
Seperti hari biasanya Audrey pasti akan mencari dan belajar hal baru bersama pangeran dan nenek.
Tentang masalah yang kemarin Audrey sudah tak mempermasalahkan nya, dia mencoba acuh saja.
“Nek, mari kita memancing” ucap Audrey girang.
Nenek tersenyum, “Audrey sayang, maaf ya nenek tak bisa memancing bersamamu, kau sudah tau kalau nenek sudah tua, tak kuat jika harus berlama lama duduk” saut nenek lembut.
Audrey tertunduk sedih, tapi sedetik kemudian senyumnya merekah di bibir tipisnya, sangat manis.
“Kau pergilah bersama pangeran” ujar nenek.
“Wah, benar aku akan mengajak pangeran” ucap Audrey girang.
“Ajaklah juga pangeran Xelo, dia pasti suka” ucap nenek tersenyum.
Audrey mengangguk, lalu dia segera pergi untuk mencari kedua pangeran.
“Pangeran Cleo dan pangeran Xelo di mana sih?” gumamnya pelan.
“Hmm apakah pangeran Cleo ada di ruang lukis, coba aja lah” gumam Audrey lantas ia segera pergi ke ruang lukis yang dimana ia pernah belajar bersama pangeran Cleo.
Sesampainya Audrey di ruang lukis, dia mengetok pintu yang sedikit terbuka.
Tok... Tok... Tok...
“Pangeran... Apakah kau ada di dalam?” ujar Audrey dan menongolkan sedikit kepalanya.
Benar saja, pangeran Cleo ada di dalam, Audrey melihat pangeran Cleo sedang membelakanginya, dia sedang duduk sembari menatap ke luar jendela.
Pangeran Cleo tak menyadari kebaradaan Audrey yang sekarang sedang menghampirinya.
Deheman Audrey mengagetkan pangeran Cleo.
“Ekheemm”
“Eh Audrey, astaga kau mengagetkanku saja” ucap pangeran Cleo sembari memegang dadanya.
“Hehe maaf pangeran, aku tak bermaksud” ucapnya terkekeh.
“Iya tak apa, kau kemari ada apa?” tanya pangeran Cleo.
“Hmmm apakah kau sedang sibuk?” tanya balik Audrey.
“Tidak, aku tidak sedang sibuk” jawabnya menggeleng.
Audrey tersenyum senang, “Pangeran marilah kita memancing ikan” ucap Audrey.
“Memancing ikan?”
“Iya, ayolah pangeran” Audrey menatap
pangeran dengan tatapan memelas.
Pangeran yang tak tega, mengiyakan ajakan Audrey, “Baiklah, ayo” jawabnya tersenyum.
“Yeay” Audrey bersorak senang.
Mereka keluar dari ruangan tersebut.
“Pangeran sebelum kita pergi memancing kita ajak terlebih dahulu pangeran Xelo” ucap Audrey.
“Ya baiklah”
“Ihh pangeran Xelo di mana sih?” ucap Audrey kesal yang tak menemukan pangeran Xelo.
“Emm permisi, apakah kau tau pangeran Xelo ada di mana?” taya Audrey menghentikan sala satu pelayan.
“Tadi aku melihat pangeran Xelo sedang berada di sana nona bersama putri Laras” jawabnya sembari menunjuk tempat dimana pangeran Xelo berada.
Audrey mengangguk, “Terimakasih” ucapnya tersenyum ramah.
“Iya nona sama-sama, kalau begitu saya pamit, mari pangeran... Nona” ucapnya menunduk hormat lalu segera pergi.
‘Hmm ternyata putri masih ada di sini’ batin Audrey, yang sedikit merasa takut.
“Audrey kau sedang memikirkan apa?” pertanyaan pangeran Cleo membuyarkan lamunan Audrey.
“E-eh iya pangeran” saut Audrey gugup.
“Kau kenapa?” tanya Pangeran Cleo lagi.
__ADS_1
“Tak apa, sudahlah ayo kita ke pangeran Xelo” ucapnya lalu segera meninggalkan pangeran Cleo.
Pangeran Cleo hanya menggelengkan kepalanya melihat Audrey, lalu segera menyusulnya.
Audrey melihat pangeran Xelo dan ada putri Laras bergelayut manja di lengannya. Audrey segera menghampiri mereka yang sedang membelakanginya.
“Pangeran Xelo...” panggil Audrey.
Pangeran Xelo dan juga putri Laras menoleh ke arah sumber suara.
“Mau apa kamu?” tanya putri Laras sinis ketika melihat Audrey.
“Aku mau ke pangeran Xelo bukan ke putri” jawab Audrey, dia mencoba santai untuk mengendalikan dirinya. Putri Laras mendelik kesal.
