
"Tangan Kakak kenapa?" Raila bertanya dengan raut khawatir terlihat jelas di wajahnya.
Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti antara dirinya dan Kakaknya di ruang tamu.
'Sepertinya terjadi sesuatu pada Kakak, Dia terlihat begitu menderita.' batin Raila menatap prihatin penampilan kakaknya yang begitu berantakan.
Bulu-bulu halus terlihat begitu lebat memenuhi rahang Kakaknya. Apa kakaknya itu lupa untuk bercukur?
"Kenapa keluar sendiri? Apa tidak ada orang yang menemanimu?" Tanya Kaisar setelah sepersekian detik diam tanpa berbicara.
Raila menggeleng pelan. Ia datang ke tempat itu hanya diantar oleh sopir keluarganya. Lagipula dia sudah dinyatakan sembuh, buktinya sudah diperbolehkan pulang ke rumah 5 hari yang lalu. Jadi tak ada hal yang perlu ditakutkan.
"Kakak belum mandi?" Tanya Raila, meski ia dapat menebak. Melihat pakaian Kaisar tiga hari yang lalu masih melekat di tubuh kekar itu.
Kaisar menghela napas pelan. Mengusap kasar wajahnya dengan tangan yang terbalut kain kasa.
Raila menggeleng pelan melihat hal tersebut. Sebenarnya kenapa kakaknya menderita seperti ini?
"Ayo," Raila bangkit dari duduknya. Mendekati Kaisar dan mencoba menarik lengan Kakaknya itu untuk ikut berdiri.
Tak ada perlawanan dari Kaisar. Pria itu mengekor mengikuti langkah kaki adiknya yang kini membawanya naik ke lantai dua.
Raila membuka pintu kamar. Menggiring kakaknya mendekat ke arah kamar mandi, kemudian masuk.
"Jangan bergerak." Ucapnya mengingatkan. Mulai mencari alat cukur kakaknya pada wastafel.
Kedua mata Kaisar terpejam kala Raila mulai menempelkan benda itu ke rahangnya. Membersihkan bulu-bulu halus di sana, hingga tak tersisa.
"Ada apa? Tidak biasanya kakak seperti ini. Apa ada yang menganggu ketenangan hati kakak?" Tanya Raila sembari fokus pada apa yang ia kerjakan.
Tak ada jawaban. Kaisar hanya diam dengan tatapan sulit diartikan.
Raila segera berbalik untuk meletakkan benda di tangannya kembali pada tempatnya.
"Hiks!"
Seketika tubuh Raila menegang dengan mata terbelalak. Perlahan ia mendongak menatap pantulan wajah Kakaknya yang kini menangis sesenggukan di belakang.
"Kakak!" Pekik Raila segera berbalik dan menarik tubuh kekar Kaisar ke dalam dekapannya.
Sungguh sangat menyayat hatinya kala melihat dan mendengar tangisan kakaknya. Sosok yang biasa terlihat tegas dan selalu tersenyum manis padanya, kini menangis sesenggukan.
"Kak Kaisar." Lirih Raila menepuk pelan bahu gemetar pria dalam dekapannya. Mencoba menenangkan, meski bertanya akan hal yang sebenarnya terjadi dalam hati.
Pasti ada sebab hingga Kakaknya menjadi serapuh ini.
Kaisar terus menangis dalam dekapan Adiknya. Meluapkan rasa kehilangan yang ada di hatinya.
__ADS_1
Ucapan yang keluar dari bibir Bram pagi tadi terus terngiang di benak Kaisar. Ia mencoba mencari tahu di dalam pikirannya, mencoba mengingat segala informasi tentang Adelia.
Tetapi tak ada catatan jika Adelia memiliki keluarga atau sanak saudara di luar Negeri. Adelia anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan.
"Kakak sudah seperti suami yang ditinggal mati istri." Ucap Raila setengah bergurau.
"Istri Kakak hilang, Ila." Lirih Kaisar di sela-sela tangisnya.
"Hah!" Sentak Raila yang sangat terkejut mendengar pengakuan itu.
Ia mendorong bahu Kakaknya hingga pelukan terlepas. Menatap iris mata Kaisar guna mencari kebohongan dalam ucapan tadi.
Tak ada kebohongan dari tatapan Kakaknya. Sekeras apapun Raila mencoba mencari secercah kebohongan di sana, tapi tak menemukannya.
Bibir Raila bergetar tak percaya. Gadis itu menelan kasar ludahnya yang terasa sulit melewati tenggorokan.
"Kapan?! Mommy dan Daddy tidak bilang kalau kakak udah nikah. Sama siapa?" Tanya Raila tanpa henti, setengah mengguncang bahu lebar Kakaknya.
Kaisar kembali diam dengan semakin sesegukan. Baru seminggu ditinggalkan, dia sudah seperti ini. Apalagi jika berbulan-bulan.
Sesaat Raila menghela napas kasar. Seperti ia harus meredam rasa penasarannya untuk saat ini. Bertanya pada kakaknya sepertinya tidak akan membuahkan hasil.
