TAWANAN CEO KEJAM

TAWANAN CEO KEJAM
Bab 11


__ADS_3

“Saya sungguh tidak tahu apa-apa, Tuan. Sungguh saya tidak tahu apa pun.” Lirih Adelia tepat di hadapan sosok jangkung yang tengah


menatapnya datar. Sosok yang baru saja memasuki kamar itu terlihat tak peduli, hanya diam bagai patung dengan tatapan menusuk.


“Ha’ah.” Kaisar menghela napas, membuat tubuh Adelia tersentak. Mendongak dengan ragu, hingga tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Kaisar yang siap menusuknya kapan saja.


“Apa menurutmu ada pencuri yang akan mengaku sebagai pencuri?” Kaisar balik bertanya dengan nada tak peduli.


Ia baru saja tiba di mansionnya. Memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar dan memeriksa kondisi Adelia, karena Kaisar tidak ingin penjahat yang melukai adiknya mati begitu saja tanpa adanya penderitaan.


Namun, hal yang ia dapati saat masuk sungguh mengejutkannya. Sosok Adelia tiba-tiba mendekat dan bersimpuh di hadapannya dengan kaki yang terantai.


Kaisar tersenyum miring. Dilepaskan? Bersusah payah dirinya mencari selama beberapa bulan tanpa henti di saat para polisi memutuskan menutup kasus dan bersikap seolah kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Lalu,


dengan mudahnya bibir wanita di hadapannya itu berucap penuh permohonan untuk dibebaskan?


Tidak akan!


“Itu hanyalah angan-angan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.” Desis Kaisar tajam, berjongkok tepat di hadapan Adelia.


Wanita itu mendesis lirih saat Kaisar mencengkeram kuat dagunya, “kau harus merasakan penderitaan yang tiada henti. Nikmati hidupmu dalam penjaraku.”


Kaisar bangkit dari duduknya dengan menatap tajam Adelia. Berbalik dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Adelia yang membisu hingga akhirnya menangis keras.


“Aku tidak akan pulang hari ini, Polin. Jaga wanita itu baik-baik, jangan sampai dia kabur. Jika dia menghilang dari dalam kediaman


ini, maka kau akan mendapatkan akibat dari kelalaianmu.” Ucap Kaisar tajam meninggalkan Polin di depan pintu kamar yan tertutup.


“Saya mengerti, Tuan.” Jawab Polin patuh. Menelan kasar ludahnya yang terasa begitu sulit untuk masuk ke tenggorokan.


***


Mobil Kaisar melaju cepat membelah jalan kota malam ini. Kaisar mengemudikan mobilnya dengan begitu cepat tanpa peduli pada pengendara lain. Ia melewati mobil satu persatu dengan begitu lihai.


Pikiran Kaisar kini begitu kalut. Campur aduk hingga membuat dirinya pusing.


Ini bahkan belum berlalu beberapa hari sejak menemukan Adelia, penyebab adik kesayangannya berada di rumah sakit. Tapi segala sesuatu sudah menganggu pikirannya, hingga membuat Kaisar tidak bisa fokus. Benar-benar berbeda dari sebelumnya.


“Kakak adalah kakak terbaik yang pernah ada. Aku senang menjadi adik Kak Kaisar, karena Kak Kaisar sangat baik hati dan ramah.”


Kata-kata itu terlintas begitu saja di benak Kaisar. Kata yang diucapkan oleh Raila saat mereka duduk berdua di dalam kafe sebulan sebelum terjadinya kecelakaan besar, hingga membuat Raila koma sampai saat ini.

__ADS_1


“Shit!” umpat Kaisar menghentikan mobilnya di tepi jalan.


Pria itu menjatuhkan kepalanya pada kemudi. Menggigit bibirnya dengan tangan mencengkeram kuat setir mobil.


Kenapa tiba-tiba seperti ini? batin Kaisar bertanya tanpa henti.


Sebelumnya ia hanya bersikap biasa saja. Tapi kenapa sekarang dia ragu? Ragu pada keputusannya sendiri.


“Sial!” umpat Kaisar lagi. memukul setir mobil, menghempaskan punggungnya kasar pada jok sambil mengacak rambutnya.


Tubuh Kaisar tersentak saat suara dering ponselnya tiba-tiba terdengar di dalam mobil. Pria itu menegakkan tubuhnya meraih benda pipih itu di saku celana. Sesaat Kaisar terdiam melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


“Ya, apa?” tanya Kaisar to the point saat mengangkat panggilan itu.


Tak ada jawaban dari sosok di seberang telepon, membuat Kaisar menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Mengerutkan kening menatap panggilan yang terhubung tapi tak ada suara dari sang penelepon.


