
Seketika suara gebrakan meja menggema di dalam ruangan itu.
Kakek Lingga menatap tajam pada Liorand. "Beraninya kamu!"
Seketika Kakek Lingga menyentuh dadanya yang terasa sesak. Mendudukkan diri di kursi kebesarannya, lalu melirik tajam pada Liorand yang tetap diam di tempat dengan wajah datar.
"Tuan!" tiba-tiba pintu ruangan terbuka, memperlihatkan Rex -sekretaris Kakek Lingga- yang kini berlari mendekati meja kerja pria paruh baya itu.
"Tuan," ucap Rex khawatir melihat Kakek Lingga yang menyentuh dadanya dengan napas memburu.
Kakek Lingga tetap menatap tajam ke arah Liorand, mengabaikan rasa sakitnya sejenak untuk berbicara dengan cicitnya itu.
"Kau berbicara dengan begitu berani. Sepertinya kau sudah bertemu dengannya, ya." desis Kakek Lingga yang terdengar tak suka.
Rex yang tak tahu apa-apa, hanya bisa diam mendengar hal tersebut.
"Tuan..." panggil Rex saat Kakek Lingga tiba-tiba bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Liorand dengan sedikit tertatih.
PLAK!
Seketika wajah Liorand menoleh ke samping saat tamparan kuat itu mendarat di pipinya. Darah segar mengalir dari sudut bibir Liorand yang sedikit sobek.
"Kau tidak tahu seperti apa kotornya keluarga Ayahmu itu!" teriak Kakek Lingga hingga urat lehernya terlihat.
"Sekarang kau berani mengatakan hal itu padaku, hah?! Jika bukan karena Ibumu, kau yang memiliki wajah seperti pria itu sudah jelas akan aku buang di jalanan! Sekarang pergi! Keluar dari rumahku!" teriak Kakek Lingga murka. Tangannya terangkat menunjuk ke arah pintu keluar.
Sesaat Liorand diam. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu berbalik meninggalkan ruangan Kakek Lingga.
BRAK!
Liorand terdiam di depan pintu dengan wajah datar. Ia sedikit mengusap darah segar di sudut bibirnya, kemudian melangkah keluar tanpa berbalik ke belakang.
Sedang di dalam ruangan.
Rex segera memapah tubuh Kakek Lingga yang tiba-tiba tak sadarkan diri keluar dari ruangan tersebut.
'Kenapa hal buruk bisa terjadi di keluarga ini?'
***
Seorang wanita terlihat duduk diam di samping jendela dalam kamarnya. Tatapannya terlihat begitu kosong, seolah tak ada jiwa.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia terisak dengan rasa sakit begitu terasa di dadanya.
"Hiks! Hiks! Dadaku sesak," ucap Risya di sela-sela tangisnya. Ia menyentuh dadanya yang seakan tertimpa batu besar.
Sejak pertemuan di rumah sakit, Risya terus mengurung diri di dalam kamar. Menangis tanpa suara, mengeluarkan semua kepedihan yang ia tahan selama ini.
Tok tok tok!
"Nyonya Risya?"
Risya tetap diam tanpa menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Nyonya, bisakah Anda keluar sekarang? Keadaan Tuan besar tiba-tiba memburuk."
Seketika tubuh Risya menegang. Ia menoleh ke arah pintu keluar, lalu beranjak dari duduknya.
Pelayan itu terkejut saat pintu terbuka, menampakkan Risya dengan wajah sembab penuh kekhawatiran.
"Kakek di mana sekarang?"
Di rumah sakit.
Raila memiringkan sedikit kepalanya menatap sosok Kaisar yang duduk di kursi samping brankarnya.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Raila memberanikan diri.
Kaisar mendongak, mengangguk sambil menghela napas panjang.
"Ya, baik-baik saja." Kaisar mengacak gemas rambut adiknya, membuat Raila mendengus kesal lalu menepis tangan Kakaknya.
"Jangan menjawab sambil menghela napas begitu. Tidak akan ada yang percaya pada perkataan kakak jika seperti itu," ucap Raila kesal sembari meraih salah satu kue pada kotak persegi di pangkuannya.
Kaisar tersenyum tipis menanggapi hal itu.
"Sepertinya saat terbaring di brankar selama 3 bulan, kamu jadi semakin dewasa ya." ucap Kaisar sedikit bercanda.
Raila menyembulkan pipinya dengan mulut terus menguyah.
"Ya, ya, ya. Katakan saja terus seperti itu," kesalnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Revan sedikit sarkas.
Seketika Kaisar memasang wajah datar, "aku hanya berkunjung. Tidak boleh?"
Revan berdecap, lalu mendesis saat mendapat pukulan di perutnya.
