
Kaisar mengerjapkan kedua matanya perlahan. Berusaha menegakkan posisi duduknya. Sedikit mendesis kala rasa nyeri menyerang.
Seluruh tubuhnya benar-benar pegal pagi ini. Sudah seminggu ini dia tidak pernah tertidur di atas ranjang dalam kamarnya. Sofa, lantai, dan kursi kerjanya, entah besok di mana dia akan tidur lagi.
Perlahan Kaisar beranjak dari duduknya. Melangkahkan kaki menyusuri lantai ruang kerjanya yang penuh dengan pecahan kaca dan buku yang tak pada tempatnya.
"Adelia," lirih Kaisar melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan mendekati tangga, naik ke lantai dua menuju kamarnya. Kebiasaannya setiap pagi sejak tiga hari yang lalu, di mana setiap bangun ia akan segera memasuki kamar. Berharap saat membuka pintu akan ada sosok Adelia yang tertidur pulas di atas ranjang.
Ceklek!
Kaisar membuka lebar pintu kamarnya. Wajahnya yang sempat ceria, perlahan berubah sendu dengan bibir bergetar menahan tangis.
"****!" Kaisar mengumpat pelan, mengacak rambutnya yang berantakan seraya melangkah meninggalkannya pintu kamarnya.
'Adelia... Adelia... Kamu di mana?' batin Kaisar bertanya tanpa henti dengan tatapan kosong.
Kedua kakinya melangkah menuruni anak tangga, hingga terdiam sesaat setelah melihat sosok yang berdiri di ruang tamu.
"Tuan Kaisar," ucap Polin saat menyadari keberadaan Kaisar di tangga.
Pria berbadan kekar itu segera menundukkan kepalanya. Hatinya sedikit terluka melihat penampilan Bosnya yang sangat berantakan, berbeda dengan penampilan yang biasa ia lihat.
Sosok rapi dengan penampilan menawan itu kini telah lenyap. Yang terlihat hanyalah penampilan acakan dengan wajah tak terawat, meski tetap terlihat tampan.
Tapi kharismanya sangat berbeda dari biasanya.
"Ada apa, uncle?" Tanya Kaisar kembali melangkah turun ke lantai dasar. Mendekati sosok setengah baya yang menatapnya prihatin.
Lion tak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya menelisik menatap penampilan Kaisar yang jauh dari kata terawat.
"Kamu baik-baik saja, Kaisar?" Tanya Lion khawatir. Penampilan Kaisar saat ini mengingatkannya pada masa di mana ia menangisi Risya saat tak berhasil menemukan keberadaan Ibu dari anak-anaknya itu.
Hanya anggukan kepala yang Kaisar berikan sebagai jawaban.
Pria setengah baya itu menghela napas pelan, "ada yang ingin Uncle katakan padamu."
Sesaat Kaisar mengerutkan keningnya bingung. Ia hanya berjalan lebih dulu mendekati sofa di ruang tamu, mendudukkan diri kasar pada sofa tunggal dengan ekspresi sulit diartikan.
Lion segera menyusul. Mendudukkan diri tepat pada sofa panjang berhadapan dengan Kaisar.
Dengan segera Polin melangkah meninggalkan ruang tamu mendekati dapur, menghampiri adiknya yang berada di dalam sana untuk menyiapkan teh hangat.
"Ada apa?" Tanya Kaisar lagi dengan tatapan hampa.
__ADS_1
Kerutan keraguan terlihat sesaat di kening Lion, tetapi pria setengah baya itu segera menggelengkan kepalanya. Menarik napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
"Ini soal kejadian saat itu."
Tak ada reaksi. Kaisar hanya diam menanti sosok yang lebih tua darinya itu untuk kembali melanjutkan.
"Uncle minta maaf mewakili Putri uncle, Liona." Lanjut Lion menatap lekat iris biru gelap milik Kaisar.
Tubuh Kaisar menegang. Kedua matanya yang tadinya nampak sayu, kini terbelalak dengan tangan mencengkeram kuat sisi sofa tempat duduknya.
Lion dapat mengetahui arti ekspresi yang kini diperlihatkan oleh pemuda di hadapannya. Namun, Lion dapat menebak jika akan melihat reaksi itu, tapi ia juga tak dapat menahan diri untuk tidak mengatakan hal tersebut. Sebab, hal itu yang menjadi tujuannya mengunjungi mansion Kaisar.
Tidak lama kemudian, sosok Lora terlihat mendekat ke arah ruang tamu. Meletakkan perlahan nampan di atas meja, dengan sesekali menelan kasar ludahnya kala melirik ekspresi wajah pemilik rumah itu.
"Hahaha!" Tiba-tiba, Kaisar tertawa pelan. Entah apa yang lucu, tapi bagi Lora dan Polin tawa itu terdengar mengerikan di telinga mereka.
Lora segera melangkah meninggalkan ruang tamu mendekati kakaknya yang terlihat berjaga tidak jauh dari dua orang itu.
PRANG!
Dengan kasar Kaisar menyentakkan nampan berisi dua cangkir teh panas ke lantai. Bahkan Kaisar tak peduli jika tangannya terkena teh panas itu, hingga warna merah terlihat jelas di punggung tangannya.
"OMONG KOSONG!" sentak Kaisar murka. Napasnya terdengar memburu dengan jantung berdetak tak karuan.
"Kaisar...."
