TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 32


__ADS_3

Hening tak ada yang mengeluarkan suara. Semua mata sesekali melirik ke arah pintu ruang operasi yang belum juga terbuka.


"Raila, ayo kembali ke ruang rawatmu. Kamu harus istirahat agar segera keluar dari rumah sakit," ucap Kaisar lembut mengusap puncak kepala Raila yang hanya menunduk sejak tadi.


Tak ada jawaban. Raila tetap setia menundukkan kepalanya. Sesekali terlihat menggigit bibir bawahnya menahan rasa sesak di dada.


Jika ingin jujur, hati gadis itu tak bisa dikatakan baik-baik saja saat ini. Apalagi mendengar hal yang terucap dari bibir Lion saat tiba di rumah sakit pagi tadi.


"Zara, bantu aku melakukan operasi besar pagi ini. Aku tidak yakin bisa menyelesaikannya sendiri, aku butuh bantuanmu."


"Baiklah. Aku harus meminta izin pada pihak rumah sakit lebih dulu, karena aku tidak bekerja di rumah sakit ini." jelas Zara.


"Aku sudah meminta izin pihak rumah sakit."


"Kamu terlihat panik. Jika boleh tahu, siapa orang itu?"


"Dia kakek istriku."


Seketika Raila terisak mengingat ucapan itu, membuat Revan dan Kaisar sontak menatapnya.


"Raila?" Panggil Kaisar khawatir. Ia menatap penuh tanya pada adiknya.


"Sini, biar Daddy antar ke ruang rawatmu." Revan bangkit dari duduknya, memapah tubuh Raila meninggalkan orang-orang di depan ruang operasi.


Kaisar menatap dalam diam kepergian adik dan Ayahnya, lalu beralih menatap Ibunya yang tengah menatapnya khawatir.


"Tidak apa-apa, Mom." Sahut Kaisar menatap Sang Ibu dan duduk berdampingan dengan wanita setengah baya yang tidak ia kenal.


Saat Kaisar berniat mengalihkan pandangan ke arah lain, tatapannya tanpa sengaja mengarah pada Liorand. Pria itu juga tengah menatapnya, membuat amarah Kaisar kembali membuncah dan siap meledak.


"Hu'uf." Kaisar menghela napas dalam, menenangkan diri. Tersentak saat sebuah tangan mengusap pundaknya.


Pria itu menoleh, menatap Loura yang menepuk pelan pundaknya. Seolah mencoba memberi Kaisar ketenangan agar tak melampiaskan emosinya.


Louisa cukup paham, karena ia tahu jika sosok yang bertatapan dengan Kaisar adalah kakak dari penyebab kecelakaan Raila.


Suara siulan terdengar mendekat ke arah ruang operasi. Kaisar merasa tak asing dengan hal itu, hingga mengalihkan pandangannya menatap sosok yang kini mendekat.


"Devian?" lirih Kaisar yang masih didengar oleh Loura, membuat wanita itu refleks menoleh ke belakang dan membelalakkan mata.


Devian tersenyum cerah saat menatap Kaisar. Namun, senyum di bibirnya tak bertahan lama saat melihat siapa yang duduk di samping sepupunya itu.


"Accidenti! (Sialan!)" Reflek Devian mengumpat menggunakan bahasa tanah kelahirannya, Italia.


Pria itu menghentikan langkah. Tak berani mendekat kala tatapan Loura begitu tajam ke arahnya.


"Da-daddy." Lirih Devian memanggil Ayahnya yang berdiri di samping pintu ruang operasi.


Kaisar yang melihat hal itu hanya berwajah datar. Ia hampir lupa, jika kedua sepupunya ini memiliki hubungan yang cukup buruk.

__ADS_1


"Kenapa pria itu ada di sini?" Geram Loura yang masih didengar oleh Kaisar.


Tatapan dan raut wajah Loura kini terlihat seperti ingin memakan Devian hidup-hidup. Sungguh, jika mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu, Loura tak dapat membendung amarahnya.


"Tenang. Di sini ada Uncle Logan dan orang tuamu," ucap Kaisar mengingatkan, "beri pelajaran saat kalian hanya berdua." Lanjut lirih.


"Tarik napas, hembuskan."


Loura mengikuti instruksi yang diberikan oleh Kaisar. Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah tenang, Loura memilih memunggungi Devian yang masih berdiri kaku di tempatnya.


Melihat hal itu, Kaisar ikut menghela napas lega. Sedikit berbalik menatap Sang Ibu yang tengah menenangkan wanita asing itu.


"Mom, aku akan pergi ke kantor. Aku akan kembali saat pekerjaanku selesai," pamit Kaisar berusaha menormalkan ekspresinya.


Rania mengangguk mengerti.


Kaisar segera bangkit dari duduknya. Sedikit menepuk bahu Devian saat melewati pria itu.


