
Malam harinya, Audrey dan Tian sedang asik memasak tanpa menghiraukan pangeran Xelo dan juga Soo Yun yang terus memperhatikan mereka berdua, tak terkecuali putri Laras yang juga ikut melihatnya.
Putri Laras memutuskan untuk menginap di sini juga karena dia yang memintanya dan memaksa pangeran Xelo, dan dengan berat hati pangeran mengiyakannya.
Setelah berkutat cukup lama dengan alat dapur kini semuanya sudah selesai, dan tinggal di hidangkan saja.
“Silahkan, ini masakanku dan ini masakan Hyun Tian” ucap Audrey tersenyum sembari menghidangkan makanan di atas meja.
“Wah sepertinya enak semua” ucap Soo Yun.
“Sudah pasti dong” saut Audrey.
“Ohh ya paman Li kemana?” tanya Audrey ketika tidak melihat keberadaan paman Li.
“Ayah sedang keluar, dia bilang sedang ada urusan dengan kepala desa” jawab Tian.
Audrey mengangguk paham, “Oh ya sudah silahkan di cicipi, nanti akan ku pisahkan untuk paman Li” ucap Audrey lalu mengambil piring lagi dan menyisikan untuk paman Li.
“Pangeran, putri, silahkan di makan” ucap Soo Yun mempersilahkan putri Laras dan pangeran Xelo untuk makan terlebih dahulu.
“Hmm” sudah pasti pangeran Xelo akan mengambil makanan yang di masak oleh Audrey, sedangkan putri Laras mengambil dua-duanya.
Setelah itu Soo Yun pun ikut mengambil, “Aku ingin sekaligus dua-duanya, pasti sangat enak” ucap Soo Yun mengambil makanannya.
Sedangkan Audrey dan Tian hanya diam saja menunggu tanggapan dari mereka, “Bagaimana apakah enak?” tanya Audrey.
“Emmmm, sangat enak, semuanya enak” jawab Soo Yun tersenyum.
Audrey dan Tian saling pandang lalu melempar senyum.
Pangeran Xelo mengangguk, “Sangat enak” ucapnya tersenyum ke arah Audrey sedangkan Audrey hanya tersenyum tipis saja lalu memalingkan wajahnya.
“Kalau menurutku, yang ini enak, tapi kalau yang ini kurang enak, tidak cocok di lidahku” ucap putri Laras sembari menunjuk makanan yang di masak Audrey.
Audrey yang mendengarnya sedikit kesal, tapi tak apa, “Terimakasih putri atas tanggapan nya, tapi bisakah kau saring sedikit ucapanmu” ucap Audrey tersenyum paksa.
“Tapi aku tidak bohong” saut putri Laras.
“Emmm mungkin karena putri tidak terbiasa makan seperti ini jadi kurang cocok saja, tapi ini sangat enak ko nona, benarkan pangeran?” tanya Soo Yun kepada pangeran Xelo.
“Iya benar ini sangat enak, dia saja yang konslet” jawab pangeran Xelo sinis menatap putri Laras.
“Pangeran, kau ko seperti itu padaku, kau membelanya dari pada aku?” tanya putri Laras manja.
“Hmm” pangeran Xelo hanya berdehem saja sebagai jawaban.
“Ihhh pangeran kau ini, aku bilang pada ayah ya” putri Laras mengancam pangeran Xelo.
“Bilang saja, aku tak takut” sautnya dingin.
“Ihhh, pangeran....” putri Laras terus saja bergelantung manja di lengan pangeran Xelo.
Pangeran Xelo hanya diam saja dia sudah capek untuk menghindarinya, menghindarpun percuman.
“Sudahlah, Tian lebih baik kau makan juga setelah ini istirahat karena sudah malam” ucap Audrey.
“Hmm baiklah” saut Tian lalu dia pun makan dan Soo Yun pun melanjutkan makannya.
“Audrey kau tidak makan?” tanya pangeran Xelo ketika melihat Audrey hanya diam saja tidak menyentuh makanannya sama sekali.
__ADS_1
“Tidak” jawabnya singkat sembari mengikat rambutnya yang tergerai.
Pangeran Xelo terus memperhatikan Audrey yang sedang merapihkan rambutnya.
“Ehh... Ehh, ikat rambutku mana?” tanya Audrey panik ketika tidak menemukan ikat rambut kesayangannya.
“Bukankah ada di pergelangan tanganmu?” tanya pangeran Xelo.
“Tidak ada, tapi biasanya memang ada, tapi sekarang tidak ada” jawabnya sembari terus mencari ikat rambutnya di kolong meja dan lain sebagainya.
Pangeran Xelo ikut mencari ikat rambut milik Audrey. Dan di bantu oleh Soo Yun dan Tian.
“Nona, ikat rambutmu seperti apa?” tanya Soo Yun.
“Talinya warna biru dan ada bandul beruang sama lovenya” jawab Audrey.
“Ganti saja yang baru, cuman ikat rambut doang” saut putri Laras bersedekap dada.
“Tidak bisa! Itu ikat rambut kesayanganku, mana bisa aku ganti begitu saja” Audrey sedikit meninggikan suaranya.
Semuanya kaget tak terkecuali putri Laras yang terdiam karena dia baru melihat Audrey seperti ini.
