Teleportasi Kedunia Kerajaan

Teleportasi Kedunia Kerajaan
Bab 24 : semakin memburuk


__ADS_3

Sudah hampir seminggu raja Laksamana sakit dan keadaannya semakin hari bukan semakin membaik melainkan semakin buruk walaupun sudah meminun obat herbal yang di berikan tabib tempo hari.


Dan keadaan kerajaan juga setelah kejadian pemberontakan kemarin keadaan kerajaan memburuk, dan itu membuat raja Laksamana semakin sakit.


“Saya turut sedih melihat keadaan sahabatku” ucap raja Agung yang kebetulan mampir melihat keadaan sahabatnya.


“Terimakasih anda telah datang, raja Agung” ucap pangeran Cleo tersenyum simpul.


Raja Agung membalas senyuman dan mengangguk pelan.


“Sahabatku semoga kau cepat sembuh” ucap raja Agung pada raja Laksamana yang terbaring lemah.


Raja Laksamana tersenyum, “Iya makasih” sautnya.


“Ya sudah kalau begitu saya pamit pulang” ucapnya berdiri dari duduknya.


“Iya, hati-hati” saut raja Agung, raja Agung mengangguk lalu segera pergi.


Raja Laksamana menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh dan menghilang di balik tembok.


“Pangeran bagaimana keadaan kerajaan?” tanya raja Laksamana pada pangeran Cleo.


Pangeran Cleo menghela nafas pelan, “Baik-baik saja ko ayah” ucapnya tersenyum, pangeran mencoba menenangkan ayahnya agar tidak terlalu khawatir.


Raja Laksamana menghela nafas palan, “Ya sudah ayah istirahat saja, jangan terlalu memikirkan kerajaan” ucap pangeran Cleo.


Raja Laksamana mengangguk lalu memejamkan matanya.


Pangeran Cleo segera keluar dari kamar ayahnya, nenek menghampiri pangeran Cleo.


“Bagaimana keadaan ayahmu?” tanya nenek.


“Seperti biasa nek, tidak ada perubahan” jawab pangeran Cleo menghela nafas pelan.


Kris tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua, “Permisi ibunda, pangeran” ucapnya menunduk hormat.


“Oya ada apa Kris?” tanya nenek.


“Begini saya hanya ingin memberitahu tentang yang kemarin” ucapnya sopan.


“Bagaimana?” tanya pangeran Cleo.


“Begini pangern Ibunda ratu... Setelah saya bertanya kepada para pengawal yang saya tugaskan mereka bilang memang sudah mengirimnya, tapi pangeran...” Kris menjeda ucapannya.


“Tapi apa?” tanya pangeran Cleo.

__ADS_1


“Tapi mereka tidak mengirimnya hingga desa, lantaran ada kendala di jalan, jadi mereka hanya menitipkannya pada salah satu pemuda yang kebetulan lewat” jelasnya menunduk.


“Menitipkannya?” tanya pangeran Cleo tak percaya bagaimana bisa para pengawal menitipkannya pada seorang pemuda desa.


“Iya pangeran”


“Kenapa mereka menitipkannya? Mereka yang di tugaskan untuk mengirimnya hingga benar-benar sampai ke desa” ucap pangeran Cleo berusaha untuk tidak marah.


“Maaf pangeran” ucap Kris semakin menunduk.


“Ya ampun bagaimana bisa seperti ini” pangeran Cleo memegang pelipisnya yang sedikit pusing, nenek mengusap bahu pangeran Cleo.


“Kumpulkan pengawal yang kau perintahkan dan suruh menghadap kepadaku” ucap tegas pangeran Cleo lalu segera pergi.


Nenek menghela nafas pelan melihat kepergian cucunya, nenek sebenarnya tak tega melihat cucunya, semenjak ayahnya sakit pangeran Cleo dan pangeran Xelo lah yang mengurus semuanya.


“Ibunda kalau begitu saya permisi” ucap Kris menunduk hormat lalu segera pergi, nenek pun segera menyusul pangeran Cleo.


Audrey dari balik tembok memperhatikan mereka, dia juga ikut sedih.


‘Aku harus melakukan sesuatu, aku harus cari tau kenapa kiriman dari kerajaan tidak di terima oleh rakyat yang di desa, dan siapa pemuda itu, pasti ada sangkut pautnya juga dengan pemuda itu’ batin Audrey lalu segera pergi.


***


Sekarang di hadapan pangeran Cleo dan pangeran Xelo sudah ada tiga pengawal.


“Tidak pangeran” ucap mereka serempak.


“Kalian tau apa kesalahan kalian?” tanya pangeran Cleo to the poin.


“Tidak pangeran” jawabnya bareng.


“KALIAN INI TIDAK BECUS MENJALANKAN TUGAS” bentak pangeran Xelo marah, pangeran Cleo sudah menceritakan semuanya pada adiknya, pangeran Xelo.


Tiga pangawal menunduk, “Maaf pangeran” ucapnya.