"Sudah. Jangan menangis lagi, kak. Kita keluar dulu," ajak Raila pelan menarik tangan Kaisar keluar dari kamar mandi.
Pria itu tak banyak bicara, hingga akhirnya Raila mendudukkan Kaisar di tepi tempat tidur.
Sesaat keheningan menguasai dua saudara itu. Kaisar yang mencoba meredakan tangisnya, dan Raila yang menatap prihatin kondisi Kakaknya.
Siapa wanita yang dipersunting oleh Kakaknya? Setelah dirinya terbangun dari koma, tak pernah ada ucapan mengenai pernikahan kakaknya yang keluar dari bibir orang tua mereka.
Jadi, bisa dipastikan jika Kakaknya menikah tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibunya.
"Apa dia sungguh menghilang?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Raila. Sekilas Raila menatap sekeliling kamar, mencari benda yang mungkin akan mengenyahkan rasa penasarannya.
"Kapan?" Tanya Raila lagi.
"Sehari setelah Kakak tiba di Los Angeles. Polin menelepon di pagi buta, lalu memberitahukan mengenai hal itu. Dia kehilangan kesadaran, begitupun dengan Adiknya yang tertidur di kamar pelayan. Lalu, saat terbangun pintu kamar terbuka tanpa kehadiran...." Kaisar menggantung ucapannya. Menunduk menatap lantai dengan meremas jari-jarinya.
"Kakak yakin jika dia melarikan diri?" Raila bertanya.
Sesaat Kaisar tersentak. Mendongak menatap dalam mata adiknya, terlihat begitu tajam menatapnya.
"Bisa saja ada orang yang membantunya. Atau mungkin... Menculiknya."
Deg!
Kedua mata Kaisar terbelalak. Ia tertegun mendengar persepsi yang terlontar dari bibir Raila.
__ADS_1
"Kak Kaisar tidak lupa 'kan? Kakak memiliki banyak musuh di luar sana. Bagaimana mungkin mereka bisa membiarkan kelemahan Kakak begitu saja, bisa saja mereka menculiknya lalu menggunakannya sebagai ancaman suatu hari nanti." Tutur Raila. Kakaknya bukanlah orang biasa, ya itu jelas.
Seorang pebisnis seperti Kaisar Argantara tak mungkin tidak memiliki musuh, mengingat jika pria itu sudah banyak menjatuhkan perusahaan lain.
Kaisar menggelengkan kepalanya. Bukan menolak ucapan Adiknya, itu mungkin benar. Tetapi Kaisar tak pernah menunjukkan Adelia atau memperlihatkan kemesraan di depan publik.
Tak ada musuhnya yang mengetahui tentang keberadaan Adelia. Bahkan bertemu saja mereka tidak pernah, hingga tiba-tiba Kaisar terdiam kala pikirannya kini tertuju pada seseorang.
'Demian.' desis Kaisar dalam hati. Bangkit dari duduknya, meninggalkan Raila yang mematung melihat Kaisar berlari keluar kamar.
"Kak!" Panggil Raila segera mengikuti langkah kaki Kaisar.
Kaisar menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Mendekat ke arah pintu ruang kerjanya. Mendorong keras daun pintu hingga terbuka lebar, menampakkan ruangan yang kini telah rapi tanpa ada serpihan kaca atau buku yang bertebaran di lantai.
Langkah kaki Kaisar terhenti di samping meja kerjanya. Meraih benda pipih miliknya yang ada di atas meja.
***
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Suara dering ponsel memenuhi salah satu kamar. Mengusik tidur seorang pria yang tengah bergelut dengan selimutnya.
"Accidenti!" Demian mengumpat pelan mendengar dering ponselnya yang begitu menganggu.
Perlahan Demian mengulurkan tangan meraih ponselnya di atas meja samping tempat tidur. Menatap datar pada nama yang tertera di layar.
"Hm." Deham Demian kala mengangkat panggilan itu.
"Demian." Suara dengan amarah tertahan terdengar di seberang telepon.
Demian acuh. Mengubah posisi hingga terlentang, sekilas melirik jam dinding dalam kamarnya.
Pukul tiga dini hari, dia baru saja tidur dua jam yang lalu dan kini harus terbangun karena panggilan dari sepupunya.
Santo cielo!
(Astaga!)
"Apa?" Tanya Demian datar. Menutup matanya dengan lengan kanannya yang bebas.
"Di mana dia?!" Pertanyaan ambigu itu seketika ditanggapi oleh otak Demian. Ia paham, ke mana arah pertanyaan itu.
"Dia? Siapa?" Demian balik bertanya.
Sesaat hening menguasai di seberang sana, membuat Demian menghela napas seraya mendudukkan diri di atas ranjang empuknya.
"Apa sekarang kau meneleponku di pagi buta hanya untuk menanyakan hal itu?" Tanya Demian menyandarkan punggung pada kepala ranjang.
__ADS_1
"Sei sano di mente?"
(Kamu waras?)