"OMONG KOSONG, UNCLE!" teriak Kaisar tak memberikan waktu pada Lion untuk menyelesaikan ucapannya.
"Dia tidak sengaja, Kaisar." Ucap Lion, mencoba untuk tetap tenang menghadapi pria yang tengah emosi itu.
"Bullshits!" Ucap Kaisar. Napasnya semakin tak beraturan karena amarah.
"Orang yang Anda sebut sebagai putri itu hampir menewaskan Adikku!" Teriak Kaisar yang mulai bangkit dari duduknya. Ucapan formal mulai keluar dari bibir Kaisar, menandakan jika amarahnya tak lagi dapat memandang Lion sebagai sosok 'Uncle'.
"Dia tidak...."
"TIDAK APA, HAH?!" Teriak Kaisar.
Lion menarik napas dalam. Menghadapi sosok yang tengah emosi membuatnya harus menyediakan stok kesabaran agar tak meledak dan mengikuti emosinya.
"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANNYA!! MATIPUN TAK AKAN PERNAH. Meski Anda memohon dan bersujud pun saya tidak akan memaafkan Putri Anda! KELUAR DARI RUMAHKU!!" Teriak Kaisar yang semakin tersulut emosi. Ia menunjuk ke arah pintu keluar dengan tatapan penuh kebencian pada Lion.
Sesaat pria setengah baya itu kembali menghela napas. Sepertinya dia memang datang di saat yang tidak tepat.
__ADS_1
Lion beranjak dari duduknya, melangkah pelan menjauh. Sejenak Lion menghentikan langkahnya di ambang pintu, melirik ke dalam di mana Kaisar tengah berusaha mengatur deru napasnya yang tidak beraturan.
"Segera obati tanganmu." Lion mengingatkan sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.
Kaisar kembali mendudukkan dirinya dengan kasar di sofa. Menyandarkan punggungnya dengan kepala mendongak menatap langit-langit nanar.
Tangannya yang memerah karena terkena air panas bergelantungan di sisi sofa. Rasa nyeri yang tadinya tak ia rasakan, perlahan mulai menjalar hingga membuat desisan pelan terdengar keluar dari bibir Kaisar yang pucat.
Polin memberi perintah pada Adiknya yang ketakutan untuk mengambil kotak P3K. Sedang dirinya mendekati Kaisar yang memejamkan mata dengan napas perlahan mulai teratur.
"Pergi, Polin." Kaisar mengingatkan tanpa membuka matanya saat pria berbadan kekar itu telah tiba di samping sofanya.
Polin tak menjawab, hanya diam dengan tatapan sedih.
"Jika kau tidak pergi, aku akan memukulimu hingga tak sadarkan diri sebagai hukuman karena lalai dari penjagaan." Lanjut Kaisar masih dengan mata terpejam.
"Anda bisa melakukannya jika mau, Tuan. Saya pantas mendapatkannya," balas Polin. Ia bersedia jika memang Kaisar akan memukulnya. Mungkin jika bisa memilih, Polin lebih memilih Kaisar memukulnya tanpa henti seperti kebiasaan Tuannya itu dahulu dibandingkan sekarang yang hanya diam.
Suara langkah kaki terdengar, mengalihkan pandangan Polin hingga fokus pada sosok yang baru saja memasuki mansion.
Dia Bram, sosok yang kini terlihat terkejut mendapati kekacauan di ruang tamu.
"Bram..." Panggil Polin saat pria itu kini mendekat.
Seketika Kaisar menegakkan tubuhnya. Memandang penuh harap pada Bram. Ia berharap hari ini ada kabar memuaskan yang dapat membuatnya bersemangat.
"Bram..." Panggil Kaisar sesaat setelah Bram tiba di sampingnya.
Pria berkacamata itu diam sejenak. Terlihat ragu untuk mengutarakan kata-kata yang akan ia sampaikan.
"Bram..." Kaisar mulai menekan ucapannya, terlihat geram dengan Bram yang hanya diam.
Kepala Bram menggeleng, membuat tubuh Kaisar lemas seketika dengan air mata mengenang di pelupuk matanya.
"Maafkan saya, Tuan. Kali ini pun tidak ada." Ucap Bram lesu.
Mau bagaimana jika memang sudah seperti itu. Dia tidak mungkin mengatakan kebohongan pada Bosnya.
"Sungguh?" Tanya Polin memastikan. Sedang Kaisar sudah menunduk menatap lantai.
Bram mengangguk. Dia sudah mencoba mengecek semua informasi yang diperlukan untuk mencari jejak Adelia, tetapi nihil. Tak ada satupun jejak yang tersisa. Seolah sosok yang mereka cari memang tak pernah ada di dunia. Semuanya hilang bagai ditelan bumi.
"Saya juga sudah mencoba untuk mengecek cctv kediaman Keluarga Admaja, jaga-jaga jika Nona Adelia mungkin pergi ke sana. Tetapi tidak ada, di sana pun kosong tanpa ada jejak Nona Adelia." jelas Bram. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan orang suruhannya pun tak menemukan apa-apa.
__ADS_1
"Orang-orang kita sudah menyebar hampir ke seluruh daerah di Indonesia, Tuan. Tapi tetap saja, hingga kini tak ada jejak yang kita temukan. Mungkin saja.... Nona Adelia tak ada di Negara ini." Ucap Bram seketika pandangan Kaisar tertuju pada tangan kanannya.