
"Tu-Tuan ..."
"Jangan mengeluarkan suaramu yang menjijikkan itu." Kaisar menatap tajam tanpa ekspresi iba di wajahnya. Tatapannya begitu datar menatap Adelia yang bersimpuh di lantai dengan darah segar mengalir dari keningnya akibat goresan di pintu masuk.
Adelia ingin mengeluarkan suara, mengadu kesakitan akibat luka di keningnya. Namun, ia mengurungkan hal itu mendengar ucapan dingin Kaisar.
Adelia kembali mengatupkan bibirnya yang gemetar. Pita suaranya seakan rusak seketika, tak mampu untuk mengeluarkan bait demi bait kata dari bibirnya.
Hanya genangan air mata pada pelupuk mata yang dapat menjelaskan rasa sakit Adelia saat ini. Tetap saja, Kaisar tak peduli pada hal itu.
Pria itu sedikit berjongkok. Menatap lurus dan tajam pada iris mata wanita yang kini gemetar di hadapannya.
"Bertingkahlah seperti wanita bisu. Agar kau tidak merasakan rasa sakit yang menyakitkan seperti penyiksaan beberapa hari sebelumnya." ucap Kaisar dingin.
Kaisar meraih dagu Adelia. Mencengkeramnya dengan satu tangan, hingga Adelia tak dapat mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Karena aku benci suaramu, ja**ng." desis Kaisar tepat di telinga Adelia.
Brak!
Tubuh Adelia gemetar ketakutan. Keberanian yang sempat ada di dalam benaknya seakan hilang begitu saja.
Ia takut. Sangat takut melihat tatapan mata Kaisar sesaat setelah mereka memasuki kamar mandi. Tatapan dingin dan tajam itu sangat berbeda dari sebelumnya. Tadi, tatapan itu bagai predator yang akan membunuhnya dengan menenggelamkan kepalanya ke air.
Adelia melirik ke arah bak mandi yang telah terisi. Bahkan air dalam bak mandi itu telah tumpah.
Glek!
Adelia menelan kasar ludahnya. Untung saja Kaisar tak memasukkan kepalanya ke dalam bak mandi itu.
'Ya Tuhan. Aku takut,' batin Adelia. Ia menangis tanpa suara dengan rasa nyeri di tubuhnya. Mengalahkan rasa lengket akibat tak membersihkan diri seharian.
Tubuhnya sakit, hatinya hancur, pergelangan kakinya terasa nyeri karena rantai itu.
Dosa besar apa yang dia lakukan hingga diperlakukan seperti ini pada sosok yang ia kira dapat membantu hidupnya. Sosok yang ia kira lembut, nyatanya predator bertopeng malaikat.
Sedang di luar kamar mandi. Kaisar terdiam berdiri dengan napas tak beraturan di dekat sofa dalam kamar.
Pria itu mencoba mengatur deru napasnya yang tidak beraturan. Hampir saja ia lepas kendali menerkam wanita itu dengan nafsu.
Percikan air yang mengenai pakaian Adelia hingga dalaman berwana hitam yang ia kenakan terlihat, membuat libido Kaisar naik tanpa bisa dihentikan. Jika bukan karena amarah, Kaisar mungkin akan menerkam gadis itu.
"Cih! Bagaimana bisa wanita licik itu mampu membuatku tergoda seperti ini?!" ucap Kaisar kesal pada dirinya sendiri.
Bisa-bisanya ia tergoda pada wanita yang membuat adiknya terbaring di rumah sakit.
"****!" umpat Kaisar melangkah penuh amarah mendekati pintu keluar.
Suara pintu terbuka, membuat Polin sontak menoleh ke arah pintu. Pria berbadan kekar itu tersentak menatap ekspresi Sang Bos yang terlihat begitu tidak bersahabat.
__ADS_1
"Polin."
"Ya, Tuan." sahut Polin cepat. Ia tak ingin membuat suasana hati Kaisar semakin buruk, hingga memungkinkan dirinya menjadi pelampiasan amarah pria itu.
"Cari satu orang wanita yang dapat dipercaya untuk bekerja di mansion ini. Minta dia untuk mengurus mansion ini dan juga wanita itu." ucap Kaisar sedikit melirik ke dalam kamar.
Sesaat Polin diam, lalu mengangguk mengerti.
"Baik, Tuan. Saya akan segera mencarinya," ucapnya patuh.
Kaisar menganggukkan kepala, kemudian melangkah mendekati tangga untuk naik ke lantai dua. Letak kamarnya berada.
Ia perlu menenangkan dirinya dan beristirahat, walau Kaisar ragu dapat tertidur pulas malam ini karena insomnia yang dideritanya.
Setiap kali kedua matanya terpejam, bayangan akan kecelakaan adiknya selalu berputar bagai rol film hingga membuat Kaisar kembali membuka kelopak matanya.
