TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 14


__ADS_3

Adelia diam menatap penampilannya di depan kaca. Tubuh mungilnya begitu cocok mengenakan pakaian pelayan saat ini.


"Nona."


Tubuh Adelia tersentak. Ia menoleh ke belakang, menatap sosok wanita yang memakai pakaian serupa dengan dirinya. Sosok gadis yang baru saja bekerja di kediaman itu.


"Anda sangat cantik," ucap pelan dengan senyum manis tak lepas dari bibirnya.


Adelia tersipu malu mendengar hal itu. Ia ingin mengatakan terima kasih, tapi tak bisa. Bibirnya seakan kaku, apalagi mengingat ucapan Kaisar kepadanya.


Lora, gadis manis yang berusia 19 tahun itu menatap Adelia dengan tatapan sendu dan kasihan.


Gadis itu cukup senang saat mendapat telepon dari kakaknya yang mengatakan jika ada pekerjaannya untuknya.


Ia bergerak dengan antusias menyiapkan diri setelah menerima telepon itu semalam, bersiap untuk tiba di kediaman yang akan menjadi tempat kerjanya.


Seharusnya saat ini ia melanjutkan studinya, tapi karena terkendala akan biaya Lora memutuskan untuk berhenti. Walau Kakaknya mengatakan akan membiayai pendidikannya, Lora menolak hal itu.


Ia memutuskan untuk mencari pengalaman kerja apapun itu sebelum mengambil keputusan. Lora berpikir jika usianya masih sangat muda, jadi masih banyak waktu baginya untuk melanjutkan pendidikannya.


Namun, semua kebahagiaan yang ia rasakan hancur saat mengetahui hal tak terduga di dalam kediaman tempat ia bekerja.


Mulut Lora seakan kaku dengan tubuh mematung. Sungguh, ia sangat terkejut saat membuka pintu kamar tamu dan mendapati sosok wanita yang lebih tua dari dirinya tengah meringkuk di lantai dengan selimut menyelimuti.


Lora semakin terkejut kala melihat luka dan rantai di kaki wanita itu. Hatinya seakan teriris ribuan pisau tak kasat mata. Ia pikir sosok Tuan Rumah itu baik, nyatanya tidak.


Seketika tubuh Lora tersentak saat seseorang menepuk pundaknya. Ia mendongak menatap sosok yang kini terlihat lebih ceria dari sebelumnya.


"Ada apa, Nona?" tanya Lora pelan dengan senyum tak lepas dari bibirnya.


Tak ada jawaban, Adelia hanya menatap Lora dengan wajah khawatir lantaran gadis muda itu hanya diam beberapa menit yang lalu.


Sedang Lora semakin membisu. Sejak berinteraksi dengan Adelia, ia tak kunjung mendengar wanita itu mengeluarkan suara atau berbicara padanya. Hanya sebuah tulisan yang membuat ia dapat mengerti keinginan dari sosok di hadapannya itu.


'Apakah Kakak ini bisu?' batin Lora, menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang tiba-tiba menghantam dada. Seakan ada batu besar yang menumpuk di dalam, hingga bernapas terasa sulit ia lakukan.


Lora kembali tersadar saat Adelia kini telah kembali di hadapannya. Membawa satu buku dan pulpen yang Lora berikan pagi tadi.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?"


Kata itulah yang tertulis di lembar kertas tersebut, membuat dada Lora kian terasa nyeri.


Gadis itu tersenyum simpul. "Saya baik-baik saja, Nona. Malahan saya khawatir pada Anda. Apa sungguh tidak mengapa jika Anda bekerja di saat tubuh Anda penuh luka?" Lora balik bertanya.


Adelia balas tersenyum simpul. Ia segera menulis kata yang ingin terucap dari bibirnya pada buku di tangannya.


Napas Lora tercekat di tenggorokan saat melihat tulisan itu. Air mata seakan ingin menetes dari pelupuk matanya.


"Aku merasa jauh lebih baik daripada harus terantai di dalam kamar ini. Lagipula aku merasa lebih baik saat melakukan sesuatu daripada hanya diam. Luka di tubuhku sudah jauh lebih baik karena kamu mengobatinya, jadi sudah tidak apa-apa."


Adelia tersenyum simpul hingga kedua matanya menyipit. Ia tahu jika tidak mudah lepas dari kediaman itu. Apalagi mengingat ada sosok Polin yang senantiasa berjaga, jadi kecil kemungkinan dia bisa melarikan diri.