“Ada apa?” tanya pangeran Xelo tak lupa dengan tatapan yang datar.
“Emm pangeran mari kita memancing” Audrey mengajak pangeran Xelo untuk bergabung bersama dirinya dan juga pangeran Cleo yang akan pergi memancing.
Pangeran Xelo mengerutkan keningnya, lalu dia menatap pangeran Cleo yang juga menatapnya.
Mereka saling menatap, pangeran Xelo menatapnya dingin dan pangeran Cleo menatap adiknya datar.
“Aku tak-” belum sempat ucapan pangeran Xelo selesai Audrey sudah memotongnya.
“Ayo pangeran ini sangat menyenangkan” ucapnya dan langsung menarik tangan pangeran Xelo hingga gandengan tangan putri Laras terlepas, dan itu membuat putri Lara sangat kesal.
“Hey maksudmu apa langsung membawanya pergi, kau tak punya sopan santun, huh dasar” putri Laras yang sangat kesal segera pergi menyusul Audrey yang sudah membawa pangeran Xelo, lebih tepatnya menarik pangeran Xelo agar ikut bersamanya.
Pangeran Celo juga segera menyusulnya, sedangkan pangeran Xelo hanya pasrah saja di bawa Audrey, entah kenapa dia tidak bisa memberontak, aneh memang sangat aneh.
“Pangeran Cleo ayo, aku sudah membawanya, hehe” Audrey sedikit berteriak dan terkekeh pelan.
Pangeran Cleo menggelengkan kepalanya melihat tingkah Audrey.
Putri Laras berhasil menarik kembali pangeran Xelo.
“Huh dasar, kau tidak tau atau pura-pura tak tau, kalau dia itu adalah tunanganku, jadi kau tak boleh sembarangan memegangnya” ucapnya kesal dan bergelayut manja lagi di tangan pangeran Xelo.
Audrey memutar bola matanya malas, “Aku tau, tapi pangeran Xelo pun tak masalah, benarkan pangeran?” ucap Audrey sembari melihat pangeran Xelo.
Pangeran Xelo hanya berdehem sebagai jawabannya, Audrey tersenyum senang, sedangkan putri Laras mendengus kesal.
“Sayang kamu ini apaan sih” ucapnya kesal.
Audrey cengegesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Hehe iya pangeran maaf, ya sudah ayo kita pergi memancing, karena aku sudah mendapatkan cacingnya” ucap Audrey sembari melirik ke arah putri Laras sebelum dia pergi.
Kedua pangeran yang tau maksud Audrey terkekeh pelan, mereka saling pandang saat tau mereka terkekeh bersama, lalu mereka saling membuang muka. Sedangkan putri Laras mendengus kesal.
Lalu mereka segera mengikuti Audrey yang telah mendahulukan mereka.
***
Sesampainya di tepi sungai yang letaknya tak terlalu jauh dari kerajaan, Audrey segera mengeluarkan semua alat pancing yang mereka bawa dari kerajaan.
Sebelum mereka pergi ke tepi sungai, pangeran Cleo meminta para pengawal untuk menyiapkan semua alat pancing.
“Ayo duduklah, hmmm udara di sini segar juga” ucap Audrey dan dia duduk di sebuah batu tepi sungai yang ukurannya cukup besar.
Di ikuti pangeran Xelo dan juga pangeran Cleo tak terkecuali si cacing eh maksudnya putri Laras.
“Apa yang pertama kita lakukan?” ujar Audrey memegang dagunya.
“Ok guys pertama-tama, kita ambil cacingnya terlebih dahulu” ucap Audrey.
“Ihh apakah kau tak merasa jijik” ucap putri Laras yang melihat Audrey memegang cacing tanpa rasa jijik sedikitpun.
“Tidak, kenapa harus jijik” saut Audrey dan dia mengaitkan cacing tersebut pada kail pancingan.
“Oh iya aku lupa, kau tak merasa jijik karena dirimu juga sama, menjijik kan, kau kan dari dunia masa depan yang semua orang nya menjijik kan” bisik putri Laras tepat di telinga Audrey.
Audrey sedikit menjauh dan membulatkan matanya, emang sejijik apakah dirinya hingga di dunia yang berbeda pun masih sama menganggapnya jijik.
Mata Audrey mulai berkaca-kaca, tapi dia mencoba untuk tidak menangis, putri Laras yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan.
Kedua pangeran menyadari ada yang aneh dari Audrey.
“Audrey”
“Audrey”
__ADS_1
Pangeran Cleo dan pangeran Xelo saling pandang saat mereka tak sengaja bareng memanggil nama Audrey.
