
“Siapa dia?” tanya Audrey menatap pangeran Xelo.
“Dia begitu dekat dangan kita, dan jika kau tau kau tak akan percaya” jawab pangeran Xelo semakin membuat Audrey penasaran.
Sejenak Audrey berpikir, setelah cukup lama berpikir Audrey menatap pangeran Xelo dengan mata yang membulat sempurna.
Pangeran Xelo tersenyum, “Apakah kau sudah mengetahuinya sekarang?” tanya pangeran Xelo yang juga menatapnya.
Audrey mengangguk pelan sebagai jawaban, “Tapi pangeran, apa kau yakin bahwa dia pelakunya?” tanya Audrey.
“Iya, aku sangat yakin, pengawal sendiri yang bilang padaku” jawab pangeran Xelo yakin.
Audrey menunduk sembari menggelengkan kepalanya tak percaya, “Aku tak percaya bahwa dia pelakunya, wajahnya sangatlah polos mana mungkin dia yang melakukannya” ucap Audrey yang masih tak percaya.
“Ya sudah kalau kau tak percaya, tidak papa” saut pangeran Xelo santai.
Audrey menghela nafas pelan, “Pangeran tujuan kita kesini untuk mencarinya, dan sekarang kita sudah menemukannya bahkan sudah mengetahui komunitas orang-orang tersebut, lantas kenapa kita tidak menangkapnya?” tanya Audrey.
“Kalau kita menangkapnya percuma saja, karena tuan mereka masih berkeliaran di luar sana, dan kita pun tidak tau siapa tuan atau dalang di balik semua masalahnya” jawab pangeran Xelo.
“Terus apa yang harus kita lakukan?” tanya Audrey lagi.
“Audrey musuh kita itu pintar jadi kita harus bermain pintar lagi” jawab pangeran Xelo.
“Dan kita akan lihat saja dulu apa yang akan mereka lakukan, dan memantau mereka, nanti aku akan memperintahkan orang kerajaan untuk memata-matai mereka” lanjut pangeran Xelo.
“Sampai kapan?” tanya lagi Audrey.
“Sampai tuan mereka keluar atau mereka sudah melakukan tindakan keterlaluan” pangeran Xelo menatap tajam ke arah depan.
“Huh... Ya sudah, kau tidurlah” ucap Audrey santai.
Pangeran Xelo menatap Audrey, “Apa lihat-lihat?” tanya Audrey.
“Tidak ada” pangeran Xelo bangkit dan akan pergi, tapi tangannya di cekal oleh Audrey.
“Pangeran kau mau tidur di mana?” tanya Audrey menatap pangeran Xelo.
“Aku mau tid-” ucapan pangeran Xelo terpotong oleh Audrey.
“Tidur saja di sini” ucap Audrey yang membuat pangeran Xelo kicep dua kali.
Audrey berdecak kesal melihat pangeran Xelo terdiam, “Ck, kau bisa tidur di sini, tapi tidak denganku kau pasti berpikir kita akan tidur bareng lagi” ucap Audrey.
“Lah emang, kan kau tidur di sini, berarti kalau kau menyuruhku tidur di sini juga ya kita tidur bareng” saut pangeran Xelo membuat Audrey memutar mata malas.
“Maksudku kau tidur di sini, biar aku tidur dengan Soo Yun, ck... Kau ini” ucap Audrey malas.
“Ohhh, bilang dong dari tadi” ucap pangeran Xelo sembari menjentrikan jarinya di kening Audrey.
__ADS_1
“Aws... Sakit tau” ringisnya menatap kesal sang pelaku.
Pangeran Xelo hanya terkekeh pelan, “Ya sudah sana, aku mau tidur” usir pangeran Xelo.
“Ohh ngusri, okeh fine, bye” ucap Audrey lalu berlalu pergi dengan perasaan kesal.
Pangeran Xelo yang melihatnya lagi dan lagi terkekeh pelan, “Aneh” gumamnya lalu berbaring di kasur.
***
Hari demi hari berlalu, kini keadaan di desa semakin membaik, tanah dan air sudah boleh di gunakan hanya saja tunggu air hujan turun, dan kedekatan pangeran Xelo dengan Audrey pun semakin dekat.
Tak terkecuali dengan keadaan kerajaan Magixion dan raja Laksamana, sudah semakin membaik.
Sekarang pangeran Xelo dan Audrey sedang berada di tempat penanaman hidroponik.
“Pangeran lihatlah sudah ada yang berbuah” ucap Audrey senang.
