TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 12


__ADS_3

"Kaisar..."


Seketika Kaisar tersentak dari lamunannya. Pria itu menoleh menatap Sang Ibu yang terlihat khawatir di sampingnya.


"Iya, Mom?" ucap Kaisar menatap lekat mata Rania yang begitu menenangkan, hingga membuat ia sesaat lupa akan masalahnya.


"Kamu baik-baik saja?" Rania bertanya dengan ragu. Sudah sejak tadi ia memperhatikan Putra sulungnya itu.


Sejak Kaisar memasuki ruang rawat Raila, pria itu lebih banyak melamun tanpa mengeluarkan sepatah kata.


Ya, walau memang pada dasarnya putranya itu cukup pendiam. Ia jadi merindukan Putra kecilnya yang cerewet.


Kaisar tersenyum lembut menanggapi pertanyaan Sang Ibu. Ia mengangguk pelan, "aku baik-baik saja, Mom. Tidak perlu khawatir."


Kaisar meraih tangan Ibunya. Menggenggamnya erat, hingga suara dehaman membuat ia mengalihkan pandangan ke sumber suara.


Sosok pria setengah baya kini tengah menatapnya tajam, seperti menatap musuh yang siap dilenyapkan. Siapa lagi jika bukan Ayahnya.


"Aku anakmu, Dad." ucap Kaisar melepaskan genggam tangannya pada tangan Rania. Mengalihkan pandangan dengan perasaan kesal karena tatapan permusuhan Ayahnya.


Revan tak mendengarkan hal itu. Ia melangkah pelan meninggalkan tempat duduknya mendekati sofa di mana Kaisar dan Rania berada.


"Duduk di dekat brankar sana." ucap Revan, lebih tepatnya perintah.


Kaisar menghela napas pelan. Bangkit dari duduknya mendekati kursi tempat duduk sang Ayah sebelumnya.


Sedang Rania menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang sedikit kekanakan, tapi lucu.


"Lain kali jangan mau." ucap Revan tiba-tiba, setelah mendaratkan tubuhnya di samping Rania.


Wanita itu sontak menoleh menatap penuh tanya pada pria di sampingnya.


"Apanya?" tanya Rania pelan, hanya diam kala Revan menidurkan kepala di pangkuannya.


"Anak itu. Jangan mau," ucap Revan dengan wajah kesal.


"Tapi dia 'kan anak kita. Kenapa begitu cemburu?" ucap Rania sambil mengusap rambut suaminya.


Revan menghela napas pelan, "tapi dia juga masih pria."


Kedua mata Rania mengerjap beberapa kali. Putranya 'kan memang pria?

__ADS_1


"Dia lahir karena kamu juga tahu," kesal Rani, membuat Revan mengalihkan pandangan ke arah lain dengan bibir mengerucut.


"Ya, tetap saja dia pria." kekeh Revan.


Rania bungkam. Wanita itu bingung harus menanggapinya seperti apa. Ingin marah, tapi nantinya Sang suami semakin merajuk.


Sedang Kaisar yang duduk di kursi samping Brankar hanya bisa membatin dengan wajah datarnya.


'Aku mendengar cukup jelas dari sini, Daddy.' batin Kaisar sambil menggeleng.


Sesaat pria itu terdiam. Tatapannya terpaku menatap wajah adiknya. Kaisar mengulurkan tangan pelan, meraih rambut panjang Raila dengan tatapan sendu.


'Aku sudah menemukannya, Raila. Orang yang membuatmu berada di tempat ini.' batin Kaisar menyampaikan, seolah Raila mendengarnya.


'Aku akan membuatnya merasakan penderitaan yang menyakitkan...' Kaisar menjeda ucapannya dalam hati. Lagi-lagi keraguan itu datang tanpa diminta hingga di hatinya.


'Apa menurutmu kakak melakukan kesalahan?' batin Kaisar bertanya. Tatapan sendunya terasa begitu menyayat hati, tanpa diminta air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya.


Kaisar menyeka air mata di pipinya dengan cepat.


Seandainya sesuatu dapat diubah saat itu, Kaisar ingin dirinyalah yang tertabrak. Agar adiknya bisa menikmati hari dengan tenang dan mewujudkan semua hal yang ingin dilakukan.


"Kak, bagaimana jika nanti kita berjalan-jalan ke Milan. Aku ingin mengunjungi Aunty Zara dan liburan di sana."


"Bangunlah, Raila. Bukankah kamu ingin pergi mengunjungi Aunty Zara? Bangunlah, lalu kita akan pergi bersama. Kali ini Kakak akan mengabulkan apapun yang ingin kau lakukan tanpa menundanya. Bangunlah, kakak mohon." ucap Kaisar kembali terisak.


