
Sudah tiba waktunya pangeran Cleo menepati janji pada ayahnya, raja Laksaman.
Semua orang telah berkumpul di ruanggan yang cukup besar, putri Laras beserta ayahnya, tak terkecuali Audrey.
“Cleo waktu 3 harimu telah habis, sekarang kau harus tunjukan bukti yang telah kau cari” ucap raja Laksaman menatap pangeran Cleo.
Pangeran Cleo menghela nafas pelan, Audrey menatap pangeran Cleo penuh harap, tapi...
“Ayah... Semuanya... Maaf Cleo belum bisa menemukan bukti bahwa Audrey tidak bersalah” ucapnya tegas menatap semua orang yang hadir.
Putus sudah harapan Audrey, pangeran Cleo melihat Audrey yang menunduk.
“Audrey maafkan aku, karena aku belum bisa menepati kata-kataku tempo hari lalu” ucapnya sendu menatap Audrey.
Audrey menatap balik pangeran Cleo lalu tersenyum.
“Tidak papa pangeran, terimakasih karena kau telah berusaha untuk mencari bukti untukku” ucap Audrey tersenyum.
Nenek yang melihatnya kasihan tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, dia pun tak memiliki bukti.
“Baiklah, sesuai dengan kesepakatan awal, karena kau gagal maka hari ini Audrey dinyatakan bersalah, dan akan segera di bawa ke penjara” ucap raja Laksamana tegas.
Audrey hanya bisa pasrah, memberontak pun percuma dia tak memiliki kekuatan lebih.
“Putri Laras... Jujur saja aku tak mencuri barang milikmu, tapi aku akan tetap meminta maaf padamu, maafkan aku dan terimakasih, berkatmu aku juga belajar bahwa yang memiliki kekuasaan tidak lebih baik dari pada yang tidak memiliki kekuasaan, semoga kau paham maksudku dan sekali lagi aku minta maaf” setelah berucap panjang Audrey segera di bawa oleh para pengawal pergi.
Putri Laras menatap sendu Audrey, tapi sedetik kemudian dia tersadar karena ada yang terus menatapnya tajam.
Pangeran Cleo dan nenek menatap kepergian Audrey, ada rasa bersalah di hati pangeran Cleo karena tak bisa membantunya.
Sedangkan pangeran Xelo, raja Laksamana, dan raja Agung menatapnya datar.
Tanpa di sadari sedari tadi ada seseorang yang tersenyum senang, karena rencananya berhasil.
‘Akhirnya rencanaku berhasul, pangeran Cleo kau salah telah bermain-main danganku’ batinnya tersenyum miring menatap pangeran Cleo yang menunduk.
‘Laksamana... Ini baru awal kehancuranmu’ batinnya menatap tajam raja Laksamana dari kejauhan.
***
Audrey kini sudah ada di dalam sel, tempat ini sangat dingin, kotor dan juga bau.
‘Ya Tuhan... Kenapa ini terjadi padaku, bukankan nenek pernah bilang bahwa keberuntungan akan datang kepadaku, tapi ini sebaliknya’ batin Audrey sendu.
‘Semoga ada keajaiban yang datang padaku’ lanjutnya menatap ke arah langit.
Cukup lama Audrey melamun hingga dia mendengar suara seseorang yang membuyarkan lamunannya.
‘Suara apa itu?’ tanya nya pada diri sendiri.
Audrey mendekat kearah sumber suara berasal, semakin mendekat suara rintihan seseorang semakin jelas dia dengar.
Hingga sampai di ujung sel penjara dia berdiri menatap tembok yang menghalanginya dengan penjara lain, aneh iya sangat aneh, semau sel di sini dari sel satu ke sel yang lain hanya terhalang oleh pagar jeruji, tapi penjara yang ini terhalang oleh tembok yang kokoh.
__ADS_1
Audrey menempelkan telinganya ke tembok agar lebih jelas mendengar suaranya.
“Tolong lepaskan aku... Ku mohon... Sakit, badanku sangat sakit”
Kira-kira seperti itu Audrey mendengar suaranya yang samar-samar.
“Siapa dia? Kasihan sekali” guamam Audrey sembari menatap temboknya.
“Permisi, apakah kau yang ada di dalam bisa mendengarku?” Audrey sedikit berteriak agar yang di dalam tembok bisa mendengar suaranya.
