TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 23


__ADS_3

Keadaan mulai kembali hening. Para pengunjung restoran kembali fokus pada santapan mereka, mengabaikan keributan yang sempat terjadi.


Sedang Zeline menatap penuh kekhawatiran pada wanita yang duduk di hadapannya.


Adelia berusaha menghentikan tangisnya. Ia terus mengusap kasar wajahnya saat air mata mulai turun membasahi kedua pipinya yang sedikit tirus.


'Apa dia tidak makan dengan baik? Dia jadi terlihat lebih kurus dari terakhir kali.' batin Zeline menggigit bibirnya khawatir.


"Sudah mendingan, Sayang?" tanya Zeline meraih tisu di atas meja, lalu mengusap pelan pipi wanita yang hanya menganggukkan kepala kepadanya.


"Ada apa, Adelia? Apa mansion Kaisar terasa tidak nyaman? Dia memperlakukanmu dengan baik, 'kan?" tanya Zeline tanpa henti.


Adelia menggigit bibir bawahnya. Ia takut mengatakan semuanya pada Zeline. Ancaman Kaisar terus terngiang di benaknya.


Kening Zeline mengerut kala melihat Adelia meletakkan buku di atas meja, lalu mulai menulis sesuatu pada kertas putih itu.


"Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya sangat merindukanmu, karena itu aku menangis."


Kedua mata Zeline terbelalak. Tubuhnya kaku dengan tatapan tak percaya.


"A-ada apa denganmu? Ke-kenapa kamu tidak berbicara saja, Sayang? Kenapa harus menulis di kertas seperti itu." Bibir Zeline bergetar menatap Adelia.


Ia yakin, Adelia tidak memiliki masalah dengan suaranya. Lalu, kenapa Adelia tak mengeluarkan suara dan hanya menulis di atas kertas?


"Sayang... apa terjadi sesuatu di mansion itu tanpa sepengetahuanku? Apa kamu sungguh baik-baik saja di sana? Apa ada pelayan yang menjahatimu?" Kini Zeline bangkit dari duduknya. Memegang kedua pundak Adelia dengan air mata terlihat mengenang di pelupuk matanya.


Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi pada gadis lemah lembut seperti Adelia? Zeline sungguh tak terima hal ini. Jika benar ada orang yang menganggu Adelia hingga mengakibatkan hal buruk pada gadis itu, Zeline tidak akan tinggal diam.


Adelia tersentak saat Zeline tiba-tiba menunduk. Menarik kedua tangannya yang berada di pundak Adelia.


"Aku akan berbicara pada Kaisar. Jika kamu tidak akan bekerja lagi di sana mulai hari ini. Kamu akan ikut denganku ke rumah, tidak perlu lagi bekerja di sana."


Seketika kedua mata Adelia terbelalak. Tidak boleh, itu tidak boleh terjadi.


"Jika kamu berani meninggalkan mansion ini saat melakukan pertemuan dengan Tante Zeline, maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan kediaman Om Dave. Aku tidak peduli jika mereka masih memiliki hubungan dekat dengan keluargaku."


Bagaimana jika pria gila itu benar-benar melakukan hal yang ia ucapkan? Adelia menggeleng keras. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada keluarga Zeline.


"A-Adelia, ka-kamu baik-baik saja?" tanya Zeline saat melihat Adelia terus menggeleng tanpa henti.


Tidak!


Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dengan segera Adelia menulis sesuatu pada kertas itu, meski tangannya gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Ku mohon, jangan lakukan hal itu. Aku baik-baik saja. Sungguh, bahkan Tuan Kaisar memperlakukanku dengan baik. Ini hanya kecelakaan kecil, jadi aku tidak bisa berbicara untuk sementara waktu. Tidak lama lagi, aku akan kembali berbicara. Percayalah, Kak. Sungguh, aku mohon jangan lakukan hal itu. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini."


Adelia menunjukkan hal itu dengan air mata. Ia menatap memohon pada Zeline.


Adelia akan melakukan apapun agar tak terjadi sesuatu pada orang lain karena dirinya, terutama keluarga Zeline yang teramat baik kepadanya.


"Baiklah. Aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak menginginkannya." ucap Zeline beranjak dari duduknya mendekati Adelia.


Sedang Adelia terlihat menghela napas lega. Ia menunduk menyembunyikan rasa takutnya, memejamkan kedua matanya saat merasakan pelukan hangat Zeline.


"Katakan padaku jika terjadi hal buruk. Aku pasti akan melakukan apapun untukmu."


Adelia hanya menganggukkan kepala. Meski dalam hati ia mengucapkan kata maaf tanpa henti.


***


Kaisar mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja dengan satu tangan memegang ponsel di telinga. Sesekali Kaisar akan menganggukkan kepala mendengar ucapan Polin di seberang telepon.