Sepanjang koridor Kaisar hanya diam dengan kedua tangan terkepal kuat. Berusaha tak melampiaskan emosinya.


'Mati pun aku tidak akan memaafkan kalian, Brengsek!' umpat Kaisar dalam hati dengan rahang mengetat.


Milan, pukul 13:00 waktu setempat.


Seorang pria terlihat duduk diam di kursi kebesarannya. Menatap informasi yang baru saja ia terima dari bawahannya.


Demian meraih ponselnya di atas meja.


"Ya, Tuan?" Sahut sosok di seberang telepon saat panggilan terhubung.


"Cari informasi Kaisar baru-baru ini. Semua yang terjadi, hal yang dia lakukan. Laporkan padaku, segera." Titahnya, lalu memutuskan panggilan saat mendapatkan jawaban 'baik' dari bawahannya.


Demian menyandarkan punggungnya. Menghela napas pelan dengan raut wajah berpikir.


Dia adalah pria yang tidak suka menganggu privasi keluarganya, ataupun sepupunya. Tapi kali ini, dia benar-benar penasaran pada sesuatu.


Sesaat Demian kembali melirik informasi itu.


Adelia Ralisya.


Nama itu tertera dengan jelas pada lembaran informasi tersebut.


Dengan menggunakan kekuasaan yang tidak biasanya ia gunakan, Demian mencari informasi mengenai gadis yang ia temui di Indonesia.


Awalnya mungkin ia bersikap biasa, tetapi dua hari tiba di Negaranya membuat hati Demian tak tenang.


Tatapan takut dan rasa waspada pada wanita itu sangat tak biasa bagi Demian.


Kali ini, Demian benar-benar bertindak di luar kebiasaannya.

__ADS_1


"Kaisar.... Seberapa menakutkan pria itu sebagai Tuan di mansion-nya?" Gumam Demian bertanya-tanya.


Setahu Demian, Kaisar memang pria yang cukup tegas dalam pekerjaan. Sebagai Bos yang cukup bisa diandalkan, buktinya perusahaan pria itu melesat dan berkembang cukup pesat.


Tok tok tok!


Demian mengalihkan pandangan ke daun pintu ruangannya.


"Masuklah."


Perlahan pintu terbuka, memperlihatkan pria dengan wajah datarnya. Sebelas dua belas dengan Pemilik perusahaan itu, Demian.


"Sudah saatnya makan siang, Tuan. Apa perlu saya membawa makan siang Anda ke sini?" Tanyanya lagi, segera mendapat gelengan kepala dari Bosnya.


"Aku akan makan di luar." Demian bangkit dari duduknya, melangkah keluar meninggalkan ruangannya bersama dengan Sekretarisnya.


***


Pukul 17:45 WIB.


Di dalam kamar, Adelia diam membisu di sofa sambil memeluk kedua kakinya yang ia tekuk.


Adelia menatap lama pintu kamar yang tertutup rapat, lalu beralih menatap nampan berisi berbagai macam makanan dan cemilan di atas meja.


Beberapa menit yang lalu, Lora memasuki kamarnya. Meletakkan nampan itu dengan sedikit tersenyum kemudian meninggalkan Adelia sendiri.


Helaan napas pelan terdengar keluar dari bibir Adelia. Ia bosan, ia ingin keluar dari kamar itu. Sangat tidak nyaman berada di sana, terlebih kamar itu adalah milik pria yang telah melakukan hal kejam pada dirinya.


Namun, niat keluar Adelia harus ia hentikan lantaran ada sosok Polin yang berjaga di luar pintu.


'Aku ingin keluar,' batin Adelia menunduk sedih.


Ceklek!


Seketika Adelia mendongak kala mendengar suara pintu yang terbuka. Kedua matanya terbelalak dengan tubuh yang refleks gemetar melihat sosok yang kini mendekat sambil melonggarkan dasi.


"Sore," sapa Kaisar tersenyum. Suasana hatinya yang tadi buruk, kini kembali membaik saat melihat Adelia di dalam kamarnya. Kaisar lega, wanita itu tak keluar dari sana.


Kebanyakan wanita mungkin akan terpesona dengan senyum yang baru saja terlihat di bibir Kaisar, tetapi tidak dengan Adelia.


Kini tubuh wanita itu bergetar hebat dengan wajah pias. Senyum Kaisar terlihat begitu mengerikan di matanya.


Kaisar mendudukkan diri di samping Adelia, memejamkan mata tanpa peduli dengan ekspresi wanita di sampingnya.


"Aku lelah," ucap Kaisar lalu menarik Adelia.


Satu tarikan keras membuat Adelia kini terduduk dipangkuan Kaisar. Menahan napas kala pria itu membenamkan wajah di ceruk lehernya.


"Aku menginginkanmu." Bisik Kaisar dengan suara serak.

__ADS_1


__ADS_2