"Maaf, Sayang." lirih Revan kala mendapat tatapan tajam dari Rania.
Wanita itu menggeleng pelan, lalu mengusap rambut lebat putranya.
"Jangan terlalu sering meninggalkan perusahaan sebelum jam pulang, Sayang. Itu tidak baik juga, masa iya Bos bertingkah seenaknya seperti itu. Harusnya memberikan contoh baik bagi para karyawanmu," nasehat Rania sambil menggeleng pelan
Rania terlihat memberikan kecupan singkat pada Raila, sedang Revan dan Kaisar terlihat saling bertukar pandang satu sama lain.
'Bukankah Daddy juga seperti itu? Bertingkah seenaknya, lalu memberikan beban pada putranya yang sibuk ini.' batin Kaisar.
'Apa lihat-lihat?' batin Revan membalas tatapan Putranya yang seolah tengah menyindir dirinya.
Meski memang benar adanya.
"Oh, iya. Bagaimana kondisi gadis di mansionmu, Kaisar? Sudah lebih baik, 'kan?" tanya Rania mengejutkan dua pria itu.
Seketika tubuh Kaisar menegang. Ia menelan kasar ludahnya dengan posisi duduk yang mulai tak nyaman.
Sedang Revan mengerutkan kening curiga, melirik sekilas putranya yang terlihat berkeringat.
__ADS_1
"Gadis? Siapa, Sayang?" tanya Revan yang mulai penasaran, melirik tajam Kaisar yang hanya menunduk tak berani mendongak.
"Apa kamu ingat saat aku pergi ke mansion Kaisar hari itu? Aku bertemu dengan seorang gadis yang bekerja sebagai pelayan di sana. Kondisinya terlihat begitu tidak baik untuk gadis seusianya," jawab Rania.
"Gadis pelayan?" gumam Revan yang masih didengar oleh Kaisar, membuat pria 24 tahun itu menelan kasar ludahnya.
"Bukankah sudah banyak pelayan di sana? Kenapa menambah pelayan? Seingat Daddy, kau sangat tidak suka jika ada wanita muda yang bekerja di dalam wilayahmu, Kaisar." ucap Revan dengan tatapan curiga mengarah pada putra sulungnya.
Kaisar diam tak menjawab. Menunduk dengan pikiran mencari kata sesuai untuk ia ucapkan.
"Kaisar..." panggil Revan, berbalik mendekati pintu keluar.
"Ikut Daddy."
Rania dan Raila bertukar pandang satu sama lain. Sedang Kaisar mau tak mau beranjak dari duduknya mengikuti langkah Ayahnya keluar dari ruang rawat itu.
Sepasang Ayah dan Anak itu berjalan beriringan keluar dari rumah sakit.
Beberapa kali Kaisar terdengar menghela napas pelan, menghentikan langkahnya di taman rumah sakit yang cukup sepi. Hanya ada mereka berdua di sana.
"Jawab Daddy."
Glek!
Kaisar menelan ludahnya.
"Apa yang kamu lakukan di belakang Daddy, Kaisar?" tanya Revan yang kini berbalik dengan tatapan tajamnya.
"Aku tidak melakukan apapun, Dad." jawab Kaisar singkat.
Revan menghela napas berat, "kalau begitu, jelaskan pergerakan aneh perusahaanmu akhir-akhir ini."
"Siapa yang ingin kamu jatuhkan?" kini Revan mengubah pertanyaannya, membuat Kaisar membisu.
"Jawab dengan baik, jangan biarkan Daddy yang mencari tahu. Karena kamu tidak akan suka hal apa yang Daddy lakukan jika mengetahui perbuatanmu di luar sana." ucap Revan mengeluarkan ancamannya.
"Semua sudah berlalu, Dad. Sekarang tidak terjadi apapun."
Seketika mata Revan terbelalak. Ia tahu maksud dari ucapan putranya itu, yang artinya telah terjadi sesuatu.
"Sekarang aku mencoba menebus kesalahanku. Jadi Daddy tenang saja, dan jangan memasang ekspresi menyeramkan seperti itu. Aku akan menikmati karma yang telah aku tuai," ucap Kaisar mengalihkan pandangan ke arah lain.
Revan menghela napas gusar, "anak ini..."
Sementara di tempat lain.
Suara bel apartemen terdengar beberapa kali, membuat Lion yang tengah memasak di dapur segera keluar untuk membuka pintu.
"Tunggu sebentar," ucap Lion kemudian membuka pintu.
Tubuh Lion menegang dengan wajah terkejut menatap sosok yang berdiri di hadapannya.
"Liorand," gumam Lion menelan kasar ludahnya.
__ADS_1