TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 9


__ADS_3

Seorang pria tengah memeriksa keadaan wanita yang terbaring di atas tempat tidur mewah, sosok yang terlihat begitu pucat.


“Bagaimana keadaannya?” Sontak pria itu menoleh mendengar pertanyaan tersebut, “dia baik-baik saja ‘kan?”


Seketika wajah pria itu berubah datar. Apa wajah pucat pasi dengan luka di kening bisa dibilang baik-baik saja? Heh! Apa pria yang bertanya itu adalah manusia?


Ia menghela napas pelan, “sekarang sudah membaik. Untungnya Anda segera menghubungi saya, jika telat sedikit saja maka saya tidak akan menjamin keselamatannya.”


Rahang kaisar mengetat marah. Tetap mencoba mendatarkan ekspresinya agar pria berstatus dokter di hadapannya itu tak melihat kemarahan di wajahnya.


“Terima kasih, Dokter Arya.” Ucap Kaisar sedikit membungkuk.


Dokter Arya kembali menggeleng pelan. Sebagai dokter yang bekerja dibawa naungan keluarga Argantara, ia hanya bisa diam tanpa berani bertanya lebih jauh akan penyebab kondisi mengenaskan wanita yang ia periksa. Apalagi saat ini dia berhadapan dengan sosok Kaisar Argantara, pria bermuka dua yang lebih menyeramkan dari Revan Argantara.


“Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan Kaisar. Jika terjadi sesuatu segera hubungi saya. Saat dia sadar, sebaiknya segera berikan makanan untuknya.” Ujar Dokter Arya seraya membungkukkan setengah badannya, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu dan di sambut oleh sosok Polin yang berjaga di luar pintu.


Kaisar menatap tajam ke arah Adelia. Mengepalkan kedua tangannya dengan tubuh gemetar menahan diri agar tak mencekik wanita itu.


“Hah!” Kaisar menghela napas kasar dengan senyum remeh terbit di bibirnya, “kau pikir aku akan membiarkanmu mati begitu saja? Ini bahkan belum seberapa dari sebagian penderitaan yang kau berikan pada matahariku. Sebelum kau membayar semuanya, kau tidak boleh mati.”


***


Kelopak mata Adelia mengerjap pelan. Sesaat gadis itu terdiam menatap nanar langit-langit ruangan itu. Terlihat tidak asing.


‘Ma-masih hidup?’ batinnya bertanya. Setetes air mata menetes jatuh tanpa permisi, ‘kenapa tidak mati saja?’


Adelia terisak menahan sesak yang begitu menyiksa di dadanya.


“Berhenti mengeluarkan air mata palsu itu, jal**g!” suara berat bercampur dengan kebencian terdengar di telinga Adelia, membuat gadis itu sontak menoleh dan terkejut mendapat sosok Kaisar duduk pada kursi tepat di samping ranjang.

__ADS_1


Kedua mata Adelia terbelalak dengan tubuh gemetar takut.


“Argh!” Adelia berteriak keras saat Kaisar tiba-tiba menekan kasar lehernya.


“Kau mencoba untuk bunuh diri, hah?!” sentak Kaisar murka.


Adelia tak menjawab. Gadis itu berusaha dengan tenaga yang tersisa untuk menyingkirkan tangan Kaisar dari lehernya, tak peduli pada punggung tangannya yang kini mengeluarkan darah segar.


Kaisar menarik tangannya saat melihat gerakan Adelia yang mulai melemah. Pria itu meraih sapu tangan dari balik jasnya. Menyeka tangan yang disentuh oleh Adelia, lalu menatap tajam pada Adelia yang tengah mencoba mengatur napas.


“Jika kau berani mencoba melakukan hal seperti tadi, maka aku akan mematahkan tangan dan kakimu. Agar kau jauh lebih menderita dari ini.” Ucap Kaisar dingin, lalu melangkah mendekati pintu keluar. Meninggalkan Adelia yang diam dengan tubuh mematung mendengar ucapan pria kasar itu.


Sementara itu Kaisar menghentikan langkah saat membuka pintu, “bawa makanan untuknya, Polin. Beritahu padaku jika dia tidak memakannya.”


“Baik, Tuan.” Sahut Polin patuh.


Di sisi lain.


Tiba-tiba langkah Lion terhenti saat sosok dokter pria mendekat sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.


“Selamat sore, Dokter Lion.”


Lion tersenyum sambil mengangguk, “sore juga, Dok. Sepertinya Anda dalam situasi yang sulit, ya?”


Dokter itu tertawa pelan, terlihat sedikit ragu mengatakannya pada Lion mengingat jika sosok di hadapannya baru saja mulai menjalankan tugas di rumah sakit selama beberapa hari belakangan.


“Tidak perlu ragu untuk mengatakannya. Saya akan membantu jika bisa,” ucap Lion sambil tersenyum. Wajah ramahnya memang tidak pernah berubah sejak dulu.


“Begini, maaf sebelumnya. Saya harus pergi keluar sebentar, tapi masih ada satu pemeriksaan yang belum saya tuntaskan. Karena saya harus tiba di tempat tujuan dalam kurung waktu 3 menit lagi, saya ragu jika bisa menyelesaikan pemeriksaan itu tepat waktu.”

__ADS_1


“Jadi Anda ingin meminta bantuan saya untuk menyelesaikannya?” tebak Lion menaikkan sebelah alisnya.


“Hehe, iya. Sekali lagi maafkan saya. Jika pertemuan ini tidak penting, saya tidak akan pergi.” Ucapnya dengan sesekali melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Baiklah. Anda bisa segera bergegas ke sana, Anda cukup mengatakan ruangannya ke pada saya.”


Wajah dokter itu berbinar senang mendengar jawaban Lion. Terlihat jelas binar syukur dari tatapannya.


“Terima kasih, Dokter Lion. Terima kasih.”


Lion hanya mengangguk sambil tersenyum. Menatap punggung dokter itu yang kini menghilang dari pandangan setelah mengatakan ruangan terakhir pasien yang perlu diperiksa.


Tanpa ingin menunggu, Lion melangkah ke arah lift untuk naik ke lantai 3. Tepatnya ruangan VVIP di lantai itu.


Ting!


Lion melangkahkan kakinya keluar. Berjalan mendekat perlahan, hingga tiba tepat di depan ruangan tujuannya.


“Permisi,” ucap Lion seraya membuka lebar daun pintu.


“Oh, iya. Ada apa, Dok?” sosok pemuda yang kiranya berusia 23 tahun bertanya saat melihat Lion.


Sesaat Lion terdiam bertatapan dengan pemuda itu, seperti ada perasaan senang yang tiba-tiba memenuhi hatinya.


“Ah, itu. Saya datang ke sini menggantikan Dokter Atif untuk melakukan pemeriksaan,” ucap Lion tersenyum sambil menyebut nama dokter yang tadi meminta bantuannya.


Pria muda itu ber-oh riah, lalu mengangguk mengerti dan menatap lama ke arah Lion.


“Apa dokternya sudah datang, Liorand?” terdengar suara dari balik tirai yang menutupi ranjang pasien dalam ruangan itu. Suara yang berhasil membuat tubuh Lion mematung dengan jantung berdetak dua kali lebih cepat.

__ADS_1


‘Suara ini ...’


__ADS_2