TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 31


__ADS_3

Note:Hallo, Sayangku. apa kabar? maaf ya, lama up. Sebenarnya aku lagi dilema buat lanjut di sini, tapi karena ingat kalian jadinya tetap aku up. Tapi entah untuk ke depannya, semoga aja bisa tetap up ya. See you, Sayang


"Minum dulu, Nona Liona." Rex menyodorkan sebotol air mineral pada gadis muda yang kini duduk di kursi tunggu.


Mata Rex tak lepas menatap wajah lelah gadis itu.


"Apa Anda bermimpi buruk lagi?" Tanya Rex mencoba membuka obrolan.


Tak ada jawaban, hanya tatapan sendu yang terlihat jelas dari kedua iris mata kecoklatan itu. Hal tersebut sukses membuat Rex menghela napas pelan.


Ia cukup paham, bahkan sangat tahu. Kecelakaan yang terjadi tiga bulan lalu benar-benar mengguncang psikis gadis muda itu, cicit dari Tuannya.


Masih terekam jelas di benak Rex malam itu. Malam di mana ia memberi laporan pada Kakek Lingga mengenai pergerakan kelompok mafia di Italia. Dan tanpa diduga mendengar kabar yang cukup mengejutkan, di mana cicit perempuan Tuannya menabrak seseorang dan melarikan diri.


Tiga bulan yang lalu.


Suara dering ponsel mengusik ketenangan dalam ruang kerja kakek Lingga.


Pria paruh baya itu menatap lekat ponsel di atas meja, mengulurkan tangan dan meraihnya.


Keningnya yang keriput terlihat mengerut melihat nama yang tertera di sana.


"Halo, Sayang. Ada apa?" Tanya Kakek Lingga pada Cicit kesayangannya di seberang telepon.


Tak ada jawaban, hanya suara deru napas yang tak beraturan terdengar memasuki indra pendengaran.


Rex ikut mengerutkan keningnya.


"Liona, ada apa?" Tanya Kakek Lingga lembut, mendadak ia khawatir dengan kondisi cicitnya.


"Ka-kek... A-aku menabrak seseorang. Ka-kek... Ba-bagaimana ini..." Suara gemetar di seberang sana bertanya, membuat tubuh Kakek Lingga menegang.


"Kamu di mana? Katakan pada Kakek." Seketika Kakek Lingga berdiri dari duduknya.


"D-di jalan tol Tangerang, ka-kek. A-apa yang harus aku lakukan, kakek?" Suara Liona masih terdengar bergetar di seberang sana.


"Tunggu di sana. Kakek akan segera tiba," ucap kakek Lingga lalu menatap Rex.


Rex mengangguk mengerti, segera keluar untuk menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini mobil sedan mewah itu berhenti di tepi jalan.


Kakek Lingga segera mendekat pada mobil cucunya. Liona yang melihat kedatangan dua orang itu, segera memeluk tubuh Kakek Lingga.


Tubuh mungil itu gemetar memeluk Kakek Lingga. Suara isakan ketakutan terdengar keluar dari bibir Liona.


"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, Sayang." Kakek Lingga mencoba menenangkan.


"A-aku tidak sengaja, Kakek. Sungguh, aku tidak sengaja. A-aku hanya bertelepon dengan kekasihku dan tidak sengaja menabrak seseorang. Ba-bagaimana jika orang itu meninggal?"


Kakek Lingga menangkup wajah cicitnya yang basah akan keringat dingin.


"Semuanya akan baik-baik saja. Percaya pada Kakek."


Pria paruh baya itu membawa cicitnya dalam dekapan, mengusap pelan surai hitam panjang milik Liona.

__ADS_1


"Rex, cari tahu siapa yang menjadi korbannya. Segera beritahu padaku," titah kakek Lingga meninggalkan Rex yang mengangguk mengerti memasuki mobil bersama Liona.


Tepat tengah malam, Rex tiba di kediaman kakek Lingga. Memberi laporan akan korban tabrak lari Liona.


"Dia putri Revan Argantara, Adik Kaisar Argantara." Jelas Rex sesaat setelah tiba di dalam ruang kerja kakek Lingga.


Rex menatap lekat reaksi Tuannya yang terlihat mengepalkan tangan di atas meja.


"Kita harus segera menyembunyikan Liona. Sifat pria muda itu lebih kejam dari Ayahnya. Jika dia menemukan keberadaan Liona, maka cicitku tidak akan baik-baik saja." Ucap kakek Lingga dengan rahang mengetat.


Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka lebar. Menampakkan sosok yang sangat tidak disukai oleh Kakek Lingga, hingga pria paruh baya itu secara terang-terangan menunjukkan ekspresi tak sukanya.


"Aku yang akan menyiapkan penerbangan Liona ke Canada. Agar Kaisar tak dapat menemukannya," ucap Liorand dengan wajah datar.


"Baiklah. Aku percayakan padamu, kau harus bisa menyembunyikan cicitku. Jangan biarkan Pria itu menemukannya," ucap kakek Lingga seolah tengah berbicara pada orang lain, bukan pada cicitnya. Saudara kembar dari Liona.


Liorand hanya menghela napas pelan sebelum menutup pintu dan meninggalkan dua orang itu di dalam sana.


***


"Bagaimana keadaan Kakek?" Lirih Liona yang masih didengar oleh Rex.


Sontak pria itu tersadar dari lamunannya. Kembali fokus menatap wajah Liona yang begitu lelah, hampir setiap malam terbangun karena bermimpi buruk. Bahkan tak jarang gadis itu meminum obat tidur agar bisa terlelap hingga pagi.


"Keadaan Tuan Lingga saat ini sudah mulai membaik. Mungkin sebentar lagi akan siuman," ujar Rex.