Esoknya~
Suara gesekan antara pena dan kertas terdengar cukup jelas di dalam ruangan kebesaran Kaisar. Pria itu terlihat begitu fokus pada dokumen di hadapannya. Hingga suara dering ponsel mengalihkan fokus Kaisar menatap benda pipih yang bergetar di atas meja.
Kaisar mengulurkan tangannya meraih ponsel itu. Mengangkat panggilan dari Polin.
"Ya?" tanya Kaisar sesaat setelah panggilan terhubung. Kembali fokus pada dokumen penting di hadapannya guna mengalihkan pikiran dari hal tidak penting yang mengusik.
"Tuan..." Polin terlihat ragu untuk mengatakan hal tersebut, membuat Kaisar mengetatkan rahang kesal.
"Nona itu mengatakan jika dia ingin bekerja sebagai pelayan, Tuan." ucap Polin dengan suara pelan dan takut di seberang telepon.
Seketika Kaisar terdiam. Wajahnya menampilkan ekspresi aneh.
"Hah?!"
Polin tersentak di seberang telepon mendengar hal itu.
"Katakan padanya untuk tidak meminta sesuatu jika tidak ingin mendapatkan penyiksaan dariku." desis Kaisar tajam, kemudian memutuskan panggilan sepihak.
Kaisar melemparkan kasar ponselnya di atas meja. Mencoba mengatur deru napasnya yang tidak beraturan karena marah.
Tiba-tiba Kaisar menyeringai.
Apa wanita itu menganggap ia murah hari hingga meminta hal itu?
Pelayan? Lebih baik menjadi pelayan yang memuaskannya di atas ranjang.
"****!" Kaisar mengumpat. Mengusap kasar wajahnya kala pikirannya mulai tertuju pada hal yang mustahil baginya.
Ya, bagaimana bisa dia melakukan hal itu?!
"Heh!" Kaisar tersenyum miring. Ia yakin jika wanita licik di kediaman itu sudah sering membuka lebar kakinya untuk banyak pria tak tahu malu di luar sana.
__ADS_1
Membayangkan hal itu membuat Kaisar jijik mengingat tangannya menyentuh tubuh wanita itu.
"Dasar ja**ng!" desis Kaisar kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Pukul 16:38 WIB.
Kaisar masih berkutat dengan dokumen-dokumen di atas mejanya. Pria tak beranjak sejak tadi dari tempat duduknya, melewatkan makan siang dan hanya fokus pada pekerjaannya.
Suara dering ponsel kembali terdengar di dalam ruangan itu, membuat Kaisar mau tak mau mengalihkan fokus ke arah benda pipih yang sejak tadi ia abaikan.
Pria itu mengulurkan tangan meraih ponselnya. Seketika terkejut melihat nama Sang Ibu tertera di layar ponsel.
"Halo, Mom." sapa Kaisar dengan suara hangat dan senyum di bibirnya.
"Halo, Sayang. Apa Mommy menganggu?"
Kaisar menggeleng seolah Sang Ibu melihatnya. "Sama sekali tidak, Mom. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" kini suara Kaisar terdengar bergetar. Ia takut terjadi sesuatu pada Adiknya.
Kekehan kecil terdengar di seberang telepon.
"Bukan apa-apa, Sayang. Mommy menelepon karena khawatir padamu. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Rania. Tiba-tiba rasa khawatir ia rasakan di benaknya kala mengingat putra pertamanya itu.
Kaisar menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menghela napas lega.
"Baik-baik saja, Mom. Bukankah aku bilang untuk tidak khawatir," ucap Kaisar pelan.
"Baiklah. Em, kamu sudah makan siang, Sayang?"
"Belum, Mom." jawab Kaisar, "aku akan makan siang setelah kembali ke mansionku."
"Astaga, Kaisar. Ini sudah sore dan kamu belum makan siang?! Setidaknya perhatikan kesehatanmu, Sayang. Jangan hanya fokus pada pekerjaan," Rania menutup mulutnya tak percaya. Ia semakin khawatir mendengar hal itu.
Terlalu fokus pada Putrinya hingga tak meluangkan waktu memperhatikan Putranya.
"Aku baik-baik saja, Mom. Sungguh," ucap Kaisar mencoba menyakinkan Sang Ibu agar tak khawatir.
"Mommy akan ke mansionmu segera untuk menyiapkan makanan. Sudah lama Mommy tidak memasak makanan kesukaanmu."
Seketika Kaisar menegakkan tubuhnya. Kedua matanya terbelalak.
"Mommy mau ke mana?" tanya Kaisar degup jantungnya berdetak tak karuan.
Sesaat Rania diam. Ia merasa ada perubahan pada nada suara Putranya.
"Ke mansionmu. Ini Mommy dalam perjalanan ke sana. Mommy akan menyiapkan makanan kesukaanmu, jadi kembalilah ke mansionmu. Ibu menunggumu di sana," ucap Rania tersenyum di seberang telepon.
Sedang Kaisar mematung dengan mata terbelalak.
__ADS_1