
"IYAAAAK!" Suara teriakan menggema di dalam mansion mewah kediaman Kaisar.
Dua orang yang berdiri tidak jauh dari tangga, menoleh dengan tatapan takut pada sosok yang berdiri di lantai dua. Yang kini menatap mereka dengan tatapan bak belati.
'Hik!' Bram berteriak ngeri dalam hati. Ia mundur beberapa langkah menjauh dari sosok wanita di hadapannya.
'Wa-wajah Tuan Kaisar terlihat begitu marah. Kenapa ini?' batin Bram bertanya-tanya, sedikit melirik sosok Polin yang kini menatapnya penuh tanya di ambang pintu masuk.
"Bram!" kini Kaisar melangkah menuruni anak tangga.
"Ya, Tuan." sahut Bram dengan suara sedikit bergetar.
"Ikuti aku." titah Kaisar, melirik sosok wanita yang kini menunduk takut menatap lantai.
"Baik." ucap Bram seraya mengikuti langkah Kaisar. Karena memang itulah tujuannya datang ke mansion mewah bosnya itu di jam 9 malam ini.
Kalau bukan karena itu, Bram tidak akan datang dan menganggu waktu istirahat bosnya.
Tapi apa ini? Belum apa-apa dia sudah mendapat tatapan tajam dari Bosnya. Padahal ia sama sekali tidak melakukan kesalahan.
"Tutup pintunya!" ucap Kaisar sesaat setelah mereka tiba di ruang kerja.
Bram menurut, lalu melangkah mendekati Kaisar yang kini memunggunginya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Glek!
Bram menelan kasar ludahnya. Kenapa jadi seperti ia yang diintrogasi?
"Itu, saya datang ke sini untuk memberitahu hal penting pada Anda, Tuan. Soal perusahaan Keluarga Arkana." ucap Bram.
Perlahan Kaisar melirik sekilas sosok tangan kanannya itu. Menyipitkan mata penuh curiga, mencoba untuk mencari kebohongan dari mata Bram.
'Ada apa ini?' batin Bram yang kini berkeringat dingin mendapat tatapan intimidasi itu.
Padahal biasanya ia juga mendapat tatapan seperti itu, tapi sama sekali tidak memberikan efek seperti sekarang.
Dia jadi seperti orang yang tertuduh ingin mencuri.
Tiba-tiba, Kaisar menghela napas lega. Melangkah mendekati kursi kerjanya, lalu duduk seolah hal sebelum tak pernah terjadi.
"Jelaskan." ucap Kaisar yang kini sudah siap mendengar laporan dari tangan kanannya.
Bram mulai menjelaskan secara rinci mengenai informasi terbaru yang ia dapatkan. Sedang Kaisar mendengarkan dengan seksama, mengetuk jari telunjuknya ke meja saat Bram selesai menjelaskan.
"Dia cukup lincah juga. Ya, memang pantas menjadi Cucu keluarga Arkana." ucap Kaisar mengakui.
Tiba-tiba, sesuatu terlintas di benak Kaisar. Kenapa sosok lawannya itu tidak menyandang nama Keluarga Arkana?
"Bram." panggil Kaisar.
"Ya, Tuan." Bram menjawab dengan cepat.
"Cari tahu informasi keluarga itu. Semuanya tanpa terkecuali, bahkan jika itu informasi rahasia. Berikan semuanya kepadaku!" ucap Kaisar menatap serius wajah Bram.
Sesaat pria 23 tahun itu terdiam, lalu mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Aku perlu banyak informasi terperinci untuk menjatuhkan lawanku, bukan?" gumam Kaisar dengan seringaian di bibirnya.
Seketika tubuh Bram merinding mendengar gumaman Bosnya. Memang terdengar tak berperasaan, tapi hal itu sudah sangat biasa dilakukan oleh Kaisar. Selama menurutnya sosok tersebut menganggu, maka Kaisar akan melakukan segala cara untuk menjatuhkannya tanpa sisa.
Persis seperti beberapa perusahaan yang berani mencari masalah dengan Kaisar dahulu.
"Baik, Tuan. Saya mengerti." ucap Bram sedikit membungkukkan badan ke arah Kaisar.
"Dan satu informasi terbaru juga, katanya kepala keluarga Arkana saat ini tengah sakit keras dan dirawat di rumah sakit."
Kaisar melirik ke arah lain sambil mengetukkan jari ke meja.
"Dia memang sudah tua." gumam Kaisar.
"Pergilah. Segera cari tahu informasi yang aku minta." ucap Kaisar menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Baik, Tuan." Bram berbalik, melangkah mendekati pintu untuk segera keluar dan beristirahat di rumahnya sebelum kembali bekerja.
Namun, sebelum Bram melangkahkan kaki keluar dari pintu. Suara Kaisar kembali terdengar memasuki indra pendengarannya.
"Apa yang terjadi tadi, hingga kau bisa berdekatan dengannya?"
Seketika Bram menoleh. Menelan kasar ludahnya saat kembali mendapat tatapan tajam dari Bosnya.
"De-dengan siapa, Tuan?" tanya Bram yang memang tak tahu maksud pertanyaan Kaisar.
"Dengan Adelia." ucap Kaisar tajam.
Glek!