“BRENGSEK KAU, KAISAR!” suara teriakan keras wanita di seberang telepon, membuat Kaisar memejamkan mata dengan wajah datarnya.


“Apa?” tanya Kaisar lagi. Tak mengidahkan umpatan Sepupunya itu.


Sosok itu berdecap kesal di seberang telepon.


“Jika kau tidak memiliki hal penting untuk dibicarakan, maka aku akan matikan teleponnya.” Ucap Kaisar berniat untuk memutuskan panggilan.


Sesaat Kaisar diam, “coba saja.” ucapnya acuh.


“Argh! Brengsek!” wanita itu kembali mengumpat kesal karena ucapan Kaisar. Kenapa sepupunya yang satu ini sangat menyebalkan seperti robot.


“Aku rasa Om dan Tante tidak pernah mengatakan umpatan.” Ujar Kaisar acuh. Sedikit heran dengan sikap sepupunya yang sangat berbeda jauh dari Adik ipar dan adik Ayahnya itu.


“Sebenarnya kau keturunan siapa?” tanya Kaisar.


“Diam kau, pria brengsek!” umpatnya lagi.


Sesaat hening menguasai panggilan itu, membuat wanita di seberang telepon mengerutkan keningnya.


“Kenapa kau tidak berbicara?” tanyanya heran.


“Kau menyuruhku diam.” jawab Kaisar santai. Kini suasana hatinya mulai kembali tenang.


“Brengsek! Kenapa benar-benar diam, Sialan!” teriaknya lagi.

__ADS_1


“Louisa, berhentilah mengumpat. Aku yakin, Om Louis ataupun Tante Rara tidak pernah mengajarkan hal itu.” ucap Kaisar, membuat sepupunya itu terdiam.


“Jika ada hal penting yang ingin kau katakan, sebaiknya katakan sekarang. Karena aku harus segera tiba di rumah sakit.” ucap Kaisar menghela napas pelan.


Sesaat Louisa terdiam, wanita itu menunduk menatap laptop di depannya yang menampilkan foto keluarga yang terlihat cukup harmonis, walau terasa ada sesuatu yang hilang dari foto itu.


Louisa ingin membuka mulutnya untuk berbicara, tapi kemudian mengatupkan rapat bibirnya.


‘Mungkin sebaiknya aku berbicara langsung dengannya. Tidak baik membicarakan hal ini lewat telepon,’ batin Louisa lalu memejamkan mata dan menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.


“Aku ingin bertanya tentang kondisi Raila. Apa … dia masih belum siuman?” tanya Louisa ragu. Takut jika membuat suasana hati Kaisar


menjadi buruk.


Kaisar diam, “seperti yang kamu tahu.” Jawabnya.


“Baiklah. Aku hanya ingin bertanya soal itu.”


Kening Kaisar mengerut. Hanya itu? sungguh? Kaisar ragu untuk mempercayainya. Karena sepupunya yang satu itu tidak pernah


menghubunginya jika bukan hal penting.


“Aku akan segera ke Indonesia saat pekerjaanku selesai di sini. Sampai saat itu, aku harap kau tidak membuat kekacauan besar.” Ucap Louisa lalu memutuskan panggilan sepihak.


Kaisar menatap datar layar ponselnya. Kali ini Louisa sedikit aneh, seperti ada hal yang disembunyikan oleh sepupunya itu.


Beberapa menit kemudian.


Mobil Kaisar tiba di rumah sakit. Pria itu segera keluar dari mobilnya. Melangkah masuk ke dalam rumah sakit untuk segera tiba di


ruangan adiknya. Karena hanya dengan menatap wajah adiknya, pikirannya dapat


sedikit tenang.


Tiba-tiba Kaisar menghentikan langkahnya di lobi rumah sakit. Tubuh pria itu menegang dengan mata terbelalak. Sontak Kaisar menoleh ke belakang, menatap punggung pria yang baru saja melewatinya.


“Apa yang aku pikirkan,” gumam Kaisar kesal. Kembali melangkah tanpa menoleh ke belakang.


Sedang di luar rumah sakit, sosok pria menghentikan langkahnya di samping mobil sedan mewah berwarna hitam. Sesaat pria itu terdiam di samping pintu kemudi, mengalihkan pandangan hingga menatap pintu lobi rumah


sakit.

__ADS_1


“Kaisar Argantara … tingkahnya cukup aneh dua hari ini. Apa dia sudah berhenti?” gumamnya pelan.


“Jika begitu, sepertinya sudah tidak apa jika dia kembali sekarang.”


__ADS_2