
'Malam ini terasa lebih sunyi dari kemarin malam.' batin Adelia lalu tersenyum simpul.
Sungguh, jika ia bisa berbicara. Mungkin saat ini Adelia akan berceloteh riah mengungkapkan rasa senangnya. Sosok yang selalu memicu ketakutannya akhirnya pergi walau hanya sementara.
Adelia menggigit bibir bawahnya. Degup jantungnya kini berdetak tak karuan. Apakah dirinya masih bisa mengeluarkan suaranya suatu saat nanti?
Pertanyaan itu kini terlintas di benak Adelia.
Tetapi ia segera menepisnya. Mulai tersenyum kala mengingat jalan-jalan singkat antara dirinya dan Lora di taman tadi sore.
Tubuh Adelia tersentak saat mendengar suara samar di luar kamar, lalu keheningan menyelimuti kembali.
'Ada apa di luar?' batin Adelia mulai merasakan perasaan tidak enak.
Sesaat kening Adelia mengerut melihat asap yang masuk melalui celah bawah pintu.
Adelia mengibaskan tangan di depan wajahnya. Mencoba menyingkirkan asap yang perlahan mulai memenuhi ruangan itu.
'Kepalaku... Pusing.'
Sayup-sayup suara pintu terdengar, Adelia menoleh dengan rasa kantuk, matanya begitu berat untuk terbuka.
"Mi dispiace, signorina. Presto arriverai a destinazione".
(Maafkan kami, Nona. Anda akan segera tiba di tempat tujuan.)
Suara itu terdengar samar memasuki indra pendengaran Adelia, hingga akhirnya kegelapan menyambutnya.
Sosok kekar itu segera mengendong tubuh Adelia yang tak sadarkan diri ala bridal style keluar dari kamar tersebut, di sambut oleh dua pria berjas hitam di luar pintu.
"Siapkan semuanya. Kita akan segera meninggalkan Negara ini."
Dua orang itu mengangguk mengerti, melangkah pergi meninggalkan sosok Polin yang terbaring tak sadarkan diri di samping pintu kamar. Efek obat tidur yang terkandung pada asap itu benar-benar sangat ampuh.
Sementara di tempat lain, tepatnya ruang rawat Raila.
Seorang pria terlihat berceloteh riah tanpa henti, mencoba berbicara pada Raila yang duduk diam di atas brankar.
"Oh, ayolah. Kenapa begitu sedih? Kamu ingin eskrim? Atau cemilan lain? Katakan padaku. Aku akan membelinya untukmu," ucap Devian antusias.
Sesaat Raila terdiam melihat sosok yang memiliki wajah seperti Demian. Sebelas dua belas, tapi sifat mereka sangat berbeda.
"Hey, brengsek!" Nada suara penuh kekesalan itu terdengar, membuat Devian mematung di sofa tempat duduknya.
"Kau masih waras menawarkan makanan manis pada pasien?!" Sentak Loura tak suka. Menatap sinis pada Devian yang kini meringkuk takut di sofa tanpa berani menatap ke arahnya.
Raila terkekeh pelan. Sangat lucu melihat dua orang yang saling membenci di dalam satu ruangan.
Loura yang entah kenapa tak begitu menyukai Devian, hingga selalu menatap sinis saat bertemu dengan sepupunya itu.
'Sfortunato! (Sial)' Devian mengumpat dalam hati dengan pandangan mengarah ke tempat lain, tak ingin menatap ke arah Raila di mana wanita pemarah itu juga tengah duduk di sana.
Dia hanya berniat memecah keheningan di dalam ruang rawat yang terasa begitu mencekam, tetapi Devian lupa ada musuhnya dalam ruangan itu.
Hal apapun yang Devian lakukan, mau itu hanya duduk diam sekalipun selalu berhasil mengundang amarah Loura.
'Harusnya aku tidak menyetujui permintaan Mommy untuk berjaga di dalam ruangan ini.' keluh Devian dalam hati. Tetapi ia juga tak berani menolak permintaan Ibunya.
Tok tok tok!
Seketika pandangan tiga orang itu mengarah ke pintu masuk. Devian memutuskan bangkit dari duduknya, mendekat ke arah pintu.
Devian terdiam dengan tatapan tak percaya menatap sosok yang berdiri di hadapannya saat ini.
Devian melirik ke dalam sekilas, sebelum memutuskan keluar dan menutup kembali pintu ruangan Raila.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan penuh intimidasi Devian lontarkan pada sosok di hadapannya. Salah satu orang kepercayaan Kakaknya.
"Tuan Demian meminta saya untuk memberikan hal ini pada Anda." Ucapnya seraya mengangkat map berwarna hitam ke hadapan Devian.
Kening Devian terlihat mengerut menatap benda itu, lalu menaikkan sebelah alisnya dengan senyum aneh.
"Hanya untuk ini hingga memerintahkanmu ke Indonesia? Wah, betapa tidak terduganya." Devian terkekeh pelan.
