TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 33


__ADS_3

Kedua mata Adelia terbelalak kala sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya. Jantungnya kini memompa dua kali lebih cepat dengan tangan gemetar mencoba mendorong bahu sosok yang kini meraup bibirnya, seolah akan menghabiskannya tanpa sisa.


"Emp."


Sedang Kaisar memejamkan kedua matanya. Menikmati bibir atas dan bawah Adelia secara bergantian, tanpa peduli pada dorongan pelan di bahunya.


"Ah!" Adelia memekik tertahan kala gigitan cukup keras terasa di bibirnya. Sontak ia membuka bibirnya, membuat Kaisar dengan segera memasukkan lidahnya ke dalam sana.


Kaisar mengangkat tubuh Adelia tanpa melepas ciumannya. Berjalan mendekat ke arah tempat tidur, lalu merebahkan tubuh Adelia perlahan.


Suara deru napas saling bersahutan di dalam kamar itu. Kaisar menatap lama wajah Adelia yang kini mencoba meraup oksigen saat ciuman mereka terlepas.


Senyum kecil terbit di bibir Kaisar, merasa lucu dengan ekspresi Adelia saat ini.


Seketika napas Adelia tercekat di tenggorokan saat tangan besar Kaisar kini berada di pipinya. Mengusap helaian rambut yang menempel di wajah Adelia, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.


Cup!


Kecupan singkat mulai Kaisar berikan dengan cepat ke wajah Adelia tanpa melewatkan seinci pun.


Mulai dari kening, mata, pipi, hingga kembali berakhir ke bibir Adelia.


Drttt! Drttt!


Tiba-tiba, suara dering ponsel terdengar memenuhi ruangan itu.


Kaisar mengabaikannya, terus mencium bibir Adelia. Mengajak wanita itu untuk menikmati permainannya.


Drtttt! Drtttt!


Suara dering ponsel kembali terdengar, membuat Kaisar melepaskan ciumannya dengan kesal.


"****!" Umpat Kaisar, segera merogoh saku celananya. Meraih benda pipih yang mengusik kesenangannya.


Kaisar yang tadinya ingin menyumpahi Sang penelepon, mengurungkan niatnya kala melihat nomor yang tertera di layar.


Kaisar menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Mengubah posisi hingga duduk di tepi ranjang dengan sedikit kekesalan di hatinya.


"Halo, Dad." Sapa Kaisar pada sosok Ayahnya di seberang telepon.


"Sepertinya Daddy mengganggumu, ya?" Tanya Revan yang menyadari perubahan suara putranya.


"Tidak juga." Balas Kaisar, meski bibirnya ingin mengatakan iya.


Terdengar helaan napas pelan di seberang sana, membuat Kaisar menaikan sebelah alisnya. Amarah yang tadinya ada di hati, kini menghilang tanpa sisa.


"Ada apa, Dad?" Tanya Kaisar, mengalihkan pandangan menatap Adelia yang terlihat beringsut menjauhinya.


Adelia berusaha untuk menepi ke kanan, menjauhi pria yang kini terlihat begitu serius berbicara pada sosok di seberang telepon.


Namun, gerakannya terhenti saat sebuah tangan kini mencekal kakinya.


Adelia terkejut saat Kaisar menarik kakinya mendekat. Kini tubuhnya kembali berada di sisi Kaisar.


"Katakan saja, Dad." Ucap Kaisar menatap datar Adelia, lalu mengubah posisi hingga tertidur dan memeluk tubuh wanita itu dari samping.


Beberapa kali Adelia menelan kasar ludahnya berada dalam dekapan pria kejam itu. Ia ingin melepaskan pelukan Kaisar pada tubuhnya, tetapi justru pria itu malah semakin memeluknya erat.

__ADS_1


"Daddy ingin memintamu mengurus perusahaan Daddy di Los Angeles."


Seketika tubuh Kaisar menegang mendengar hal itu.


"Kapan?" Tanya Kaisar pelan, hampir terdengar seperti berbisik membuat Adelia sontak menoleh dan terkejut mendapati Kaisar yang juga menatapnya.


"Lebih cepat, lebih baik. Mungkin besok jika kamu tidak sibuk di perusahaanmu, karena jika menyelesaikannya dengan cepat maka kamu juga akan kembali cepat ke Indonesia." Tutur Revan di seberang telepon.


Sebenarnya Revan bisa saja pergi dan mengurus masalah di sana secara langsung, tetapi keadaan saat ini membuat dirinya tak bisa meninggalkan Indonesia.


Terlebih melihat tingkah Putrinya yang membutuhkan kehadirannya.


Kaisar menghela napas kasar. Ada rasa tak rela di hatinya meninggalkan Adelia.


"Oke, Dad. Besok aku akan berangkat," balas Kaisar menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Adelia.


"Baiklah. Mohon bantuannya, Kaisar. Maaf, karena merepotkanmu Nak."


"No problem." Balas Kaisar, meletakkan ponselnya ke atas meja setelah panggilan terputus.


Kaisar menghela napas kasar. Semakin memeluk erat tubuh mungil yang gemetar dalam dekapannya.


"Sepertinya yang tadi harus kita tunda," bisik Kaisar yang masih didengar oleh Adelia, "aku akan pergi ke Los Angeles besok. Jadi mungkin akan meninggalkanmu selama beberapa hari di sini." Lanjutnya.


Kepala Kaisar sedikit mendongak menatap wajah Adelia yang kini terlihat mengerjap beberapa kali.


