Teleportasi Kedunia Kerajaan

Teleportasi Kedunia Kerajaan
Bab 22 : jalan-jalan


__ADS_3

Audrey menoleh dan melihat pangeran Cleo dan ada juga beberapa pengawal di belakangnya yang menghampiri dirinya.


Lalu Audrey menoleh lagi ke orang yang telah menabraknya tadi ternyata dia sudah pergi.


“Audrey apa kau tidak apa-apa?” tanya pangeran Cleo dan membatu Audrey untuk berdiri.


“Tidak apa-apa pangeran, makasih” jawabnya sembari membersihkan bajunya yang sedikit kotor.


“Audrey kau ini nakal sekali, kau kabur ya? Tadi pengawal memberi tau aku kalau kamu kabur dengan alasan untuk ke kamar mandi” ucap pangeran Cleo menatap kesal Audrey.


Audrey menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “I-iya pangeran, maaf aku cuman mau jalan-jalan sendiri saja ko, eh malah nyasar ke sini” elaknya agar tidak ketahuan oleh pangeran Cleo kalau dia sedang mencari seseorang.


“Kau ini nakal ya...” pangeran Cleo mencubit hidung Audrey.


“Aww... Pangeran sakit tau” Audrey cemberut sembari memegang hidungnya yang sedikit sakit.


Pangeran Cleo terkekeh pelan, “Iya maaf, suruh siapa nakal” ucap pangeran Cleo mengacak-acak rambut Audrey.


Audrey cengegesan, “Hehe... Iya pangeran, janji gak nakal lagi” ucapnya tersenyum.


Pangeran mengacak-acak lagi rambut Audrey, “Iya, ya sudah ayo pulang” ajak pangeran Cleo.


“Ayo”


Mereka kembali lagi ke temapt di mana kereta kudanya berada.


‘Untung saja pangeran Cleo percaya kalau tidak huh aku tak tau harus bagaimana nantinya... Huh dasar dua pengawal tadi mulutnya ember sekali minta di kasih solatipya’ batin Audrey lega dan kesal sekaligus.


***


Mereka kini sudah sampai lagi di kerajaan, Audrey dan pangeran Cleo segera turun.


Nenek yang melihatnya segera menghampiri mereka, “Kalian dari mana saja?” tanya nenek.


“Kami habis dari desa nek” saut pangeran Cleo.


“Ohh ya bagaimana keadaan di desa?” tanya nenek lagi.


“Lebih baik dari sebelumnya nek” jawab pangeran Cleo.


“Syukurlah” saut nenek.


Tiba-tiba datang pangeran Xelo menghampiri mereka.


“Ekhemm” dehemnya.


Semua menoleh ke arah pangeran Xelo yang berdiri di samping Audrey.


”Audrey, kau dari mana, aku sedari tadi mencarimu?” tanya pangeran Xelo.


“Habis ikut pengeran Cleo dari desa” jawabnya tersenyum.


Pangeran Xelo mengangguk sembari melirik sekilas pangeran Cleo.


“Ohh ya ada apa pangeran mencariku? Tumben sekali” tanya balik Audrey.


“Tidak ada, ohh ya bagaimana kalau nanti malam kita pergi jalan-jalan” ucap pangeran Xelo menatap Audrey.


“Benarkah... Ayoo aku mauu” seru Audrey semangat.


Pangeran Xelo tersenyum senang, tapi setelah itu senyumnya menjadi datar lagi.


“Kita ajak pangeran Cleo ya” sautnya tersenyum.


“Huh... Terserah kau saja” ucapnya memperlihatkan wajah datarnya.


Sedangkan pangeran Cleo terkekeh melihat wajah adiknya dan nenek menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.


“Terimakasih pangeran, baik banget dehh” ucap Audrey sembari mencubit pipi pangeran Xelo.


Pangeran Xelo hanya diam saja, nenek dan pangeran Cleo yang melihatnya sangat aneh, biasanya pangeran Xelo jika ada yang menyentuhnya pasti akan marah tapi kali ini tidak, dia diam saja.


“Aneh sekali” gumam pangeran Cleo.


Audrey terus saja mengkuel-kuel pipi pangeran Xelo, sangat gemas pikirnya.


“Sudah hentikan” pangeran Xelo memegang tangan Audrey dan melepaskannya dari pipinya.


Audrey terkekeh, “Iya maaf pangeran” ucap Audrey tersenyum.


Pangeran Xelo hanya berdehem saja sebagai jawaban.

__ADS_1


‘Ihh bisa-bisa nya dia melakukan seperti itu pada pangeran Xelo, jujur saja aku cemburu melihatnya’ batin seseorang yang ternyata sedang memperhatikan mereka sedari tadi.


***


Malam harinya, seperti dengan janji pangeran Xelo pada Audrey tadi siang untuk mengajaknya jalan-jalan.


“Apa kau suka Audrey?” tanya pangeran Xelo.


