TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 25


__ADS_3

Suara dentingan jarum jam memenuhi ruang tamu mansion mewah itu.


Adelia duduk bersimpuh di lantai dengan tubuh gemetar. Kepalanya menunduk, tak berani mendongak menatap sosok pria yang tengah duduk di sofa tunggal. Menatapnya dengan tatapan elang, seolah mengawasi gerak-geriknya hingga membuat Adelia terus menelan kasar ludahnya tanpa henti.


Sesaat suara sesuatu dilempar kasar ke atas meja terdengar memasuki indra pendengaran Adelia. Ia ragu untuk melihat hal apa itu.


"Tanda tangan." ucap Kaisar tak mengubah ekspresi datar pada wajahnya.


Perlahan Adelia mendongak menatap Map berwarna hitam di atas meja. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, tersentak kala tanpa sengaja bertatapan dengan Kaisar.


"Kenapa tidak bergerak untuk menandatanganinya? Kau ingin aku menyeretmu masuk ke dalam kamar, hah?"


Seketika Adelia mendekati meja. Meraih pulpen di atas meja dengan tangan gemetar. Tanda tangan Adelia terbubuhi pada kertas tersebut, membuat seutas senyum kecil terbit di bibir Kaisar.


Dengan kasar Kaisar meraih kertas itu. Bangkit dari duduknya dengan sedikit melirik tajam pada Adelia, membuat tubuh gadis itu gemetar tanpa henti.


Perlahan Kaisar melangkah pergi meninggalkan Adelia, membuat Wanita itu menghela napas lega sesaat.


Hingga tiba-tiba, Kaisar menghentikan langkahnya.


"Kau tidak mengatakan hal aneh saat bertemu dengan Tante Zeline, 'kan?" tanya Kaisar tajam.


Adelia segera menggeleng cepat tanpa berani menoleh ke belakang. Ia mati-matian meremas lengannya untuk menghentikan gemetar tubuhnya.


Kaisar kembali tersenyum melihat gelengan kepala wanita itu, "bagus. Kalau kau menurut begini, aku tidak akan melakukan hal kasar kepadamu."


Kaisar melenggang pergi setelah mengatakan hal tersebut. Melangkahkan kakinya naik ke lantai dua, tanpa menoleh menatap ke belakang.


'Aku ingin pergi dari sini. Siapapun, tolong aku.' Adelia menggigit bibir bawahnya.


Dadanya sesak tinggal di dalam mansion mewah itu. Ia merindukan kehidupan lamanya, di mana bibirnya masih bisa mengucapkan kata-kata. Masih bisa tersenyum manis.


Dan, tidak takut setiap kali menutup mata untuk tertidur.


"Nona," panggil Lora.


Adelia menoleh dengan air mata membasahi pipinya.


"A-Anda baik-baik saja? Tu-Tuan itu tidak melakukan apapun pada Anda, 'kan?" Lora bertanya dengan kekhawatiran. Kini gadis itu duduk bersimpuh di samping Adelia, memegang kedua tangan wanita itu dengan begitu erat.


Seketika tangisan Adelia semakin pecah. Lora meraih tubuh ringki itu. Memeluknya erat dengan rasa sesak yang juga terasa di dadanya.


'Maafkan saya, Nona. Saya belum bisa membantu Anda untuk pergi dari tempat ini. Tapi saya berjanji, jika suatu saat nanti ada kesempatan yang diberikan Tuhan. Maka saya pasti akan melakukan apapun untuk membantu Anda, tidak peduli jika harus melawan Kak Polin.' batin Lora dengan rasa nyeri di hatinya.


Sedang di lantai atas.

__ADS_1


Kaisar mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. Senyum manis terukir jelas di bibirnya menatap lembaran kertas itu.


"Hanya tinggal menunggu waktu saja. Setelah itu, semuanya akan baik-baik saja." ucapnya dengan senyum bangga.


Sesaat Kaisar mengalihkan pandangan ke arah lain. Menghela napas pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sebenarnya ia ingin melakukan saran yang dikatakan oleh Louis, tapi dia tidak yakin jika Adelia akan seperti Aunty Rara-nya.


"Untungnya Uncle Logan memberi saran yang cukup baik agar dia tidak semakin membenciku. Sekarang tinggal mendekatinya perlahan," ucap Kaisar bangga. Suasana hatinya saat ini sangatlah baik, bahkan membuat senyum terus terukir di wajahnya yang selalu datar itu.


***


Zara menatap aneh ke arah suaminya yang tengah duduk di sofa dalam kamar mereka.


Saat ini keduanya telah berada di mansion yang dibeli oleh Logan untuk mereka tinggali saat kembali ke Indonesia. Untuk jaga-jaga, karena kadang sesuatu yang tak terduga sering terjadi.


