
"Syukurlah kamu sudah siuman. Aunty sungguh takut kamu tidak akan pernah membuka mata," ucap Zara memeluk erat tubuh Raila.
Gadis itu tersenyum membalas pelukan saudari Ayahnya itu.
"Tidak apa-apa, Aunty. Raila sudah siuman. Lihat, bahkan Raila sudah bisa berjalan-jalan dan keluar dari rumah sakit." ucap Raila terkekeh pelan.
Beberapa orang di ruangan itu terlihat menggelengkan kepalanya. Terutama Revan yang tengah duduk di sofa bersama dengan dua iparnya.
"Kamu tidak berniat ke sana untuk memeluk Raila?" tanya Revan menatap sosok yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan tertuju ke arah brankar.
Louis mengalihkan pandangan menatap Revan. Menghela napas pelan sambil mengedikkan bahu acuh.
"Kau tidak lihat di sana sudah berkumpul tiga wanita? Kalau aku ikut bergabung, hanya akan terlihat aneh." jawab Louis mengedarkan pandangan hingga tanpa sengaja bertatapan dengan Logan.
"Apa lihat-lihat?!" sentak Louis tak suka.
Revan menghela napas kasar. Dari dulu hingga kini, dua iparnya itu tak pernah akur. Bukan tak bisa akur, tapi sepertinya Louis benar-benar tak suka dengan Logan.
Entah karena apa. Setiap kali bertemu hanya ada perdebatan di antara keduanya.
"Apa?! Kau pikir aku melihatmu? Ge'er sekali kau," balas Logan dengan tatapan jijiknya.
"Wah! Sepertinya kau benar-benar sudah sangat menikmati hidup tenang, jadi ingin ku pukul." ucap Louis mengepalkan tangannya kesal.
"Kau pikir aku takut, hah?" Logan memberikan tatapan menantang. Ia tidak takut pada iparnya itu.
"Wah, si brengsek ini." Louis bangkit dari duduknya diikuti dengan Logan.
Kedua bersiap untuk meraih kerah baju masing-masing. Sedang Revan meraih buah yang tersedia di atas meja. Menggigitnya seolah bersiap melihat pertandingan siaran langsung antara dua iparnya itu, tak berniat untuk memisahkan.
Namun, sebelum keduanya berhasil meraih kerah baju masing-masing. Suara lembut penuh penekanan terdengar memasuki indra pendengaran mereka.
"Louis, Logan." ucap Zara tersenyum ke arah dua pria itu. Senyum penuh arti yang membuat nyali keduanya menciut.
Louis dan Logan menghela napas kasar. Kembali duduk di tempat masing-masing, sedang Raila terlihat menahan tawa di atas brankar.
Logan memanyunkan bibirnya beberapa senti. Cemberut mendapati tatapan tajam istrinya.
'Dih!' batin Louis dengan tatapan jijik menatap Logan.
"Apa lihat-lihat?!" kini Logan yang bertanya dengan sarkas.
"Dasar tua Bangka! Jijiklah pada dirimu sendiri menampilkan wajah seperti anak kecil begitu, brengsek! Kau pikir itu bagus, hah? Kau harusnya sadar usiamu!" teriak Louis.
Seketika Logan bangkit dari duduknya. Menunjuk Louis, tak terima dengan ucapan pria itu.
"Cih! Kau yang harus sadar diri, Brengsek! Bilang saja kalau kau tidak bisa meluluhkan hati istrimu dengan wajah imut, dasar pemaksa!" balas Logan.
Sontak Louis ikut berdiri dari duduknya. Tak terima dengan ungkapan itu, walau benar adanya.
"Sialan! Kau ingin mendapatkan pukulan seperti apa, hah?!" sarkas Louis siap untuk melayangkan bogem mentahnya.
Rara dan Rania saling menatap satu sama lain. Kemudian menatap Zara yang kini terlihat menahan kesal mendengar umpatan dan pertikaian dua pria itu.
'Dasar para pak tua tak ingat umur!' batin Zara kesal.
__ADS_1
Wanita itu bangkit dari duduknya. Melangkah menjauh dari brankar mendekati sofa dalam ruangan tersebut. Melihat dua pria yang semakin mengeluarkan kata-kata kasar dan saling menyumpahi satu sama lain.
Sedang Revan memakan buah apel di tangannya dengan lahap. Ternyata sangat seru melihat pertikaian dua iparnya.
Keduanya masih tak menyadari keberadaan Zara yang kini sudah tiba di samping mereka.
Logan dan Louis terkejut saat kerah kemeja yang mereka kenakan ditarik mendekat ke arah pintu keluar.
"Awas saja jika kalian masuk tanpa merenungi kesalahan kalian!" ucap Zara tajam, lalu menutup pintu ruangan. Meninggalkan dua pria yang kini mematung di depan pintu.
Keduanya bertukar pandang satu sama lain. Raut wajah terkejut terlihat begitu jelas di wajah mereka.
"Sayang," cicit Logan dengan wajah memelas.
Plak!
"Aduh!" Logan memekik. Menyentuh belakang kepalanya yang terasa panas. Ia menoleh menatap tajam pada Louis.
"JANGAN MEMELAS SEPERTI ANAK KECIL, SIALAN! ITU MENJIJIKKAN!" teriak Louis kesal, hingga menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar.
"IRI BILANG, BRENGSEK!" balas Logan yang juga ikut kesal.
"Fu*k!" Louis mengarahkan hari tengahnya ke wajah Logan.
"Fu*k you, brengsek!" balas Logan ikut mengarahkan jari tengahnya.
PLAK!
PLAK!
