
"Kakak."
Kaisar menaikkan sebelah alisnya mendengar panggilan itu. Ia mendongak, menatap wajah Raila yang tengah duduk di atas brankar.
"Kenapa?" Kaisar beranjak dari duduknya menghampiri Raila, "apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
Gadis itu hanya diam menatap Sang Kakak yang kini duduk di kursi samping brankarnya.
"Kakak kenapa tidak pulang?" tanya Raila mengulurkan tangan mengusap kening Kaisar yang terlihat mengerut, menandakan jika Kakaknya itu tengah memikirkan sesuatu dengan keras.
Kaisar hanya diam menikmati usapan tangan adiknya. Sesaat menghela napas pelan mendengar pertanyaan itu.
"Jika aku pulang, tidak ada yang menjagamu di sini. Aku tidak mungkin membiarkan adikku seorang diri di rumah sakit." ucap Kaisar.
Raila mengerucutkan bibirnya. "Di rumah sakit ini bukan hanya ada aku seorang, kak. Ada banyak perawat dan orang lain, jangan lupa ada Uncle Lion juga."
Kaisar terkekeh pelan. Rasa rindu ingin mendengar kembali suara adiknya, sekarang sudah terwujud. Beban dan perasaan bersalah yang sempat menyesakkan dadanya, kini hilang entah ke mana.
"Aku pikir tidak akan melihatmu lagi," ucap Kaisar menunduk dengan rasa sesak di dadanya. Mengingat kecelakaan tragis itu membuat pikirannya pecah dan tak menentu.
Ia selalu bertanya dan khawatir. Bagaimana jika adiknya tak kembali?
Bagaimana jika Raila tak pernah membuka matanya lagi?
Membayangkannya saja membuat Kaisar gila. Dan bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Mungkin Kaisar tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Raila diam. Ia menatap lama wajah kakaknya yang kini terlihat begitu suram.
"Kakak tidak perlu khawatir lagi. Sekarang aku sudah siuman. Lihat, aku bahkan bisa menjahili kakak tadi pagi." ucap Raila terkekeh pelan.
Kaisar menganggukkan kepalanya. Mengusap pelan puncak kepala adiknya.
"Raila."
"Hm?" Raila menatap lekat wajah Kaisar yang kini menatapnya serius.
"Kak ..."
"Apa pendapatmu dengan orang yang melakukan hal itu?"
Raila mengerutkan kening bingung. Apa maksud dari pertanyaan kakaknya itu? Melakukan apa?
"Apa maksud Kakak?" tanya Raila penasaran.
"Orang yang menabrakmu. Orang yang lari dari tanggung jawab itu." Kaisar mengepalkan tangannya kuat membayangkan sosok yang kini bebas tanpa merasakan penderitaan adiknya.
Raila menghela napas pelan, "aku malah bersyukur dia melarikan diri."
Seketika Kaisar mendongak tak percaya mendengar ucapan Raila.
Sedang Gadis itu terkekeh kecil menatap reaksi kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa aku mengatakan hal itu karena, Kakak pasti tidak akan memaafkannya. Aku tidak merasa jika kecelakaan itu adalah hal yang direncanakan. Itu seperti ... murni kecelakaan." ucap Raila membuat Kaisar terdiam.
Kaisar juga tahu hal itu. Tapi dia tidak memiliki hati selembut adik dan keluarganya yang bisa memaafkan orang begitu saja.
"Kakak ... tidak melakukan hal aneh untuk menemukan orang itu, 'kan?"
Tubuh Kaisar menegang. Ia mencoba menyembunyikan raut wajah terkejutnya.
"Tidak." jawab Kaisar singkat.
Raila kembali menghela napas pelan, "syukurlah. Aku tidak ingin Kakak melukai orang-orang yang tidak bersalah. Ya, walau aku tahu kakak tidak akan melukai orang lain. Karena kakakku adalah kakak yang baik hati sedunia."
Tubuh Kaisar mendadak kaku. Ia mencoba tersenyum semanis mungkin di bibirnya.
Tiba-tiba, pintu terbuka cukup keras. Mengejutkan sepasang saudara itu.
"Raila!" teriak Louisa membuka pintu tanpa mengetuk, terdiam saat mendapat lirikan tajam dari Kaisar.
"Kak Louisa." pekik Raila dengan wajah sumringah. Gadis itu terlihat begitu bahagia melihat keberadaan Louisa.
"Apa lihat-lihat." ketus Louisa saat Kaisar masih menatapnya tajam.
Pria itu menghela napas kasar. Beranjak dari duduknya, digantikan oleh Louisa yang dengan segera mendudukkan diri di kursi tempat Kaisar sebelumnya.
"Keluar sana! Aku ingin berbicara berdua dengan Raila." ucap Louisa lebih tepatnya perintah.
Kaisar menggelengkan kepalanya. Melangkah mendekati pintu keluar, sesaat langkahnya terhenti di ambang pintu. Menoleh ke belakang menatap dua gadis yang siap-siap memulai perbincangan.