"Ada apa dengan senyum di wajahmu itu? Apa sesuatu yang menyenangkan terjadi?"


Perlahan Zara naik ke atas tempat tidur dengan baju tidur yang melekat di tubuhnya.


Logan menoleh menatap istrinya tersenyum penuh arti, lalu memanyunkan bibirnya.


Sesaat Zara menggelengkan kepalanya, kemudian mengecup singkat bibir Logan.


"Tidak ada apa-apa." jawab Logan dengan senyum mengembang di bibirnya. Pria itu menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Zara, memejamkan mata menikmati usapan pelan istrinya.


"Aku senang. Akhirnya kita bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan."


Zara terkekeh pelan mendengar hal itu. Tangannya terus bergerak mengusap rambut Logan.


Ia akui, cukup jarang ada waktu berdua untuk mereka. Dia yang kadang kala harus bekerja lembur di rumah sakit, meski Logan terus berusaha membujuknya agar berhenti.


Tapi Zara tak melakukannya. Karena itu adalah impiannya. Tidak mungkin dia berhenti begitu saja setelah berusaha payah meraihnya.


Setiap kali ia libur untuk menikmati waktu berdua dengan suaminya yang juga super sibuk di perusahaan. Ada saja gangguan yang datang.


Ya, meski dia tidak bisa mengatakan jika kedua putranya adalah gangguan.


Karena Zara juga sangat merindukan putra-putranya yang telah tinggal jauh dari rumah. Walau itu masih berada di kota yang sama.


Seiring bertambahnya usia, sifat imut kedua putranya pun hilang. Apalagi putra pertamanya, Demian.


Sosok yang kini hanya terus menampilkan wajah datar, hanya secuil senyum yang kadang terlihat.


Dan, Putra keduanya yang bisa dibilang hiperaktif. Berbanding terbalik dengan Putra pertamanya, meski wajah keduanya tak jauh berbeda.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Logan dengan wajah polosnya.


Seketika Zara tersentak dari lamunan. Sedikit menunduk menatap wajah suaminya yang tidak banyak berubah jika bersamanya. Selalu saja mampu membuat ia gemas sendiri.


"Sudah tua. Jangan bertingkah imut," ucap Zara terkekeh pelan.


Logan menyembulkan pipinya. Cemberut mendengar ucapan istrinya.


"Gini-gini aku masih kuat beberapa ronde, Sayang." ucap Logan, membuat Zara tertawa.


"Dasar! Otaknya udah hampir sama dengan Louis."


Sontak Logam menatap wajah Zara. Tatapan kesal yang terlihat jelas dari iris matanya.


"Cih!" Logan berdecih, "jangan samakan aku dengan si tua Bangka tak tahu malu itu." kesalnya.


"Otaknya kotor. Malah mengajarkan ajaran sesad pada anak-anak," gumam Logan semakin kesal mengingat hal di rumah sakit tadi.


"Kamu bilang apa?" tanya Zara bingung yang samar-samar mendengar gumaman suaminya.


Logan segera menggeleng pelan. Ia tak ingin istrinya tahu, karena bisa saja ia diintrogasi lebih jauh.


Ia takut, Zara tahu jika ia memberikan ajaran tidak baik kepada Kaisar. Ya, walau ajarannya masih terbilang lebih baik daripada Louis.


'Pria seperti apa yang akan tahan menjadi menantunya? Aku berharap anak muda itu bisa tahan mendapat mertua seperti dia.' batin Logan berdoa.


"Ayo, kita tidur, Sayang." ajak Logan bermanja di perut Zara.


Esoknya~


Seorang gadis terlihat memperhatikan makanan dalam cepat saji di hadapannya. Ia bersiap untuk memesan, mengisi perutnya yang keroncongan karena belum makan siang.


"Aku pesan ini," ucapnya antusias sambil tersenyum. Sudah lama dia tidak menikmati waktu santai seperti ini.


Tiga bulan ia lalui dengan ketakutan. Tak berani keluar dari apartemen yang disediakan oleh Kakek dan kakaknya sebagai tempat persembunyian.


Kini sudah saatnya ia menikmati waktu luang seperti ini, bukan? Melupakan semua rasa bersalah yang menggerogoti tubuh dan pikirannya tanpa henti.


Ia berpikir seperti itu, hingga tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan sosok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Seketika napasnya terasa tercekat di tenggorokan.


Note:


Halo, Guys. Maaf, kemarin belum bisa up ternyata. Cukup sibuk persiapan idul Fitri dua hari lagi. Aku ucapkan Minal aidzin wal faizhin🥰 Mohon maaf kalau selama ini ada salah kata dan suka gantung kalian terus ucap janji-janji manis🙈😂🤣 ada pengumuman penting. udah aku post di ig😘

__ADS_1


__ADS_2