TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 43


__ADS_3

‘Akhirnya tiba juga.’


Kaisar menatap sekeliling bandara dengan tatapan datar. Ia menghela napas pelan, menaikkan sebelah alisnya menatap sosok pria yang tengah melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum.


Perlahan Kaisar melangkah mendekati sosok itu. Menarik pelan koper kecilnya dengan wajah datar yang senang tiasa terlihat.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Kaisar menaikkan sebelah alisnya bertanya.


Kekehan pelan terdengar keluar dari bibir Devian, sosok kembaran dari Demian.


“Menjemputmu,” balas Devian santai. Tak terlalu peduli dengan ekpresi yang terlihat di wajah sepupunya itu. Karena Devian cukup mengenal seperti apa sifat seorang Kaisar Argantara.


“Seharusnya tidak perlu.” Keduanya mulai melangkah keluar, “seharusnya kamu tidur saja. Aku bisa ke hotel terdekat menggunakan taksi,” lanjut Kaisar yang terlihat tak dipedulikan oleh Devian.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Devian memasuki mobilnya. Kaisar hanya bisa menggeleng pelan melihat hal tersebut.


Segera masuk setelah meletakkan koper kecilnya di bangku belakang. Mobil pun mulai melaju membelah jalan malam yang sepi menuju kediaman keluarga Salvatore.


“Mommy bilang untuk menjemputmu. Uncle Revan sempat menelepon dan mengabari Mommy agar kamu tinggal di mansion selama di Milan. Karena apartemen Raila cukup jauh dari kediaman utama, kecuali jika kamu sudah ingin bertemu dengan adikmu. Tapi aku yakin, kamu tidak setega itu untuk membangunkan Raila di jam tiga dini hari hanya untuk membuka pintu,” jelas Devian panjang lebar dengan tatapan fokus ke depan.


Sedang Kaisar terdiam. Bukan hal itu yang ada di benaknya sekarang, melainkan sosok yang mungkin akan dia temui di kediaman Salvatore. Lagipula dirinya masih bisa membayar kamar hotel. Amarah dan prasangka di hati Kaisar tak pernah pudar akan sosok sepupunya yang satu itu.


“Dan lagi, akan lebih cepat selesai masalah kerja sama kita jika kamu bermalam semalam di kediaman Salvatore. Kita bisa langsung membahas intinya pagi nanti setelah sarapan atau mungkin setelah kamu tidur dengan nyenyak,” ujar Devian melirik sekilas sosok di sampingnya.


Sepupunya itu terlihat begitu berbeda dari terakhir kali dia lihat hari itu saat berada di Indonesia.


“Kamu tidak mengidap penyakit mematikan, ‘kan?” pertanyaan aneh itu terlontar keluar dari bibir Devian, membuat pandangan Kaisar seketika tertuju pada sosok yang bertanya.


“Aku sehat, hanya ada sedikit masalah.” Jawab Kaisar sekenanya.


Kedua mata Devian mengerjap memandang Kaisar, lalu kembali fokus pada jalan. Tatapan sendu yang terlihat jelas saat pria di sampingnya mengatakan hal itu, membuat sisi hatinya tak tega.


“Masalah apa? Kamu bisa mengatakannya padaku. Mungkin saja aku bisa membantu membereskan para tikus yang mengusik bisnismu,” Devian mengatakannya tanpa ragu.


“Terima kasih. Tapi ini bukan karena tikus pengganggu,” kata Kaisar mengalihkan pandangan menatap kelaur jendela.


“Oke.”


Setelahnya tak ada percakapan yang terjadi di antara dua pria itu, hingga mobil memasuki gerbang kediaman keluarga Salvatore.

__ADS_1


“Ayo, keluar. Kamu butuh istirahat agar pembahasan kerja sama bisa berjalan lancar.”


Sesaat Kaisar diam menatap pintu masuk mansion mewah itu. Ada perasaan marah yang mulai bergejolak ingin dikeluarkan kala membayangkan wajah sosok kembaran pria yang baru saja melangkah masuk meninggalkannya.


“Sialan.” Umpat Kaisar pelan, lalu membuka pintu dan keluar. Mengambil kopernya di kursi belakang kemudian memasuki pintu besar yang masih terbuka lebar.


Kaisar mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Suasana yang tidak banyak berubah sejak terakhir kali dia datang bersama kedua orang tuanya saat masih kecil dulu.


“Kaisar…” panggilan terdengar dari arah dapur, memperlihatkan Devian yang memegang sepiring puding, “mau?” ucap Devian menawarkan.


Dengan cepat Kaisar menggelengkan kepala, “tidak, terima kasih.”


Devian hanya mengedikkan bahu acuh sembari melangkah mendekati ruang keluarga, mendudukkan diri dengan tenang dan menyalakan tv untuk menonton tanpa berniat memperlihatkan kamar pada sepupunya.


