TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 21


__ADS_3

Adelia diam membisu di dalam kamar. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya masih terus berpacu dengan begitu cepat karena hal yang terjadi beberapa menit sebelumnya.


'Pria itu gila,' batin Adelia dengan keringat dingin mulai membanjiri keningnya.


Bagaimana mungkin orang tak punya hati seperti pria itu, melakukan hal aneh seperti tadi?!


'Di-dia benar-benar sudah tidak waras.' tubuh Adelia bergetar hebat. Ia menelan kasar ludahnya.


'A-apa setelah ini, dia akan menyiksaku dengan cara lain?' batin Adelia. Tiba-tiba tubuhnya meremang, ia menggigit kukunya dengan perasaan takut.


Adelia bangkit dari duduknya. Berjalan mondar-mandir bagai setrika sambil menggigit kuku tangannya.


'Ba-bagaimana ini? Pria itu pasti sudah menyiapkan ruangan penyiksaan.' batin Adelia terus bertanya tanpa henti.


Ia merinding kala membayangkan senyum menyeramkan di wajah Kaisar.


"Nona?"


Sontak Adelia berbalik menatap Lora yang kini berada di ambang pintu. Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kamar, sedikit mengedarkan pandangannya menatap sekeliling ruangan yang terlihat rapi seolah tak terjadi hal apapun di kamar itu.


'Syukurlah. Sepertinya Tuan itu tidak menyakiti Nona,' batin Lora menghela napas lega.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Lora, kini ia kembali menatap khawatir saat melihat wajah Adelia yang pucat bercucuran keringat.


Adelia segera menggelengkan kepalanya. Ia meraih buku dan pulpen di atas meja.


Kedua mata Lora mengerjap membaca tulisan pada buku itu.


"Pria itu mengatakan hal aneh."


"Hal aneh?"


Adelia segera menganggukkan kepalanya. Kembali menulis sesuatu pada buku tersebut.


"Dia terlihat lebih mengerikan malam ini."


Lora semakin tak mengerti. Di ruangan itu tidak terlihat telah terjadi sesuatu, lalu kenapa wanita di hadapannya begitu takut.


Sekeras apapun Lora berpikir, ia tetap tak dapat mengerti dengan rasa takut yang dirasakan oleh Adelia.


Ia mendekat, lalu mengusap tangan Adelia yang gemetar.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya akan berusaha melindungi Anda agar Tuan itu tidak menyakiti Anda lagi," ucap Lora mencoba menenangkan. Meski ia juga takut setiap kali bertatapan dengan Tuan kejam pemilik rumah itu.


'Bagaimana Kakak bisa nyaman bekerja dibawah orang menyeramkan seperti Tuan itu? Ya, walau wajah Kakak juga terlihat menyeramkan.' Lora menghela napas kasar.


Sedang Adelia diam menunduk menatap lantai. Memeluk erat buku di tangannya dengan tangan gemetar.

__ADS_1


"Oh, iya. Plester di kening Anda lucu, Nona." ucap Lora tiba-tiba, membuat Adelia sontak menatap wajah gadis itu.


Adelia berlari pelan mendekati cermin. Seketika diam menatap plester di keningnya.


'Sejak kapan ini...' Adelia diam. Seketika ia mengingat kejadian tadi.


"Wah, ternyata plester lucunya ada banyak. Di mana Anda membelinya Nona?" ucap Lora terlihat senang ketika menemukan sekotak plester di atas tempat tidur.


Adelia tak menyahuti ucapan itu. Pikirannya kembali berpikir keras, hingga tubuhnya kembali merinding.


'Hih!' batin Adelia berteriak ngeri. Apakah plester itu sengaja diberikan oleh Kaisar untuk menutupi bekas siksaan yang akan ia terima?


'Ya Tuhan, tolong!'


Di sisi lain.


Kaisar duduk diam di dalam gudang tempat terakhir kali ia memukul seseorang. Pria itu terlihat memainkan ponselnya dengan sedikit menyentakkan kakinya ke lantai.


Saat ingin meninggalkan mansion-nya tadi, Kaisar tiba-tiba mendapat telepon yang membuat ia segera melajukan mobilnya ke tempat tersebut.


Suara pintu gudang terbuka, memperlihatkan sosok pria dengan setelan jas rapi berwarna biru tua memasuki gudang.


Kaisar tetap diam di tempat duduknya dengan tatapan tertuju pada pria yang kini mendekat. Tiba-tiba, Kaisar tersenyum manis sesaat setelah pria tersebut menghentikan langkah tidak jauh dari tempat duduknya.


"Selamat datang." sapa Kaisar ramah.


Pria itu tetap berwajah datar. Ia tak yakin jika pria di hadapannya benar-benar tengah tersenyum ramah padanya.


Kaisar menaikkan sebelah alisnya dengan raut wajah seolah tak tahu hal apa yang dimaksud oleh pria itu.


"Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku sama sekali tidak pernah mengusikmu, jadi kenapa kau malah menganggu perusahaanku?" tanyanya.


