TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 19


__ADS_3

Kedua kaki Adelia mundur beberapa langkah. Jantungnya berdetak kencang karena terkejut mendengar suara itu.


Adelia menatap sosok pria yang hanya diam menatapnya dengan ekspresi datar. Wajah yang asing, dan belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Demian singkat saat sosok di hadapannya hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata.


Adelia mengangguk cepat, membuat kening Demian mengerut bingung.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya saat Adelia tiba-tiba berjongkok, memunguti satu persatu pecahan dari pot marmer itu.


Apakah Kaisar akan menghukumnya?


Pertanyaan itulah yang terlintas di benak Adelia. Tubuhnya gemetar saat mengingat wajah menyeramkan Kaisar yang menatapnya tajam.


Adelia memekik tertahan saat tanpa sengaja jari tangannya terluka akibat tak berhati-hati.


Darah segar terus mengalir dari luka kecil di jari Adelia. Dengan tergesa-gesa wanita itu membersihkan darah pada jari tangannya ke pakaian pelayan yang ia kenakan.


Demian menghela napas pelan. Tiba-tiba berjongkok, "maaf." ucap Demian pelan saat meraih tangan Adelia.


Tubuh Adelia hanya diam membisu melihat hal yang dilakukan oleh pria di hadapannya. Pria yang aneh dan tak banyak berbicara.


Sedang Demian merogoh saku celananya. Kalau seingat Demian, Ibunya pasti menaruh plester di saku celana.


Entah karena apa, tapi merupakan kebiasaan Zara untuk meletakkan plester di saku celana kedua putranya. Katanya untuk jaga-jaga.


'Imutnya,' batin Adelia melihat gambar boneka beruang pada plester yang kini melekat sempurna di jarinya.


"Sudah selesai. Maaf," ucap Demian melepaskan tangan Adelia.


Kedua mata Adelia mengerjap mendengar kata maaf yang kembali dilontarkan oleh Demian. Padahal pria itu tak melakukan kesalahan. Pot pecah itu karena kelalaiannya, tapi kenapa pria itu terus mengucapkan maaf?


Demian mengerutkan keningnya bingung. Menaikkan sebelah alisnya menatap tingkah wanita itu yang kini terlihat meraih sesuatu dari saku baju.


"Kenapa Anda meminta maaf?"


Demian terdiam. Ekspresi wajahnya yang selalu datar, kini terlihat begitu terkejut.


Tidak lama kemudian bibir Demian mengatup rapat, kembali pada ekspresi datarnya.


'Sepertinya terjadi sesuatu padanya, hingga membuatnya tidak bisa berbicara.' batin Demian, tatapannya tertuju pada luka kecil di kening Adelia.


"Permisi," ucap Demian.


Tiba-tiba, pria itu sedikit menunduk. Mengeluarkan plester dari sakunya, lalu menempelkannya pada luka kecil itu.


Setelah selesai, Demian kembali menegakkan tubuhnya. Tatapan sulit diartikan ia berikan pada Adelia yang hanya diam membisu.

__ADS_1


Perlakuan tiba-tiba yang Demian lakukan, membuat Adelia bertanya-tanya. Ini kali pertama dia melihat pria seperti Demian, sangat berbeda dari sosok yang ia kenal.


"Saya tidak boleh menyentuh wanita begitu saja, jadi saya meminta maaf untuk itu." ucap Demian, membuat Adelia tersentak.


"Dan, saya juga meminta maaf karena telah mengejutkan Anda. Karena terkejut, Anda jadi menjatuhkan pot bunga itu." ujar Demian tulus.


Seketika Adelia tersadar. Ia segera menulis sesuatu pada buku di tangannya.


"Terima kasih."


"Sama-sama. Mari, saya bantu Anda berdiri." Demian mengulurkan tangannya pada Adelia


Sesaat Adelia diam menatap telapak tangan besar yang kini terulur di hadapannya. Dengan ragu, ia mengangkat satu tangan untuk meraih uluran tangan itu.


Namun, suara yang tiba-tiba terdengar membuat tubuhnya tersentak dan gemetar.


"Demian!"


Pria itu menoleh ke sumber suara tanpa menarik uluran tangannya. Demian menatap datar sosok yang kini mendekat dengan raut wajah tak bersahabat.


"Oh, Kaisar." ucap Demian singkat, kembali mengalihkan pandangan ke arah Adelia.


Kening Demian mengerut melihat Adelia yang kini menunduk dengan tangan saling mere*as satu sama lain. Tubuh wanita itu terlihat jelas gemetar di mata Demian.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Demian berniat menyentuh pundak Adelia.


Plak!


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaisar dengan sarkas. Kini pria itu berdiri tegap di hadapan Demian.


"Aku mencarimu. Ingin membahas sesuatu tentang bisnis." ucap Demian santai. Melirik ke arah wanita yang berada di belakang Kaisar dengan posisi berjongkok tanpa berani berdiri.