Tapi tak ada jawaban sama sekali bahkan suranya pun tidak ada lagi. Audrey bingung tapi dia mencobanya lagi.
“Hey... Permisi... Apakah kau mendengarku?” tanyanya lagi.
Lagi-lagi tak ada jawaban.
“Kalau kau mendengarku tolong jawablah” ucao Audrey.
Audrey tersenyum kali ini ada jawaban walau hanya sura gedoran tembok yang pelan.
“Ok kalau kau tak mau berbicara, untuk menjawab 'IYA' kau pukul temboknya satu kali dan untuk menjawab 'TIDAK' pukul temboknya tiga kali, apakah kau paham?” Audrey mencoba berbicara pelan.
Dug.
Sura pukulan tembok satu kali, tandanya dia menjawab 'IYA' dan paham maksdu Audrey.
“Baik bolehkah aku bertanya padamu?” Audrey meminta izin untuk bertanya pada lawan bicaranya.
Dug.
Ketika akan bertanya salah satu pengawal yang sedang berjaga mengagetkan Audrey.
“Hey kau... Sedang apa di sana?” tanya nya garang.
“E-eh emmm... A-aku sedang duduk, iya sedang duduk, apa kau tak bisa melihatnya” saut Audrey gugup.
“Jangan macam-macam kau” ucapnya menatap tajam Audrey.
“I-iya paling satu macam” Audrey berucap lirih di akhir kalimatnya.
“Apa maksudmu?” tanya nya melotot.
“Tidak, tidak ada apa-apa” saut Audrey.
“Huss... Pergilah kau, menganggu waktu istirahatku saja” setelah berucap seperti itu dia segera pergi.
Audrey menatap kepergiaannya hingga tak terlihat lagi. Di rasa aman, Audrey berbicara lagi pada orang di balik tembok.
“Hey apakah kau masih bisa mendengarku?” tanya nya, kali ini suaranya dia pelankan agar tak ketahuan.
Dug.
“Baiklah, maaf tadi ada pengawal yang berjaga dia sangat lah garang” ucap Audrey meminta maaf.
__ADS_1
“Oh ya, apakah kau sudah lama di penjara? Mmm maaf kalau aku menyinggungmu” ucap Audrey, hati hati dia takut menyinggung hati lawan bicaranya.
Dug.
“Apakah sudah lama?” tanya nya lagi.
Dug.
“Berapa lama? Apakah sangat lama?”
Dug.
Audrey terdiam, selama apa dia di kurung di penjara bertembok yang sepertinya tak ada sirkulasi udara.
“Kasihan sekali” gumamnya sendu.
“Kenapa kau di penjara?” tanya Audrey.
Tapi tak ada jawaban dari balik tembok, Audrey yang takut menyinggung nya segera meminta maaf.
“Maaf aku menyinggungmu ya” ucap Audrey tak enak hati.
Tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
“Audrey”
Audrey melihat ke sumber suara, ternyata ada nenek dan juga pangeran Cleo. Audrey segera mendekat.
“Audrey aku minta maaf padamu” ucap pangeran Cleo menatap sendu Audrey.
“Tak apa pangeran, kau tak perlu khawatir dan jangan salahkan dirimu atau siapapun karena aku di penjara” ucap Audrey tersenyum.
“Kau memang anak yang baik nak, bersbarlah semuanya pasti akan baik-baik saja” ucap nenek tersenyum dan menggenggam tangan Audrey dari celah jeruji besi.
“Nek... Apakah nenek percaya bahwa aku tak melakukannya?” tanya Audrey menatap sendu nenek.
“Iya nenek percaya, maafkan nenek karena awalnya nenek tak percaya” saut nenek.
Audrey tersenyum, “Iya nek tak apa, terimakasih karena sudah mau percaya” ucap Audrey.
Nenek dan pangeran Cleo tersenyum.
“Bersabarlah nak, kalau kami sudah menemukan buktinya kami pasti akan menolongmu agar segera keluar” ucap nenek tersenyum.
“Iya, terimakasih banyak” Audrey membalas senyuman nenek.
‘Tenanglah kau akan segera bebas’
‘Maafkan aku’
Di waktu yang bersamaan, sedari tadi ada dua orang yang terus memperhatikan mereka. Dua orang tersebut membatin di waktu bersamaan pula.
**To Be Continue....
__ADS_1
***
Terimaksih sudah membaca dan selamat membaca di bab selanjutnya... Bye-bye**...