Sekarang mereka sedang berada di pasar, seperti pasar malam. Begitu banyak penjual, bermacam-macam dagangan.


Audrey mengangguk antusias, “Iyaa, aku sukaa” sautnya tersenyum senang.


Pangeran Xelo dan pangeran Cleo juga tersenyum senang.


“Pangeran... Apa itu? Kenapa banyak orang ya?” tanya Audrey ketika dia melihat orang berkerumun.


“Ohh itu, ada yang sedang atraksi jadi semua orang melihatnya” jawab pangeran Cleo.


Audrey mengangguk paham, “Kita kesana yuu” Audrey segera menarik tangan kedua pangeran agar mendekat, dan melihat atraksi yang di bicarakan tadi oleh pangeran Cleo.


“Permisi... Permisi...” Audrey menerobos beberapa orang.


“Wahh... Keren” ucap Audrey ketika dia sudah berada di paling depan.


Atraksi itu menunjukan 2 orang penari, wanita dan lelaki yang sedang menari khas tradisi mereka.


Audrey terus saja melihatnya, dia begitu kagum dengan gerakan si wanita yang begitu lihai dalam memperagakan tariannya.


Sedangkan kedua pangeran, pangeran Cleo dia diam saja seperti halnya dengan Audrey hanya melihat saja, dan pangeran Xelo dia bersedekap dada sebenarnya dia malas untuk melihat pertunjukan seperti itu.


“Sudah yu, kita pergi saja” ucap pangeran Xelo yang mulai bosan.


“Tunggulah sebentar pangeran” saut Audrey tanpa melihat lawan bicaranya.


Pangeran Xelo mendengus kesal, “Kita lihat yang lain saja” pangeran Xelo terus saja memaksa Audrey agar segera pergi dari kerumunan seperti ini yang membuatnya tak nyaman.


“Iya setelah ini kita lihat yang lain” saut Audrey sembari bertepuk tanggan dan bersorak senang.


Pangeran Xelo menghela nafas kasar, pangeran Cleo yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sabarlah, kau yang mengajaknya kesini tujuannya buat Audrey senangkan, sekarang lihatlah Audrey begitu senang dengan melihat atraksi” seru pangeran Cleo.


Pangeran Xelo melihat Audrey yang terus saja bertepuk tangan dan tersenyum senang, tanpa sadar dia ikut tersenyum.


***


Setelah cukup lama menonton akhirnya pangeran Xelo bisa bernafas lega karena atraksinya telah selesai.


“Yaahh udahan” ucap Audrey lesu.


“Sudah ayo, kita lihat yang lain lagi, masih banyak yang lebih seru dari tarian tadi” saut pangeran Xelo menarik tangan Audrey pergi.


Mereka akhirnya berjalan-jalan lagi dan melihat-lihat para penjual, “Kau mau apa?” tanya pangeran Xelo.


“Hmmm... Mau apa yaa” Audrey berpikir sembari matanya menatap beberapa penjual.


“Aku mau itu, bolehkan?” Audrey menunjuk penjual yang menjual makanan manisan.


“Tapi ini sudah malam, nanti gigi mu sakit” saut pangeran Cleo memperingati.


“Tapi aku mau itu, pangeran Xelo bolehkan?” Audrey menatap pangeran Xelo dengan menunjukan puppy eyes nya.


Pangeran Xelo menatap Audrey dengan tatapan yang entahlah, “Huhh, baiklah kau boleh membelinya” ucap pangeran Xelo.


“Yeay... Terimaksaih pangeran” seru Audrey dan segera menghampiri penjual manisan tersebut


“Tapi-” pangeran Cleo ingin menahannya tapi segera di hadang oleh pangeran Xelo.


“Biarkan saja, lagian dia membeli manisan dari uangku bukan uangmu” pangeran Xelo menatap pangeran Cleo datar lalu segera menyusul Audrey.


Pangeran Cleo hanya bisa menghela nafas pelan dan segera menyusul mereka berdua.


***


Audrey melihat-lihat manisan tersebut, matanya berbinar ketika melihat makanan yang manis-manis.


“Kau mau yang mana, pilihlah sesuka mu, tapi jangan langsung di makan semua sisakan untuk besok, agar gigi mu tidak sakit” ucap pangeran Xelo menatap Audrey.


Audrey tersenyum senang, “Benarkah pangeran? Aaa terimakasih... Aku janji tidak akan menghabiskannya malam ini” seru Audrey senang.


Pangeran Xelo tersenyum dan mengangguk, “Pintar” sautnya.

__ADS_1


“Buuu... Aku mau yang ini, yang ini, yang ini, dan yang ini, lalu yang ini, ohh satu lagi yang ini” ucap Audrey menunjuk satu persatu manisan tersebut.


Pangeran Xelo dan pangeran Cleo di buat melongo oleh Audrey, sedangkan si ibu penjual segera membawa apa yang tadi Audrey tunjuk.


