
Langkah pelan Adelia menyusuri taman luas mansion mewah itu. Menyentuh sekilas bunga-bunga yang tengah bermekaran, terus melangkah sambil mengedarkan pandangan menatap sekeliling.
Tidak terasa, sudah satu Minggu dia berada di tempat itu. Tak ada hal aneh yang terjadi seperti kebanyakan penculikan yang sering Adelia baca di buku Novel
Dia tidak terkurung di dalam kamar. Atau harus melakukan hal yang menyenangkan bagi pria bernama Demian itu.
Adelia berucap syukur dalam hati. Meski tetap merasa resah sesekali. Perlakukan orang-orang di mansion itu membuat ia canggung. Dia diperlakukan seperti Nyonya rumah, disediakan segalanya hingga bahkan memakai baju selalu ada pelayan yang membantunya.
Bukan karena ia ge-er atau sebagainya, hanya saja perlakuan para pelayan itu benar-benar membuat hatinya resah gelisah. Bagaimana jika pria itu menculiknya untuk dijadikan istri?
Heh! Membayangkannya membuat Adelia bergidik. Masa iya keluar kandang singa masuk kandang macan!?
Tiba-tiba, Adelia menghentikan langkahnya. Bibirnya mengatup rapat dengan jantung berdetak tak karuan kala siluet seseorang yang ia takuti melintas di benaknya tanpa permisi.
Adelia merasa rindu tanpa sebab. Ia segera menggelengkan kepala. Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Bukankah ini yang ia inginkan? Pergi sejauh-jauhnya dari sosok yang memberi trauma mendalam pada dirinya. Tapi kenapa? Kenapa sekarang ia rindu?
'Tenang Adelia. Tenang,' batin Adelia mengingatkan. Mencoba menenangkan hatinya yang ingin berteriak dan mengeluarkan kerinduan pada sosok kejam itu.
"A-a..." Adelia menghela napas. Tenggorokannya masih belum terbiasa, meski sudah seminggu melakukan terapi.
Adelia menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata kemudian menelan ludah.
"De-De-De... mi... an." Lirih Adelia mengucapkan kalimat pertamanya. Ia tersenyum tipis.
"Ya, kenapa?" Tiba-tiba suara itu terdengar di belakang tubuh Adelia, membuat wanita itu terlonjak kaget hingga melompat dari tempatnya.
Deg! deg! deg!
Jantung Adelia semakin memompa cepat dengan tatapan terkejut mendapati sosok jangkung yang beberapa hari ini tak terlihat, kini berdiri di hadapannya.
Demian tersenyum tipis. Senyum yang sangat jarang terlihat di bibir pria tampan itu.
"Ada apa?" Tanya Demian lembut. Sedikit melonggarkan dasi berwarna navy yang melingkar di lehernya.
Adelia segera menggeleng cepat. Menatap dari atas hingga bawah penampilan pria tampan itu yang terlihat sedikit berantakan.
Rambut sedikit acak-acakan, tetapi tetap tampan. Jas berwarna navy yang bertengger di lengan kanan dan dua kancing kemeja bagian atas yang sedikit terbuka.
Sepertinya pria itu baru saja pulang dari bekerja. Ya, entah kerja apa, Adelia tak tahu.
Demian sedikit menyipitkan mata menatap wanita di hadapannya. Penampilan yang mulai sedikit berbeda dari seminggu sebelumnya. Kini terlihat lebih hidup, ada cahaya kehidupan di mata wanita cantik itu. Sangat berbeda sejak ia bertemu pertama kali di taman kediaman Kaisar, sepupunya.
"Masih terasa sulit?" Tanya Demian dengan wajah flatnya.
__ADS_1
Kedua mata Adelia mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna arah pertanyaan itu.
Adelia mengangguk pelan.
"Pelan-pelan saja." Balas Demian kala melihat anggukan kepala wanita di hadapannya.
"Mau jalan-jalan bersama?"
Tubuh Adelia tersentak. Menatap seksama wajah Demian yang menanti jawabannya.
Adelia mengangguk kecil, berjalan beriringan menyusuri jalan setapak kecil di taman.
"Te... Teri... Terima ka... sih." Ucap Adelia bersusah payah, meski terbata-bata.
"Sama-sama." Balas Demian singkat. Menatap sekeliling taman mansion-nya yang begitu terurus.
Ya, meski tak sering datang ke tempat itu. Namun pekerja kebun dan maid di sana merawat mansion mewah itu dengan baik.
Di karenakan jarak antara Milan dan La Spezia cukup jauh, kira-kira membutuhkan waktu dua jam perjalanan menggunakan mobil. Walau akan terasa cepat jika menggunakan jet pribadi milik keluarganya, seperti hari ini. Tetapi Demian sangat jarang mengunjungi mansion mewah itu. Di karenakan pekerjaan yang menumpuk tanpa henti di perusahaannya dan perusahaan keluarga Salvatore.
Sebagai anak pertama, ia harus mengemban tugas yang cukup besar. Meski bisa saja melaporkan pada Ayahnya untuk mengurus perusahaan itu, tetapi Demian tak ingin membiarkan Ayahnya menghabiskan masa tua dengan setumpuk dokumen menyebalkan itu, baginya.
Jika meminta adiknya, bisa-bisa perusahaan besar itu akan gulung tikar sehari setelah adiknya menjabat. Ya, bercanda.
