
"Tuan, tunggu saya." ujar Bram dengan kaki berusaha mengikuti langkah Bosnya yang berjalan cepat memasuki kafe.
Bram menghela napas pelan saat tiba-tiba Kaisar menghentikan langkahnya. Ia mencoba merapikan sedikit penampilannya yang berantakan.
Mereka baru saja menyelesaikan pertemuan dengan salah satu rekan bisnis di restoran terdekat. Karena waktu makan siang telah tiba sesaat setelah mereka keluar dari Restoran, Kaisar melangkahkan kakinya ke kafe yang tidak jauh dari sana.
"Sepertinya akan bagus jika membeli makanan manis untuknya. Akhir-akhir ini makanan manis di sini cukup digemari oleh orang-orang. Mungkin sebaiknya aku membeli juga untuk Raila dan dia," gumam Kaisar menatap makanan manis yang tersusun baik di balik meja kaca.
Sedang Bram mengerutkan keningnya mendengar gumaman Bosnya itu
'Tuan Kaisar kerasukan jin dari mana ini?' batin Bram dengan wajah ngeri.
Kaisar menghela napas pelan, mengalihkan pandangannya menatap sekretarisnya itu.
"Jangan memasang wajah menyebalkan seperti itu, Bram. Akhir-akhir kau jadi lebih menyebalkan dari sebelumnya," ucap Kaisar sedikit kesal, kemudian mengangkat wajahnya hingga tak sengaja bertatapan dengan sosok gadis yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Kedua mata Kaisar terbelalak, begitupun dengan gadis itu.
Tiba-tiba, rahang Kaisar mengetat dengan wajah merah padam.
"Kau!" desis Kaisar mengepalkan tangannya.
Mengapa wanita itu bisa berada di sana?!
Tanpa diduga gadis itu segera berbalik pergi. Berlari keluar dari kafe dengan keringat dingin bercucuran di keningnya.
"Hey!" teriak Kaisar murka. Ia segera berlari melewati Bram mengejar langkah gadis itu.
'Ti-tidak. Ba-bagaimana bisa pria itu ada di sini?! Kakak, tolong!' batinnya berteriak.
Ia takut, sangat takut. Ketakutannya membuat ia berlari tak tentu arah. Bahkan ia lupa di mana letak mobilnya berada. Di benaknya hanya ingin segera menghilangkan dari pandangan pria itu, hingga tanpa sadar berlari begitu jauh.
Kedua kaki mungilnya perlahan berhenti di samping dinding bangunan di tepi jalan.
Ia menyandarkan punggungnya. Kakinya lemas hingga tidak bisa menopang bobot tubuhnya.
"Hey, kamu baik-baik saja?" suara itu sontak membuat ia mendongak.
Di sisi lain.
Kaisar berdecap kesal. Ia menghentikan kakinya kesal ke tanah saat kehilangan jejak Gadis itu.
__ADS_1
'Sialan!' umpat Kaisar marah.
Setelah mencari tiga bulan tanpa henti, hingga menemukan dan menahan orang yang salah. Kini ia malah tanpa sengaja bertemu dengan pelaku utama itu. Sialnya, dia malah kehilangan jejak sekarang.
"Brengsek!"
Perlahan langkah Bram terhenti di samping Kaisar. Pria itu mencoba mengatur deru napasnya yang tidak beraturan, menelan kasar ludahnya mendengar umpatan dan ekspresi tak mengenakan di wajah Bosnya.
"Ada apa, Tuan? Apa Anda melihat sesuatu yang begitu penting hingga berlari keluar?" tanya Bram. Ia yakin, jika bosnya tak mungkin lari begitu saja tanpa sebab.
Kaisar tak menjawab. Ia semakin mengepalkan tangannya.
"Bram..."
Seketika tubuh Bram menegang mendengar panggilan itu. "Ya, Tuan?"
"Lakukan lagi hal yang aku perintahkan padamu. Buat semua investor orang itu menarik kembali dana mereka." titah Kaisar, menekan ucapannya.
Bram diam membisu. Bibirnya seakan kaku untuk mengucapkan kata setuju, tapi mau tak mau ia tetap menganggukkan kepala. Perintah Kaisar adalah mutlak.
"Baik. Saya mengerti, Tuan." jawab Bram patuh.
'Berterima kasihlah karena aku tak menyiksa adikmu. Terimalah hal yang seharusnya kalian terima sejak dulu,' batin Kaisar berjalan melewati Bram dengan wajah merah padam.
"Sudah merasa lebih baik?"
Gadis itu mendongakkan wajahnya yang sejak tadi menunduk. Menatap sosok pria yang kini ikut mendudukkan diri di sofa.
"Terima kasih."
"Sama-sama." jawab Lion tersenyum manis.