Keringat dingin membanjiri kening Bram. Pikirannya mulai berperang, antara mengatakan kebohongan atau kejujuran.
'Hikk!' batin Bram berteriak ngeri. Bisa mati dia kalau mengatakan jika dirinya tanpa sengaja memeluk tubuh Adelia untuk menolong. Karena memang gadis itu terlihat sangat pucat dan lemah.
"I-i-itu ... sa-saat Saya masuk ke mansion, saya tidak sengaja melihat Nona Adelia sedikit ling-lung. Jadi saya bertanya apakah dia baik-baik saja atau tidak. Ta-tapi dia sama sekali tidak menanggapinya," ujar Bram dengan tubuh gemetar takut.
Kepala Kaisar mengangguk beberapa kali, membuat Bram bernapas lega.
'Selamat,' batin Bram.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan."
Kaisar hanya mengangguk sambil menanggapi hal itu, sedikit tersenyum bangga karena Adelia yang tak merespon pria lain.
'Gadis baik,' batin Kaisar.
"Itu, Tuan...."
"Apa?" tanya Kaisar sarkas. Sedikit mendongak menatap Bram yang menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan dengan tubuh berada di balik pintu.
"Se-sepertinya Nona Adelia sangat tidak sehat. Dia terlihat pucat, mungkin Anda bisa memeriksanya."
"Saya permisi, Tuan." ucap Bram segera menghilang dari balik pintu, meninggalkan Kaisar yang kini diam di tempat duduknya.
Tiba-tiba, Kaisar beranjak dari duduknya dengan tergesa-gesa. Keluar dari ruang kerja menuju ke kamar pelayan.
Di sisi lain.
__ADS_1
Lion terlihat duduk melamun di ruang tamu apartemennya. Percakapan antara ia dan Liorand siang tadi terus terngiang di benaknya hingga saat ini.
Lion memejamkan mata, dadanya terasa sesak.
***
"*Maafkan aku."
Liorand terdiam dengan wajah datarnya. Ia menggeleng pelan, seolah mengatakan agar Lion tak mengucapkan kata maaf.
"Apakah Anda masih mencintai Ibu saya?"
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja. Aku hanya..." Lion menggantung ucapannya. Ia menunduk sambil mengepalkan tangannya yang gemetar.
"Jika begitu, bukankah seharusnya Anda datang dan mencari kami? Kenapa baru sekarang? Sebenarnya apa arti cinta Anda kepada Ibu saya? Apa hanya sebatas nafsu?"
"Apa?" Suara Lion bergetar mendengar ungkapan itu. Sedang Liorand tetap diam dengan tatapan datar menatapnya.
Kepala Lion menunduk menatap lantai. "Aku tidak tahu di mana kalian berada. Aku bahkan tidak tahu jika kalian lahir ke dunia ini."
Liorand terlihat terkejut mendengar hal itu. Tidak tahu? Apa mereka hanya sebatas kesalahan satu malam? pikir Liorand.
"Aku tidak ingin kalian berpikir, jika kalian hanya kesalahan satu malam. Aku sungguh mencintai Risya, tapi aku tidak tahu hal apa yang harus aku lakukan. Aku hanya mengucapkan janji agar dia bisa melihat, tidak pernah berpikir jika aku akan begitu mencintainya. Karena aku tahu, Kakek kalian tidak akan membiarkan hal itu." ujar Lion, mengeluarkan semua isi hatinya.
Tiba-tiba, Liorand bangkit dari duduknya. "Aku mengerti."
"Apa?" tanya Lion yang merasa bingung dengan ucapan Liorand.
"Ibu menanti Anda setiap saat. Dia selalu bergumam dan menangis menyebut nama Anda. Jika Anda benar-benar mencintainya, lakukan segala cara untuk mengambilnya kembali. Saya tahu, Anda tidak seburuk seperti pemikiran Kakek."
Lion terdiam, sedang Liorand melangkah mendekati pintu keluar. Sesaat Liorand menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Saya sangat berharap, Anda bisa datang ke hadapan Ibu. Dia sangat merindukanmu ... Ayah. Begitupun dengan kami*."
***
Tiba-tiba, Lion membuka matanya yang terpejam. Ia meraih ponsel di atas meja, lalu menghubungi seseorang.
Milan, Italia.
Suara dering ponsel memenuhi sebuah ruangan di mana beberapa orang terlihat mengatur deru napasnya setelah berlatih tanding.
Sosok pemuda meraih ponsel itu, menatap pemilik ponsel yang kini juga tengah menatapnya.
"Dari siapa, Tuan Muda?"
"Uncle Lion," jawab pria itu. Lalu menggeser ikon hijau pada layar.
"Segera ke Indonesia. Aku butuh bantuan kalian."
Semua orang dalam ruangan itu saling menatap satu sama lain.
"Baik, Uncle. Kami akan segera ke sana."
"Devian? Aku menantikan kedatangan kalian secepatnya."
Panggilan terputus sepihak. Beberapa orang mulai menatap sosok Tuan Muda mereka yang kini terlihat menyeringai kecil.
__ADS_1
"Tuan ... Muda?"
"Apa yang kalian tunggu? Segera bersiap. Uncle Lion butuh bantuan." ucap Devian tersenyum penuh arti.