TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 22


__ADS_3

"Demian, bagaimana pendapatmu saat tinggal di sini?"


Seketika Demian terdiam di tempat duduknya mendengar pertanyaan itu.


Pagi ini, tiada angin tiada hujan tiba-tiba Ayahnya menanyakan hal seperti itu kepadanya.


Ada apa ini?


"Ya, lumayan." jawab Demian singkat. Ia merasa sedikit canggung mendengar pertanyaan itu.


Logan menatap lama wajah putranya yang tetap datar, walau kini Logan tahu jika putra pertamanya itu mencoba menghindari kontak mata dengannya.


Logan tersenyum kecil. Sesaat ia terdiam, kemudian menghela napas pelan mengingat percakapan antara dirinya dan Lion semalam.


"Apa ada sesuatu, Dad?" tanya Demian yang kini menatap Ayahnya.


Meski orang-orang di luar sana menilai Demian adalah sosok yang tidak peduli pada sekitar karena eskpresi datarnya, tetapi nyatanya dia adalah orang yang paling sensitif dan tidak akan tinggal diam saat sesuatu terjadi pada keluarganya.


Logan membalas tatapan mata putranya yang kini terlihat begitu serius.


"Bukan hal besar." jawab Logan singkat.


Demian tak percaya pada ucapan Ayahnya. Ia terus menatap Logan, hingga membuat pria setengah baya itu menghela napas sambil terkekeh.


"Dasar keras kepala," ucap Logan sambil menggeleng. Sulit untuk lepas dari tatapan Demian, kecuali jika anak laki-lakinya itu telah puas mendengar jawaban yang menurutnya benar.


"Apa Daddy dan Uncle Lion memiliki masalah?" tanya Demian.


Logan segera menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu. Hanya saja ... bagaimana pendapatmu tentang sepupu?"


Tiba-tiba, Logan mengalihkan pembicaraan membuat Demian mengerutkan keningnya.


Demian menghela napas pelan. Sepertinya ia mulai tahu hal apa yang dimaksud oleh Ayahnya.


"Menambah beberapa aku rasa tidak buruk," ucap Demian mulai kembali menyantap sarapan di hadapannya.


Sesaat Logan terdiam mendengar jawaban itu, lalu tertawa pelan. Putranya memang sangat mengerti situasi.


"Cepatlah makan. Jika kamu belum menyelesaikan pembicaraan dengan Lion, sebaiknya segera selesaikan. Karena kamu harus segera kembali ke Italia untuk mengurus perusahaan di sana."


"Baik, Dad."


"Jika lelah, beritahu pada Daddy. Daddy akan mengambil alih sementara kamu beristirahat."


"Ya, Dad."


'Kapan aku akan mendengar putraku ini berbicara panjang lebar?' batin Logan dengan senyum miris pada dirinya sendiri.


Entah darimana sifat itu berasal. Sedang dia dan Zara tidak memiliki sifat pendiam seperti itu.


"Kamu sebenarnya anak siapa, sih?"


Demian menghentikan gerakannya. Menatap sang Ayah yang juga menatapnya sembari menumpu wajah.

__ADS_1


"Aku rasa hasil uji coba." jawab Demian singkat, membuat Ayahnya tertawa lepas.


Jawaban apa itu? Logan semakin tertawa hingga perutnya terasa sakit.


***


Kedua mata gadis di atas brankar itu mengerjap beberapa kali melihat sosok yang berdiri di hadapannya.


"Anda baik-baik saja, Uncle?" tanya Raila menyadarkan Lion dari lamunan.


Seketika pria itu tersentak. Ia menampilkan senyum manis di bibirnya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Jika Uncle sedang tidak sehat, mungkin sebaiknya mengambil cuti terlebih dahulu. Tidak baik jika terlalu memaksakan diri, Uncle." ucap Raila khawatir.


Gadis itu sangat peduli pada sosok di hadapannya. Karena Lion adalah sosok yang ia kagumi, sulit menjelaskan rasa kagum apa yang Raila rasakan.


Dia dan Lion hanya bertemu beberapa kali di saat-saat tertentu saja. Tapi rasa kagum yang dia rasakan tidak menghilang begitu saja di hatinya atau mungkin bukan rasa kagum lagi yang ia rasakan?


"Bagaimana perasaanmu, Raila? Apa ada yang terasa sakit di suatu tempat?" tanya Lion menatap wajah yang kini terlihat khawatir menatapnya.


Pria itu terkekeh pelan, mengusap rambut Raila hingga membuat gadis itu memejamkan mata.


"Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, tidak lama lagi juga akan beristirahat." ucap Lion mencoba menenangkan hati Raila.


Tak ada jawaban dari Raila. Gadis itu justru mengalihkan pandangan ke arah lain sambil menghela napas pelan.


Wajah yang kusut, bibir yang luka. Apakah hal itu bisa dikatakan baik-baik saja?


Ternyata benar kata Aunty-nya. Dokter bisa membantu orang-orang yang terluka, tapi terkadang mereka tidak tahu mengobati luka di tubuh sendiri.


"Jika Uncle memiliki masalah, jangan memendamnya seorang diri. Ada banyak orang yang siap mendengar dan membantu Uncle."


