TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 18


__ADS_3

Kaisar mengetukkan pelan jari telunjuknya di atas meja. Menghela napas kasar mengingat panggilan singkat antara dirinya dan istri sahabat Ayahnya beberapa menit yang lalu.


Kaisar menyetujui hal itu. Mau bagaimana lagi, jika menolak dia akan membuat Zeline curiga.


"Ha'ah." Kaisar menghela napas panjang. Beranjak dari duduknya, melangkah keluar dari ruangan kebesarannya.


"Bram!" panggil Kaisar sesaat setelah menutup pintu.


"Ya, Tuan." sahut Bram, segera mendekati Bosnya itu.


"Tunda semua jadwalku hari ini."


Bram mengerjap, menatap penuh tanya pada Kaisar.


"Aku ada urusan di luar seharian ini. Jadi tunda semuanya, alihkan esok hari." titah Kaisar melenggang pergi meninggalkan Bram yang masih terdiam mencerna ucapannya.


"Apa keadaan Nona Raila memburuk?" tanya Bram pada dirinya sendiri. Karena tidak biasanya Kaisar memindahkan jadwalnya, kecuali jika urusan penting itu berhubungan dengan Adiknya.


"Ya, sudahlah." ucap Bram pasrah.


Sedang di lobi perusahaan.


Kaisar melangkahkan kakinya keluar dengan sedikit tergesa-gesa. Sedikit menganggukkan kepala menanggapi sapaan beberapa karyawan yang menyapanya.


Setibanya di depan perusahaan, mobil Lamborghini kesayangannya telah terparkir sempurna.


Kaisar segera membuka pintu kemudi, kemudian masuk dan melajukan kendaraan roda empat itu pergi meninggalkan bangunan pencakar langit miliknya.


Sesaat Kaisar diam mengemudikan mobilnya. Pikirannya menerawang entah ke mana.


"Sebaiknya aku ke rumah sakit dulu, baru kembali ke mansion." gumam Kaisar, memutar arah ke rumah sakit.


Dua puluh menit kemudian.


Mobil Kaisar telah terparkir sempurna di parkiran rumah sakit.


Pria itu segera membuka pintu kemudi, melangkahkan kakinya memasuki bangunan yang tak lepas dari aroma obat-obatan.


Setelah memasuki lobi dan naik ke lantai dua menggunakan lift, kini Kaisar telah berdiri di depan pintu ruangan Raila.


Kaisar meraih gagang pintu, lalu membukanya memperlihatkan pemandangan yang membuat ia mematung.


Suara Isak tangis kebahagiaan terdengar memenuhi ruangan itu. Kedua orang tuanya terlihat menangis haru di samping Brankar.


Bibir Kaisar bergetar dengan air mata di pelupuk matanya. Kapan saja siap terjun bebas membasahi pipinya.


"Raila..." panggil Kaisar. Suaranya bergetar mengucapkan hal itu.

__ADS_1


Sosok yang dipanggil terlihat menoleh dengan wajah pucatnya. Tersenyum tipis menatap Kaisar yang berdiri gemetar di ambang pintu.


"Ka-kak." panggilnya lirih.


Kaisar segera berlari menghampiri sosok lemah itu. Rania dan Revan terlihat menepi, membiarkan Kaisar memeluk erat tubuh mu gol Raila yang kini telah kembali siuman setelah koma.


"Syukurlah. Syukurlah kamu sudah siuman," tangis Kaisar pecah. Ia memeluk tubuh mungil adiknya dengan posisi sedikit menunduk.


"Kakak cengeng," ucap Raila terkekeh pelan.


Kaisar tak peduli dengan ejekan yang dilontarkan oleh adiknya. Ia tetap memeluk tubuh mungil Raila, melepaskan semua perasaan bersalah yang menumpuk di hatinya.


Syukurlah adiknya telah kembali.


"Kakak, aku lapar."


Seketika Kaisar melepas pelukannya. Raila tertawa pelan melihat wajah Kakaknya yang seperti anak kecil. Air mata membasahi pipi pria dewasa itu.


"Kamu mau makan?" tanya Kaisar. Ia mengusap kasar wajahnya dengan terburu-buru, menghilangkan bekas air mata hingga membuat beberapa orang dalam ruangan itu tertawa pelan melihat tingkahnya.


Kaisar segera berbalik untuk membeli makanan kesukaan adiknya. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah lengan mendarat di pundak kanannya.


"Kamu jadi mendadak bodoh saat berhadapan dengan adikmu, ya?" ucap Lion sedikit bercanda.


Kaisar mengerjapkan matanya. Menggaruk pipinya yang tidak gatal, mencoba mencerna ucapan Lion.


Raila tertawa pelan di atas brankarnya. Memegang perutnya yang terasa sakit menahan suara tawanya.


