
“Terima kasih atas kerja kerasnya, Nona. Sampai ketemu di esok hari.”
Perlahan pintu tertutup rapat, meninggalkan Adelia sendiri di dalam kamarnya dengan bulir keringat dingin yang terlihat jelas membasahi keningnya. Adelia menghela napas lega dengan tubuh mendadak lemas. Kegugupan itu mampu membuat Adelia sulit untuk berkonsentrasi.
‘Rasanya lelah sekali,’ Adelia membatin sambil menggigit bibir bawahnya, ‘tapi aku tidak boleh mengeluh. Pasti Tuan Demian sudah mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk membayar guru privat untukku. Aku harus bekerja keras agar bisa membayar semua kebaikan yang Tuan Demian berikan.’
Adelia menyentuh dadanya. Di dalam sana jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dia sungguh berterima kasih, tapi juga merasa terbebani. Dan lagi, sisi hatinya terus saja merindukan sosok yang telah menyiksanya dahulu.
Apakah dia mengalami kelainan hingga merindukan sosok kejam itu? Segera Adelia menggelengkan kepala mengusir segala pemikiran aneh dalam benaknya. Semakin ke sini hatinya terus saja mendambakan kehadiran pria kejam itu, sosok yang beberapa hari ini hadir dalam mimpinya sambil tersenyum manis hingga mampu membuat Adelia berdebar.
“Aku pasti sudah gila,” gumam Adelia meremas kedua tangannya, “mungkin saja sekarang dia tengah berusaha menemukanku agar menyiksaku lagi.” Lanjutnya pelan.
Wanita itu begitu larut dalam lamunannya, hingga tak menyadari kehadiran sosok pria yang telah masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah datarnya.
“Nona,” ucapnya menyadarkan Adelia dari lamunan.
Seketika Adelia tersentak, mendongak dengan mata terbelalak mendapati orang kepercayaan Demian yang kini berdiri tegap di hadapannya.
“Anda baik-baik saja, Nona?” Herald bertanya, sosok tangan kanan Demian di dunia bawah. Orang yang selama ini selalu berada di mansion itu mengawasi sekaligus menjaga Adelia atas perintah Demian, “apakah Anda merasa tak nyaman dengan guru privat Anda?”
Dengan cepat Adelia menggelengkan kepala. Dia sangat nyaman dengan wanita yang menjadi guru privatnya. Sosok lembut yang cukup fasih berbahasa Indonesia hingga membuat Adelia tak terlalu sulit untuk sekedar bertanya hal yang susah ia pahami.
Herald tersenyum tipis melihat hal itu, kesunyian pun kembali menguasai membuat Adelia kembali gugup dan tegang di tempatnya.
“Mungkin Tuan Demian akan tiba di mansion malam nanti, Nona. Jadi Anda bisa berbicara padanya mengenai hal penting yang Anda maksud,” ucap Herald memeceh keheningan dengan tatapan ke depan tanpa menunduk menatap lawan bicaranya.
Kedua mata Adelia mengerjap beberapa kali. Rasanya baru kemarin dia mendengar jika Demian begitu sibuk hingga tak bisa menemuinya.
“Su-sungguh?” tanya Adelia tak percaya yang hanya mendapat anggukan pelan dari Herald.
Adelia tersenyum tipis. Dia tidak sabar untuk membicarakan mengenai niatnya untuk bekerja pada Demian. Sedikit demi sedikit dia akan membayar pria itu dan mungkin akan menabung untuk kembali ke Indonesia.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan terdengar dari luar, membuat kedua orang dalam ruangan itu mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.
“Masuklah,” ucap Herald mempersilahkan sosok di luar untuk masuk.
Perlahan pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita setengah baya dengan pakaian khas seorang pelayan memasuki ruangan.
__ADS_1
Adelia mengenali sosok itu. Wanita setengah baya yang merupakan kepala pelayan di mansion tersebut.
“Ada apa?” Herald bertanya masih dengan wajah datarnya menatap sosok yang perlahan mendekat dan menghentikan langkah di sampingnya.
Wanita setengah baya itu tak menjawab, hanya berjinjit kemudian berbisik di telinga Herald yang membuat ekspresi di wajah pria itu perlahan berubah serius.
Adelia hanya diam saat melihat Herald yang kini berniat untuk keluar, "saya permisi dulu, Nona." pamitnya.
"Iya," ucap Adelia menatap punggung kedua orang itu yang perlahan menghilang dari pandangan, "sepertinya hal serius terjadi." gumam Adelia menunduk dan larut dalam pikirannya.
Sedang di luar mansion.
Herald melangkah mendekati beberapa pria berjas hitam yang berdiri di luar gerbang masuk mansion. Terlihat mengelilingi sesuatu yang entah apa.