'Dia akan pergi?' seutas senyum terbit di bibir Adelia.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Kaisar yang merasa aneh dengan senyum di bibir wanita itu.


Seketika Adelia tersentak. Ia segera menggelengkan kepalanya, tak ingin Kaisar tahu jika hatinya begitu senang mendengar kabar tersebut.


"Apa aku bawa kamu juga ke sana?"


Kedua mata Adelia terbelalak mendengar gumaman itu, wajahnya menjadi pias dengan bibir gemetar.


Kaisar memandang lama wajah Adelia yang kini terlihat enggan menatapnya. Bukan enggan, tapi takut bertatapan dengan dirinya.


"Kamu masih mengingat ucapanku hari itu, ya?" Tanya Kaisar tanpa mengalihkan pandangan. Tetap setia menatap wajah Adelia yang membuat jantungnya berdetak tak karuan di dalam sana.


Tak ada sahutan. Adelia hanya diam dengan tatapan mengarah ke tempat lain. Sesekali wanita itu akan menelan kasar ludahnya.


"Aku menarik kembali ucapanku itu. Sekarang kamu sudah bisa berbicara," ucap Kaisar.


Namun, Adelia tetap diam. Ia juga ingin kembali mengucapkan kata-kata dari bibirnya, tetapi suaranya seolah tak bisa keluar.


"Adelia..." Panggil Kaisar, sontak ia mendudukkan diri melihat gelagat aneh wanita di sampingnya itu.


Keringat dingin membanjiri kening Adelia tanpa henti. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata terpejam.


"Adelia!" Teriak Kaisar saat wanita itu kehilangan kesadarannya.


"****!" Kaisar segera beranjak dari tempat tidur, membuka pintu hingga membuat Polin terlonjak kaget di tempatnya.


"Tuan..."


"Hubungi Dokter! Minta Adikmu untuk membawa air hangat dan handuk ke kamar." Titah Kaisar yang terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


Polin segera berlari meninggalkan tempatnya. Menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


Sedang Kaisar kembali masuk ke dalam kamar. Mendudukkan diri di samping Adelia dan menepuk pelan pipi wanita itu.


"Adelia! Adelia!" Panggil Kaisar, berharap agar Adelia segera membuka mata dan melihatnya meski dengan ketakutan.


***


Pukul 19:00, Milan.


"Saya sungguh tidak menduga, jika Kaisar Argantara akan melakukan tindakan keji seperti itu, Tuan."


Demian mengetatkan rahang. Bukan karena ucapan tangan kanannya, tapi karena bait demi bait kata yang ada pada lembaran informasi di tangannya.


Demian juga tak ingin membantah ucapan tersebut, karena memang benar adanya.


"Dia sudah keterlaluan." Gumam Demian yang masih didengar oleh tangan kanannya.


Pria itu hanya menundukkan pandangannya menatap lantai. Ia paham, dan sangat mengerti sifat sosok yang ia layani.


Sedingin-dinginnya seorang Demian Salvatore, dia tak pernah melampiaskan amarah pada seseorang yang tak bersalah, apalagi jika itu adalah seorang wanita.


Demian sangat menghargai wanita, seperti apa yang diajarkan oleh Ibu dan Ayahnya.


"Saya sempat memeriksa latar belakang wanita itu."


Demian mengalihkan pandangan hingga fokus pada tangan kanannya. Menaikkan sebelah alis, menanti lanjutan dari ucapan itu.


"Dia hanya wanita yatim piatu. Saya sudah mencoba mencari informasi tentang keluarga istri dari Tuan Lionardo, dan mereka tidak memiliki hubungan sama sekali. Hanya saja, wajahnya memang sedikit mirip dengan putri Tuan Lionardo, tapi mereka tidak memiliki hubungan darah." Jelasnya.


Demian menggigit bibir bawah. Hingga suara dering ponsel mengejutkan dua orang itu.


"Halo."


"Seperti itu?"


Kedua mata Demian mengerjap mendengar percakapan tangan kanannya dengan sosok di seberang telepon, hingga akhirnya pria berusia 45 tahun itu meletakkan kembali ponsel ke saku celananya.


"Ada apa?" Tanya Demian sedikit penasaran.


"Kaisar akan segera meninggalkan Indonesia dan mengurus perusahaan Ayahnya yang mengalami sedikit masalah di Los Angeles."


"Jadi, bagaimana sekarang, Tuan Demian?" Lanjutnya bertanya, seolah memancing sosok pemuda di hadapannya.


Sesaat Demian diam. Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya. Ia mencoba menyakinkan diri sendiri agar tak mengusik kehidupan keluarganya, tetapi hal yang dilakukan oleh Kaisar sungguh tidak bisa dibiarkan.


"Sepertinya aku memiliki mansion kosong di La Spezia."


Pria itu tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir Demian, ucapan yang memberi perintah tidak langsung pada dirinya.


"Saya akan meminta mereka untuk membawanya ke sana." Ucapnya membungkuk hormat, lalu berjalan mendekati pintu keluar ruang kerja Demian.


"Maaf, merepotkan kalian untuk melakukan hal seperti itu."


Pria itu kembali tersenyum simpul. Menghentikan langkahnya di ambang pintu.


"Kami tidak keberatan, karena bisa saja dia menjadi Nyonya muda di keluarga Salvatore." Ucapnya lirih di akhir, membuat Demian mendongak dengan tatapan aneh menatap daun pintu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membantu. Bukan untuk niat lain," gumamnya sedikit kesal.


__ADS_2