
Bram melangkahkan kakinya mendekati sepasang suami istri yang kini berdiri dengan raut wajah tegang menatap ke arah pintu ruang rawat di depan mereka.
Revan menoleh saat mendengar langkah kaki mendekati. Menatap saksama sekretaris putranya.
“Kamu sudah menghubungi Kaisar?” Tanya Revan yang dibalas anggukan kepala oleh Bram.
“Raila ... Raila.”
Revan segera memeluk tubuh Istrinya yang kini gemetar takut sambil menyebut nama Putri mereka.
“Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja.”
Perlahan Rania mendongak, menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Padahal semuanya cukup baik beberapa menit yang lalu, tapi kenapa jadi seperti ini? Tubuh Raila tiba-tiba kejang tanpa sebab, membuat Rania yang saat itu duduk di dalam ruang rawat sontak berteriak memanggil nama suaminya.
Revan dapat merasakan pundak Rania yang gemetar takut dalam dekapannya. Ia mencoba mengusap pelan punggung istrinya, berusaha untuk menenangkan meski jauh di lubuk hatinya ia juga khawatir.
Beberapa menit kemudian.
Sebuah mobil berhenti sempurna di depan rumah sakit. Sosok pengemudi segera keluar dari mobil itu, berlari dengan cukup tergesa-gesa memasuki rumah sakit tanpa peduli pada sekitar.
Bahkan sosok itu tak meminta maaf saat tanpa sengaja menabrak orang lain di koridor.
Ting!
Revan, Rania serta Bram serentak menoleh kala mendengar suara langkah kaki berlari mendekati mereka. Sosok Kaisar terlihat mendekat dengan penuh kekhawatiran yang terpancar jelas di wajah pria itu.
Kaisar menghentikan larinya tepat di depan kedua orang tuanya dengan deru napas memburu, “ba-bagaimana keadaan Raila, Dad?”
__ADS_1
“Dokter belum keluar sejak tadi. Jadi kami juga belum mengetahuinya,” ucap Revan menjawab pertanyaan putranya, hingga pria setengah baya tiba-tiba tersentak.
Tubuh Kaisar luruh ke lantai dingin rumah sakit. Tangannya mengacak rambutnya gusar dengan mengertakkan giginya.
‘Wanita sialan! Aku akan membuatmu menderita! Aku akan membuatmu menderita!’ batin Kaisar tak henti mengumpat dan bersumpah dalam hatinya. Semua ini karena wanita itu!
Sesaat Revan berniat untuk membuka bibirnya, tetapi suara pintu terbuka sontak mengalihkan pandangannya. Menatap sosok pria dengan setelan jas putih besar yang kini keluar dari ruang rawat.
Seketika Rania mendekati sosok itu, “Lion, Raila baik-baik saja ‘kan?”
Lion menatap Rania dengan wajah lelah dan bulir keringat yang terlihat jelas di keningnya.
“Tidak apa-apa. Semuanya sudah stabil. Kondisinya mulai membaik seperti sebelumnya, jadi kamu bisa tenang Rania.” Ucap Lion lembut sambil mengusap pundak wanita itu.
Seketika tubuh Rania lemas. Dengan cepat Revan menangkap tubuh istrinya yang hampir luruh ke lantai, menggendong tubuh lemas wanita yang ia cintai itu mendekat ke arah kursi tunggu di depan ruang rawat.
Tatapan Lion beralih pada Kaisar yang masih duduk bersimpuh di lantai. Wajah pria muda itu terlihat cukup kusut dengan bibir bergumam tanpa henti.
“Syukurlah. Syukurlah,” gumam Kaisar tersentak saat sepasang kaki berdiri di hadapannya.
Kaisar mendongak menatap lama uluran tangan di hadapannya dengan wajah Lion.
“Jangan duduk di lantai.” Ucap Lion, kemudian membantu Kaisar bangkit saat pria muda itu menerima uluran tangannya.
Tiba-tiba Lion tersentak dengan tatapan khawatir menatap Kaisar, “apa kamu terluka? Di bagian mana?” tanya Lion.
Kening Kaisar mengerut mendengar pertanyaan itu. Ia sedikit menunduk menatap penampilannya yang kusut. Tak ada satu pun anggota tubuhnya yang terluka.
__ADS_1
“Apa maksud Anda? Saya baik-baik saja,” ucap Kaisar dengan wajah bingung.
Lion terdiam, “sungguh?”
“Tapi ada bau darah dari pakaianmu.” Ucap Lion dengan tatapan penuh selidik.
***
Kedua mata Adelia perlahan terbuka. Seluruh tubuhnya terasa begitu sakit, terlebih kepalanya.
“Hiks hiks hiks!” gadis itu terisak dengan tubuh gemetar.
“Sa-sakit. I-ibu panti,” lirih Adelia dengan Isak tangis dan air mata yang menetes hingga mengenai lantai.
Ceklek!
Tubuh Adelia menegang kala mendengar suara pintu yang terbuka. Ia ingin menoleh, tapi takut. Membuat Adelia memilih diam dan memejamkan kembali matanya, menahan isakan keluar dari bibirnya.
“Sepertinya dia belum sadar dari pingsan.” Suara bariton itu terdengar memasuki telinga Adelia, membuat wanita itu berusaha menahan gemetar tubuhnya.
“Wanita yang malang,” pria itu bergumam. Gumaman yang masih d dengar oleh Adelia.
Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar menjauh bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka lalu tertutup.
Perlahan Adelia mencoba untuk menoleh ke belakang. Menatap suasana kamar yang kembali sepi tanpa ada suara, hingga tatapannya terhenti pada nampan yang diletakkan di lantai tidak jauh dari tempatnya.
“Ma-makanan,” Adelia berniat untuk bangkit dan mendekati nampan itu. Namun, gerakannya terhenti dengan perasaan waswas.
__ADS_1
“Apa makanan itu tidak diberi racun?”