“MAAF? MAAF KAU BILANG, SELAMA INI KERAJAAN MEMBAYAR KALIAN UNTUK APA HAH? UNTUK KERJA, TAPI KALIAN MALAH MEMBERIKAN TUGAS KALIAN PADA SEORANG PEMUADA DESA, YANG BELUM TAHU SIAPA DIA SEBENARNYA, KALIAN DENGAN TENANG TANPA CURIGA MEMBERINYA BAHAN PANGAN DAN KEBUTUHAN LAINNYA YANG SEHARUSNYA BUAT RAKYAT DESA!!!” bentak pangeran Xelo mengeluarkan semua yanga ada di benaknya.


Semua nya terdiam kalau pangeran Xelo sudah marah, pangeran Cleo dan nenek pun hanya diam saja, membiarkan terlebih dahulu pangeran Xelo marah-marah.


“KARENA KALIAN SEMUANYA JADI SEPERTI INI!!!” teriak nya menggelegar kepenjuru kerajaan.


Nafas pangeran Xelo tidak beraturan dadanya naik turun, mata dan wajahnya sudah memerah pertanda dia sangat marah.


Nenek mengusap pundak pangeran Xelo dan membawanya untuk duduk, dan memberikan air minum, agar lebih tenang.

__ADS_1


Pangeran Cleo menghela nafas pelan lalu berdiri dari duduknya.


“Kalian sudah tau kesalahan kalian?” tanya pangeran Cleo dengan tenang.


“Iya pangeran, maafkan kami” ucapnya terus saja menunduk.


“Mengapa kalian bisa seperti itu?” tanya lagi pangeran Cleo.


“Waktu itu ketika sedang perjalanan ke desa kami ketiban oleh tanah lonsor dan bagian belakang kereta terkena tanah longsor, kami tidak bisa berjalan dan melewatinya, jadi kami memutuskan untuk mengeluarkan bahan pangan dan kebutuhan lainnya yang kami bisa ambil dari kereta, dan kami akan mengantarnya ke desa dengan berjalan kaki, tapi tiba-tiba seorang pemuda menghampiri kami dan membantu kami. Ketika kami akan berangkat pemuda tersebut mengatakan bahwa dia saja yang akan membawa bahan pangan ini ke desa dan kami di suruh pulang saja, awalnya kami menolaknya tapi pemuda itu memaksa dan kami pun akhirnya menyetujuinya karena kami juga melihat kondisi kami yang terluka karena terkena bebatuan dari tanah longsor tersebut, dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalan ke desa yang jaraknya masih jauh dari tempat kejadian, dan saya pun melihat kaki kawan saya yang terluka cukup parah” salah satu pengawal menjelaskan kronologi kenapa bisa terjadi.


Pangeran Cleo yang mendengarnya menghela nafas pelan.


“Kalian saja yang lemah hanya karena terkena bebatuan tidak bisa berjalan, kalian ini seorang prajurit, seorang prajurit itu seorang yang tangguh, kenapa kalian lemah hah?!” pangeran Xelo berdiri dan bersedekap dada.


Sedangkan tiga pengawal tersebut hanya menunduk saja.


“Xelo tenanglah, mereka kan baru menjadi seorang pengawal, mereka hanya menggantikan ayah mereka yang sudah tidak bekerja lagi” ucap nenek menenangkan cucunya.


Pangeran Xelo menghela nafas kasar, “Yang barukan hanya dua orang dan yang satunya dia sudah lama disini, seharusnya di tahu dong” ucap pangeran Xelo menatap salah satu pengawal yang lama.


“Maaf pangeran, saya hanya tidak tega saja meninggalkan mereka berdua dengan keadaan penuh luka” jelasnya terus menunduk.


“Tapi me-” ucapan pangeran Xelo terpotong oleh pangeran Cleo.


“Cukup Xelo!!! Tidak semuanya salah mereka, lagian mereka pun baru menjadi seorang pengawal dan umur mereka pun lebih muda dari umurmu” potong pangeran Cleo cepat menatap pangeran Xelo.


Pangeran Xelo mentap dingin kakanya, dan memalingkan wajahnya lalu segera duduk kembali.


“Baik saya maklumi keadaan kalian, tapi saya minta jangan pernah kalian ulangi lagi” ucap pangeran Cleo mentap para pangwal.


“Baik pangeran kami minta maaf” ucapnya bareng.


“Sekarang kalian cari pemuda tersebut” titah pangeran Cleo.


“Baik pangeran” ucapnya dan akan segera pergi tapi di tahan oleh Audrey.


“Ehh tunggu sebentar” ucap Audrey tiba-tiba.


“Ada apa Audrey?” tanya pangeran Cleo.


Audrey diam sejenak lalu menatap para pengawal, beralih lagi menatap pangeran Xelo, nenek, den terakhir menatap pangeran Cleo, Audrey menghela nafas pelan....


**To Be Continue....


***

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya.


Jangan lupa like dan kasih saran yang mendukung... Bye-bye**.


__ADS_2