TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 8


__ADS_3

Kaisar duduk diam di kursi kebesarannya. Pria itu duduk diam dengan tatapan lurus ke depan.


Perkataan yang ia dengar semalam dari sosok ipar saudari Ayahnya, terus berputar tanpa henti.


“Sebaiknya kau berganti pakaian dulu sebelum mendekati orang tuamu atau masuk ke dalam ruangan adikmu.” Ucap Lion dengan tatapan dingin, membuat Kaisar terdiam dengan menelan kasar ludahnya.


Lion melangkah untuk pergi. Sesaat langkahnya terhenti tepat di samping Kaisar, menyentuh pundak pria muda itu lalu berucap pelan.


“Aku tidak berhak mengatakan hal ini padamu. Tapi sepertinya aku perlu mengatakannya karena aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri.”


Kaisar memalingkan wajahnya hingga menatap lekat wajah Lion.


“Jangan berhubungan dengan hal yang tidak baik. Seburuk apa pun amarahmu, jangan bertindak gegabah. Kedua orang tuamu pasti tidak ingin melihat salah satu anak mereka memiliki sisi seperti itu.” Lion menepuk pelan pundak Kaisar, kemudian melangkah pergi meninggalkan Kaisar yang terdiam mencerna ucapan itu.


Kaisar mengacak gusar rambutnya saat kata demi kata yang Lion ucapkan terlintas tanpa henti di benaknya.


Apa yang salah? Dia hanya ingin memberikan pelajaran kepada orang yang telah menyakiti keluarganya. Entah Kaisar sadar atau tidak, jika tindakannya sudah melebihi batas. Bahkan tak bisa dipungkiri sudah ada beberapa orang yang tiada karena tindakannya.


Kaisar menulikan dirinya. Menutupi mata hatinya akan kemanusiaan.


Jika ada yang melukai keluarganya, maka orang itu pantas mati!


Hanya kata itu saja yang ada dalam ingatan Kaisar. Tidak terkecuali pada sosok wanita yang kini terkurung dalam mansion-nya.


Sesaat Kaisar tersadar. Menoleh ke arah jam yang ada di atas meja. Waktu berlalu cukup cepat hingga Kaisar tidak sadar jika matahari sudah hampir tenggelam. Itu artinya dia sudah berdiam cukup lama di dalam ruangannya.


Sepulang dari rumah sakit subuh tadi, Kaisar memutuskan untuk langsung ke perusahaannya tanpa berniat untuk ke mansion. Pakaian yang saat ini ia kenakan adalah pakaian yang tersedia di dalam ruang pribadi dalam ruangan kebesarannya.


“Sepertinya sudah saatnya untuk kembali ke mansion dan melihat kondisi wanita sialan itu.” Gumam Kaisar. Beranjak dari duduknya, mendekat ke arah pintu.


Saat Kaisar membuka pintu, pria itu dikejutkan dengan sosok Bram yang telah berdiri di depannya.


“Anda sudah ingin pulang, Tuan?” tanya Bram, sedikit memundurkan tubuhnya kemudian setengah membungkuk ke arah Kaisar.


“Seperti yang kau lihat.” Jawab Kaisar acuh.

__ADS_1


Bram menoleh kala Kaisar melewatinya. Seketika pria berkacamata itu mengikut langkah Kaisar ke arah lift.


“Tuan ... soal hal itu...”


“Aku tidak ingin membahas hal apa pun saat ini. Sisipkan saja lain kali kau beritahukan lagi. Aku harus kembali ke mansion,” ucap Kaisar datar.


Bram hanya bisa diam dengan bibir terkatup. Padahal hal yang ingin dia sampaikan cukup penting.


“Mungkin besok saja,” gumam Bram memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan menyelesaikan beberapa hal sebelum pulang. Kebiasaan yang selalu ia lakukan lantaran Kaisar memberi perintah tersebut.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, kini mobil mewah itu telah tiba di depan mansion setelah melewati gerbang besi yang menjadi akses utama keluar masuk dalam bangunan mewah milik Kaisar Argantara.


