
"Mommy."
Tubuh Adelia tersentak. Kedua matanya terbelalak dengan rasa takut yang kembali menguasai.
Dengan perlahan Adelia mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Di mana kini sosok Kaisar terlihat melangkah mendekatinya.
"Ah, Kamu sudah pulang, Sayang." sapa Rania tersenyum menatap putranya. Tak menyadari perubahan ekspresi dari sosok wanita yang berdiri di hadapannya.
Kaisar tersenyum manis pada Sang Ibu. Senyum yang justru membuat tubuh Adelia kian gemetar takut, hingga menunduk menatap lantai.
"Iya, Mom. Kapan Mommy sampai?" tanya Kaisar menghentikan langkah di hadapan Rania.
Wanita setengah baya itu mengangkat tangannya mengusap pipi Kaisar, kembali menoleh pada sosok di depannya yang kini menundukkan kepala seakan takut untuk mendongak.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rania yang terlihat khawatir pada wanita muda itu.
"Kamu tidak apa-apa?"
Adelia refleks mundur beberapa langkah saat sebuah tangan tiba-tiba menyentuh lengannya. Dengan segera ia menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan itu.
Sedang Rania terdiam, lalu menoleh ke arah Kaisar yang berdiri di sampingnya
"Kaisar."
"Apa, Mom?" tanya Kaisar dengan raut wajah seolah tak tahu penyebab Sang Ibu memanggil namanya.
Rania menghela napas kasar. Memijit pelan keningnya yang terasa berdenyut.
"Jangan menatap tajam orang lain seperti itu. Mereka akan takut," ucapnya menasehati. Rania yakin jika wanita muda di hadapannya itu takut dengan tatapan putranya.
Kaisar mengedikkan bahu acuh dan mengalihkan pandangan ke arah lain, membuat Rania menggeleng pelan melihat tingkah Anaknya itu.
"Tidak apa-apa. Jangan takut," ucap Rania mencoba menenangkan sosok yang masih terlihat gemetar di hadapannya.
Adelia hanya diam. Sedikit mencuri pandangan melihat senyum hangat di bibir wanita setengah baya itu.
Ia berharap dapat melihat senyum itu lebih lama. Karena senyum itu dapat sedikit menenangkan dirinya yang ketakutan.
Rania mengusap pelan rambut Adelia penuh kasih sayang, "jika lelah. Sebaiknya jangan bekerja dulu. Istirahatlah, kamu juga sedikit terluka di keningmu. Jangan terlalu memaksakan diri."
Rania tetap mencoba untuk akrab dengan wanita muda itu, walau sejak tadi tak ada tanggapan lain selain anggukan yang ia terima.
Sedang tidak jauh dari mereka, sosok Lora terlihat mematung di tempat dengan raut wajah khawatir. Terutama melihat Adelia yang menunduk takut di hadapan Kaisar.
'Ya Tuhan, bagaimana ini?' batin Lora tak tenang, 'ba-bagaimana jika Tuan jahat itu menyiksa Nona nantinya.'
Rania tersentak saat tiba-tiba Adelia meraih sebuah buku dan pulpen dari saku pakaian pelayan itu. Kening Rania mengerut penuh tanya saat melihat tangan mungil wanita itu kini menulis sesuatu dengan cepat di buku tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya. Saya baik-baik saja."
Tubuh Rania mendadak kaku. Bibirnya gemetar dengan tatapan tak percaya menatap Adelia.
'Dia ... tidak bisa berbicara?!'
Kedua mata Adelia terbelalak saat tiba-tiba Rania memeluk erat tubuhnya. Pelukan hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Rania melepaskan pelukannya, menatap wajah terkejut Adelia dengan senyuman. Meski air mata terlihat mengenang di pelupuk matanya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Makan dengan baik, ya." ucap Rania lembut.
Sesaat Adelia terdiam. Hatinya menghangat mendengar hal itu. Ingin rasanya ia memeluk kembali sosok di hadapannya.
"Mom, bukankah Mommy bilang ingin memasak makanan kesukaanku?"
Seketika Rania tersadar mendengar ucapan itu. Ia menoleh menatap Kaisar yang tersenyum simpul ke arahnya.
"Hampir saja Mommy melupakannya," ucap Rania terkekeh pelan dan berbalik untuk ke arah dapur.
Rania menghentikan langkahnya sejenak, mengusap pipi Adelia pelan sebelum melangkah meninggalkan wanita itu.
Perlahan punggung Rania menghilang di balik pintu dapur, menyisakan Kaisar dan Adelia di tempat itu.
