TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 44


__ADS_3

Pembicaraan penting masih berlanjut di ruang keluarga kediaman Salvatore. Namun, ada hal yang terasa berbeda di ruangan itu, hingga membuat Kaisar sesekali melirik penuh tanya pada sepupunya yang mendadak menjadi pendiam setelah ia kembali dari dalam kamar mengambil beberepa dokumen penting.


“Masih ada beberapa hal penting yang kurang bagiku dalam kontrak kerja sama ini.” Devian meletakkan dokumen yang ia baca ke atas meja, menatap fokus pada Kaisar yang tak mengalihkan pandangan darinya sejak tadi, “kamu tidak keberatan jika aku menambahkan beberapa hal penting ‘kan?”


Kaisar segera menggeleng, “bukankah itu hal wajar? Lagi pula aku masih akan melihatnya sebelum menyetujuinya.”


“Baiklah. Tapi, sepertinya itu akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Kamu akan tinggal berapa hari lagi di Negara ini?” ucap Devian mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak ingin membalas tatapan mata sepupunya yang terlihat menyipitkan mata curiga.


Sejenak keheningan mencekam menguasai. Kaisar tak kunjung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Devian. Ia hanya terus menyipitkan mata curiga memandang sepupunya itu.


“Mungkin sekitar dua hari,” jawab Kaisar akhirnya. Menyandarkan punggungnya ke sofa lalu menghela napas panjang.


“Oke, itu cukup. Aku akan mengabarimu dua hari lagi,” Devian beranjak dari duduknya, “aku akan masuk sarapan. Sampai jumpa,” ucap Devian berlalu meninggalkan ruang keluarga memasuki ruang makan.


Kaisar menatap punggung sepupunya datar. Sedikit menggeleng sebelum akhirnya mengalihkan pandangan menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan notifikasi pesan dari adiknya. Dengan segera Kaisar mengulurkan tangan meraih benda pipih itu, membalas pesan masuk dari Raila.


Sementara di sisi lain.


“Jadi begitu, ya…” Adelia menunduk sedih sambil menggigit bibir bawahnya. Menatap jari tangannya, memainkan ujung dress selutut berwarna toska yang ia kenakan.


Padahal Adelia ingin segera mengatakan tujuannya pada pemilik mansion itu. Tapi sayangnya, sosok tersebut tak dapat menemuinya untuk sementara waktu dikarenakan pekerjaan.


Adelia menghela napas pelan. Rasanya tak enak jika dia mencari pekerjaan di luar mansion tanpa memberitahukan hal tersebut pada Demian.


“Jangan bersedih, Nona.” Adelia mendongak mendengar suara tersebut, menatap lama sosok jangkung berbadan kekar dengan setelan jas hitam yang tengah berdiri di hadapannya, tak lupa ekpsresi datar yang terlihat. Sosok yang merupakan orang kepercayaan Devian, sekaligus sosok yang baru saja memberitahukan ketidaksanggupan Demian untuk menemuinya.


“Tuan Demian akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan menemui Anda. Selama menunggu akan bagus jika Anda memperlajari beberapa hal penting yang mungkin berguna untuk Anda ke depannya.” Lanjut pria itu, membuat Adelia terdiam sambil berpikir.


Apa yang dikatakan oleh sosok di hadapannya ada benarnya. Mungkin akan bagus jika dirinya mempelajari lebih dalam tentang bahasa Negara itu.


"Ah, iya. Terima kasih sarannya," ucap Adelia tersenyum canggung.


Sosok itu hanya mengangguk pelan, "Saya akan segera memanggil guru privat untuk hal ini."


Seketika Adelia terdiam. Mulutnya sedikit terbuka dengan kelopak mata mengerjap cepat.

__ADS_1


"Em, iya. Maaf, merepotkan Anda dan Tuan Demian." Adelia menunduk menatap kedua tangannya yang saling tertaut. Dia jadi semakin tidak enak pada pemilik Mansion itu.


"Tidak apa-apa, Nona. Ini bukan hal yang merepotkan sama sekali. Saya pamit undur diri untuk memberitahukan hal ini pada Tuan Demian," sosok itu membungkukkan setengah badannya pada Adelia sebelum berlalu keluar dari mansion tersebut.


Adelia menggigit bibir bawahnya menatap punggung lebar yang perlahan menghilang dari pandangan.


"Lagi-lagi aku merepotkan Tuan Demian," lirih Adelia. Sepertinya setelah ini dia harus bekerja keras untuk membalas kebaikan pria itu padanya.


Pukul 1 siang waktu setempat.


Kaisar duduk diam dalam ruang tamu apartment adiknya. Sudah berlalu satu jam sejak pria itu tiba di sana, setelah pembahasan singkat mengenai kerja sama dengan Devian yang berjalan cukup lancar. Walau terasa ada yang mencurigakan pada sepupunya.


