
Sedangkan Audrey masih diam saja sembari terus menatap manisan nya yang sudah terjatuh.
Pangeran Xelo sadar kalau Audrey tidak mengikutinya jadi dia segera menghampiri Audrey.
“Hey... Kenapa?” tanya pangeran Xelo menatap Audrey.
“Hiks...” Audrey mulai menjatuhkan air matanya.
“Hey... Kenapa nangis?” pangeran Xelo menghapus air mata Audrey yang terjatuh di pipi nya yang mengembung.
“Hiks... Manisannya... Jatuh... Hiks” ucap Audrey sembari menunjuk ke arah manisannya.
Pangeran Xelo mengikuti arah tunjuk Audrey lalu dia terkekeh pelan, “Sudah jangan nangis lagi, nanti kita beli yang baru” ucap pangeran Xelo menghapus kembali air mata Audrey dengan lembut.
Audrey menatap pangeran Xelo dengan mata yang sedikit memerah, “Benarkah?” tanya Audrey.
“Iya, ya sudah jangan nangis lagi, sebelum pulang kita beli manisan yang banyak, untukmu semua” ucap pangeran Xelo tersenyum.
Audrey juga ikut tersenyum, “Terimaksaih pangeran, kau memang yang terbaik” saut Audrey dan tanpa sadar dia memeluk pangeran Xelo.
Pangeran Xelo kaget, ini kali pertamanya dia di peluk tiba-tiba oleh orang lain selain keluarganya, bahkan putri Laras yang notabenya adalah tunangannya pun dia tak pernah memeluknya dan pangeran Xelo pun enggan untuk di peluk selain keluarganya. Tapi kali ini beda, pangeran Xelo bahkan tidak memberontak dan malah membalas pelukannya.
‘Kenapa denganku?’ batin pangeran Xelo bingung.
Audrey segera melepas pelukannya, “Hehe maaf pangeran, reflek” cerngir Audrey tanpa dosa pangeran Xelo hanya menanggapi dengan tersenyum saja.
“Ya sudah ayo kita beli lagi” Audrey segera menarik tangan pangeran Xelo untuk membeli lagi manisan.
Ternyata sedari tadi pangeran Cleo belum benar-benar pergi ke kereta kuda melainkan meliahat mereka berdua dari kejauhan.
‘Mungkin aku yang harus mengalah’ batinnya tersenyum tipis lalu segera pergi menuju ke kereta kuda.
***
Setelah membeli manisan Audrey dan pangeran Xelo segera menuju ke kereta kuda, karena sedari tadi mereka sudah di tunggu.
“Kalian kemana saja sih?” tanya pangeran Cleo sedikit kesal karena sudah lama menunggu.
“Hehe maaf pangeran, tadi kami beli manisan lagi, pangeran mau?” Audrey menawarkan manisan kepada pangeran Cleo.
Pangeran Cleo menggeleng sebagai jawaban, Audrey mengangguk paham.
“Pak jalankan kuda nya, kita pulang” ucap pangeran Cleo pada pak kusir yang mengendarai kuda.
“Baik pangeran” kereta kuda yang mereka tumpaki pun membelah melewati kerumuanan orang-orang di tempat tersebut yang semakin malam semakin banyak pengunjung yang datang.
***
Di pagi harinya...
“Selamat pagi” Audrey membuka jendela kamarnya dan menghirup udara segar.
Audrey melihat pangeran Xelo dari jendela kamarnya, pangeran Xelo sedang memanah, ya seperti yang kalian ketahui kalau pangeran Xelo sangat suka memanah.
“Pangeran Xeloo...” teriak Audrey melambaikan tangan dan tersenyum.
Pangeran Xelo menoleh ke arah Audrey, dia juga tersenyum dan membalas lambaian tangan, setelah itu dia fokus kembali dengan panahannya.
“Kalau di lihat-lihat pangeran Xelo gak dingin-dingin banget” gumam Audrey senyum-senyum sendiri melihat pangeran Xelo.
‘Ahh andai dia belum bertunangan’
‘Ihhhh gakk... Apaan sih kamu Audrey... Gak, gak boleh... Kamu harus pikirin agar segera kembali lagi ke dunia asalmu’ batin Audrey menggelengkan kepalanya.
Ya selama ini Audrey terus mencoba untuk kembali lagi ke dunia asalnya menggunakan kalung liontin yang nenek kasih, tapi dia tidak bisa walau pun sudah beberapa kali mencobanya.
‘Oh iya ya... Selama ini aku tidak memikirkan itu, kenapa aku tidak bisa kembali lagi ya? Padahal kan sudah ku coba’ batin Audrey bertanya-tanya.
