
"Tidak bisa begini." Lion bangkit dari duduknya. Meraih jas putih kebesarannya, lalu melangkah keluar dari pintu dengan terburu-buru.
Langkah Lion semakin cepat menyusuri koridor rumah sakit. Bukan untuk ke ruangan pasien, melainkan keluar dari bangunan itu.
Pria itu begitu tergesa-gesa, hingga tidak melihat sekitar dan tanpa sadar menabrak seseorang.
"Aduh!"
Seketika langkah Lion terhenti. Ia menatap sosok wanita yang kini bersimpuh di lantai dingin rumah sakit.
Lion sedikit berjongkok sembari mengulurkan tangan, "Anda baik-baik saja?"
"Ah, iya. Terima kasih."
Tubuh Lion menegang dengan mata terbelalak, bibirnya seakan kaku untuk berbicara. Sedang sosok di hadapannya terlihat kebingungan. Sedikit memiringkan kepalanya menatap Lion.
"Anda baik-baik saja, dokter?" pernyataan itu berhasil menyadarkan Lion dari keterkejutannya.
"I-iya." jawab Lion singkat dengan rasa gugup mendera, membuat tubuhnya kaku.
Perlahan Lion membantu sosok di hadapannya untuk berdiri. Lion mengalihkan pandangan menghindari kontak mata dengan sosok di hadapannya.
"Kita bertemu lagi, dokter." ucap Risya. Wanita itu tersenyum begitu hangat, sedikit curiga menatap pria yang secara terang-terangan menghindari kontak mata dengannya.
"Anda baik-baik saja?"
"Ah, iya. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya." balas Lion, tersenyum canggung.
Risya tersenyum tulus di bibirnya, membuat Lion tanpa sadar ingin mengangkat tangannya menyentuh wajah yang sangat ia rindukan.
'Tahan, Lion. Tahan,' batin Lion menggigit bibir bawahnya.
"Apa Anda sibuk, dokter?" tanya Risya.
Seketika Lion tersentak, kemudian menggeleng pelan.
"Bisa kita bicara?" kedua mata Lion mengerjap penuh tanya.
Bicara?
Untuk apa?
Dia tidak bisa lebih lama di samping Risya. Ia tidak akan tahan untuk tidak memeluk tubuh mungil itu.
"Apakah ini menyangkut kesehatan Kakek Anda? Sayangnya bukan saya yang mengetahui hal itu, Nyonya."
Risya menggelengkan kepalanya, "saya tidak ingin membahas hal itu. Tapi, hal lain."
Ucapan itu sukses membuat Lion bertanya-tanya.
Apakah Risya mengetahui jika itu dia?
"Jika Anda sibuk, saya tidak akan memaksa." ucap Risya lagi saat melihat raut wajah Lion yang berpikir begitu keras.
"Kalau begitu, mari kita berjalan sambil membahas hal yang ingin Anda bicarakan." ucap Lion.
Risya tersenyum, lalu melangkah beriringan di koridor rumah sakit.
Sesaat hening menguasai dua orang itu. Tak ada yang mengeluarkan suara, hanya langkah kaki yang terdengar memenuhi koridor yang tidak terlalu ramai.
"Saya datang ke sini untuk melakukan pemeriksaan kondisi Kakek untuk terakhir kali." ucap Risya tiba-tiba.
Lion hanya mengangguk, "jadi bagaimana kondisi Kakek Anda sekarang?"
"Sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Risya sedikit melirik wajah pria di sampingnya yang terlihat berpikir.
__ADS_1
Sesaat Lion menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang, di mana Risya berdiri menatapnya.
"Apa apa, Nyonya?" tanya Lion mendekat perlahan ke arah Risya, "Anda baik-baik saja?"
"Apa Anda lupa dengan saya?"
Tubuh Lion membeku. Kedua matanya terbelalak dengan terus menelan kasar ludahnya.