Pasangan paruh baya itu hanya bisa diam di sofa dalam ruangan tersebut. Mereka terdiam dengan pikiran menerawang jauh ke masa lalu.


Di saat Kaisar masih kecil, dia bisa melakukan apapun untuk adiknya. Apapun yang diinginkan oleh Raila, akan Kaisar turuti sesulit apapun itu.


Hingga dewasa pun, Kaisar tetap memprioritaskan Raila. Sesibuk apapun dia, jika adiknya meminta untuk bertemu maka Kaisar akan segera datang. Walau wajahnya hanya ekspresi datar yang terlihat, tetapi rasa sayangnya tak bisa diukur.


Revan dan Rania tersentak saat mendengar suara. Serentak mereka menoleh ke arah Kaisar yang kini terlihat beranjak dari duduknya.


"Mom, Dad, aku pulang dulu." pamit Kaisar yang kini telah berdiri di depan pintu keluar.


"Sudah ingin kembali?" tanya Rania, ia ragu melihat ekspresi wajah Putranya.


Kaisar mengangguk pelan tanpa menatap kedua orang tuanya.


"Aku lupa jika harus melakukan beberapa hal penting."

__ADS_1


"Baiklah. Hati-hati di jalan, jangan terlalu memaksakan diri jika tidak bisa. Istirahat jangan lupa, sesibuk apapun kamu mengurus dua perusahaan, jika berat beritahu Daddy." ucap Revan, mendudukkan diri dengan tatapan sulit diartikan ke arah Putranya.


Entah kenapa, tiba-tiba perasaannya tidak enak.


"Baik, Dad." jawab Kaisar kemudian membuka pintu dan keluar.


Sesaat setelah Kaisar keluar, Rania menatap wajah suaminya yang mendadak begitu serius.


"Ada apa?" Rania bertanya sambil mengusap punggung tegang suaminya.


"Tidak apa-apa." jawab Revan singkat, "hanya saja ekspresi wajah Kaisar saat ini mengingatkanku pada masa lalu."


Pikiran Revan tiba-tiba mengarah pada kebiasaan buruknya diusia 25 tahun. Di mana saat keadaan sedih dan putus asa, dia akan melampiaskan amarahnya pada orang lain tanpa memandang bulu. Mau itu pria ataupun wanita.


'Ya, semoga saja tidak begitu.' batin Revan memejamkan kedua matanya.


***


Sunyi senyap menguasai sebuah ruangan, di mana sosok wanita terlihat tengah tertidur pulas di atas lantai yang dingin sambil meringkuk.


Suara langkah kaki memasuki ruangan itu terdengar, membuat wanita tersebut gelisah dalam tidurnya.


Sepasang kaki menghentikan langkah di samping tubuh Sang wanita. Tatapan sosok itu terasa begitu dingin dan tajam bagai belati.


"Argh!" Adelia berteriak dalam tidurnya. Seketika membuka kelopak matanya yang terpejam. Tangan mungilnya berusaha melepaskan tangan kekar yang kini mencekik lehernya, membuat ia kesulitan bernapas.


"To-tolong," lirih Adelia dengan genangan air mata terlihat di pelupuk matanya.


Tangan kekar itu melepaskan cekikan di leher Adelia, membuat Adelia menghela napas lega dan segera menghirup rakus oksigen.


"Argh!" wanita itu kembali berteriak kala kini rambutnya yang menjadi sasaran.


"Sa-sakit. Ku mo-mohon lepaskan! Sa-sakit!" lirih Adelia yang kini tak dapat lagi membendung air matanya.


Napas Adelia tercekat di tenggorokan saat kini wajah sosok yang ia takuti berada tepat di depan wajahnya, hingga ia dapat menatap lekat mata biru gelap yang seakan bisa menenggelamkannya kapan saja.


"Sa-sakit, Tu-Tuan." ucap Adelia, berharap agar Kaisar melepaskan tarikan pada rambutnya. Sungguh ia merasakan sakit, seakan seluruh helai rambutnya akan terlepas dengan kulit kepalanya.


Namun, Adelia salah besar. Ia lupa jika sosok di hadapannya bahkan tak peduli pada tatapan mengiba itu.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Kaisar bangkit dari posisinya dan menarik kasar rambut Adelia. Menyeret tubuh wanita itu mendekati pintu kamar mandi tanpa mengindahkan teriakan kesakitan yang ia dengar.

__ADS_1


BRAK!


__ADS_2