Jadi, lebih baik baginya untuk bekerja daripada hanya terkurung di dalam kamar. Karena itu, Adelia meminta pada Lora untuk menyampaikan niatnya kepada Polin agar pria itu dapat memberitahukan Kaisar. Tentunya tidak mendapat persetujuan.


Tapi, entah apa yang merasuki pria kejam itu hingga tiba-tiba memberi ijin sore ini.


"Ayo, kita mulai bekerja, Kak." Suara Lora menyadarkan Adelia dari lamunannya. Wanita itu tersenyum simpul sambil mengangguk menanggapi ucapan Lora, meletakkan buku kecil dan pulpen pada saku pakaian pelayan yang ia kenakan.


Adelia mengangguk seakan memberitahu Lora untuk kembali melangkah keluar agar dapat segera melakukan pekerjaan mereka.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Polin yang berjaga sejak tadi di samping pintu kamar. Pria berbadan kekar itu menatap lama ke arah dua wanita yang keluar dari kamar tersebut, segera menunduk saat tatapannya bertemu dengan tatapan tajam sosok gadis mungil yang berjalan di depan.


"Dasar jahat," desis pelan Lora melangkah melewati Polin yang hanya mampu menghela napas pasrah.


Apa yang bisa Polin lakukan? Dia hanya pria yang bekerja di bawah seseorang, jadi sudah sewajarnya ia melakukan sesuai perintah dari orang yang membayarnya. Polin tak punya kuasa untuk membantah perintah dari atasannya.


Pria itu sedikit mencuri pandang ke arah dua wanita yang kini telah memulai tugas.


Apakah bisa dua orang gadis mungil itu membersihkan mansion tersebut? Pertanyaan itulah yang terlintas di benak Polin.


Tak ingin memusingkannya, Polin memilih melangkah mendekati pintu keluar.


"Saya akan berjaga di luar. Saya harap Anda tidak memiliki niat untuk kabur, Nona. Karena saya tidak dapat menebak hal seperti apa yang akan diberikan oleh Tuan Kaisar pada Anda jika berani melarikan diri." ucap Polin, lalu menghilang dari balik pintu.


Adelia diam mematung mendengar hal itu. Tubuhnya kembali gemetar. Dengan kuat ia menggenggam kain lap di tangannya.

__ADS_1


Sedang Lora mengepalkan tangan kesal. Berusaha menahan kesal.


Di sisi lain.


Kaisar berlari cepat keluar dari lift hingga mengejutkan para karyawannya yang berada di Lobi.


Pria itu berlari cepat keluar mendekati mobilnya, ia harus segera pergi dan kembali ke mansion-nya.


"Sial! Akan berbahaya jika Mommy mengetahuinya." ucap Kaisar segera memasuki kendaraan roda empat itu dengan perasaan tidak tenang.


Lima belas menit kemudian.


Sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan mansion, membuat Polin segera melangkah cepat lalu membuka pintu belakang.


"Selamat datang, Nyonya." sapa Polin kala sosok wanita setengah baya yang tetap cantik itu keluar dari mobil.


Rania tersenyum simpul menanggapi sapaan pria yang ia yakini adalah bawahan Putranya.


"Halo, apa Kaisar belum kembali?" tanya Rania.


Polin menggeleng, "belum, Nyonya."


Rania sedikit menunduk mendengar hal itu. Kemudian tersenyum sambil melangkah masuk.


"Sebaiknya aku ke dalam untuk menyiapkan makanan kesukaannya sebelum dia kembali ke sini." gumam Rania yang masih didengar oleh Polin.


Pria itu menatap punggung Sang Nyonya yang perlahan menghilang dari balik pintu. Ia hanya berharap agar semuanya berjalan lancar.


Tepat saat Polin berniat untuk kembali ke tempat jaga, mobil Lamborghini yang sangat ia kenali berhenti di belakang mobil sedan mewah itu.


Sosok Kaisar terlihat keluar dengan terburu-buru dari mobil. Sesaat menatap Polin seakan bertanya pada bawahannya.


"Nyonya sudah masuk ke dalam, Tuan. Nyonya baru tiba beberapa detik yang lalu," ucap Polin.


Segera Kaisar berlari cepat memasuki mansion-nya. Kedua mata Kaisar terbelalak dengan langkah kaki terhenti di ruang tamu melihat Sang Ibu kini berdiri tepat di depan Adelia.


"Mommy."

__ADS_1


__ADS_2