TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 40


__ADS_3

Hiya, nungguin ya?🙈 Hehe, maaf membuat kalian menunggu Sayang. Aku baru sempat nulis ini sekarang, kemarin-kemarin fokus sama yang lain soalnya 🙈🙏😌


Selamat membaca, aku Usain update lagi besok dan seterusnya.




Kedua mata Kaisar mengerjap beberapa kali. Memandang lama ke arah Ayahnya yang baru saja melemparkan bantal sofa, hingga tepat mengenai wajah tampannya.



“Aneh-aneh saja kamu,” ucap Revan menggeleng pelan, menyandarkan punggungnya ke sofa.



Rania menghela napas pelan, berniat untuk bangkit dari duduknya dan memasuki dapur.



“Aku serius, Dad.” Ucap Kaisar tanpa ragu.



Seketika kedua orang tuanya menatapnya terkejut, “aku sudah menikah diam-diam dengan seorang wanita.” Lanjutnya lirih.



Revan mematung di sofa dengan mulut sedikit terbuka mendengar ucapan lirih Putranya. Sedikit melirik ke arah istrinya yang tak jauh berbeda, benar-benar terkejut mendengar kejujuran Putra sulung mereka.



“Kaisar…” panggil Revan dengan suara bergetar. Pria setengah baya itu mencoba mengatur deru napasnya yang tidak beraturan, mencoba untuk tenang agar tak mencerca Putranya dengan pertanyaan.



“Kapan?” tanya Revan pelan, memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.



Rania kembali duduk di tempatnya. Memandang serius ke arah Kaisar yang hanya diam dengan kepala menunduk.



“Belum lama ini,” jawab Kaiasr pelan.



“Kenapa tidak bilang pada Daddy atau Mommy-mu? Kamu tahu ‘kan, jika kami tidak pernah mempermasalahkan siapapun wanita yang ingin kamu persunting.” Sesaat Revan menjeda ucapannya, menatap Putranya yang masih setia menunduk menatap lantai.



“Kenapa malah menikah diam-diam seperti itu? Apa terjadi sesuatu yang tidak kami ketahui?”



Kaisar diam. Ia ragu untuk mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya. Karena Kaisar yakin, tatapan kecewa pasti akan terlihat jelas di wajah dua orang yang sangat ia sayangi itu.



“Aku tidak bisa menceritakannya,” lirih Kaisar membuat Revan menghela napas kasar.



Revan mengalihkan pandangan ke arah lain. Bingung harus menganggapi seperti apa Putranya saat ini. Benar-benar mengingatkannya saat mempersunting istrinya.



“Di mana dia sekarang?” pertanyaan itu bukan dari Revan, tapi Rania.



“Bawa dia ke hadapan Mommy, maka Mommy akan melakukan permintaanmu.” Tegas Rania, menatap serius putranya hingga membuat Kaisar kian meremas kedua tangannya yang berkeringat.



Sesaat keheningan menguasai ruang tamu, sepasang suami -istri itu saling menatap satu sama lain kemudian kembali menatap Putra mereka.



“Ada apa, Kaisar?” Rania bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah sofa tempat duduk Kaisar.

__ADS_1



“Dia menghilang, Mom.”



Seketika Revan menenggakan tubuhnya mendengar hal itu, sedang Rania terdiam di samping Putranya.



Tubuh Kaisar terlihat gemetar. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menahan diri agar tak terisak.



Namun, sayangnya Kaisar tak dapat menahan diri. Ia menangis tanpa suara saat bayangan Adelia yang menghilang dan belum ditemukan hingga sekarang terlintas di benaknya.



Suara isakan pelan itu memenuhi ruang tamu. Revan terdiam tak percaya melihat hal tersebut, putranya yang ia ketahui begitu tegas kini menangis terisak seperti tiga bulan yang lalu. Saat di mana Putrinya mengalami kecelakaan besar.



Dengan sabar Rania memeluk dan mengusap punggung Putranya dari samping. Mencoba menenangkan Putranya yang terlihat begitu rapuh.



"Jangan menangis, Sayang. Dia pasti akan kembali jika memang sudah menjadi takdirmu." Ucap Rania pelan, begitu lembut untuk menenangkan Putranya.



Kaisar hanya diam mendengar hal itu. Mencoba menghentikan tangisnya, sedang Revan mengerutkan kening penuh tanya.



"Kau sudah berusaha mencarinya?"



Kaisar mengangguk sebagai jawaban, "bahkan membayar beberapa orang untuk mencarinya di setiap pelosok. Tapi tak membuahkan hasil."



"Apa ada orang yang kamu curigai untuk hal ini?"




Sesaat bibir Kaisar bergetar. Dia ragu untuk mengatakan kecurigaannya, tapi jika tidak jujur. Maka mungkin lebih sulit baginya untuk menemukan keberadaan Adelia.