"Jangan mencoba untuk mengucapkan sepatah kata pada Ibuku, ja**ng! Jika aku mengetahui kau memberitahu sesuatu atau mengatakan hal yang terjadi kepadanya, maka aku akan lebih membuatmu menderita." desis Kaisar tajam dengan tatapan bak belati.
Melangkah menyusul Ibunya memasuki dapur, meninggalkan Adelia yang kembali gemetar ketakutan karena ucapannya.
Sungguh Adelia sangat takut dengan Kaisar.
***
"Nona," panggil Lora. Gadis itu terlihat melangkah pelan mendekati tempat tidurnya di dalam kediaman tersebut. Tempat yang disediakan khusus untuk pelayan di mansion itu, masih terhubung dengan kediaman utama.
"Apa Nona yakin ingin tidur di sini dengan saya?" tanya Lora ragu.
Waktu petang berlalu dengan cepat, kini telah berganti malam.
Lora mendudukkan diri di samping Adelia yang meringkuk di atas tempat tidur itu, terlihat melamun hingga tidak menyadari jika Lora telah duduk di sampingnya.
"Nona." panggil Lora lagi, kini menepuk pelan pundak sosok yang melamun itu.
Seketika Adelia tersadar. Menatap Lora dengan tatapan sulit diartikan.
"Anda baik-baik saja?" tanya Lora khawatir.
Adelia menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia sangat baik, akan lebih baik lagi jika sosok yang ia takuti tak kembali ke kediaman itu malam ini.
__ADS_1
Setelah kepergian Kaisar dan Rania sore tadi, pria itu tak lagi menampakkan diri di mansion. Ya, meski waktu masih menunjukkan pukul tujuh lewat.
Adelia meraih buku dan pulpen miliknya di atas meja kecil samping tempat tidur.
"Bisakah aku tidur bersamamu malam ini di sini?"
Dengan segera Lora menganggukkan kepalanya menanggapi.
"Terima kasih."
Lora tersenyum sendu melihat tulisan itu. Sungguh ia tidak mengerti kenapa kejadian mengerikan harus menimpa wanita di hadapannya. Wanita yang terlihat begitu baik dan tak tahu apa-apa.
'Ya Tuhan. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh dan berharap kepadamu, berikanlah kebahagiaan pada Nona.' batin Lora lalu memeluk tubuh Adelia.
Di sisi lain.
Kantin rumah sakit.
"Kenapa wajahmu mendadak suram begitu? Bahkan yang sebelumnya jauh lebih baik daripada saat ini." ucap ketus seorang gadis yang menatap penuh tanya pada pria di hadapannya.
"Louisa Loura Alexander."
"Apa kau yakin dengan foto serta informasi ini?" tanya Kaisar dengan ekspresi sulit diartikan menatap putri dari Adik Ayahnya.
Louisa terdiam dengan wajah datar. Menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya akan perubahan ekspresi pria itu.
Ia baru tiba sore tadi di Indonesia. Dan memutuskan untuk ke rumah sakit menemui Kaisar dan memberitahukan hal yang sempat ia tunda tempo lalu. Cukup mengejutkan melihat ekspresi aneh dari orang yang selalu menampilkan wajah dingin.
"Aku tidak bercanda. Hari itu aku ingin mengatakannya padamu lewat telepon, tapi aku mengurungkan niat. Tapi ... kenapa dengan ekspresimu itu? Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Louisa. Sungguh aneh melihat ekspresi Kaisar saat ini.
Sedang Kaisar mengepalkan tangannya kuat dengan rahang mengetat.
"Liorandes Axelio."
Louisa menelan kasar ludahnya melihat raut wajah penuh niat membunuh di hadapannya.
'Aku akan membunuhmu, Sialan!' batin Kaisar tiba-tiba bangkit dari duduknya, melenggang pergi meninggalkan Louisa yang diam mematung dengan tangan gemetar.
Di sisi lain rumah sakit.
Lion menggenggam kuat lembaran kertas di tangannya. Bibirnya mengatup, tak tahu harus mengatakan apa.
"Dia tidak menikah dengan siapapun, lalu ... kenapa pria itu memanggilnya Mommy?" gumam Lion bertanya-tanya.
Ia baru saja mendapatkan informasi tentang Risya, informasi yang membuat ia terkejut setengah mati.
Selama 20 tahun lebih wanita itu tak menjalin kasih dengan pria manapun. Setia dengan status Ibu tunggal, bahkan memiliki anak kembar. Jika tidak menjalin hubungan, lalu siapa dua anak dalam informasi itu?!
__ADS_1
Seketika Lion terdiam saat bayangan malam itu terngiang di benaknya.
"Apakah mereka anakku?"