"Bagus. Terus awasi, jangan berikan celah padanya untuk melarikan diri." titah Kaisar, kemudian memutuskan panggilan sepihak.


Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja. Ia tersenyum tipis di bibirnya, lalu memutar kursi hingga menghadap ke arah kaca.


"Syukurlah dia tidak macam-macam." ucap Kaisar tersenyum puas.


"Masuk!" ucap Kaisar tanpa mengalihkan pandangan ke arah pintu. Ia hanya menatap keluar jendela, cukup tahu siapa yang memasuki ruangannya itu.


"Tuan, Tuan Demian ingin menemui Anda. Dia berkata sudah membuat janji temu dengan Anda." ucap Bram sedikit membungkukkan badannya ke arah Kaisar.


Seketika Kaisar menoleh dengan ekspresi tak suka. Sesaat pria itu terdengar berdecap sebelum bangkit dari duduknya, membuat Bram mencuri pandang dengan kening mengerut bingung.


Ada apa ini? Apa bosnya memang bertingkah seperti ini sebelumnya saat ada kunjungan dari sepupunya?


"Aneh," gumam Bram segera mengekori Kaisar keluar dari ruangan itu.


Pintu besar itu terbuka, memperlihatkan sosok Kaisar dan Bram yang berjalan masuk.


Demian menatap datar pada sosok yang kini memasuki ruangan, terlebih ekspresi tak bersahabat yang terlihat jelas di wajah sepupunya, sungguh menarik perhatian.


"Apa aku menganggu waktu istirahatmu?" tanya Demian melirik sekilas arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tidak." jawab Kaisar singkat, lalu mendudukkan diri pada sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Demian.


"Ada apa?" tanya Kaisar to the point.

__ADS_1


Kaisar mencoba tetap bersikap profesional sebagaimana seorang pemimpin. Melupakan sejenak kenangan tidak menyenangkan yang ia lihat sebelumnya.


Meski mendapat jawaban seperti itu, kata hati Demian mengatakan jika sosok di hadapannya masih kesal kepada dirinya. Tapi hal apa yang dia lakukan?


Demian menghela napas pelan. Mencoba untuk tak memusingkan hal itu, mengingat jika ia harus membahas masalah bisnis dengan cepat bersama Kaisar. Karena waktunya di Negara itu tidak banyak.


"Ini soal bisnis. Jadi bisa aku memulainya?" tanya Demian mendapat anggukan kepala dari Kaisar. Meski raut wajah sepupunya itu masih terlihat tak bersahabat.


Demian memulai pembicaraannya. Kaisar mendengar dengan seksama, beberapa kali menganggukkan kepala setuju akan rencana yang diucapkan oleh sepupunya itu.


Hanya di saat beginilah, Demian mengeluarkan lebih dari sepuluh kata dari bibirnya. Walau wajahnya tetap sedatar jalanan tol.


"Itu cukup bagus." ucap Kaisar, ia mengakui kecerdasan taktik dan perkiraan sepupunya itu.


"Baiklah. Jadi mari bekerja sama," ucap Demian mengulurkan tangannya.


Sesaat Kaisar diam melihat uluran tangan itu. Kemudian meraihnya, lalu tersenyum.


'Sepertinya suasana hatinya sudah cukup baik.' batin Demian.


Mereka tak memerlukan surat kontrak, cukup persetujuan kedua belah pihak. Baru setelahnya surat kontrak di kirim untuk ditandatangani oleh Kaisar, begitulah biasanya. Mengingat jika keduanya adalah sepupu, jadi tak ada hal yang perlu diwaspadai.


"Baiklah, jika begitu aku pamit undur diri."


Kaisar mengangguk melihat Demian yang kini beranjak dari duduknya untuk segera keluar dari ruangan itu.


Tiba-tiba, Demian menghentikan langkahnya di ambang pintu keluar. Terlintas dipikiran tentang sosok wanita yang ia temui kemarin.


"Kaisar."


"Ya?" sahut Kaisar, menoleh ke arah pintu.


"Soal wanita yang kemarin..." ucapan Demian terhenti saat suara dering ponsel disaku celananya tiba-tiba terdengar.


Pria itu merogoh sakunya tanpa melihat perubahan pada ekspresi wajah sepupunya.


"Aku pergi dulu, Kaisar. Halo, Dad?" ucap Demian melenggang pergi tanpa menatap Kaisar.


Sedang sosok di dalam ruangan itu mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi marah, membuat Bram yang sejak tadi diam di samping sofa meneguk kasar ludahnya.


'Ada apa ini? Perubahan ekspresi yang sangat cepat dari Tuan.' batin Bram mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar.


"Apa aku hamili saja dia?" gumam Kaisar yang masih didengar oleh Bram, membuat pria itu berteriak ngeri dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2