
“Mansion siapa ini?” Devian bergumam menatap seksama tembok mansion di hadapannya.
Setelah tadi mengikuti mobil Demian, kini ia telah tiba di depan gerbang mansion yang entah milik siapa. Seingatnya, kakaknya itu tak pernah membeli mansion itu.
Dengan segera Devian merogoh saku celana kainnya. Meraih benda pipih di sana, lalu segera menghubungi nomor Kakaknya. Tidak lama berdering, sosok di seberang telepon mengangkat panggilannya.
“Hm.” Hanya suara dehaman yang terdengar, menandakan jika kakaknya tak ingin diganggu saat ini.
“Kau ada di mana?” tanya Devian, kembali mengedarkan pandangan menatap sekeliling. Terlihat cukup asri dan nyaman di pandang.
“Di luar,” jawab singkat Demian.
Sesaat hening menguasai, hingga Devian kembali membuka suara.
“Kau berada di Milan ‘kan?”
Keheningan kembali menguasai setelah Devian mengutarakan pertanyaan itu. Pria berusia dua puluh dua tahun itu tahu, jika kakaknya tengah terkejut saat ini dan pasti berpikir keras akan maksud pertanyaannya.
“Aku sempat melihat siluetmu di Roma, tepat di depan apartmentku.” Kilah Devian agar Kakaknya tak curiga di seberang telepon. Karena keheningan sesaat itu membuat Devian yakin, jika Demian mencoba untuk menutupi kebenaran.
Helaan napas lega terdengar meski samar di seberang telepon, membuat kening Devian mengerut penuh curiga. Satu pertanyaan mulai terlintas di benaknya. Kebenaran seperti apa yang disembunyikan oleh kakaknya itu?
“Mungkin kau salah lihat.”
“Oh, mungkin.” Devian berbicara seolah mengerti, “sepertinya memang iya.”
“Ya, sudah. Aku matikan teleponnya, ada hal penting yang harus aku urus.”
“Iya,” sahut Devian dan panggilan pun terputus.
Devian memandang lama layar ponselnya, lalu menatap ke arah gerbang mansion yang tertutup rapat.
Setelah cukup lama berdiam, Devian kembali memakai helmnya lalu melajukan kendaraan roda dua itu meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sepertinya ia harus memerintahkan beberapa orangnya untuk mengawasi mansion itu, pasti ada hal menarik yang disembunyikan oleh Kakaknya.
Satu sudut bibir Devian tertarik di balik helm, hingga menciptakan senyuman. Ia tidak sabar mengetahui hal apa yang begitu ingin dirahasiakan oleh Saudara kembarnya. Sosok pendiam yang terlihat tidak begitu tertarik pada lawan jenis.
DUA MINGGU KEMUDIAN.
Sudah berlalu dua minggu sejak Kaisar menemui kedua orang tuanya. Dan sudah berlalu dua minggu pula sejak adiknya meninggalkan Indonesia.
Kini pria berusia dua puluh lima tahun itu terlihat duduk diam di kursi kebesarannya. Entah melamunkan apa dengan setumpuk dokumen tertata rapi dan sudah ia kerjakan di hadapannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, menyadarkan Kaisar hingga sontak menatap ke sumber suara.
“Masuk.”
Perlahan pintu terbuka, membuat Kaisar mengerutkan keningnya mendapati sosok Sang Ayah yang kini berjalan memasuki ruangan kebesarannya lalu duduk di sofa.
Dengan cepat Kaisar beranjak dari duduknya, menghampiri Revan yang duduk dengan wajah serius.
Sesaat pria setengah baya itu diam. Memandang lama wajah Putranya yang begitu menantikan ia berbicara. Ia menghela napas pelan, padahal kabar yang ingin ia katakan mungkin akan membuat Putranya itu sedih.
"Daddy?" Panggil Kaisar lagi saat Revan tak juga berbicara dan hanya memandangnya dengan sesekali menghela napas.
"Maafkan Daddy," ucap Revan akhirnya.
Seketika Kaisar terdiam. Tubuhnya mendadak kaku dengan mata terbelalak. Kaisar segera menunduk, mengedipkan mata beberapa kali guna mencegah air mata yang hendak jatuh.