"Kak..."


Kaisar mengalihkan pandangan ke sumber suara. Menatap Raila yang kini mendekat membawa secangkir kopi di tangannya, lalu meletakkan di atas meja.


Sesaat Kaisar hanya diam memandang cangkir itu. Tatapan kosong entah memikirkan apa.


"Aku minta maaf," lirih Raila menyadarkan Kaisar dari lamunannya.


Gadis cantik itu kini menunduk sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencegah bulir bening yang kini mengenang di pelupuk matanya agar tak jatuh membasahi pipinya.


Usapan pelan terasa di puncak kepala Raila, membuat gadis itu memejamkan mata dengan dada kian sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan, tumpah membasahi pipinya tanpa permisi. Penampilan Kakaknya yang kian terlihat tak terurus itu membuat Raila merasa bersalah.


"Jangan merasa bersalah, Raila." ucap Kaisar mengusap pelan puncak kepala adiknya, "lagipula kamu ke Negara ini untuk belajar 'kan? Kamu hanya perlu belajar lebih giat, soal Istri kakak.... Kakak akan berusaha sendiri untuk menemukannya."


Sulit bagi Kaisar untuk mengatakan hal itu dengan berani dan lantang. Sedang sekarang satupun jejak Adelia tak ia temukan.


Perlahan suara isakan terdengar. Kaisar menghela napas pelan, menarik Adiknya dalam dekapannya lalu mengusap punggung Raila yang gemetar karena tangis.


"Sudah jangan menangis, Kakak baik-baik saja."


Bohong!


Itu kebohongan yang begitu nyata. Kaisar tak akan baik-baik saja selama Adelia belum berada di hadapannya.

__ADS_1


Kaisar mendorong pelan pundak Raila, menatap lama wajah adiknya yang basah akan air mata. Mengusap pelan bekas air mata itu dengan ibu jarinya.


"Selama kakak berada di Negara ini, bisakan kamu menemani Kakak untuk berkeliling?" Kaisar tersenyum manis, sedikit membuat wajahnya yang suram terasa lebih hidup.


Dengan cepat Adelia menganggukkan kepala. Untuk saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan. Akan Raila pastikan mengurus kakaknya dengan baik selama beberapa hari ke depan.


"Selama kakak di sini, kakak harus mendengarkan ucapanku ya! Aku akan mengurus kakak dengan baik, menggantikan Istri Kakak yang sedang tidak di sini." ucap Raila antusias.


"Mohon bantuannya, My beautiful sister." ucap Kaisar mengacak rambut Raila dengan senyuman yang masih tercetak di bibirnya, meski hatinya terasa begitu kosong.


Malam hari kediaman Keluarga Salvatore.


"Mom, aku akan pergi ke La Spezia besok."


Suara itu mengalihkan pandangan semua orang di meja makan hingga tertuju pada sosok yang berbicara.


Zara mengerjap menatap Putra pertamanya, "kamu akan menetap di sana untuk beberapa hari ya?"


Tidak biasanya Putranya itu meminta izin hanya untuk pergi, kecuali jika Putranya itu akan tinggal selama beberapa hari di tempat tersebut.


"Iya. Mungkin sekitar satu bulan," jawab Demian membuat Ibunya mengangguk mengerti.


"Baiklah. Ingat untuk memperhatikan makananmu dan istirahat yang cukup di sana. Mommy akan meluangkan waktu untuk mengunjungimu," biar bagaimanapun Zara akan tetap mengkhawatirkan putranya. Baginya Demian dan Devian masihlah putra kecilnya yang lucu, walau sekarang tak terlihat seperti itu.


"Aku akan kembali dengan cepat, Mom. Jadi tidak perlu mengunjungiku, Mommy pasti sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit." ucap Demian dengan ekspresi datar, tapi terdengar begitu lembut dari tutur katanya.


Ya, begitulah sosok Demian Salvatore. Tidak menunjukkan dari ekspresi, melainkan tindakan yang nyata.


Zara mengangguk pasrah. Berbeda dengan sosok Devian yang kini terdiam di tempatnya.


Dada Devian terasa sesak. Dia dilema sekarang, antara memilih memihak Kakaknya atau Sepupunya. Mengingat informasi rahasia yang ia terima sore tadi, membuat kepalanya kembali berdenyut.


'Accidenti! Kenapa harus istri Kaisar, Demian.' batin Devian mengerang kesal sambil mencengkeram kuat sendok dan garpu di tangannya.


Hah! Kenapa dia harus mengetahui sesuatu seperti ini?!! Bikin pusing saja. Rasanya Devian ingin lupa ingatan sekarang.

__ADS_1


...****************...


Note : Hari ini aku tebus janjiku dengan kalian😌🙈 Maaf ya, Zeyeng. Kali ini beneran no tipu²💃💃


__ADS_2