Itu tidak akan terjadi, karena Devian sangat pandai dalam bisnis. Adiknya juga memiliki perusahaan sendiri, karena itu Demian tak meminta bantuan Devian.
Tatapan polos itu kadang membuat Demian tersihir sesaat, tetapi segera ia tepis. Dan menyadarkan dirinya akan realita dunianya yang sangat berbeda dengan wanita cantik itu. Bukan soal kuasa atau tahta, tapi kehidupan gelap yang ia sembunyikan.
Demian tak sejahat itu melibatkan gadis polos dalam kehidupannya yang penuh dengan ancaman setiap saat.
"Ada apa?" Tanya Demian, mengerutkan kening melihat tulisan pada kertas yang kini diperlihatkan oleh Adelia tepat di depan matanya.
"Maaf, tapi aku ingin bertanya. Kenapa Anda membawa saya ke tempat ini?"
Demian menatap bergantian wajah Adelia dan note itu.
"Aku merasa perlu menebus sesuatu."
Adelia sedikit memiringkan kepalanya, bertanya-tanya maksud ucapan tersebut.
Dengan segera Adelia berniat untuk menulis sesuatu pada buku di tangannya. Bersamaan dengan itu, suara dering ponsel terdengar membuat Adelia melirik ke arah saku celana Demian.
"Sebentar." Pamit Demian, sedikit berjalan menjauh untuk mengangkat telepon itu.
"Halo, Mom."
__ADS_1
"Mommy sudah kembali?"
Samar-samar Adelia mendengar ucapan Demian yang tengah berbincang dengan sosok di seberang telepon.
Suara lembut, meski ekspresi wajahnya tetap datar. Tapi Adelia tahu, jika hati pria itu begitu lembut dari nada suaranya. Pria yang penyayang, tidak suka berbicara dan hanya menunjukkan lewat tindakan, itulah sosok yang ia lihat saat ini.
Adelia menundukkan kepalanya, tak jadi menulis pada buku.
"Aku minta maaf." Ucap Demian, membuat Adelia kembali mendongak hingga menatapnya, "fokuslah pada penyembuhanmu. Aku akan pastikan, sosok yang membuatmu takut tak dapat menemukan keberadaanmu." Lanjutnya, kemudian berlalu dari hadapan Adelia.
Perlahan punggung lebar itu menjauh, hingga menghilang dari pandangan. Meninggalkan Adelia yang terdiam di tempat dengan ekspresi sulit diartikan.
***
Pukul 23:53 WIB, Jakarta-Indonesia.
Suara dentingan jam memenuhi ruangan kerja Kaisar yang senyap tanpa suara. Sosok pemilik ruangan terlihat tengah duduk di kursi kerja sambil menumpu wajah dengan kedua tangan di atas meja.
Kaisar mengusap kasar rambutnya ke belakang hingga semakin berantakan.
"****!" Umpat Kaisar, menghempaskan penuh amarah laptop di atas meja itu, satu-satunya barang yang tersisa.
Prang!
Kini laptop itu telah bergabung bersama dengan benda lainnya di lantai. Pecahan vas di mana-mana, buku pada rak yang berantakan dan kini laptop yang terbagi menjadi dua bagian.
"Hiks!" Suara isakan pelan terdengar. Pria dengan penampilan berantakan itu kini menangis sesenggukan.
"Adelia..." Lirih Kaisar di sela-sela tangisnya. Ia kehilangan, meski sudah mengerahkan orang-orang untuk mencari keberadaan Adelia, tetapi hingga kini tak ada kabar yang memuaskan.
Kaisar frustasi. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya, menandakan jika pria itu tak tidur nyenyak selama seminggu ini.
Setelah mendengar ucapan Polin di telepon hari itu, Kaisar terkejut bukan main. Ia memaki bahkan terus mengumpat pada Polin di seberang telepon tanpa henti.
Dengan sudah payah dia berusaha menyelesaikan masalah di perusahaan Ayahnya, lalu kembali ke Indonesia tiga hari setelahnya.
Tepat setelah tiba, Polin terus mendapatkan amukan dari Kaisar. Pria berbadan kekar itu mendapat satu pukulan di wajahnya. Untuk pertama kalinya, Kaisar tak memukul habis-habisan anak buahnya yang telah lalai.
Demi berusaha mendapat jejak Adelia, Kaisar mengabaikan perusahaannya. Hingga mau tak mau Revan mengurus perusahaan putranya.
Revan ingin bertanya secara langsung melihat gelagat aneh putranya yang kembali menjadi pemarah. Seperti saat kecelakaan terjadi pada Raila.
Namun, Revan mengurungkan niatnya dan membiarkan Kaisar untuk sementara waktu.
Dan, beginilah nasib Kaisar Argantara sekarang. Tidur tak nyenyak, makan tak teratur, bagai suami yang baru saja diceraikan istrinya. Tragis sekali.
__ADS_1
"Hiks!" Suara isakan Kaisar kembali terdengar memenuhi ruang kerjanya yang bagai kapal pecah itu.
"Sudahi petak umpetnya, Adelia. Aku salah, aku akui aku salah. Maafkan aku, kembali... Ku mohon." Isak Kaisar begitu menyayat hati hingga akhirnya terlelap dengan posisi duduk dan kepala di atas meja.