***
Kaisar menyempatkan membeli sebuket bunga lili saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia berniat memberikan bunga itu pada adiknya.
Ting!
Kaisar melangkahkan kakinya keluar dari lift. Kening pria itu mengerut kala melihat dua pria di kursi tunggu depan ruangan adiknya. Kening Kaisar semakin mengerut bingung melihat raut wajah mengenaskan di wajah dua pria itu.
Sesaat Kaisar menghentikan langkahnya di depan dua pria itu, "Uncle tidak masuk?"
Logan dan Louis mendongak kala mendengar pertanyaan tersebut. Keduanya menghela napas kasar, lalu kembali menunduk menatap lantai dengan kening yang memerah.
'Ada apa ini?' batin Kaisar bertanya-tanya.
"Masuklah. Adikmu pasti menunggumu di dalam," ucap Louis lesu. Menyandarkan punggungnya dengan ekspresi bagai tak memiliki jiwa dan semangat hidup.
Sedang di dalam hati Louis terus berkata 'Istriku memukul keningku' tanpa henti.
Di sebelahnya, ekspresi Logan pun tak jauh beda.
'Adik ipar marah padaku? Wanita penyabar itu benar-benar marah hingga memukul keningku,' batin Logan lemah.
Kaisar mengerjapkan matanya. Orang yang biasanya terlihat begitu berwibawa, kini terlihat seperti sad boy.
Pria itu berbalik mendekati pintu masuk. Sedikit melirik ke arah dua Uncle-nya, lalu meraih gagang pintu.
__ADS_1
Seketika semua mata tertuju pada Kaisar saat mendengar suara pintu terbuka. Kaisar bertanya-tanya saat melihat dua Aunty-nya menghela napas lega. Seolah akan marah jika yang masuk bukan dirinya.
"Kakak," panggil Raila tersenyum hangat menatap Kaisar yang kini mendekat ke arah brankar.
Sedang Kaisar tersenyum lembut mendekati adiknya itu. Meletakkan buket bunga di tangannya ke pangkuan Adelia.
"Aku pikir Kakak masih berada di perusahaan saat ini." ucap Raila.
Kaisar hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu. Sedikit mencuri pandang ke arah kedua Aunty-nya.
"Em, Uncle Louis dan Uncle Logan..."
"Biarkan saja mereka." ucap Zara memotong perkataan Kaisar.
Pria muda itu mengangguk mengerti, walau masih terlihat bingung. Hal apa yang membuat kedua Uncle-nya itu berada di luar ruang rawat?
"Baiklah." Kaisar berbalik menjauh dari brankar. Sedikit melirik ke arah Ayahnya yang duduk tenang di sofa.
Tatapan keduanya bertemu. Revan terlihat mengedikkan bahu, seolah menjawab tatapan penuh tanya Anaknya.
Kaisar berdiri diam sesaat setelah menutup pintu. Ia melirik ke arah Logan dan Louis yang masih tetap sama seperti sebelumnya.
Pria itu memutuskan mendekat, lalu mendudukkan diri di tengah antara Louis dan Logan.
Hening menguasai ketiga orang itu. Tak ada yang berbicara, ketiganya terlihat meratapi nasib.
"Ada apa?" Tiba-tiba Louis bertanya setelah lama hening.
Kaisar menoleh menatap Suami dari Rara itu. Sesaat pria itu diam menunduk, bingung ingin mengatakan apa.
"Jika ada sesuatu yang menganggumu, katakan saja. Mungkin Uncle bisa membantu." ucap Louis, membuat Logan tersadar dan sedikit melirik ke arah iparnya.
Kaisar tetap diam, hingga tiba-tiba menghela napas kasar.
"Aku tidak tahu, Uncle."
Kedua pria itu sontak menatap Kaisar yang terlihat begitu bingung pada dirinya sendiri.
"Aku tidak ingin membiarkan siapapun menyentuhnya ataupun melihatnya. Aku tidak ingin siapapun mengambilnya dariku, tapi aku bingung harus melakukan apa. Sedang aku sendiri bingung pada apa yang aku rasakan." ucap Kaisar menatap kedua tangannya yang saling tertaut dengan posisi menunduk.
"Intinya kau tidak ingin dia diambil orang lain, kan?" tanya Louis.
Kaisar menganggukkan kepalanya. Dia bingung pada dirinya sendiri. Apakah itu rasa suka ataukah hanya keinginan biasa untuk memiliki?
"Coba tanya pada dirimu sendiri. Apa yang kau rasakan saat melihatnya bersama orang lain, apakah hatimu panas dan kesal? Jika begitu, maka artinya kau menyukainya. Itu disebut cinta, nak." ujar Louis menepuk pelan punggung keponakannya itu.
Kaisar diam. Cinta? Jatuh cinta pada seseorang yang sempat ingin ia lenyapkan?
"Jika kau senang saat bayangannya datang dalam mimpi atau saat kau melamun, sudah jelas itu adalah perasaan cinta. Jangan meragukannya." lanjut Louis, sedang Logan menatap aneh pada pria yang tiba-tiba menjelma menjadi ahli cinta itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Uncle? Aku tidak yakin jika dia akan menerimaku saat aku mengungkapkan perasaanku."
Tiba-tiba, Louis menepuk pundak Kaisar, membuat Logan merasakan firasat buruk pada saran yang akan dikeluarkan oleh Louis.
"Cinta ditolak, bayi bertindak. Tanam bibit jika dia menolakmu, Nak." ucap Louis penuh percaya diri, membuat Logan membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Aku juga langsung membuat Loura saat selesai menikah paksa dengan Auntymu."
'Ajaran sesad!' teriak Logan dalam hati.