"Demian."



Kening Revan terlihat mengerut mendengar hal itu, memejamkan mata pelan lalu kembali menatap Putranya.



"Kenapa kamu bisa curiga pada sepupumu? Apalagi Demian, dia bukan sosok yang suka mencampuri urusan orang lain walau kalian sepupu. Dia tidak akan mau mencampuri urusanmu, karena tahu kamu orang yang seperti apa." Jelas Revan menghela napas, memijit pangkal hidungnya.



"Selain dia, tidak ada orang lain yang bertemu dengan Wanitaku, Dad." Balas Kaisar lantang.



Revan menaikan sebelah alisnya, menanti putranya untuk melanjutkan ucapan tersebut.



"Bram tidak akan pernah berniat melakukannya, karena dia ikut denganku ke LA hari itu. Polin juga tidak mungkin, bahkan adiknya pun tak mungkin bisa." Lanjut Kaisar dengan deru napas tak beraturan.



Perlahan Revan bangkit dari duduknya, berniat untuk meninggalkan ruang tamu. Melirik sekilas ke arah Putranya, menatap lama wajah Kaisar yang basah akan air mata.



"Daddy akan membantumu untuk mencarinya dan mengawasi Demian, tapi jika dia terbukti tak bersalah. Daddy harap kamu tak lagi curiga padanya, biar bagaimanapun dia sepupumu." Ujar Revan berlalu dari sana memasuki kamarnya. Meninggalkan Kaisar yang tersenyum kecil karena mendapat bantuan.

__ADS_1



'Aku pasti akan menemukanmu, Sayang. Sejauh apapun dia menyembunyikanmu, aku akan menemukanmu.' batin Kaisar mengetatkan rahangnya dengan tatapan tajam ke depan.



Setelah berbincang sebentar dengan Ibunya, Kaisar memutuskan untuk kembali ke mansion miliknya.



Tepat pukul dua siang, mobil Kaisar telah terparkir di depan mansion. Pria itu segera keluar dari mobil, berjalan memasuki kediaman besar itu yang begitu sunyi karena hanya ada dirinya, Polin dan Lora yang bertugas sebagai Pelayan.



Kaisar terus melangkah hingga naik ke lantai dua. Mendekat ke arah kamarnya, lalu menatap lama kamar yang kini kosong tanpa kehadiran Adelia di dalamnya.



"Sialan!" Umpat Kaisar, berbalik dan turun untuk masuk ke ruang kerja. Terlalu lama di depan kamarnya membuat hatinya kembali rapuh.


\*\*\*


Pukul 15:01 La Spezia , Italia Utara.



Seorang pria terlihat tengah duduk santai di salah satu meja di depan toko eskrim. Terlihat begitu santai menatap sekeliling yang cukup ramai sore ini.



"Betapa indahnya jika seperti ini setiap saat," gumam Devian lalu kembali membalik koran yang ia baca.



"Tuan." Panggil sosok pria yang sejak tadi setia berdiri di samping kursi Devian.



"Apa, Athos?" Tanya Devian tanpa menatap Tangan kanannya.



"Apa Anda datang ke La Spezia bersama dengan Tuan Demian?"



Kening Devian mengerut mendengar hal itu. Seketika menoleh ke arah Athos, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi bingung.



"Hah? Tidak mungkin." Tolaknya cepat, "aku datang ke sini untuk transaksi, tentunya dia tidak ikut." Lanjut Devian.



Dia datang ke La Spezia karena tujuan transaksi ilegal yang akan dilakukan dengan salah satu pembelinya, tentunya Kakaknya itu tak ikut dan tidak mungkin ikut.



Sesaat hening menguasai, ekspresi Athos terlihat begitu sulit di tebak dengan tatapan lurus ke depan.



Devian mengedikkan bahu acuh, kembali berniat membaca koran di tangannya. Menikmati waktu sore sebelum melakukan transaksi malam nanti.



"Tapi bukankah yang di sana itu Tuan Demian?"



Seketika Devian menegakkan tubuhnya. Melirik Athos, lalu mengikuti arah pandang tangan kanannya yang tertuju pada toko bunga tidak jauh dari tempat mereka.



'Lho? Apa yang dia lakukan di sini?' batin Devian, segera bangkit saat Kakaknya kini terlihat memasuki mobil untuk meninggalkan tempat itu.



"Berikan kunci motormu, Athos." Ucap Devian dengan segera Athos memberikan kunci motor pada Bosnya itu.


__ADS_1


Devian segera meninggalkan tempatnya, menghampiri motor besar guna mengikuti mobil Kakaknya yang kini melaju pelan membelah jalan.


__ADS_2