Pangeran Xelo segera mambuang muka, dan bersikap dingin lagi. Audrey yang melihat itu menampilkan senyumannya.
“Udah ah ayo memancing, biar cepat nangkap banyak ikannya, habis itu kita bikin ikan bakar yu” seru Audrey tersenyum.
“Ikan bakar?”
“Ikan bakar?”
Lagi dan lagi mereka bareng mengucapkannya, Audrey terkekeh.
“Iya nanti kita buat ikan bakar, pasti pangeran Cleo dan pangeran Xelo suka, karena ayah Audrey juga suka” ucap Audrey sendu ketika mengingat sang ayah yang telah menghilang.
Pangeran Cleo menyadari kalau Audrey sedang sedih, dia mencoba menghiburnya.
“Audrey hey lihat lah, pancingan mu mulai ada yang menariknya” seru pangeran Cleo dan membuyarkan lamunan Audrey.
Audrey melihat bahwa benang pancingan sudah di tarik kedalam, dia segera menarik alat pancing dan benar saja ada ikan yang sudah memakan cacing tersebut.
“Pangeran lihatlah aku sudah mendapatkan ikannya” ucap Audrey dan segera mengambil ikan yang klepek-klepek (hehe canda kan).
Pangeran Cleo tersenyum dan pangeran Xelo juga tersenyum simpul, sedangkan putri Laras mendengus kesal, dia bersedekap dada dan matanya tak sengaja melihat kearah pohon besar dan seketika badannya menegang.
Pangeran Cleo yang sadar akan sikap aneh nya putri Laras segera menanyakannya.
“Putri kau kenapa?” tanya pangeran Cleo yang membuat pangeran Xelo dan Audrey melihat putri Laras juga.
“Oh tak apa, mmm aku mau ke sana sebentar” ucapnya lalu berlalu pergi.
Kedua pangeran dan Audrey melihat kepergian putri Laras yang tergesa-gesa.
“Kenapa dengannya?” tanya pangeran Xelo.
“Entah, mungkin dia kebelet kali, hehe” ucap Audrey terkekeh, pangeran Xelo juga tersenyum simpul.
Tapi tidak dengan pangeran Cleo dia merasa bahwa ada yang di sembunyikan oleh putri Laras.
‘Apa yang kau sembunyikan putri’ batin pangeran Cleo sembari menatap terus ke arah putri Laras berlari tadi.
Dari awal pangeran Cleo merasa bahwa ada yang di sembunyikan putri Laras, tapi dia tak tau apa itu.
“Pangeran Cleo ayo lanjut memancing apa yang kau pikirkan?” ucap Audrey membuyarkan lamunan pangeran Cleo.
“Eh iya ayo” ucapnya dan lanjut membantu memancing lagi.
Mereka memancing dengan canda gurau dari Audrey, tentu yang ketawa hanyalah mereka berdua, pangeran Xelo hanya tersenyum tipis saja.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada yang sedang memperhatikan mereka, matanya menyorotkan kemarahan.
“Hey pangeran kau dapat lagi” ucap Audrey.
“He'em, akan ku tarik” pangeran Cleo menarik dan mendapatkan ikan yang cukup besar.
“Wah besar sekali ikannya” ucap Audrey.
“Iya lah pangeran yang mendapatkannya gitu” ucap pangeran Cleo membanggakan diri, pangeran Xelo mendengus kesal mendengarnya.
Sedangkan Audrey terkekeh melihatnya,Audrey sangat senang, dia baru kali ini lagi memancing, karena ketika masih ada ayahnya dia akan pergi memancing bersama ayahnya.
Setelah cukup lama dan ikan pun sudah cukup banyak, mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari pun sudah sore.
“Ini sudah cukup, ayo kita pulang sebelum nenek khawatir karena kita belum pulang” ucap pangeran Xelo.
“Eh tunggu, putri Laras belum kembali” ucap Audrey dan mereka pun sadar bahwa putri Laras sedari tadi belum kembali.
“Itu putri” tunjuk pangeran Cleo pada putri Laras yang sedang jalan menghampiri mereka.
“Putri dari mana?” tanya pangeran Cleo.
“Emm i-itu tadi aku melihat kelinci lucu, jadi aku mengejarnya eh malah lepas dan entah kemana” jelas putri Laras gugup.
Mereka mengangguk, tapi pangeran Cleo menyadari gelagat putri Laras yang gugup.
“Sudah ayo pulang” saut pangeran Xelo.
Dan mereka segera naik lagi ke kereta kuda tak lupa membawa ikan yang telah di pancingnya.
**To Be Continue...
***
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca, dan selamat membaca di bab selanjutnya, jangan lupa dukung author terus ya biar tambah semangat nulisnya.... Bye-Bye**...