Tak ada yang bisa Revan lakukan. Ia hanya memandang sendu Putranya. Apa bisa yang ia lakukan, jika orang yang dia kirim ke Italia tak menemukan hal ganjil saat mengawasi pergerakan keponakannya.
"Pengawasan selama dua Minggu ini tak membuahkan hasil yang memuaskan. Demian bertingkah seperti biasanya. Pergi ke perusahaan, lalu kembali ke apartment dan kadang ke mansion orang tuanya." Jelas Revan, mengucapkan hal yang ia dengar dari bawahannya.
Kaisar hanya diam. Kepalanya masih menunduk menatap lantai. Meski mendengar penuturan itu, hatinya tetap tak tenang. Ia tetap curiga pada Demian.
__ADS_1
Kaisar sangat yakin, jika Demian ikut andil dalam menghilangnya Adelia. Bagaimana mungkin wanita polos yang tidak memiliki sanak saudara itu dapat menghilang tanpa jejak seperti ini selama tiga Minggu. Sudah pasti ada campur tangan orang lain.
"Karena sudah seperti ini. Daddy harap kamu tidak akan lagi mencurigai sepupumu. Soal Istrimu yang menghilang itu, Daddy akan ikut membantu mencari sampai menemukannya. Kamu fokus pada pekerjaanmu dan kesehatan juga, dia pasti akan ditemukan. Ikatan hati tidak akan mudah diputus jika memang sudah ditakdirkan untukmu," ucap Revan seraya bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Kaisar, lalu menepuk pelan pundak kanan Putranya sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup rapat, menyisakan Kaisar seorang diri di dalam ruangan tersebut. Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini meluncur bebas membasahi pipinya.
Kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Rahangnya mengetat kuat, menatap lurus ke depan dengan begitu tajam.
"Aku tidak akan menyerah. Aku pasti akan memukulmu jika tahu kau benar-benar ikut campur dalam hal ini, Demian." Ucap Kaisar semakin mengepalkan tangannya.
Sedang di sisi lain benua. Tepatnya Milan, seorang pria berdiri diam di balkon kamarnya. Memandang lama ke arah luar gerbang mansion.
"Akhirnya orang-orang itu pergi juga," ucap Demian pelan, tatapannya tertuju pada pohon di luar gerbang. Tempat biasanya sosok bersembunyi dan mengawasinya selama dua Minggu ini.
Helaan napas lega terdengar keluar dari bibir Demian. Kini ia bisa sedikit tenang, karena sosok yang mengawasinya telah pergi. Jika saja orang yang mengawasinya adalah suruhan musuhnya, sudah pasti Demian menerima bantuan Adiknya yang berniat melenyapkan orang-orang itu.
Namun, sayangnya dia tak bisa melakukannya. Mengingat jika sosok di balik orang-orang itu adalah Kakak Ibunya.
"Sepertinya mulai besok aku bisa kembali mengunjunginya dengan aman tanpa takut ketahuan," gumam Demian berbalik kembali memasuki kamar.
Pukul 14:34 siang La Spezia, Italia Utara.
Seorang wanita mengerjap memandang pria yang tengah duduk di hadapannya. Terlihat begitu aneh dari biasanya. Seperti orang lain, membuat hatinya bergidik.
Apalagi sekarang, sosok itu malah menatapnya lekat. Seolah baru pertama kali melihatnya.
'Wah, sulit dipercaya. Ternyata Demian menyukai wanita asia.' batin Devian terus menatap wanita di hadapannya dari atas hingga bawah.
Pria dua puluh dua tahun itu benar-benar tak percaya, jika sosok yang terlihat begitu enggan berdekatan dengan wanita, justru menyembunyikan wanita di mansion rahasia yang tidak dia ketahui.
Jika saja bukan karena informasi yang diberikan oleh bawahannya, mungkin Devian tak akan tahu jika mansion itu dibeli oleh Kakaknya di pelelangan.
"Ekhem," Devian berdeham ringan, membuat Adelia tersentak di tempat duduknya.
__ADS_1
"Halo," sapa Devian semanis mungkin, membuat Adelia membisu dengan mata terbelalak.
"I-iya, ha-halo." Sapa Adelia semakin bingung. Sungguh, pria di hadapannya itu terlihat seperti orang asing, bukan sosok yang ia kenal.