Liona menganggukkan kepalanya mengerti. Meski perasaan tak tenang masih ia rasakan di hatinya.


"Sebaiknya Anda tidak menyiksa diri lagi. Sosok yang terbaring di atas tempat tidur karena ulah Anda, kini sudah siuman."


Seketika Liona mendongak, menatap tak percaya pada pria dewasa di hadapannya.


Rex menganggukkan kepalanya, menghela napas pelan sembari menutup matanya. Sepertinya ia tidak bisa segera menemui para bawahannya yang tengah mengalami kesulitan saat ini.


'Bertahanlah, kalian bisa melakukannya.' batin Rex berdoa.


Di sisi lain, seorang pria terlihat tersenyum begitu menawan di bibirnya. Tak peduli dengan penampilannya yang kini begitu berantakan.


"Aku cukup terkejut, Uncle." Ia menoleh menatap pria setengah baya di belakangnya, "ternyata orang-orang ini cukup hebat." Lanjutnya masih tersenyum.


Senyum yang membuat beberapa bawahannya merinding.


"Jangan tersenyum seperti itu, Devian. Cukup memberi pelajaran seperti itu, jangan membunuhnya." Ucap Lion mengingatkan keponakannya yang satu itu.


"Oke, Uncle." Sahut Devian patuh menyeka cipratan darah di wajahnya.


"Pergilah beristirahat, uncle yang akan menyelesaikan hal ini." Lion menyentuh bahu Devian sebagai isyarat, sebelum melangkah melewati pria muda itu mendekat pada salah satu orang yang terbaring merintih kesakitan di tanah.


Devian menurut, melangkah menjauh melewati orang-orang yang terkapar tak berdaya karena ulahnya.


Sedang Lion kini berjongkok di hadapan salah satu orang yang merupakan kepercayaan dari Kakek Lingga.


"Sepertinya pria itu tidak akan datang," ucap Lion dingin dengan wajah datar.


Perlahan Lion kembali bangkit, mengabaikan tatapan benci yang mengarah pada dirinya.

__ADS_1


"Bawa mereka ke rumah sakit. Jaga ketat ruangan mereka, karena aku tidak ingin kehilangan sandera." Ucap Lion memberi perintah pada bawahnya, lalu melirik kembali pria itu. "Nyawa kalian ada di tanganku. Jadi patuhlah," tegas Lion dengan tatapan intimidasi pada bawahan kakek Lingga yang terkapar di tanah.


"Baik, Tuan." Sahut mereka serentak, segera mematuhi ucapan Lion.


Pukul 8 pagi.


Kaisar melangkahkan kakinya dengan terburu-buru memasuki lobi rumah sakit. Helaan napas kesal terdengar keluar dari bibirnya.


Ting!


Kaisar segera melangkah keluar dari lift saat tiba di lantai tujuannya. Melangkah lebih lebar mendekat ke arah pintu ruang rawat Raila.


Kening Kaisar mengerut sesaat setelah membuka pintu, menatap aneh ruangan yang kini kosong.


"Raila?" Panggilnya, tapi tak ada jawaban.


Kaisar berdecap. Kembali menutup pintu, dan merogoh saku celananya. Menghubungi nomor Ayahnya.


"Halo, Ayah di mana? Aku tidak menemukan Raila di ruangannya." Ucap Kaisar sesaat setelah panggilan terhubung.


"Kami tidak ada di sana."


"Kalian di mana?" Tanya Kaisar. Ia meninggalkan mansion dengan buru-buru karena panggilan Sang Ayah yang memintanya ke rumah sakit karena keadaan darurat. Bahkan Kaisar menghentikan kegiatannya memandang wajah terlelap Adelia demi bisa tiba di rumah sakit lebih cepat.


Tapi apa ini? Bahkan adiknya tak berada di ruang rawat.


"Kami berada di depan ruang operasi. Raila juga ada di sini."


Seketika tubuh Kaisar menegang.


"Di lantai berapa?" Tanya Kaisar berlari cepat mendekati lift.


"Lantai dua."


Kaisar segera memasuki lift setelah memutuskan panggilan. Memencet tombol lift dengan terburu-buru agar segera turun ke lantai dua.


Ting!


Kaisar segera berlari keluar. Hingga perlahan langkahnya memelan kala melihat keramaian di depan ruang operasi.


Ada adiknya yang tengah duduk di kursi tunggu bersama kedua orang tuanya, yang artinya adiknya baik-baik saja.


Lalu, kenapa mereka berada di depan ruang operasi? Batin Kaisar mulai bertanya-tanya. Hingga tanpa sengaja bertatapan dengan pria yang tengah bersandar di dinding. Menatapnya di enggan wajah datar sambil bersedekap.


Kedua tangan Kaisar terkepal menahan amarah, apalagi melihat wanita yang duduk di samping pria itu. Terlihat menunduk tanpa berani mendongak menatapnya.


'Beraninya dua saudara ini menunjukkan wajah di hadapanku?!' geram Kaisar dalam hati.


"Oh, kamu sudah datang." Suara itu mengalihkan pandangan Kaisar, hingga fokus pada keluarganya. Jangan lupa, ada juga Uncle dan Aunty-nya di sana.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Kaisar, mencoba menetralkan amarahnya dengan mendekati keluarganya.


"Uncle Lion dan Aunty Zara tengah menjalankan operasi di dalam." Jawab Raila.


Kening Kaisar mengerut, "siapa?"

__ADS_1


Sesaat Raila terlihat diam, ada raut sedih di wajah gadis itu.


"Em, itu... Katanya Kakek dari Istri Uncle Lion," lirih Raila menundukkan kepalanya menatap lantai.


__ADS_2