
Seperti biasa... Di dalam sel penjara Audrey sangat bosan, dia tidak memiliki kegiatan lain selain bersantai. Seperti saat ini Audrey sedang duduk sembari menulis random di atas aspal menggunakan batu krikil.
Ketika sedang asik-asiknya menulis tiba-tiba saja nenek memanggil Audrey.
“Audrey...”
Audrey menoleh ke arah nenek, dia tersenyum setelah itu segera menghampiri nenek.
“Iya nek, ada apa?” tanya Audrey.
Nenek tersenyum, “Tidak ada apa-apa, nenek hanya ingin melihatmu saja, bagaimana kabarmu nak?” tanya nenek.
“Baik nek, Audrey baik-baik saja... Oh ya nek, Audrey denger di desa sedang ada masalah?” tanya Audrey menatap nenek.
“Iya, rakyat desa sedang mengalami kelaparan” jawab nenek sendu.
“Kenapa bisa nek?” tanya Audrey lagi.
Nenek menghela nafas pelan setelah itu nenek segera menceritakan semuanya pada Audrey apa penyebabnya.
Audrey yang mendengarnya merasa jengkel pada pelakunya dan juga kasihan pada rakyat desa.
“Kasihan sekali rakyat desa, ihh siapa sih yang melakukannya dia sangatlah jahat, tak memiliki hati sama sekali, kalau di dunia Audrey ini sudah melanggar pasal 367 ayat (1) KUHP atau... Pasal 363 ayat (1) ya, hmmm Audrey lupa hehe” ucap Audrey cengegesan, sedangkan nenek hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Apakah pelakunya sudah di temukan nek?” tanya Audrey.
“Belum, dia sangat sulit untuk di cari” jawab nenek menunduk.
Audrey merasa kasihan pada nenek, “Nek jangan sedih, andai saja Audrey tidak berada di sini mungkin Audrey akan membantu mencari palakunya” ucap Audrey menggenggam tangan nenek dari sela-sala jeruji besi.
“Tenang saja kau akan segera bebas” saut pangeran Xelo tiba-tiba yang sudah ada di belakang nenek.
“Pangera...” gumam Audrey menoleh ke arah pangeran Xelo.
__ADS_1
Pangeran Xelo tersenyum tipis sebelum berlalu pergi. Audrey dan nenek melihat punggung pangeran Xelo yang semakin menjauh.
“Maksudanya apa ya nek?” tanya Audrey yang terus menatap pangeran Xelo.
“Entahlah... Ya sudah Audrey nenek pergi dulu” ucap nenek menatap Audrey.
“Iya nek” saut Audrey tersenyum.
Nenek membalas senyuman Audrey lalu segera berlalu pergi.
***
Di sisi lain...
Pangeran Xelo melihat ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan sahabatnya, raja Agung.
Pangeran Xelo menghampiri mereka berdua, “Permisi ayah.... Raja” ucap pangeran Xelo menunduk hormat.
“Iya Xelo, ada apa?” tanya raja Laksamana mentap sang putra bungsu.
Raja Laksamana diam, “Tentang apa?” tanyanya setelah terdiam cukup lama.
“Tentang bukti yang waktu itu Cleo minta waktu tiga hari tapi tidak menemukannya, dan sekarang Xelo yang sudah menemukannya” jawab pangeran Xelo sembari mengeluarkan gelang berbandul bulan sabit dari saku celananya.
Raja Laksamana melihat gelang tersebut lalu mengambilnya, “Bukankan ini gelang yang di pakai khusus untuk para pelayan, mengapa bisa ada di kamu, Xelo?” tanya raja Laksamana bingung, sedangkan raja Agung hanya diam saja.
“Iya ayah... Itu gelang khusus untuk pelayan, dan Xelo menemukannya di jendela belakang kamar Audrey yang langsung mengarah pada taman dan tempat biasa Xelo memanah” jelas pangeran Xelo mentapa sang ayah yang juga mentapnya, raja Laksamana mengangguk paham.
“Emm maaf sahabatku, tapi apa hubungannya dengan masalah gadis tersebut? Maaf aku bukannya ingin ikut campur” raja Agung yang sedari tadi diam pun angkat bicara juga.
“Maaf raja, tapi sepertinya memang ada hubungannya, karena kenapa gelang ini bisa ada di jendela belakang kamar Audrey jika dia tidak membuka jendela tersebut, mungkin anda paham raja” ucap pangeran Xelo.
“Tapi mungkin saja dia tidak sengaja menjatuhkannya” saut raja Agung.
__ADS_1
“Mungkin, tapi saya ingin tau lebih dalam lagi dan lebih jelas” ucap pangeran Xelo menatap raja Agung.
Raja Agung mengangguk paham, “Oh ya sudah, tapi maaf saya bukannya ingin ikut campur urusan anda” ucapnya menatap balik pangeran Xelo dan tersenyum tipis.
“Sudah-sudah, ayah akan panggil semua para pelayan agar di ketahui ini gelang milik siapa?” ucap raja Laksamana.
Lalu raja Laksamana segera memperintahkan salah satu pengawal agar memanggil semua para pelayan dan juga nenek beserta pangeran Cleo.
“Pengawal segera panggil para pelayan kesini, ingat semuanya dan juga panggil nenek beserta pangeran Cleo, segera!” titahnya tegas pada pengawal tersebut.
“Siapp yang mulia” sautnya lalu segera melakukan apa yang raja Laksamana perintahkan tadi.
Tak berselang lama semua pelayan dan juga nenek serta pangeran Cleo sudah berkumpul.
Nenek menghampiri raja Laksamana, “Laksamana ada apa ini, kenapa semua pelayan kau panggil?” tanya nenek.
“Pangeran Xelo yang akan menjelaskannya” jawabnya.
Nenek segera menghampiri Xelo, dan menanyakan hal yang sama, “Pangeran ada apa ini?” tanya nenek.
“Nanti nenek akan tau” ucap pangeran Xelo menatap semua pelayan yang sudah berbaris berbentuk vertikal (garis lurus).
Nenek dan juga pangeran Cleo menatap bingung ke arah pangeran Xelo yang jalan menghampiri para pelayan.
“Ulurkan semua tangan kalian” ucap dingin pangeran Xelo.
Semua pelayan pun mengulurkan tangannya, pangeran Xelo menghampiri dan melihat semua tangan pelayan dari ujung sampai ujung, hingga pangeran Xelo berhenti di salah satu pelayan, pangeran Xelo menatap pelayan tersebut yang menunduduk.
“Kau...”
**To Be Continue.....
***
__ADS_1
Maaf ya baru up lagi, karena ada kendala sedikit... tapi In Sya Allah author akan usahakan sering-sering up ko...
Terimakasih yang udah membaca dan selamat membaca di bab selanjutnya.... Besok selamat berpuasa ya bagi yang berpuasa... Semangat terus... Bye-bye**...