"Herald," salah satu pria bertubuh besar itu angkat suara ketika melihat Herald yang perlahan mendekati dan menghentikan langkah di samping mereka.
Mata Herald menyipit penuh curiga melihat kotak kado yang dibungkus dengan begitu indah tergeletak di tanah, tepat di hadapannya sekarang.
Herald berjongkok, meraih kotak itu lalu membuka pita berlapis emas yang mengikat. Sesaat setelah tutup kotak berukuran sedang itu terbuka, terlihatlah beberapa barang mewah khusus wanita yang tersusun rapi di dalamnya.
"Kami hanya meninggalkan sesaat gerbang, tapi kotak ini sudah ada setelah kami kembali. Kami juga sudah mengecek cctv, hanya terlihat dua pria yang keluar dari mobil sedan mewah dan meletakkan kotak ini kemudian pergi begitu saja." jelas salah satu pria berjas hitam itu, sedang Herald masih terdiam menatap intens barang-barang dalam kotak, mengulurkan tangan meraih secarik kertas yang terselip di sisi dalam kotak tersebut. Berdampingan dengan high heels merah muda berlapis butiran berlian.
Casandra Adelia.
Herald terdiam dengan kening mengernyitkan melihat tulisan pada secarik kertas di tangannya.
Adelia.
Itu adalah nama wanita yang saat ini berada di dalam mansion Tuan-nya. Tapi seingat Herald, nama lengkap Adelia bukanlah Casandra Adelia.
"Simpan barang ini di tempat yang aman," Herald menatap Kepala pelayan wanita yang mengikuti tadi, lalu beralih menatap beberapa pria berjas hitam di hadapannya.
"Kalian perketat penjagaan. Aku akan segera memberitahukan hal ini pada Tuan Demian."
Orang-orang itu menganggukkan kepala mengerti, segera melaksanakan hal yang Herald ucapkan. Sedang Herald meraih ponsel di saku celananya menelepon nomor Bosnya untuk memberitahukan hal yang terjadi.
Sementara di tempat lain, Demian menghela napas pelan dengan pandangan mengarah keluar dinding kaca restoran bintang lima tempatnya berada, menatap lama sosok yang mengawasinya di seberang jalan sana.
Sedikit melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah tepat pukul satu siang, telah berlalu beberapa jam sejak dia tiba di sana. Dia berkeliling ke sana kemari bertemu dengan rekan bisnisnya demi menghindari sosok yang tengah mengikutinya saat ini. Tapi ternyata sosok itu tak menyerah.
__ADS_1
'Kenapa Devian meminta orang-orangnya untuk mengawasi ku? Apa dia berniat untuk mencari tahu sesuatu lalu menggunakan hal itu untuk mengejekku?' batin Demian, memijit pangkat hidungnya yang terasa berdenyut.
Hanya itu satu-satunya hal yang terlintas di benaknya saat menyadari kehadiran bawahan adiknya. Saudara kembarnya itu memang usil.
Pandangan Demian tertuju pada ponselnya yang bergetar di atas meja. Perlahan mengulurkan tangan meraih benda pipih itu, mengerutkan kening melihat nama orang kepercayaannya tertera di layar.
"Ada apa, Herald?" tanya Demian to the point.
"Ada kotak misterius berisi dress serta pakaian wanita di depan gerbang mansion, Tuan."
Ekspresi wajah Demian berubah serius. Menatap tajam ke depan menanti lanjutan ucapan Tangan kanannya.
"Ada secarik kertas juga bertuliskan Untuk Putriku Terkasih, Casandra Adelia."
"Aku akan segera ke sana." Demian memanggil pelayan dengan isyarat agar mendekat.
"Baik, Tuan."
Esoknya, pukul 13:20 waktu setempat.
Mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam melaju cepat membelah jalan menuju bandara pribadi Keluarga Salvatore.
Kaisar duduk diam di kursi samping kemudi. Pria itu tak mengeluarkan suara sejak sepupunya menjemputnya di apartment adiknya, lalu membawanya tanpa permisi. Entah akan tiba di mana dia nantinya, Kaisar tak tahu.
Tiba-tiba, ponsel di saku Devian berdering membuat pria yang tengah fokus menyetir itu merogoh saku celana jeans hitamnya dengan terburu-buru.
"Che cosa?" tanya Devian setengah kesal.
(Apa?)
"....."
Kedua mata Devian terbelalak mendengar ucapan bawahannya di seberang telepon.
"Fanculo!" umpat Devian, membuat Kaisar tersentak di tempat duduknya.
(Persetan!)
Ada apa dengan sepupunya ini?
__ADS_1