"Ah, mungkin karena sudah berlalu dua puluh tahun lebih. Jadi Anda mungkin lupa," ucap Risya terkekeh pelan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
'Dia ... mengingatku?' batin Lion bertanya-tanya.
'Tapi tidak mungkin. Saat itu Risya tidak dapat melihat,' Lion mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah sendu.
"Kita bertemu di rumah sakit saat saya selesai melakukan operasi. Sudah sangat lama, jadi wajar jika Anda lupa." lagi-lagi Risya terkekeh pelan mengucapkan kalimat itu. Tak menyadari perubahan ekspresi wajah lawan bicaranya.
"Ah, yang itu. Ya, benar yang itu." ucap Lion pura-pura mengetahui.
Risya tersenyum dengan kepala menunduk, "kalau begitu, saya pamit pergi dulu. Sepertinya Kakek sudah selesai."
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Risya katakan, tapi entah kenapa terasa begitu sulit untuk ia ucapkan.
Lion hanya mengangguk sebagai jawaban. Tetap diam saat Risya mulai melangkah melewati tubuhnya.
Lion mengusap kasar wajahnya dengan rasa sesak. Ia pria pengecut.
"Lion!"
Seketika Lion mengalihkan pandangan ke sumber suara saat mendengar seseorang memanggil namanya. Menatap sosok Revan yang kini melangkah mendekat dengan wajah penuh tanya.
Sedang di depan lift, Risya menghentikan langkahnya. Tubuhnya mematung, menoleh ke belakang dengan jantung berdetak kencang.
"Lion?" lirih Risya menatap dua pria yang terlihat berbincang tidak jauh dari tempatnya.
***
Tubuh seorang pria penuh luka jatuh tak berdaya di atas lantai gudang yang dingin. Pria itu berusaha untuk merangkak menjauh dari sosok yang terlihat menatapnya datar.
"Ha'ah." Kaisar menghela napas kasar menatap pria yang menjadi pelampiasan amarahnya. Terlihat tak peduli walau tangannya penuh dengan darah.
"Bram." panggil Kaisar, Bram mendekat dengan cepat.
"Ya, Tuan." sahut Bram yang kini telah berdiri di samping Kaisar.
"Bawa dia ke rumah sakit." titah Kaisar berbalik untuk keluar dari gudang tua itu.
"Baik, Tuan."
Sesaat Kaisar menghentikan langkahnya di ambang pintu. Sekilas melirik Bram yang tengah membantu pria itu untuk berdiri agar mudah memapahnya keluar dari gudang.
"Beritahu pada Bosmu, Kaisar Argantara menanti kedatangannya. Jika dia tak hadir di hadapannya besok, maka kita lihat bagaimana dia bisa mempertahankan perusahaannya itu." ucap Kaisar tajam, lalu melangkah pergi.
Kaisar memasuki mobilnya. Melajukan kendaraan roda empat itu keluar dari area gudang tua yang tak terurus.
Entah ke mana tujuannya malam ini. Kaisar hanya ingin menyendiri, menenangkan diri karena tak bisa menemui sosok yang ingin ia temui.
"Wanita itu ... apa sudah tidur?" gumam Kaisar dengan tatapan lurus ke jalan.
Esoknya~
Adelia terbangun dari tidurnya. Mendudukkan diri perlahan dengan sesekali menguap.
"Anda sudah bangun, Nona?" ucap Lora yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Adelia tersenyum manis, kemudian menganggukkan kepala. Segera beranjak dari tempat tidur untuk bersiap bekerja.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian.
Kini Adelia telah siap dengan pakaian pelayannya. Menoleh sekilas pada Lora yang merapikan tempat tidur.
"Anda keluarlah lebih dulu. Saya yang akan merapikan ini," ucap Lora saat menyadari jika Adelia berniat mendekat.
Sesaat Adelia diam, lalu mengangguk mengerti. Melangkah keluar dari kamar itu untuk memulai pekerjaannya.