Pangeran Xelo ikut tersenyum melihat Audrey yang terus memperhatikan tanaman yang sudah berbuah.
“PANGERAN XELO” teriak seseorang dari arah belakang mereka dan langsung memeluk pangeran Xelo.
“Pangeran Xelo kau kemana saja, aku merindukanmu” ucap putri Laras.
Ya siapa lagi kalau bukan putri Laras yang berani memeluk pangeran Xelo di depan umum.
“Ishh, lepaskan” pangeran Xelo menghempaskan tangan putri Laras yang memeluk perutnya.
“Lepaskan, aku tak suka di peluk” ucap pangeran Xelo menghempas kasar lagi lengan putri Laras.
Audrey segera pergi tanpa menghiraukan mereka berdua, pangeran Xelo yang melihatnya menatap putri Laras kesal.
“Kenapa kau kesini? Dan tau dari mana aku di sini?” tanya pangeran Xelo
“Aku kesini karena aku kangen sama kamu, dan aku tau dari pangeran Cleo” jawabnya menatap pangeran Xelo.
Pangeran Xelo menghela nafas kasar, “Lebih baik kau kembali lagi” ucap pangeran Xelo ketus dan menatap dingin putri Laras.
Lalu segera pergi menyusul Audrey tak menghiraukan teriakan putri Laras yang memanggilnya.
Pangeran Xelo melihat Audrey yang sedang bersenda gurau dengan Soo Yun dan juga Tian, dan segera menghampiri mereka.
Pangeran Xelo berdehem, dan mereka semua menatap pangeran Xelo kecuali Audrey yang tak menoleh.
“Eh ada pangeran” ucap Soo Yun tersenyum.
“Bolehkah aku bergabung?” tanya pangeran Xelo.
“Tentu saja boleh” jawab Soo Yun tersenyum.
__ADS_1
Pangeran Xelo segera duduk di sebelah Audrey, Audrey menggeserkan tubuhnya menjauh dari pangeran Xelo, sedangkan pangeran Xelo menghela nafas pelan.
“Pangeran... Kau meninggalkanku saja” teriak putri Laras sembari menyingkapi bajunya, karena terkena oleh tanah.
Putri Laras segera duduk di tengah-tengah antara pangeran Xelo dan Audrey. Pangeran Xelo memutar bola matanya malas.
“Ehh ada putri Laras juga” saut Soo Yun tersenyum.
“Iya” jawab putri Laras tersenyum tipis.
Untuk beberapa saat hening tidak ada yang membuka suara sama sekali, rasanya canggung.
“Soo Yun bagaimana jika makan malam nanti aku yang masak, kau kan sudah lama tidak makan masakanku” ucap Tian memecahkan keheningan.
“Tentu saja boleh” saut Soo Yun senang.
“Kau mau makan apa, biarku masakan?” tanya Tian.
“Apa saja, asal kau yang memasak” saut Soo Yun terkekeh.
“Baiklah”
“Tian kau bisa memasak?” tanya Audrey menatap Tian.
“Iya nona, aku bisa memasak” jawabnya.
“Wahh hebat sekali, kau lelaki tapi bisa memasak. Aku juga bisa memasak, tak kalah enaknya masakanku dengan masakan Restorant bintang lima” ucap Audrey.
“Benarkah?” tanya Tian.
“Heem, nanti kau juga harus mencoba masakanku, dan aku akan mencoba masakanmu” jawab Audrey.
“Nona Restorant bintang lima itu apa?” tanya Soo Yun.
“Kalau di sini seperti kedai makan, tapi bangunannya besar” jawab Audrey dan Soo Yun mengangguk.
Sedangkan pangeran Xelo dan juga putri Laras hanya diam saja, karena tidak tau mau bilang apa.
“Baiklah, berarti nanti malam aku dan Tian akan masak, kamu harus mencobanya Soo Yun” ucap Audrey lagi.
“Boleh” sautnya tersenyum, dan Tian pun tersenyum.
Pangeran Xelo menatap tak suka kepada seseorang, ‘Dia sangat menyebalkan, gantengan juga aku’ batinnya kesal.
**To Be Continue...
***
Terimakasih sudah mampir dan selamat membaca di bab selanjutnya.
__ADS_1
Maaf up nya telat. Yang minta double up, nanti akan aku usahakan, In Syaa Allah.
Oh ya, follow juga ya ig aku @nllaaaaaa_18, terimakasih bye-bye**...