"Bangun! Apa kau ingin tetap berjongkok seperti itu?" tanya Kaisar, meninggikan suaranya membuat Adelia tersentak.


Dengan tergesa-gesa wanita itu bangkit dari duduknya. Berlari memasuki mansion tanpa menoleh ke belakang.


'Sifat tersembunyi miliknya sekarang terlihat jelas,' batin Demian memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Seharusnya kau datang ke perusahaan. Bukan ke mansion." nada suara Kaisar masih terdengar begitu sarkas dengan tatapan tak suka pada Demian.


Perasaan Kaisar berubah kesal sesaat setelah keluar dari mobilnya tadi. Melihat interaksi Demian dan Adelia yang begitu dekat, seolah telah berteman cukup lama membuat hatinya panas.


Apalagi saat melihat Demian memasangkan plester itu di kening Adelia. Mengingatnya semakin membuat Kaisar marah.


"Aku pikir kau mungkin ada di sini." ucap Demian, mengalihkan pandangan menatap sekeliling yang cukup memanjakan mata.


"Taman mansionmu cukup bagus."

__ADS_1


Kaisar memutar bola mata malas mendengar hal itu. Apa itu bisa dibilang pujian saat orang yang mengucapkannya hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi?


"Tidak ada bos yang berada di rumah saat sudah waktunya masuk kerja. Harusnya kau tahu hal itu, mengingat jika perusahaan keluarga Salvatore juga kau yang mengurusnya." ucap Kaisar menyindir di akhir kalimatnya.


Kaisar berbalik, melangkah meninggalkan Demian dengan kedua tangan terkepal menahan emosi yang tiba-tiba ingin meledak.


"Sepertinya suasana hatimu cukup buruk pagi ini. Apa kau belum tahu, jika Adikmu sudah siuman." ujar Demian melangkahkan kakinya mengikuti Kaisar yang tiba-tiba berhenti tepat di samping mobil.


"Aku sudah tahu. Dan, aku sangat senang karena hal itu. Tapi yang tidak ku sukai justru terjadi, itu yang membuat suasana hatiku buruk." balas Kaisar melirik tajam ke belakang.


Demian hanya berwajah datar membalas tatapan penuh permusuhan yang diberikan oleh Kaisar.


"Sepertinya aku harus membatalkan pembahasan hari ini," ucap Demian melangkah melewati Kaisar memasuki mobilnya. "Sampai jumpa besok."


Demian menyalakan mesin mobilnya kemudian meninggalkan mansion Kaisar dengan sejuta pertanyaan di benaknya.


'Dia cukup berbeda dari terakhir kali. Kali ini menatapku bukan dengan tatapan bersahabat, tapi permusuhan yang terlihat jelas.' batin Demian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Kedua tangan Kaisar terkepal kuat menahan kesal. Ia menatap tak suka pada mobil Demian yang perlahan menghilang dari pandangan.


Dengan tergesa-gesa pria itu memasuki mansion-nya. Menatap sekeliling seolah mencari sesuatu.


"ADELIA!" teriak Kaisar menggema.


Ia terus melangkah mencari keberadaan Adelia. Menyusuri ruang tamu yang kosong, lalu beralih ke arah dapur.


"ADELIA!" teriaknya sekali lagi.


Pria itu menghentikan langkahnya di ambang pintu dapur. Menatap Adelia yang berdiri dengan tubuh gemetar di belakang Lora.


"Tu-Tuan," lirih Lora berusaha melindungi Adelia dari Kaisar yang kini terlihat ingin menghancurkan tubuh rapuh wanita itu.


"Menyingkir!" ucap Kaisar dengan tatapan tajam menatap gadis yang menghalangi jalannya.


"Tu-Tuan ..."


"Lora!" suara teriakan terdengar dari ambang pintu dapur. Terlihat Polin berdiri di sana, menatap Lora seolah mengisyaratkan agar gadis itu segera mengikuti perintah Kaisar.


Meski begitu, Lora tetap diam di tempatnya. Tubuhnya bergetar takut, tapi tak ingin beranjak dari sana. Ia tak mau Kaisar melukai Adelia.


"****!" Umpat Kaisar, menyingkirkan tubuh Lora dengan sedikit kasar agar tak menghalanginya.


"Keluar dari sini!" titah Kaisar.


Polin segera menghampiri Lora, membawa paksa gadis itu keluar dari sana. Meski Lora terus memberontak agar terlepas dari tarikan Polin. Sayangnya tenaganya tak sekuat tenaga pria.


Kini hanya tinggal Kaisar dan Adelia di dapur. Tubuh Adelia bergetar hebat dengan air mata bercucuran membasahi pipinya.

__ADS_1


Seketika Adelia memejamkan kedua matanya saat melihat Kaisar mengangkat tangan.


Sret!


__ADS_2