'Lukanya sudah tidak terlalu sakit,' batin Adelia dengan terus melangkah hingga tiba di ruang tamu.
'Sebaiknya aku mulai dari sini.' ucapnya dalam hati, berniat untuk memulai. Namun, niatnya terhenti kala dikejutkan dengan sosok yang tiba-tiba duduk di atas sofa.
Adelia melompat dari tempatnya. Kedua matanya terbelalak dengan rasa takut kembali menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Argh, sial! Kepalaku sedikit pusing," keluh Kaisar memijit pelipisnya.
Pria itu sedikit menunduk menatap sofa tempat ia duduk saat ini. Tanpa sadar ia tidur di atas sofa semalam.
Kaisar menyipitkan matanya saat mendapati seseorang berdiri tidak jauh dari sofa. Tatapan keduanya bertemu, membuat tubuh Adelia bergetar hebat.
"Cih!" Kaisar beranjak dari duduknya. Melangkah mendekati tangga tanpa berniat menoleh pada sosok yang kini ketakutan dan tak berani mendongak menatapnya.
'Ya Tuhan, terus melangkah jangan berhenti.' batin Adelia berdoa.
Napasnya tercekat di tenggorokan saat suara langkah kaki tak lagi terdengar di telinganya.
"Kau ..."
Mati-matian Adelia berusaha menahan gemetar tubuhnya. Mencengkeram kuat pakaiannya tanpa berani mendongak.
"Siapkan pakaianku. Aku ingin semuanya sudah tersedia di atas tempat tidur saat keluar dari kamar mandi." titah Kaisar melenggang pergi tanpa peduli jawaban Adelia.
Bahkan ia tak peduli jika wanita itu mau atau tidak. Jelasnya ia ingin pakaiannya siap.
Di sisi lain.
Dua orang pria terlihat tengah bertatapan di koridor rumah sakit, tak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lion pada sosok di hadapannya.
"Aku ingin berbicara hal penting dengan Kakak," ucap Logan dengan wajah datar.
"Pergilah ke ruangan Putri Revan, Demian."
"Baik." sahut Demian tanpa banyak bicara, melenggang pergi meninggalkan Ayahnya dan Pamannya.
Sesaat setelah Demian pergi, dua pria itu sama-sama diam. Tak ada yang berbicara atau berniat untuk meninggalkan koridor dan pergi ke tempat sepi. Keduanya hanya diam dengan saling menatap tajam satu sama lain.
"Kau berbohong padaku." ucap Lion tiba-tiba, mengepalkan tangannya.
Logan diam, membalas tatapan Sang Kakak yang begitu tajam seakan ingin membelah pikirannya dan mencari tahu semuanya.
"Soal apa? Aku tidak ingat pernah berbohong padamu, Kak." balas Logan.
Lion mengetatkan rahangnya. Mengepalkan tangannya, berusaha untuk tenang agar tak emosi dan memukul saudara kembarnya itu.
"Lalu, kenapa kau ada di Negara ini? Bukankah kau datang karena mengetahui aku melakukan sesuatu?" ucap Lion sengit.
Logan tak menjawab. Pria itu diam, lalu menghela napas panjang.
"Aku tidak mengerti."
Tiba-tiba Lion meraih kerah baju Logan, menatap tajam Adiknya dengan wajah memerah menahan amarah.
"Risya ... kau menyembunyikan informasinya dariku. Padahal kau tahu kalau aku sangat menyukai dia. Kenapa kau melakukan itu pada kakakmu?!" teriak Lion keras. Emosinya meledak, sungguh dia tak percaya Logan melakukan hal itu.
__ADS_1
Beberapa orang yang berlalu lalang mulai menatap penuh tanya ke arah mereka. Terlihat sosok wanita diam mematung di antara orang-orang itu, tak percaya pada hal yang ia dengar.
"Aku tidak melakukannya. Tapi orang tua itu yang melakukannya."