Ia tahu pasti bukan hanya karena map itu tangan kanan kakaknya berada di Indonesia. Pasti ada hal lain, tetapi hal apa? Devian jadi penasaran.
Helaan napas dan senyum kecil terlihat di bibir sosok itu.
"Kata Tuan Demian, sebaiknya Anda tidak penasaran." Ucapnya mengejutkan Devian, "Kalau begitu, saya permisi Tuan Devian."
Devian menatap punggung yang perlahan menghilang dari pandangan. Ia mengedikkan bahu acuh, berbalik sambil membuka map hitam itu.
__ADS_1
Tiba-tiba Devian memekik tak percaya kala melihat isi map tersebut, hingga menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
"Che diavolo?!"
(Apa-apaan?!)
***
Drttt! Drttt!
Suara dering ponsel mengusik tidur seorang pria yang bergelut dengan selimut tebalnya.
Dengan malas ia mengulurkan tangan meraih benda pipih yang sejak tadi terabaikan itu.
"Halo?" Sapa Kaisar malas dengan mata terpejam. Sungguh ia lelah dan ingin menikmati tidurnya.
"Tuan..." Terdengar nada suara panik di seberang telepon.
Kening Kaisar mengerut mendengar suara itu. Ia mendudukkan diri dengan malas. Sungguh 18 jam perjalanan itu bukanlah waktu yang singkat, di tambah harus segera memeriksa masalah yang terjadi di perusahaan Ayahnya sesaat setelah tiba di hotel.
Kaisar sedikit melirik ke arah jam dinding dalam kamar itu.
Pukul tiga sore, artinya di Indonesia baru pukul 5 pagi. Dan Polin sudah menghubunginya di pagi buta. Entah hal penting apa yang ingin disampaikan.
"Ada apa, Polin? Tidakkah kamu tahu jika aku sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh?!" Sentak Kaisar tak suka. Mengusap kasar rambutnya hingga semakin berantakan, untungnya tetap tampan.
"Tuan, Nona Adelia...."
Seketika Kaisar menegakkan tubuhnya.
"Nona Adelia menghilang dari mansion!"
Kedua mata Kaisar terbelalak dengan tangan mencengkeram kuat ponsel di telinganya.
Pukul 07:08 pagi. La Spezia, Italia.
Silau cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela mengusik tidur seorang wanita di atas tempat tidur.
Glek!
Adelia menelan kasar ludahnya. Ini jelas bukan kamar pria kejam itu.
Meski cat dalam kamarnya serupa, tetapi jelas berbeda.
Adelia menyibakkan selimut dengan terburu-buru. Beranjak dari ranjang mendekati jendela.
Hamparan hijaunya taman dengan berbagai macam bunga terpampang jelas di luar jendela. Sesaat Adelia kagum, tetapi segera menggelengkan kepalanya.
'Di ma-mana ini?' batin Adelia tergagap dengan keringat dingin membanjiri keningnya.
Ceklek!
Sontak Adelia menoleh ke belakang. Menatap waspada pada wanita dengan pakaian khas seorang maid yang kini memasuki kamar sembari mendorong troli makanan.
"Buongiorno signorina."
__ADS_1
(Selamat pagi, Nona.)
Wanita itu tersenyum manis mengatakan hal tersebut. Sedang Adelia mengerjap beberapa kali. Sungguh, ia tak mengerti dengan hal yang diucapkan oleh wanita itu.
Pintu kembali terbuka, dengan segera maid wanita itu membungkukkan setengah badannya kala melihat sosok yang kini berdiri di ambang pintu.
"Buongiorno, giovane maestro."
(Selamat pagi, Tuan Muda.)
Sosok itu hanya mengangguk, lalu memberi isyarat agar pelayan wanita itu keluar.
Pintu tertutup rapat, menyisakan sosok itu dan Adelia yang diam membisu dengan tatapan tak percaya.
"Halo, kita bertemu lagi." Sapa Demian dengan wajah flatnya.
Adelia tak mampu bergerak dari tempatnya. Ia tetap diam mematung, kini beralih menggenggam gorden di sampingnya dengan tatapan takut.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu," ucap Demian berusaha menyakinkan wanita yang kini menatapnya ketakutan.
Tok tok tok!
"Sì perché?"
(Ya, kenapa?)
Demian menatap datar daun pintu, menanti ucapan dari sosok di luar.
"Dokter Falia sudah datang, Tuan Muda."
"Bawa ke kamar ini," titah Demian masih dengan wajah datarnya.
"Va bene, giovane maestro."
(Baiklah, Tuan Muda.)
Perlahan terdengar langkah menjauh dari depan pintu. Demian kembali menatap ke arah Adelia yang hanya diam di tempat tanpa bergerak sedikitpun.
"Dokter yang akan memeriksamu sudah tiba. Sebaiknya segera makan sarapan lebih dulu," ajak Demian lembut meski ekspresi wajahnya tak jauh dari datarnya jalan tol.
__ADS_1
Adelia diam membisu. Apakah penculikan memang seperti ini? Batinnya mulai bertanya-tanya.