TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 42


__ADS_3

Keheningan masih menguasai di dalam ruang tamu sebuah mansion. Sosok wanita yang duduk di sofa panjang itu hanya menunduk dengan meremas kuat tangannya. Ia takut untuk mendongak, menatap pria yang terlihat seperti orang lain saat ini.


“Sepertinya sudah saatnya aku untuk pergi.” Ucap Devian tiba-tiba, melihat arloji yang melingkar di tangannya.


Adelia menoleh ke sumber suara. Mengerjap menatap sosok yang kini beranjak dari duduknya, bersiap untuk pergi meninggalkan mansion itu. Padahal sosok itu baru saja tiba tiga puluh menit yang lalu.


Devian tersenyum simpul pada wanita yang kini menatapnya bingung, “kalau begitu, aku pamit undur diri. Masih ada hal yang harus aku lakukan, jika ada kesempatan aku aka mengunjungimu lain kali. Dan lain kali aku membawa buah tangan, sampai jumpa.”


Devian melambaikan tangannya pada Adelia, berjalan begitu santai sambil bersiul riah hingga menghilang di balik pintu.


Kedua mata Adelia mengerjap beberapa kali. Namun, ia segera mencoba untuk menstabilkan perasaannya yang tak karuan. Sungguh, berada di samping sosok itu terasa sangat berbeda dari biasanya.


Sedang di dalam mobil Lamborghini yang kini melaju denga cepetan sedang membelah jalan, sosok pengemudinya terlihat tersenyum tanpa henti dengan perasaan senang yang tidak bisa dijelaskan.


Seandainya saja orang kepercayaan Kakaknya tidak akan datang berkunjung tiga puluh menit lagi, mungkin Devian akan lebih lama berbincang dengan wanita cantik itu.


“Aduh, Demian. Harusnya kau mengatakan saja pada Mommy kalau tipe idealmu adalah wanita Asia. Jadi Mommy tidak perlu menunjukkan deretan foto wanita eropa padamu, dasar saudara kembar sialan.” Umpat Devian, lalu tertawa kencang seperti orang tak waras.


Lain kali saat berkunjung dia pasti akan membawa hadiah untuk wanita itu. Wanita yang mungkin akan menjadi Kakak iparnya. Ya, tidak masalah. Jika Devian mengingat sosok tadi, sudah jelas jika wanita itu adalah wanita langka yang sulit di dapat di jaman sekarang.


“Hehe, aku tidak sabar mengerjainya.” Ucap Devian tertawa jahat, tak sabar menggoda Kakaknya yang seperti kulkas tiga pintu itu.


***


Pukul 20:56 WIB.


Helaan napas pelan terdengar memenuhi ruang kerja Kaisar. Sang pemilik ruangan terlihat tengah berbincang dengan seseorang di seberang telepon.


“Kakak baik-baik saja?” tanya Raila khawatir.


“Tidak apa-apa, Raila. Bagaimana kabarmu di sana?” Kaisar balik bertanya, sedikit memijit keningnya yang terasa berdenyut. Sungguh ia pusing, tapi tak akan berhenti untuk menemukan keberadaan Adelia, istrinya.


Meski mereka belum melangsungkan pernikahan yang megah tapi setidaknya surat-surat nikah yang sudah ditanda tangani oleh Adelia tanpa sepengetahuan wanita itu, telah mengikat mereka berdua sebagai pasangan suami-istri yang sah.


Sesaat hening menguasai di seberang telepon. Kaisar tahu, jika saat ini adiknya itu pasti merasa tak enak karena tak menemukan sesuatu yang mencurigakan tentang Demian.


“Tidak perlu dipikirkan, Raila. Kakak baik-baik saja, kamu cukup fokus pada kuliahmu di sana. Soal istri kakak, kakak akan mencarinya hingga ketemu. Jadi jangan merasa bersalah, oke.” Ucap Kaisar, mencoba menenangkan adiknya.


“Iya, Kak.” Sahut Raila lesu.


Ingin rasanya Kaisar mendekap tubuh adiknya saat ini, agar gadis cantik itu tak terlalu merasa bersalah. Jika bisa jujur, Kaisar tak ingin merepotkan Raila untuk membantunya mengawasi Demian. Karena apartment milik adiknya itu berada cukup jauh dari kediaman Salvatore.

__ADS_1


“Istirahatlah, kamu pasti lelah. Sering-sering hubungi Kakak atau Mommy dan Daddy. Kami akan sangat merindukanmu,” ujar Kaisar pelan begitu lembut.


“Baik, kak. Kakak juga, jaga kesehatan. Jangan sakit,” ucap Raila dan panggilan pun berakhir.


Kaisar menghela napas kasar. Membuang kasar benda pipih di tangannya ke atas meja, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Adelia, maafkan aku.” Lirih Kaisar menutup kedua matanya dengan satu tangan, hingga setetes air mata perlahan terlihat jatuh membasahi pipinya.


DUA HARI KEMUDIAN.


Kaisar masih berkutak dengan dokumen penting di dalam ruangannya. Seperti biasa, pria itu akan terlihat begitu serius dengan pekerjaannya hingga lupa makan siang.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.” Ucap Kaisar tanpa menoleh ke arah pintu.


Perlahan pintu terbuka, memperlihatkan Bram yang kini mendekat dengan setumpuk dokumen penting dalam dekapannya. Dokumen yang diminta oleh Bosnya.


Sesaat Bram menatap prihatin pada penampilan Kaisar saat ini. Begitu berbeda dari biasanya yang ia lihat.