Lion menatap lekat wajah gadis yang baru saja ia temui di samping pintu masuk bangunan apartemen dalam keadaan berkeringat, seperti dikejar oleh sesuatu.
"Kamu sungguh baik-baik saja?" tanya Lion. Meski sudah mendapat jawaban, hal itu tak membuat Lion benar-benar yakin jika gadis di hadapannya baik-baik saja.
Gadis itu hanya mengangguk pelan. Walau tangannya terlihat gemetar memegang gelas.
"Jika kamu merasa lelah, kamu bisa beristirahat di sini. Tidak perlu ragu atau merasa tidak enak, anggap saja seperti rumah sendiri."
Gadis itu terkejut. Ia mengerjap beberapa kali, merasa ragu dengan hal yang dikatakan oleh Lion. Mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu, tapi pria yang entah siapa itu memperlakukannya dengan begitu baik.
__ADS_1
"Terima kasih. Ti-tidak perlu, Tuan. Saya akan segera kembali ke parkiran tempat mobil saya berada," jawabnya formal, membuat wajah Lion seketika datar.
"Baiklah. Jika terjadi sesuatu, kamu bisa berlari kembali ke sini." ujar Lion kembali tersenyum meski ada sedikit tatapan tidak rela di matanya.
Beberapa menit kemudian.
Kini hanya Lion di ruang tamu. Menunduk sambil menyentuh keningnya.
'Apa aku terlalu terburu-buru?' batin Lion bertanya-tanya.
Perlahan Lion mengubah posisi, menyandarkan punggungnya kasar dan mendongak menatap langit-langit ruang tamu apartemennya. Lion menghela napas pelan.
"Dia sangat cantik. Persis sepertimu, Risya." lirih Lion tersenyum miris.
Tadi ia hanya ingin keluar untuk membeli beberapa bahan makanan yang kurang di apartemennya. Namun, siapa sangka dirinya tak sengaja melihat gadis mungil yang hanya sempat ia lihat melalui foto.
Tanpa berpikir panjang, Lion menawarkan bantuan dan membawa gadis itu ke apartemennya. Gadis yang begitu mirip dengan wanita yang ia cintai, hanya ada beberapa bagian yang mirip dengan dirinya.
"Kau sudah tumbuh dengan baik, Sayang. Coba saja Ayah ada di sana bersama kalian, apa mungkin kamu akan memeluk Ayah dengan erat?" gumam Lion mulai berandai-andai. Kemudian ia terkekeh pelan, rasanya itu adalah hal yang mustahil terjadi.
Padahal dua anak Risya juga adalah anaknya, tapi begitu sulit untuk dia mendekat hanya karena konflik masa lalu orang tuanya.
"Sialan!" umpat Lion kesal.
Di sisi lain.
Perdebatan tengah terjadi di ruang dalam kediaman mewah Keluarga Arkana.
"Apa kau benar-benar tidak bisa melakukan semuanya dengan baik, Liorand?" ucapan dingin itu terasa begitu menusuk hati Liorand, tetapi ia hanya diam tanpa bisa membantahnya.
Kakek Lingga berdecap dengan tatapan bencinya. "Seharusnya dari dulu aku tidak membiarkanmu. Kepercayaan yang aku berikan selama ini, apa hanya akan berakhir begitu saja? Kau benar-benar tidak bisa diandalkan." decaknya tak suka.
Liorand mengepalkan tangan di balik tubuhnya. Ia tetap berdiri diam menunduk menatap lantai di meja kebesaran kakeknya.
Sejauh ini, apa pernah ia mendapat pujian dari sosok yang ia anggap sebagai kakek itu?
Liorand mulai bertanya-tanya dalam hati. Rasa iri yang selama ini ia pendam, perasaan marah yang tidak tersalurkan, semuanya bercampur dan siap meledak. Tapi, Liorand tetap mencoba untuk menahannya. Bagaimanapun sosok di hadapannya itu adalah kakeknya.
"Ibumu berakhir menjadi seperti orang tak memiliki jiwa, apa hanya sampai sini saja yang bisa kau lakukan untuk melindungi mereka, hah?!" Kakek Lingga menggebrak mejanya kuat. Ia marah melihat kondisi cucunya yang tidak begitu baik sejak pergi ke rumah sakit terakhir kali.
"Bukankah yang melakukan hal ini adalah Anda juga?"
__ADS_1
Seketika Kakek Lingga menatap tajam pada Liorand yang kini terlihat membalas tatapannya.
"Hanya karena saya memiliki wajah seperti Ayah, Anda memperlakukan saya dengan begitu keras seperti ini. Sebenarnya, siapa yang egois hingga hal seperti ini terjadi? Bukankah Anda harus bertanya pada diri Anda sendiri, Kakek." ucap Liorand yang tidak dapat membendung emosinya.