TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 47


__ADS_3

Suara decitan ban terdengar memenuhi bandara pribadi keluarga Salvatore saat sosok putra kedua di keluarga itu mengerem dadakan mobilnya.


Devian segera membuka pintu. Berlari dengan tergesa-gesa mendekati jet pribadi miliknya yang siap lepas landas menuju La Spezia. Tepat saat tiba di samping pintu jet, Devian menoleh ke belakang. Menatap sepupunya yang masih berada dan diam dalam mobil.


"CEPATLAH, KAISAR! KAMU INGIN BERDIAM DI SINI LEBIH LAMA, HAH!" teriak Devian frustasi.


Kaisar mengerjap mendengar teriakan itu. Teriakan yang seolah menyatakan jika sepupunya tengah melampiaskan amarah padanya.


Apa salahnya? Sejak tadi Kaisar hanya diam, bahkan saat Devian menambah kecepatan mobil itu Kaisar tetap tak membuka suara dan hanya menggenggam erat sabuk pengaman.


Sedang Devian mengusap kasar wajahnya. Hatinya sedang tidak tenang setelah menerima telepon bawahannya tadi. Telepon yang mengatakan jika terjadi sesuatu tak terduga di depan mansion Kakaknya. Kehadiran beberapa orang yang terlihat mencoba menghalangi jalan, seolah tak mengijinkan seseorang untuk pergi dari mansion tersebut.


"Katanya harus cepat, kenapa hanya diam?" tanya Kaisar yang entah sejak kapan sudah naik ke dalam jet.


Seketika Devian tersadar dari lamunannya. Segera mengikuti Kaisar masuk dan lepas landas menuju La Spezia, Italia Utara.


Satu jam kemudian di depan mansion Demian Salvatore.


Sosok Putra tertua dari Logan Salvatore itu tengah berdiri tegap di tengah gerbang mansionnya. Ekspresi wajah Demian terlihat begitu dingin dan datar menatap sepuluh mobil sedan mewah yang menghalangi jalan keluar. Seolah tengah menghadangnya.


"Apa yang terjadi di luar?" Adelia bertanya, melirik beberapa pelayan serta dua orang pria berjas hitam yang berjaga di pintu masuk mansion.


Tak ada yang menjawab. Semuanya hanya diam dengan ekspresi sulit dijelaskan. Antara takut dan waspada.


"Nona, sebaiknya Anda masuk ke dalam kamar segera," sosok wanita yang merupakan guru privat Adelia itu membuka suara, menyentuh bahu Adelia yang kini menatapnya penuh tanya.


Wanita itu tahu, jika akan terjadi hal besar di depan gerbang mansion itu. Melihat cukup banyak pria berjas hitam yang berdiri tegap di samping Sang pemilik mansion dan siap kapan saja menarik senjata mereka.


Adelia tak mendengarkan ucapan guru privatnya. Ia justru berlari mendekati pintu keluar, hingga membuat beberapa pelayan terkejut begitupun sosok yang berjaga.


Mereka segera mengejar Adelia yang berlari mendekati gerbang. Hati Adelia berkata untuk segera keluar dan berdiri di samping Demian sebelum terjadi hal buruk pada pria itu.

__ADS_1


Sedang Demian menghela napas pelan. Ternyata dugaannya benar. Setelah kembali dengan terburu-buru kemarin ke mansion tanpa peduli pada pengawasan bawahan adiknya, pria tampan dengan iris mata amber itu segera menyusun rencana. Berpura-pura seolah akan segera memindahkan Adelia dari mansion itu ke tempat lain.


Siapa sangka jika umpannya berhasil, dan kini orang-orang yang entah bawahan siapa menghadang jalan.


"Atas dasar apa... kalian menghalangi jalan?" pertanyaan itu Demian lontarkan pada orang-orang yang masih berada di dalam mobil sedan mewah itu.


Demian menaikkan sebelah alisnya. Menatap sosok pria yang kiranya berusia 39 tahun, melangkah ke tengah dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Hal yang kalian lakukan ini dapat melibatkan kalian dengan pihak berwajib kota ini?" ucap Demian menatap seksama reaksi tubuh sosok itu, terlihat tersentak hingga terdengar menghela napas pelan.


Sesuai dugaan Demian, orang-orang itu tak ingin terlibat dengan pihak berwajib. Antara malas dengan polisi atau memiliki hubungan kuat dengan dunia bawah, seperti dirinya.


"Sebelumnya kami minta maaf, tapi mungkin akan bagus jika Anda tidak melibatkan pihak berwajib dalam hal ini." sosok pria berusia 39 tahun itu berbicara, tapi tak ada tanda-tanda jika akan memberi perintah pada bawahannya untuk menyingkir.


