
Kaisar menggenggam erat ponsel di tangannya mendengar ucapan di seberang sana. Ia tahu jika hal itu sangat menganggu, tetapi amarah dan rasa penasaran tak bisa menghentikan niatnya untuk segera menghubungi sepupunya itu.
"Aku tanya, kamu waras?" Tanya Demian lagi, terdengar jelas nada datar di seberang telepon.
Sesaat Kaisar tetap diam. Tatapannya menajam menatap tembok ruang kerjanya, tak memedulikan sosok adiknya yang kini memasuki ruangan itu.
"Aku tanya, di mana dia?!" Sentak Kaisar mengabaikan pertanyaan Demian.
Helaan napas pelan terdengar di seberang telepon.
"Dia siapa?"
Terdengar jelas nada tak tahu dari ucapan sepupunya itu.
"Adelia!" Sentak Kaisar mengebrak meja kerjanya.
Tubuh Raila terkesiap mendengar suara teriakan dan gebrakan meja itu. Ia menatap kakaknya dengan mengerjapkan mata beberapa kali.
'Adelia... Apa itu nama Istri Kak Kaisar?' batin Raila mulai menyimpulkan.
Keheningan menguasai di seberang sana, membuat kening Kaisar mengerut lalu menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Menatap lama layar ponselnya yang memperlihatkan jika panggilan tersebut masih terhubung.
"Adelia?" Nada bertanya itu terdengar, membuat tubuh Kaisar menegang.
"Siapa?"
"Jangan berpura-pura tak tahu, Demian!" Teriak Kaisar.
"Aku tidak akan bertanya jika tahu." Ucap Demian singkat dengan nada malas.
Demian kembali berucap, "kamu tahu seperti apa aku, begitupun diriku mengetahui seperti apa dirimu. Aku tidak tahu siapa yang kau maksudkan. Aku tidak suka ikut campur urusan orang lain, ingat 'kan?"
"Tanpa aku jelaskan lagi kamu sudah tahu. Aku enggan untuk ikut campur, terutama masalahmu, Kaisar."
Seketika Kaisar terdiam. Dia cukup mengenal seperti apa sepupunya itu. Pria yang begitu enggan untuk ikut campur di dalam urusan orang lain jika tidak di minta.
Kaisar menunduk dalam. Menggigit bibir bawahnya. Walau Demian berkata seperti itu, tetap saja di sisi lain hatinya curiga. Selain Demian, tak ada orang lain yang pernah melihat Adelia di mansion-nya, pengecualian Ibunya.
"Kau mengusik tidurku, Kaisar." Balas Demian dengan helaan napas lelah terdengar jelas di seberang telepon.
Tutt!
Kaisar memutuskan panggilan sepihak. Meletakkan kasar ponsel di tangannya ke atas meja dengan menatap tajam ke depan. Pria itu mengertakkan giginya, mengepalkan kedua tangannya menahan kesal.
"Apa... kakak butuh bantuan?" Tanya Raila, membuat Kaisar menoleh.
"Aku akan ke Italia untuk melanjutkan studyku di sana. Mungkin aku bisa membantu Kakak memata-matai Kak Demian saat berada di sana," jelas Raila melanjutkan ucapannya. Ia tahu dari ekspresi Kakaknya yang terlihat tak percaya pada ucapan Demian.
__ADS_1
Raila tersenyum simpul kala melihat tatapan sendu yang kini mengarah padanya.
"Aku tidak melakukan ini hanya karena Kakak, tapi aku benar-benar ingin melanjutkan study di Negara itu."
Kaisar menghela napas pelan, menarik Raila ke dalam dekapannya. Mengusap pelan surai adiknya yang tergerai.
"Terima kasih... maaf merepotkanmu." Lirih Kaisar.
Senyum kecil terlihat di bibir Raila. Membalas pelukan erat kakaknya, "tidak merepotkan sama sekali. Aku juga ingin melihat wajah istri rahasia kakak itu." Ucapnya sambil terkekeh geli.
Perlahan Raila melepaskan pelukannya, sedikit mendongak menatap wajah Kaisar.
"Kakak tidak boleh lupa untuk memberitahukan hal ini segera pada Daddy dan Mommy. Aku akan berbicara pada Daddy agar segera pergi ke Italia, kakak harus makan dengan teratur. Semuanya serahkan padaku, jangan lupa mengurus perusahaan Kakak. Istri Kakak itu pasti akan kembali, percayalah."
Esoknya terdengar kabar jika Raila akan segera melanjutkan studynya yang tertunda di Negara Menara Pisa itu. Dan Kaisar kembali pada rutinitasnya di perusahaan.
Tak lupa meminta maaf pada Ayahnya yang menghandle semua pekerjaannya selama dia tidak masuk. Meski raut wajah Revan terlihat menampilkan raut wajah curiga, tetapi pria setengah baya itu masih enggan untuk bertanya. Takut jika membuat mood putranya kembali buruk.
