecelakaan yang menimpa Adiknya adalah sosok yang cukup dekat dengan mereka.
__ADS_1
Bram hanya diam. Ia tak berani membuka suara walau sekedar untuk bertanya.
"Bram." panggil Kaisar yang kini terlihat menunduk dengan kedua tangan mencengkeram kuat sisi meja.
"Y-ya, Tuan." sahut Bram ragu.
"Keluar." ucap Kaisar tiba-tiba memberi perintah.
Bram segera menunduk pamit. Segera berbalik untuk keluar dari ruang kerjanya Kaisar. Ia tidak ingin menerima amukan Bos yang mungkin sebentar lagi akan terjadi di dalam ruangan itu.
Sesaat setelah Bram keluar, suara pecahan kaca mulai saling bersahutan di dalam ruangan tersebut.
Kaisar menjatuhkan barang dengan acak di dalam ruangannya. Melampiaskan amarah yang tertahan karena kesal.
Kaisar tak terima.
Dia sama sekali tak terima akan hal itu.
Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah memaafkan orang-orang itu. Tidak akan pernah!
Bahkan jika Lion meminta maaf secara langsung kepada dirinya.
Tiga puluh menit kemudian.
Keheningan mulai menguasai ruang kerja Kaisar.
Keadaan ruangan tak lagi bisa disebut sebagai ruang kerja. Mungkin sekarang bisa disebut sebagai kapal pecah.
Buku yang tadinya tersusun rapi pada rak besar di ruangan itu, kini terlihat tergeletak tak berdaya di lantai.
Pecahan kaca di mana-mana. Tak terlihat celah bagi kaki tela*j*ng untuk berpijar dalam ruangan itu. Keadaan ruangan tersebut sungguh kacau.
Kaisar beranjak dari sofa. Melangkah keluar dari ruangan itu dengan wajah datar. Ia melangkah ke lantai dua, tepatnya di kamarnya. Di mana sosok wanita cantik mungkin sudah tertidur pulas.
***
Drrrt! Drrrt!
Suara dering ponsel terasa menganggu sosok pria yang tengah duduk di kursi tunggu di luar ruang rawat kamar VIP.
Pria itu merogoh saku celana kainnya. Mengerutkan kening melihat nama yang tertera di layar ponsel pintar itu.
"Ada apa?" tanya Rex to the point pada sosok bawahannya di seberang telepon.
"....."
Seketika Rex berdiri dari duduknya mendengar hal itu. Kedua matanya terbelalak dengan tangan terkepal kuat.
"Aku akan segera ke sana." Rex memutuskan panggilan sepihak. Ia menatap ke dalam ruang rawat melalui jendela kecil pada pintu. Menatap sosok wanita yang terlihat duduk di samping Brankar dengan tatapan sulit diartikan.
Rex menghela napas pelan, kemudian melangkah pergi. Belum ada sepuluh langkah, Rex menghentikan langkahnya.
Pria itu terdiam menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat dan bulir keringat dingin di kening.
"Nona ... Anda baik-baik saja?"
__ADS_1