“Kalau begitu, aku akan masuk ke kamar.” Ucap Kaisar berlalu dari tempatnya berdiri mendekati pintu kamar yang berada tidak jauh dari ruang keluarga.


“Ya, sampai jumpa besok pagi.”


Di lantai atas, tepatnya dalam sebuah kamar yang hanya diterangi lampu meja samping tempat tidur.


Demian duduk diam pada sofa tunggal dalam kamarnya. Menatap datar ke depan dengan sedikit melirik pada ponselnya di atas meja. Terlihat notif pesan pada layar.


“Nona juga mengatakan ingin bertemu dengan Anda, jika Anda tidak sibuk. Ada hal penting yang ingin Nona katakan.”


Demian menghela napas pelan. Dia penasaran dengan hal yang ingin Adelia katakan padanya, tetapi mengingat jika saat ini ada Kaisar di Milan membuatnya sedikit kecewa karena harus menunda niatnya bertemu dengan wanita cantik itu. Dengan kasar Demian menyandarkan punggungnya pada sofa. Kepalanya mendongak menatap langit-langit kamarnya.


“Aku harap Kaisar segera pergi dari Negara ini,” gumam Demian menutup matanya dengan lengan kanan. Jujur saja, sisi hatinya merindukan wajah wanita Asia yang saat ini berada di mansionnya. Sosok cantik yang murah senyum lagi pemalu, tapi sayangnya wanita itu sudah terikat dengan sosok sepupunya.


“Biarkan aku sedikit bersamanya lebih lama, Tuhan.” Doa Demian lirih.


Tepat pukul 08:04 waktu setempat.


Sarapan tengah berlangsung di meja dalam kediaman keluarga Salvatore.


Sepasanga suami-istri di meja itu terlihat saling bertukar pandang satu sama lain, lalu melirik dua pria yang duduk di hadapan mereka. Demian dan Kaisar.


“Ah, Kaisar.”


Kaisar mendongak mendengar panggilan dari suami Aunty-nya. Menatap lama sosok setengah baya yang tengah tersenyum, berbeda dengan sosok pria di hadapannya. Yang hanya menampilkan ekspresi datar sambil menyantap sarapan dengan lahap.

__ADS_1


“Iya, Uncle?”


“Kamu yakin akan ke apartemen Raila setelah selesai membahas kerja sama dengan Devian?” tanya Logan yang mendapat anggukan mantap dari pemuda itu.


“Tujuanku ke sini hanya untuk hal itu, Uncle. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Raila sebelum kembali ke Indonesia,” jawab Kaisar tersenyum tipis.


Logan mengangguk mengerti. Sedang Zara memandang khawatir pada putra kakaknya. Ada banyak hal yang ingin Zara utarakan, tapi sepertinya dia harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan pertanyaan dalam benaknya.


“Mom, Dad, aku pergi dulu.” Pamit Demian beranjak dari duduknya setelah minum, Demian mengangguk sekilas pada Kaisar sebelum berlalu dari ruang makan.


“Hati-hati di jalan, Sayang.” ucap Zara menatap punggung lebar putranya.


“Iya, Mom.”


Kini hanya tinggal tiga orang itu di ruang makan. Melanjutkan sarapan dengan tenang hingga selesai.


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Sudah tiga jam berlalu sejak sarapan selesai dan kini Kaisar tengah duduk di sofa ruang keluarga, menanti sosok yang belum keluar dari kamar.


"Pagi, Kaisar." sapa Devian sesaat setelah keluar dari lift mendekati ruang keluarga.


"Pagi menjelang siang," balas Kaisar malas lalu menggeleng.


Devian hanya tersenyum cerah, tak merasa bersalah sama sekali. Mendudukkan diri pad sofa di samping Kaisar.


"Aku akan mengambil beberapa dokumen penting untuk kerja sama ini." Kaisar beranjak dari duduknya, meninggalkan ruang keluarga memasuki kamar tempatnya tidur semalam.


Devian menunggu dengan sabar, memberi isyarat pada salah satu pelayan yang terlihat di sana untuk membawakan kopi hingga suara dering pesan masuk memasuki indra pendengarannya, membuat Devian mengalihkan pandangan pada ponsel Kaisar di atas meja.


"Kakak sudah tiba di Milan?" pesan dari Raila.


Tapi bukan itu yang menjadi fokus Devian, melainkan foto wanita yang menjadi wallpaper ponsel itu.


Kedua mata Devian terbelalak, menatap tak percaya pada hal yang dia lihat.


'Bukankah itu wanita yang Demian sembunyikan di mansionnya?!!'


...****************...


Note : Bab selanjutnya menyusul 😘

__ADS_1


__ADS_2