Bukan dari setelan atau lainnya, tapi tubuh pria itu yang terlihat sedikit kuran terurus.


“Ini dokumen penting yang Anda minta, Tuan.” Ucap Bram seraya meletakkan dokumen di tangannya ke atas meja.


“Oh, iya, Tuan. Soal penerbangan ke Italia, saya sudah memesan tiket. Pesawat akan berangkat tiga jam lagi,” ucap Bram melirik arloji yang melingkar di tangannya.


Seketika gerangan Kaisar terhenti. Ia mengalihkan pandangan hingga fokus pada Bram, hampir ia lupa jika hari ini harus berangkat ke Milan untuk bertemu dengan Devian, sepupunya.


Ada kontrak kerja sama yang perlu ia bahas dengan saudara kembar Demian itu.


“Baiklah. Aku mengerti, kau bisa keluar.” Ucap Kaisar yang segera dituruti oleh Bram.


Perlahan suara pintu tertutup rapat terdengar. Kaisar menyandarkan punggungnya, menghela napas sambil menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.


“Adelia… kata Mommy gaun pengantinnya akan segera siap. Tapi kenapa, aku belum juga bisa menemukan jejakmu?” gumam Kaisar menggigit bibir bawahnya menahan sesak di dada.


Di sisi lain benua.


Seorang wanita tiba-tiba berbalik menatap ke arah pintu gerbang yang tertutup rapat. Keningnya terlihat mengerut dengan jantung berdetak tak karuan.


Ia merasa ada yang memanggil namanya, tapi melihat suasana yang hening membuatnya yakin jika tak ada siapapun di taman itu kecuali dirinya.

__ADS_1


“Apa hanya perasaanku saja?” gumam Adelia, lalu mengedikkan bahu acuh. Kembali fokus pada pot dan bunga di hadapannya.


Tepat pukul empat sore, Kaisar berangkat ke bandara. Bersiap untuk naik pesawat dan lepas landas menuju Milan, Italia.


Karena saat ini Devian berada di Milan, bukan Roma. Katanya untuk pertemuan itu, Devian sengaja kembali ke Milan tepatnya mansion orang tuanya untuk melepas rindu sekaligus bertemu Kaisar.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, kini mobil sedan itu telah tiba di bandara.


Kaisar keluar dari mobil, lalu menatap Bram yang berdiri di sampingnya.


"Selama aku pergi, aku titipkan perusahaan padamu. Aku akan kembali tiga hari lagi," ucap Kaisar mendapat anggukan kepala oleh Bram.


Satu hari untuk urusan pekerjaan, dan dua hari untuk bersama dengan adiknya.


'Semoga segera ada kabar baik untuk Anda, Tuan.' batin Bram, menatap punggung Kaisar yang perlahan menghilang dari pandangan.


Pukul 10:59 pagi La Spezia, Italia Utara.


Adelia diam memandang keluar jendela. Menatap hujan gerimis yang kini turun, hingga membuat ia mau tak mau menghentikan kegiatannya di taman.


Tangan Adelia terulur menyentuh dadanya, di mana jantungnya kini berdetak begitu cepat.


"Dia... Bagaimana kabarnya, ya?" Gumam Adelia, segera menggeleng lalu memukul kepalanya sendiri. Mencoba untuk mengusir pemikiran aneh yang tiba-tiba hinggap di benaknya.


Kenapa akhir-akhir ini dia malah memikirkan sosok yang telah menyiksanya dahulu?


Tapi jauh di lubuk hati Adelia, ia merindukan sosok itu.


"Sebaiknya aku segera mencari pekerjaan, tidak enak juga jika hanya berdiam di dalam mansion seperti ini. Padahal cuma menumpang," ucap Adelia bertekad. Ia sudah sedikit lancar untuk kembali berbicara, jadi tidak ada alasan baginya untuk berdiam saja tanpa bekerja di mansion itu.


Dia harus mencari pekerjaan agar tak terlalu bergantung pada pemilik mansion yang sudah begitu baik membantunya.


Di sisi lain, seorang wanita setengah baya duduk begitu angkuh dalam ruangan kebesarannya. Terlihat begitu serius memandang lembaran informasi serta foto seorang wanita di tangannya. Kedua matanya menyipit, kemudian melirik sekretaris yang sejak tadi berdiri di depan meja.


"Kenapa.... Kalian belum membawa putriku ke sini?" Tanyanya, dengan tatapan tajam dan mengintimidasi pada Sekretaris sekaligus tangan kanannya.


"Maaf, Nyonya. Orang-orang kita sudah menyebar untuk mencarinya di Indonesia, tapi sayangnya tidak ada yang bisa kami temukan. Dan juga, sepertinya bukan hanya dari pihak kita saja yang mencari keberadaan Nona Muda." Ucapnya menjelaskan, membuat sosok anggun yang duduk di kursi itu mengetatkan rahang.


"Cari sampai kalian menemukannya. Jika perlu, kerahkan semua anggota, dan jangan lupa siapkan jet pribadiku. Aku akan pergi ke Indonesia, ada orang tua yang harus aku kunjungi. Sayang jika dia mati tanpa aku lihat 'kan?" Seringaian terlihat di bibirnya, begitu mengerikan.


"Ah, tapi katanya dia sudah melewati masa kritis. Sayang sekali, padahal aku ingin melihatnya mati." Lanjutnya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian menemukan putriku sebelum sebelum aku kembali. Dan aku sarankan agar tak ada lecet pada putriku tercinta. Jika dia lecet sedikit saja, maka kalian yang akan menerima akibatnya."


__ADS_2