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah."
Perlahan pintu terbuka, memperlihatkan Bram yang kini memasuki ruangan dengan beberapa lembar dokumen penting di tangannya.
Pria berkacamata itu meletakkan perlahan dokumen tersebut ke atas meja kebesaran Bosnya, sedikit melangkah mundur dan menatap lurus pada Kaisar.
Sesaat gerakan tangan Kaisar terhenti, ia menghela napas pelan lalu memejamkan mata.
"Pastikan selalu berikan informasi terbaru padaku."
Bram mengangguk, "baik, Tuan. Saya pastikan akan memberikan informasi segera pada Anda."
Pintu kembali tertutup, meninggalkan Kaisar seorang diri di dalam ruangan itu. Seketika punggung Kaisar bersandar pada kursi kebesarannya. Kepalanya mendongak menatap langit-langit ruangan.
Ia masih enggan untuk masuk dan mengerjakan semua pekerjaan itu. Ketidakhadiran Adelia membuat Kaisar tak fokus untuk mengerjakan semuanya.
Namun, dia tak mungkin berdiam di saat adiknya telah pergi untuk membantunya. Padahal Raila baru saja keluar dari rumah sakit, tapi sudah bertindak lebih seperti ini demi membantu Kaisar.
"Sepertinya aku harus menemui Mommy nanti." Gumam Kaisar, kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Sore hari tiba, mobil Kaisar kini telah terparkir di depan mansion Ayahnya.
Pria itu segera keluar dari dalam mobil memasuki kediaman tersebut, tepat saat berada di ruang tamu mata Kaisar menangkap kehadiran Sang Ibu yang tengah duduk di sofa sambil memanjakan Ayahnya.
Pasangan setengah baya itu terlihat begitu romantis. Di mana Revan dengan tiduran di pangkuan Rania sambil sesekali mengecup perut istrinya dari balik baju.
"Apa Daddy masih bisa membuat bayi, hingga terus menci*m perut Mommy seperti itu?"
__ADS_1
Seketika pandangan pasangan paruh baya itu mengarah ke sumber suara. Terlihat Kaisar yang kini mendekat, lalu duduk santai di sofa tunggal di hadapan orang tuanya.
Revan berdecih mendengar pertanyaan tak sopan dari bibir putranya itu.
"Bisa saja. Mudah malahan," jawab Revan acuh seraya mendudukkan diri.
Pria setengah baya itu berdesis saat mendapat cubitan di pinggangnya. Ia menatap sedih pada Rania.
"Sttt! Aneh-aneh saja kalau berbicara," Rania menggeleng seraya beranjak dari duduknya untuk memasuki dapur. Mengambil kue buatannya untuk Putranya itu.
"Kenapa datang?" Tanya Revan saat punggung Sang Istri menghilang dari pandangan.
Kaisar menghela napas pelan, "ingin berkunjung salah, ya?"
Revan tak menjawab. Ia hanya memutar bola mata malas, lalu kembali menatap curiga pada Putranya.
"Daddy..."
"Hm." Jawab Revan tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain, tetap fokus pada Kaisar yang kini menunduk menatap lantai.
"Kalau aku menikah diam-diam, apa Daddy akan marah?"
Kedua mata Revan mengerjap beberapa kali, menoleh ke arah Sang Istri yang kini melangkah keluar dari dapur.
"Untuk apa marah?" Revan balik bertanya, membuat Rania mengerutkan kening bingung dengan hal yang dibincangkan oleh dua pria itu.
"Dulu Daddy bahkan mengisi Mommymu lebih dulu, baru menikahinya diam-diam. Terus masuk kantor polisi sekali, karena berusaha menculik Mommymu di rumah Kakekmu. Setelah itu berpisah lagi setahun karena uncle sialanmu itu menculik Mommymu dan menyembunyikannya dari Daddy." Ucap Revan menceritakan kenangan lama.
Rania menggeleng pelan. Ingin memukul lengan suaminya itu, sedang Kaisar mengerjap beberapa kali.
"Mengisi? Maksudnya?" Tanya Kaisar yang masih penasaran akan maksud ucapan Ayahnya.
Revan menghela napas pelan, jari telunjuknya mengarah pada Kaisar.
"Mengisi rahim Mommymu dengan benih dan jadilah dirimu." Jujur Revan mendesis kala pukulan pelan mendarat di lengannya.
"Mommy."
Seketika pandangan Rania mengarah pada Putranya.
"Maukah membuatkan ku Gaun pengantin di butik langganan Mommy?"
Kedua mata pasangan setengah baya itu mengerjap beberapa kali mendengar hal tersebut.
"Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan dengan istriku."
Buk!
__ADS_1