"Jika Anda ingin kami menyingkir, maka tolong serahkan Nona Casandra Adelia pada kami." lanjutnya, tetap berucap tanpa menampilkan ekspresi marah atau emosi lainnya.


"Tidak ada wanita bernama Casandra Adelia di dalam mansion ini," balas Demian. Ia memasukkan salah satu tangannya ke saku celana kain berwarna navy yang dia kenakan.


Tubuh Demian menegang. Ekspresi wajahnya kian serius mendengar penuturan sosok itu. Bagaimana tidak, informasi dan bukti mengenai bawahannya yang membawa Adelia dari Indonesia telah dibersihkan dengan begitu baik agar Kaisar tak bisa menemukan wanita itu. Tapi, kenapa sosok di hadapannya bisa mengetahui hal tersebut?


Kaisar yang bahkan bisa mengerahkan orang-orang hebat untuk mencari informasi saja tidak berhasil menemukan bukti yang telah ia hapus.


"Namanya bukanlah Casandra Adelia. Kalaupun benar dia, aku tidak mungkin menyerahkannya pada orang asing seperti kalian." jawab Demian tanpa ragu.


Dor!


Suara tembakan menggema tidak jauh dari mansion itu. Orang-orang yang berada di dalam mobil sedan tersebut segera keluar dan menarik pistol dari balik tubuh mereka, lalu menodongkannya ke arah Demian.


Para bawahan Demian yang berada di sana tak tinggal diam. Mereka ikut menarik pistol dan mengarahkannya pada musuh di depan sana.


Demian tetap berdiri tegap di tempatnya. Melirik sekilas perkelahian yang tengah terjadi tidak jauh dari gerbang mansion. Dapat Demian lihat dengan jelas, jika beberapa bawahan adiknya tengah berusaha melindunginya dari sosok yang berniat menembakkan peluru.

__ADS_1


Dapat Demian tebak dengan siapa bawahan adiknya itu beradu kekuatan. Sudah pasti masih berhubungan dengan orang-orang di hadapannya.


"Sepertinya dari awal kalian tidak berniat untuk berbicara baik-baik," ucap Demian tersentak saat sesuatu terasa menabrak punggungnya. Ia menoleh, membelalakkan mata mendapati kehadiran Adelia di sana.


Sosok anggun yang sejak tadi diam di dalam mobil sambil menunpuh kedua kakinya angkuh, perlahan menegakkan punggungnya saat melihat sosok cantik yang kini berdiri di balik punggung pemuda pemilik mansion itu.


"Casandra..." lirihnya dengan mata berkaca-kaca dan tatapan penuh kerinduan.


"Adelia." Jantung Demian berdetak kencang. Perasaan takut mulai memenuhi benaknya. Ia menoleh ke belakang, menatap orang-orang yang masih menodongkan senjata ke arahnya.


"Demian..." panggil Adelia lirih saat melihat perubahan ekspresi Demian yang begitu jelas. Pria itu tengah marah, bahkan wajah yang biasanya hanya menampilkan ekspresi datar kini terlihat merah padam.


Demian menarik pistol dari balik kemeja putih miliknya, menyembunyikan tubuh Adelia di balik punggungnya lalu bersiap untuk menodongkan pistol itu pada orang-orang di hadapannya.


Suara pintu mobil yang di tutup keras terdengar, menarik pandangan Demian hingga tertuju pada sosok wanita setengah baya yang melangkah angkuh ke depan hingga berdiri di samping pria berusia 39 tahun itu.


"Dia adalah wanita kejam yang pernah menjatuhkan beberapa perusahaan dalam satu malam."


"Bagaimana kamu bisa tahu, Devian?"


"Karena Aku melakukan transaksi padanya. Hanya sekali sih, tapi rumor yang aku dengar bukan hanya sekedar rumor belaka. Jadi aku harap, kelompokmu tak terlibat dengannya."


Percakapan dengan Devian beberapa bulan lalu tiba-tiba terlintas di benak Demian kala membahas sosok berbahaya yang membunuh wakil menteri Spanyol. Dan kini, sosok itu berdiri di hadapannya dan menatapnya tajam.


"Adelia, Putriku."


Seketika pandangan Adelia tertuju ke sumber suara, menatap sosok wanita setengah baya yang tengah tersenyum lembut dan menatapnya penuh kasih sayang.


"KAKAK!" teriakan itu mengalihkan pandangan semua orang, hingga tertuju pada mobil Lamborghini yang berhenti tidak jauh dari gerbang mansion.


Kedua mata Adelia terbelalak, bukan karena sosok yang berlari mendekati Demian sambil mengeluarkan pistol dari balik tubuhnya, melainkan sosok yang kini berdiri kaku menatapnya di samping mobil.

__ADS_1


"Adelia..." lirih Kaisar.


__ADS_2