Sosok Kaisar segera keluar dari mobil. Melangkah cepat memasuki mansion-nya dengan wajah datar. Terus mendekat ke arah pintu yang berada tidak jauh dari ruang tamu.


Seorang pria dengan setelan jasnya berdiri tegap di samping pintu. Pria itu segera membungkukkan setengah badannya saat Kaisar mendekat, lalu berhenti di depannya.


“Kau melakukan sesuai yang aku perintahkan?” tanya Kaisar tajam.


Pria itu mengangguk, “iya, Tuan. Tapi...”


“Saat saya masuk dan memberikan sarapan pagi serta makan siang, makanan itu tidak terlihat berkurang. Makanannya tetap utuh, seolah tidak pernah disentuh.”


Seketika Kaisar membuka pintu tanpa menimpali jawaban dari bawahannya. Kedua kakinya melangkah pelan dengan alis mengerut, menatap penuh tanya pada punggung wanita yang meringkuk di lantai memunggungi pintu masuk.


Langkah Kaisar terhenti saat tiba di belakang tubuh Adelia. Pria itu mengulurkan tangan, lalu membalik tubuh Adelia dengan kasar hingga terlentang.


“POLIN!” teriak Kaisar menggema di dalam kamar itu.


Seketika pintu terbuka cukup kasar. Polin menatap bingung pada Kaisar yang menggendong tubuh wanita itu mendekati tempat tidur.


“SEGERA TELEPON DOKTER!” teriak Kaisar lagi saat melihat bawahannya itu hanya diam menatapnya.


***


Milan, Italia.

__ADS_1


“Damian!” sosok wanita berteriak memanggil nama putranya yang entah ada di mana. Kaki jenjangnya melangkah mendekati dapur setelah keluar dari lift.


“Damian!” teriaknya lagi.


“Aku di sini, Mom!” sahutnya dari arah ruang tamu.


Wanita itu segera memutar langkah ke ruang tamu. Menghela napas pelan mendapati sosok putra pertamanya yang tengah fokus pada laptop.


“Sudah berapa lama berkutak dengan benda itu? Tidak bisakah sehari tidak berpacaran dengan benda itu?” Zara bertanya dengan nada ketus sambil mendudukkan diri di samping putranya.


Sesaat pria itu menghentikan gerakan tangannya. Menatap Sang Ibu, lalu menutup laptop.


“Sudah,” ucapnya singkat.


Zara menatap malas hal itu, “dasar gila kerja.” Cibirnya.


Damian mengedikkan bahu, membuka kembali laptopnya.


“Di mana Davian?” kini Zara bertanya akan keberadaan putra keduanya.


“Katanya keluar menemani Daddy sebentar.” Jawab Damian singkat.


Zara kembali mencibir. Dari mana putranya ini bisa memiliki sifat seperti ini? Dia dan suaminya saja tidak seperti itu.


“Damian,” panggil Zara lembut, lalu meletakkan kepalanya ke pundak Damian.


Tiba-tiba Damian merasa tidak enak.


“Mommy ingin mengendong cucu,” ucap Zara tersenyum menatap wajah tegang putranya dari samping.


“Ah, itu. Aku tidak melihat Uncle Lion. Dia tidak ada di Milan, ya?” Tanya Damian mengalihkan pembicaraan.


Seketika Zara menegakkan tubuhnya. Menatap kesal pada putra pertamanya itu yang selalu saja mengalihkan pembicaraan saat dirinya membahas mengenai cucu.


“Dasar anak nakal.” Zara bangkit dengan kesal dari duduknya, “dia tengah berada di Indonesia. Mungkin saat ini tengah bersama dengan keluarga Mommy.” Walau marah, Zara tetap menjawab pertanyaan putranya.

__ADS_1


‘Indonesia? Mungkin aku bisa bertemu dengan Uncle saat melakukan perjalanan bisnis ke sana.’ Batin Damian dengan wajah serius. Bukan tanpa sebab ia ingin bertemu dengan Lion, tetapi ada hal penting yang ingin dia bahas dengan pamannya itu. Hal yang hanya diketahui olehnya dan pamannya.


__ADS_2