“Apa kau suka dengan makanan manis?” tanya pangeran Xelo menatap Audrey.


“Iyaa... Aku suka banget sama makanan manis, waktu aku kecil dulu biasanya ayah kalau sehabis pulang kerja pasti membawakanku makanan manis atau coklat, tapi setelah itu aku di marahi oleh ibuku, karena keseringan makan-makanan manis, jadi setelah itu aku jarang lagi makan-makanan manis, setelah ibu tiada aku jadi sering makan-makanan manis lagi tapi... Setelah itu tidak ada lagi yang memarahiku...” Audrey menatap kosong kedepan, dari sorot matanya pangeran Xelo bisa melihat bahwa ada kesedihan dan kerinduan yang mendalam.


“Emm... Audrey ini manisanmu” pangeran Cleo memecahkan keheningan dan menyodorkan bingkisan yang isinya manisan yang telah Audrey pesan.


Audrey tersadar dan segera menerima bingkisan tersebut, “Ohh iya... Terimakasih” ucapnya tersenyum.


“Berapa harganya?” tanya pangeran Xelo pada si ibu penjual.


“Hanya 2 perak saja pangeran” jawabnya ramah.


Lalu pangeran Xelo mengambil uang koin perak dari saku bajunya dan memberikannya pada ibu penjual.


“Terimakasih pangeran... Senang bisa bertemu anda malam ini” ucapnya tersenyum ramah.


Pangeran Xelo hanya berdehem saja, sedangkan pangeran Cleo membalas senyuman si ibu penjual, dan Audrey juga sama membalas senyumannya.


Lalu mereka segera pergi dan melanjutkan jalan-jalan mereka lagi.


Ketika sedang asik jalan-jalan sembari memakan manisan tiba-tiba mereka di kagetkan oleh teriakan seorang wanita.


“Aaaaa.... Tolong ada maling”


“Pangeran ada maling” saut Audrey yang kaget.


“Pangeran ko malam-malam ada maling sih?” tanya Audrey bingung.


“Iya, mereka tidak malam atau siang pasti akan maling, apalagi sedang ramai seperti ini, mungkin bagi mereka sudah kebiasaan dan tradisinya” jelas pangeran Cleo.


Audrey mengangguk paham sembari memasukan manisan ke dalam mulutnya.


BRUKK


Tiba-tiba seseorang menabrak Audrey hingga manisan yang ada di tangan Audrey terjatuh semua.


“Yahh tumpah...” Audrey melihat manisan yang sudah berceceran di tanah.


“Tangkap malingnya” teriak seorang pria sembari menunjuk orang yang tadi sudah menabrak Audrey.


Maling tersebut segera bangun dan akan berlari tapi segera di tahan oleh pangeran Cleo.


“Pengawal bawa maling ini” pangeran Cleo memberikan maling tersebut kepada pengawal yang menjaga mereka.


“Baik pangeran” sautnya dan mengambil alih maling tersebut.


Beberapa orang menghampiri mereka, “Terimaksih banyak pangeran, anda telah berhasil menangkap malingnya” ucap salah satu rakyat


“Iya pangeran terimakasih banyak, akhirnya maling nya ketangkap juga, sudah lama dia tidak ketangkap, karena sangat cepat berlarinya, dan sekarang berkat pangeran malingnya ketangkap juga” saut yang lainnya juga mengucapkan terimaksih.


“Iya sama-sama, sudah kalian tenag saja sekarang sudah tidak ada lagi yang akan maling” ucap pangeran Cleo tersenyum.


“Iya pangeran... Sekali lagi terimaksih” ucapnya tersenyum juga.


“Kembalika ini punyaku, kalau kau mau belilah” ucap seorang pria dan mengambil barang miliknya dari tangan sang maling.


“Huh dasar kau ini merepotkan saja” ucapnya lagi.


“Pangeran terimakasih, berkat kalain barang milikku tak jadi di ambil olehnya” ucapnya berterimakasih.


“Iya sama-sama” jawab pangeran Cleo.


“Ya sudah sekarang kalian bubar, malingnya biar kami yang urus” ucap pangeran Xelo.


“Terimakasih pangeran” sautnya dan semua orang pun membubarkan dirinya.


“Pengawal urus dia, dan bawa ke penjara” pangeran Xelo memperintahkan pengawal yang membawa maling, sedangkan sang maling hanya pasrah saja katika di bawa pergi.


“Baik pangeran” pangawal tersebut segera membawa maling pergi.


“Ya sudah yu... Kita juga pulang” ajak pangeran Cleo dan berjalan menuju kereta kudanya


Pangeran Xelo mengikutinya di belakang sedangkan Audrey...


**To Be Continue....


***

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca dan selamat membaca di bab selanjutnya, jangan lupa di like ya.... Bye-bye**..


__ADS_2