Kaisar bangkit dari duduknya. Tiba-tiba, melayangkan pukulan ke arah pria tersebut.


Tangan pria itu gemetar menahan kepalan tangan Kaisar yang kini hampir menyentuh wajahnya.


Kedua mata itu bertatapan. Kaisar dengan tatapan tajam yang seolah ingin menguliti sosok di hadapannya.


"Jangan bertingkah seperti tupai yang tidak tahu apa-apa, Brengsek!" geram Kaisar, lalu mengarahkan lututnya ke perut pria itu.


Uhuk!


Sosok tersebut menyentuh perutnya yang terasa nyeri.


"Ha'ah!" Pria itu menghela napas kasar, kembali menegakkan tubuhnya dengan tatapan berani.


Dia tidak takut pada pria gila di hadapannya itu.

__ADS_1


"Aku dengar adikmu sudah siuman. Jadi aku pikir tidak perlu membahas hal ini. Jika kau bertanya kenapa aku melakukan hal itu, aku hanya akan menjawab seperti yang kau lakukan."


Kedua tangan Kaisar terkepal kuat dengan rahang mengetat menahan amarah. Berani-beraninya pria itu mengatakan hal tersebut dengan raut wajah tak bersalah.


"Kau melindungi adikmu, aku juga melakukan hal serupa." ucapnya.


"LIORANDES AXELIO BRENGSEK!" teriak Kaisar menggema di dalam gudang itu. Ia menghujamkan pukulannya tanpa henti, tak membiarkan sosok itu untuk melawan.


Beberapa menit kemudian.


Kaisar menghentikan langkahnya di ambang pintu gudang. Sedikit melirik ke belakang, di mana sosok Liorandes kini terbaring lemah.


"Hari ini aku tidak membunuhmu, Brengsek. Tapi lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang sedikitpun. Jangan biarkan adik kesayanganmu itu berkeliaran sesuka hatinya, jika aku sampai melihatnya. Maka aku tidak akan segan-segan memberikan penyiksaan melebihi hal yang kau terima," ucap Kaisar mengancam. Kemudian berlalu meninggalkan pria itu.


Uhuk! Uhuk!


"Brengsek!" umpat Liorandes yang kini terbaring terlentang di atas lantai gudang. Satu tangannya bergerak menutupi matanya.


***


"Jangan bercanda, Logan!" teriak Lion menggema di dalam ruang tamu apartemennya.


Dokter bedah itu menatap adiknya dengan napas memburu. Ia mencoba menahan diri agar tak memecahkan segalanya di dalam ruangan itu.


"Apa?" tanya Logan dengan wajah datar. Ayah dengan dua anak itu melipat tangan di dada menatap Sang Kakak yang terlihat hampir kehilangan kewarasan.


"Kak." Panggil Logan, membuat Lion yang terlihat putus asa segera mengalihkan pandangan menyahuti ucapan adiknya.


"Bukankah kamu sudah tahu sejak memutuskan untuk berada di samping wanita itu dahulu. Kamu ataupun dia tidak akan bisa mendekat satu sama lain jika orang tua itu masih hidup." Logan beranjak dari duduknya. Melangkah melewati Sang Kakak yang kini mematung di tempat.


"Orang yang tak punya hati mengusir putranya keluar dari rumah, hanya karena wanita pilihan putranya bukan dari keluarga berada. Apa menurutmu orang seperti itu akan menerima segalanya, hanya untuk kebahagiaan cucunya? Apa menurutmu dia akan menerima putra dari musuhnya untuk menjadi suami cucunya?"


Ungkapan itu seolah menghantam dada Lion begitu kuat, hingga ia merasakan sesak yang teramat sangat.


Lion menunduk mengepalkan kedua tangannya. Menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.


Sedang Logan menghentikan langkahnya di ambang pintu keluar. Ia kembali menoleh ke dalam.


"Aku melindungimu, kak. Aku akan selalu berada paling depan jika sesuatu akan terjadi padamu. Tapi aku yakin kau tidak akan melakukan hal-hal yang menyebabkan pertumpahan darah. Karena kau tidak akan membiarkannya menangisi kepergian pria tua itu, 'kan?" ucap Logan, lalu melenggang keluar dari apartemen kakaknya.


Tubuh Lion lemas. Seketika terduduk di atas sofa. Pria itu menutup mata dengan lengannya, bibirnya bergetar menahan sesak.


"Risya." gumam Lion. Air matanya menetes dari balik lengan yang menutupi matanya.


Ia lemah.


Ia pecundang.

__ADS_1


Untuk bersatu dengan wanita yang ia cintai saja, dirinya tak bisa berbuat apa-apa.


"Aku ingin bertemu kalian. Aku ingin memelukmu bersama mereka. Maafkan aku, tidak bisa membantumu membesarkan mereka. Maafkan aku," ucap Lion dengan air mata dan rasa sesak di hatinya.


__ADS_2