“Walau pun anda berpikir itu hanya ikat rambut biasa, tapi bagiku tidak itu sangat berharga bagiku, anda paham wahai putri Laras yang terhormat?” tanya Audrey menatap putri Laras yang terdiam.
“Kalian tidak usah mencarinya lagi, biar aku cari sendiri, ada seorang putri yang lebih membutuhkan kalian” ucap Audrey lalu segera berlalu pergi tapi sebelum itu tangan nya di cekal oleh pangeran Xelo.
“Kau mau kemana, ini sudah malam?” tanya pangeran Xelo menatap Audrey.
“Aku mau mencari ikat rambutku di tempat penanaman hidroponik, karena tempat itu yang terakhir aku kunjungi” jawabnya tanpa menatap lawan bicara.
“Biarku antar” ucap pangeran Xelo.
Pangeran Xelo dan yang lainnya menatap kepergian Audrey.
“Aku harus menyusulnya” ucap pangeran Xelo tapi segera di tahan oleh putri Laras.
“Pangeran kau tetaplah di sini” ucap putri Laras memeluk lengan pangeran Xelo.
Pangeran Xelo menghempaskan kasar pelukannya dan menatapnya datar, “Sudah ku bialng kau lebih baik pulang saja, dan kau diam jangan menggangguku” ucapnya ketus lalu segera pergi meninggalkan mereka bertiga yang terdiam.
Soo Yun dan Tian menatap putri Laras, “Ada apa lihat-lihat?” tanyan putri Laras kesal.
“Tidak ada putri” jawabnya dan memalingkan wajahnya.
***
Sudah lama mencari akhirnya Audrey menemukannya juga, ketika akan kembali matanya tak sengaja melihat seseorang menggunakan pakaian hitam.
“Hey siapa di sana?” panggil Audrey mendekati orang tersebut.
Orang tersebut terperanjat kaget dan melihat Audrey yang mendekatinya.
“Audrey” panggil pangeran Xelo.
Orang tersebut yang melihat pangeran Xelo segera pergi sebelum keduanya menghampirinya.
Audrey melihat orang tersebut yang sudah lari terbirit-birit. Audrey tak terlalu melihat wajahnya karena suasana malam yang remang-remang dan hanya di sinari oleh sinar bulan dan lampu lentera yang Audrey bawa.
“Kau kenapa?” tanya pangeran Xelo yang sudah ada di hadapan Audrey.
__ADS_1
“Tidak ada” jawabnya sembari terus melihat kearah orang tadi lari.
Pangeran mengikuti arah pandang pangeran Xelo, “Kau melihat apa?” tanya pangeran Xelo.
“Tidak ada, sudah pulanglah” jawabnya dan segera meninggalkan pangeran Xelo.
Pangeran Xelo menghela nafas pelan lalu segera menyusul Audrey.
***
Pagi harinya di sisi lain, seseorang sedang memarahi bawahannya.
“Apa kau bilang? Kau gagal?” tanyanya penuh amarah.
“I-iya tuan, maaf kan saya” ucapnya menunduk.
“Kau tidak becus sama sekali!!” bentaknya.
“Siapa yang berani menggagalkan rencanaku? Hah?!” tanyanya sembari berteriak di depan wajah pria yang menunduk.
“Gadis itu, gadis yang bersama pangeran Xelo” jawabnya.
“Gadis kecil berani sekali dia, tidak tau saja siapa yang dia lawan” ucapnya mengepalkan tangannya.
“Singkirkan dia bagimana pun caranya” lanjutnya.
“Baik tuan” saut pria berbaju hitam lalu segera pergi dengan antek-anteknya.
***
Sedangkan di rumah paman Li, Audrey yang baru keluar dari kamar Soo Yun terperanjat kaget lantaran pangeran Xelo sudah ada di depan pintu.
“Pangeran, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya menatap pangeran Xelo.
Pangeran Xelo tidak menjawab melainkan menatap mata teduh Audrey lekat, Audrey yang di tatap begitu gugup dan dia memalingkan wajahnya.
“Minggir aku mau lewat” ucapnya ketus, tapi segera di hadang oleh kedua tangan pangeran Xelo.
“Kau kenapa?” tanya pngeran Xelo yang tidak pernah memalingkan wajahnya dari Audrey.
“Kenapa apanya?” tanya balik Audrey tanpa melihat wajah pangeran Xelo.
“Kenapa kau menjauhiku?” tanyanya lagi.
“Menjauhimu? Siapa yang menjauhimu, hehe perasaan kau saja” ucap Audrey terkekeh pelan.
“Kau-” ucapan pangeran Xelo terhenti lantaran ada yang memanggilnya.
“Pangeran” panggil putri Laras yang baru kelua dari kamar yang di tempati pangeran Xelo tidur.
Audrey melihatnya sedikit kaget, “Minggir, kau sudah di panggil oleh kekasihmu” ucap Audrey sedikit mendorong tubuh pangeran Xelo pelan.
Audrey pergi keluar rumah, pangeran Xelo hanya diam melihat kepergian Audrey.
**To Be Continue...
***
Terimakasih sudah mampur dan selamat membaca di bab selanjutnya.
__ADS_1
Maaf telat lagi, soalnya ada sebagian yang ke hapus di catatannya jadi harus nulis lagi deh, maaf ya, bye-bye**....