Louisa mencibir, kemudian menatap Raila dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kita langsung mulai saja. Aku ada kabar gembira yang ingin aku bagi bersamamu," ucap Louisa antusias.
Sedang di lobi rumah sakit.
Kaisar terus melangkah hingga tak sadar telah berada di luar rumah sakit. Sesaat pria itu menghentikan langkahnya, terdiam menatap sekeliling.
"Ternyata sudah cukup gelap," ucap Kaisar menatap langit yang mulai mengelap menandakan datangnya malam.
"Lebih baik membeli minuman saja," gumamnya melangkah mendekati jalan untuk ke minimarket di seberang.
Kaisar memasuki minimarket itu, terus melangkah mendekati lemari pendingin untuk mengambil minuman.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat sesuatu pada rak. Sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian pagi tadi.
Setelah selesai mengambil barang yang ingin ia beli, Kaisar segera mendekati kasir.
Sesaat Kasir wanita itu terdiam menatap barang yang ingin Kaisar beli. Ia sedikit mencuri pandang menatap ekspresi pria di hadapannya itu.
"Apa ... hanya ini saja, Tuan?" tanyanya. Terlihat menahan diri agar tidak berkomentar akan belanjaan yang tak sesuai degan sosok di hadapannya.
"Iya." jawab Kaisar datar.
__ADS_1
"Terima kasih."
Kaisar segera mengambil barangnya. Melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang.
Setibanya di samping mobil, Kaisar segera masuk. Melemparkan gresek belanjaannya ke kursi samping kemudi. Segera melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
***
Adelia diam menatap pantulan dirinya pada cermin dalam kamar sederhana itu. Ia menatap lekat luka di keningnya.
Rasa perih akibat tarikan kasar yang ia rasakan pagi tadi masih terasa hingga saat ini. Pria itu benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu dengan lembut.
Adelia tersentak. Bagaimana bisa dia mengharapkan sosok kasar yang dengan keji menyiksanya itu, bertingkat lembut kepadanya?
Adelia tersenyum miris. Dia bahkan tidak tahu di mana letak kesalahannya hingg diperlukan bagai penjahat oleh pria kejam itu.
"Nona ... Anda baik-baik saja?" tanya Lora menatap khawatir pada Adelia yang tiba-tiba diam di depan cermin.
Adelia tersenyum lembut sambil menganggukkan kepalanya. Sedang Lora menghela napas lega, cukup terkejut mengingat hal yang terjadi pagi tadi.
Sosok Tuan yang terlihat begitu murka, ternyata tak melukai Adelia sedikitpun. Lora bernapas lega mengingatnya.
Lora tersentak saat terdengar suara gedoran pada pintu kamarnya.
Dua wanita itu saling menatap satu sama lain dengan penuh tanda tanya. Lora memberanikan diri untuk mendekati pintu, kemudian membukanya.
Kedua mata Lora terbelalak melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya. Sosok yang masih menampilkan wajah datar dengan tatapan tajam.
"Keluar." titah Kaisar pada Lora.
Sesaat Lora menoleh ke belakang, menatap Adelia yang berdiri takut di samping ranjang.
"Jika Tuan memberi perintah, sebaiknya kamu menurutinya. Dengan itu, mungkin saja dia tidak akan melukai Nona Adelia. Tapi jika kau melawan perintahnya, dia bisa saja melukai kalian berdua atau mungkin bertindak lebih kasar pada Nona Adelia."
Lora menurut. Ia segera berjalan keluar melewati Kaisar. Mungkin itulah yang baik, seperti ucapan Kakaknya, Polin.
Lora menyempatkan diri menoleh ke belakang, menatap Kaisar yang kini masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar.
'Ya Tuhan, tolong lindungi Nona Adelia.' batin Lora berdoa.
Sedang di dalam kamar.
Adelia terus melangkah mundur saat melihat Kaisar mendekat. Hingga punggungnya menyentuh dinding, membuat Adelia tak bisa lagi menjauh. Hanya memejamkan mata saat Kaisar kini tiba di hadapannya.
Suara yang sedikit berisik terdengar memasuki indra pendengaran Adelia, tetapi tak membuat wanita itu membuka kelopak matanya. Hingga sentuhan lembut di keningnya, membuat Adelia tersentak dan membuka matanya menatap Kaisar yang kini menempelkan plester pada luka di keningnya.
"Jangan pernah menerima pemberian siapapun." ucap Kaisar tiba-tiba dengan tatapan tajam menatap iris mata wanita di hadapannya.
"Karena aku tidak suka milikku disentuh orang lain. Selama kau berada di mansion ini, mulai dari kaki hingga rambut. Semuanya milikku, jadi aku peringatkan untuk tidak membiarkan siapapun menyentuhmu. Hanya aku yang boleh."
Kaisar segera berbalik keluar dari kamar itu, meninggalkan Adelia yang takut serta bingung mendengar ucapannya.
__ADS_1