"Kami sudah meminta perawat untuk membawa bubur ke ruangan ini. Jadi tidak perlu pergi untuk membeli makanan. Dan lagi, Raila belum diperbolehkan memakan makanan berat. Dia baru saja siuman. Kamu mau saja dibodohi oleh adikmu," ucap Lion menggeleng tak percaya.


Lion mengusap pelan rambut Raila yang masih terkekeh geli melihat tingkah kakaknya. Sedang sosok Logan yang berdiri diam tidak jauh dari Kaisar, berusaha menahan tawa.


Pria itu menutup mulutnya menggunakan tangan, mengalihkan pandangan ke arah lain saat Kaisar menatap ke arahnya.


"Mommy dan Daddy kenapa tidak mengabari aku jika Raila sudah siuman?" tanya Kaisar, kini beralih menatap kedua orang tuanya.


Revan menggeleng pelan, "kami berniat untuk memberitahumu. Tapi karena terlalu senang melihat Raila siuman, kami jadi lupa."


Kaisar berdecap, sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Sang Ayah.


Tiba-tiba, Kaisar menunduk menatap lantai. Tersenyum tipis dengan jantung berdetak tak karuan. Ia sangat bahagia, sungguh bahagia.


"Oh, iya. Kapan Uncle Logan tiba?" Kaisar mengalihkan pandangan kembali menatap Logan.


"Aku baru tiba pagi ini dan bergegas ke rumah sakit untuk bertemu dengan Kakakku." ucap Logan menatap punggung Logan yang terlihat tersentak sesaat.


"Ada hal penting yang ingin aku bahas dengannya, tapi siapa sangka jika saat ingin berbicara hal penting terjadi sesuatu yang tak terduga. Jadi kami segera ke ruangan Raila, dan gadis nakal itu sudah siuman." lanjut Logan tersenyum menatap gadis di atas brankar.

__ADS_1


Raila terdiam dengan rona merah di pipinya. Ia cukup malu setiap kali suami dari Zara itu memanggilnya gadis nakal. Bukan tanpa sebab, karena saat kecil Raila sangatlah nakal melebihi dua putra Logan.


Kaisar mengangguk masih dengan senyum tipis di bibirnya.


"Kamu tidak bertemu dengan Demian?" tanya Logan tiba-tiba, membuat Kaisar tersentak.


Pria itu mengerutkan kening dengan tatapan penuh tanya.


Demian? Pria dengan wajah datar dan penuh misteri yang cukup membuat Kaisar penasaran. Padahal usia Demian terbilang lebih muda dari dirinya.


"Dia juga datang?" Kaisar balik bertanya.


Logan menaikkan sebelah alisnya, "tentu. Dia berkata ingin bertemu denganmu dan membicarakan hal penting juga memberitahu jika Raila sudah siuman. Jadi kalian belum bertemu?"


Dengan segera Kaisar menggelengkan kepala cepat. Melihat batang hidungnya saja tidak, apalagi bertemu.


"Hm, kamu berada di mana sebelum ke sini?" tanya Logan, mendudukkan diri di salah satu sofa dalam ruangan itu.


"Perusahaan," jawab Kaisar singkat.


"Oh, begitu." Logan menganggukkan kepala mengerti, "sepertinya anak itu pergi ke tempat lain. Mungkin mengira jika kamu masih berada di mansionmu pagi ini."


Seketika Kaisar terkejut. Kapan Demian mengetahui letak mansion-nya?


"Mommy mengira jika kamu mungkin tidak berada di perusahaan, jadi kami memberitahu letak mansionmu padanya." jawab Revan yang melihat ekspresi penuh tanya di wajah putranya.


"Kalau begitu aku akan kembali ke mansion dulu, Mom, Dad." Pamit Kaisar, tersenyum lembut ke arah Raila.


"Baiklah. Hati-hati di jalan," ucap Rania menatap punggung lebar putranya yang perlahan menghilang dari balik pintu.


Di sisi lain.


Mobil sedan mewah berhenti tepat di depan mansion milik Kaisar. Demian membuka pintu kemudi, melihat sekeliling yang cukup sepi.


"Seperti tidak ada orang." guman Demian.


"Apa sebaiknya aku bertanya pada penjaga gerbang tadi?" lanjutnya dengan wajah datar.


Pria itu mengalihkan pandangan menatap sekeliling. Tatapannya terkunci saat melihat sosok wanita di taman depan mansion.


Perlahan kedua kaki Demian melangkah mendekati wanita itu. Sosok yang terlihat begitu fokus pada pot bunga dalam genggamannya, bahkan tak menyadari kehadiran Demian yang kini telah berdiri di hadapannya.


"Apa Kaisar ada di dalam?"


"Ah!"


Prang!

__ADS_1


__ADS_2