Lion tersenyum mendengar penuturan Raila. Ia kembali mengusap pelan rambut gadis di hadapannya.


"Terima kasih."


Raila menganggukkan kepalanya, "jangan ragu untuk melakukan sesuatu yang memang sudah seharusnya Uncle lakukan. Lebih baik mencoba dan gagal, daripada tidak mencoba sama sekali."


Seketika Lion tersentak. Lidahnya terasa keluh, ucapan itu seolah menampar pipinya.


"Terima kasih, Raila." ucap Lion sambil tersenyum.


Raila tersenyum hingga kedua matanya menyipit menanggapi ucapan terima kasih dari sosok yang ia kagumi.


Pukul 14:08 WIB.


Seorang wanita setengah baya tengah duduk di dalam salah satu restoran. Wanita itu terlihat menatap sekeliling, seolah menanti kedatangan seseorang di sana.


Tiba-tiba sepasang kaki berdiri di sampingnya mejanya, membuat wanita itu mendongak dan tersenyum mendapati sosok yang ia nanti telah tiba.


"Adelia." ucap Zeline girang. Ia segera beranjak dari duduknya, memeluk tubuh wanita yang telah ia anggap seperti anak sendiri.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Zeline tanpa melepas pelukannya.

__ADS_1


Tak ada jawaban. Hanya pelukan erat yang Zeline rasakan dari tangan mungil itu.


Sedang Adelia berusaha menahan air mata agar tak jatuh membasahi pipinya. Ia ingin menangis dan mengadukan semuanya pada Zeline, tetapi ia tak bisa.


Merasa tak ada jawaban, Zeline segera mengendurkan pelukannya. Menatap lekat mata Adelia yang terlihat seperti menahan tangis.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Zeline, tetap tak ada jawaban.


"Adelia?" suara lembut itu berhasil membuat tangis Adelia pecah.


Wanita itu menangis keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung di dalam restoran. Sedang Zeline terlihat begitu terkejut, ia segera memeluk kembali Adelia yang menangis keras.


"Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa," ucap Zeline mengusap punggung gemetar Adelia.


Sedang tidak jauh dari meja itu, terlihat sosok pria yang menatap khawatir pada Adelia dan Zeline.


Ia mencoba menahan diri agar tak beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dua orang itu, karena jika dia bergerak dengan gegabah. Maka bisa saja ia mendapat kemarahan dari bosnya.


'Nona Adelia terlihat begitu tersiksa. Kenapa Tuan tidak ingin melepaskannya?' batin Polin dengan tatapan sedih menatap Adelia yang tengah dipeluk erat oleh Zeline.


Beberapa jam sebelumnya.


Polin menghentikan langkah tepat di depan pintu ruang kerja Kaisar. Pria itu mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu beberapa kali hingga mendengar suara sahutan dari dalam.


Ia melangkah memasuki ruangan tersebut, menatap Kaisar yang kini terlihat begitu serius mengerjakan sesuatu dari laptopnya.


Padahal jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, tapi Bosnya itu tetap bekerja tanpa tidur sejak kembali dari gudang. Jika sudah gila kerja seperti ini, maka dapat Polin simpulkan jika suasana hati Kaisar sedang buruk.


"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Polin saat tiba di depan meja.


Kaisar mendongak menatap Polin, lalu mengangguk pelan.


"Iya," ucapnya singkat, lalu kembali fokus pada laptopnya.


"Aku ingin kau menemani Adelia keluar saat bertemu dengan Istri dari Teman Ayahku."


Seketika Polin tersentak. Kedua tangan pria berbadan kekar itu saling menggenggam erat di belakang tubuhnya.


"Tuan ... apa saya boleh bertanya?" Polin menundukkan kepalanya menatap lantai.


Seketika Kaisar menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard laptop. Mengalihkan tatapan bak belati itu hingga fokus menatap orang kepercayaannya.


"Apa?" tanya Kaisar.


Sesaat Polin menggigit bibir bawahnya. Ia takut menyinggung perasaan Bosnya, sosok yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.


Setelah pertimbangan lama, Polin menghela napas pelan.


"Kenapa Anda tak melepaskan Nona Adelia? Bukankah Anda sudah mengetahui jika Nona Adelia bukanlah pelaku di balik kecelakaan itu. Jadi sudah jelas jika dia tidak bersalah, Tuan." ucap Polin mengingat informasi yang ia lihat tanpa sengaja di meja kerja Kaisar sebelumnya. Informasi yang entah didapatkan dari mana oleh Bosnya, mengingat jika Bram dan dia telah melakukan segala cara untuk mendapatkan informasi tentang kecelakaan itu.


"Polin."


Tubuh Polin menegang. Kedua matanya terbelalak dengan tangan yang gemetar.

__ADS_1


"Mau aku melepaskan ataupun tidak. Itu tidak ada hubungannya denganmu. Dan perlu kau ketahui, aku tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang sudah masuk ke dalam wilayahku. Mau itu barang ataupun manusia, mereka sudah menjadi milikku sejak memasuki mansion ini." ucap Kaisar dingin dengan tatapan datar tapi menusuk.


"Jadi sebaiknya, jangan mengatakan sesuatu yang tidak berguna seperti itu jika kau masih menyayangi nyawamu."


__ADS_2