‘Apa mungkin ada sesuatu yang menyebabkan aku tidak bisa kembali lagi? Ahh bisa jadi... Aku harus cari tau’ Audrey terus memikirkannya hingga ia dikagetkan oleh suara hentakan kaki para pengawal yang menghampiri pangeran Xelo.
Audrey melihatnya dengan seksama, mereka seperti membicarakan hal yang penting, “Apa yang mereka bicarakan?” gumam Audrey pelan.
Audrey melihat ekspresi pangeran Xelo yang kelihatannya begitu terkejut, tapi entah karena apa dia pun tidak tau.
__ADS_1
“Kenapa pangeran Xelo wajahnya terkejut seperti itu?” tanya Audrey pada dirinya sendiri.
“Ehh mereka mau pada kemana ko buru-buru” gumam Audrey ketika mereka berlari dengan terburu-buru.
Audrey keluar kamarnya dia mencari seseorang untuk di tanya, tapi dia tidak melihat siapa-siapa, semua orang tidak ada dan mendadak sepi.
“Pada kemana mereka semua?” Audrey terus menelusuri lorong kerajaan yang menghubungkan ruang tengah kerajaan dengan kamarnya.
Hingga dia mendengar suara keributan dari luar kerajaan, “Suara ribut apa itu? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Audrey bingung.
Audrey menghampiri suara keributan tersebut, dan betapa kagetnya dia...
“Astaga ada apa ini?”
Audrey mendekati pangeran Xelo yang sedang berdiri di samping pangeran Cleo.
“Pangeran ada apa ini, kenapa semua rakyat memberontak?” tanya Audrey melihat para rakyat desa berdemo ke kerajaan, entah karena apa.
“Semua rakyat megira kalau ayah tidak adil” jawab pangeran Xelo.
Audrey mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan maksud pangeran Xelo.
“DASAR RAJA TIDAK ADIL... KAMI PARA RAKYAT KELAPARAN TAPI TIDAK ADA YANG MENGIRIM KAMI MAKANAN DARI KERAJAAN!!!”
“KAMI LAPAR KALIAN SENANG, INI SEMUA TIDAK ADIL!!!”
“TIDAK BECUS SEBAGAI SEORANG RAJA, KAMI TIDAK AKAN PERCAYA LAGI PADA RAJA SEPERTIMU!!!”
“KAU TIDAK PANTAS DI KATAKAN SEBAGAI SEORANG RAJA!!!”
“SEORANG RAJA YANG TIDAK ADIL DAN TIDAK DAPAT DI PERCAYA!!!”
“KERAJAAN MAGIXION KERAJAAN TERBURUK, YANG HANYA MEMENTINGKAN KEBUTUHAN KERAJAAN NYA SENDIRI TANPA MEMIKIRKAN RAKYATNYA!!!”
Teriakkan demi teriakan dari para rakyat di luar gerbang kerajaan yang sedang di tahan oleh para pengawal.
Raja yang mendengarnya menahan amarah, sekarang amarahnya sudah di ubun-ubun dan siap di ledakan.
“Tenangkan diri kalian, bicarakan ini dengan baik-baik, jangan bermain hakim sendiri” teriak raja Laksamana pada semua rakyat.
Tapi ucapan raja Laksamana tidak di dengar sama sekali oleh para rakyat.
“UUUU... KAMI GAK AKAN PERCAYA LAGI PADA RAJA SEPERTIMU!!!”
“Awss...” tiba-tiba Audrey meringis kesakitan.
Pangeran Xelo melihat Audrey, dia kaget ternyata Audrey terkena lemparan batu dan mengenai keningnya hingga berdarah.
“Audrey...” pangeran Xelo menghampiri Audrey.
“Audrey keningmu berdarah” panik pangeran Xelo dan segera mengangkat tubuh Audrey ala bridle style masuk ke dalam.
Pangeran Cleo yang melihatnya segera menghampiri ayahnya, “Ayah lebih baik kita bubar kan mereka saja, tidak akan bisa berbicara dengan kepala dingin, rakyat sepertinya sudah sangat marah” ucap pangeran Cleo.
Raja Laksamana melihat rakyat yang terus memberontak, lalu ia mengangguk.
“Semuanya bu-... Ahh” raja Laksamana memegang dadanya dan bersimpun terjatuh ke lantai.
“Ayahh!!!” pangeran Cleo segera menolong ayahnya.
“Ayah kau kenapa..... Pengawal bawa ayah masuk kedalam” titah pangeran Cleo pada pengawal.
Dua orang pengawal segera mengangkat raja Laksamana masuk ke dalam.
Pangeran Cleo menghela nafas kasar, “Ini sudah keterlaluan” ucapnya menatap para rakyat.
“KALIAN SEMUA BUBAR SEBELUM SA-” teriakan pangeran Cleo terhenti, dia kaget ketika ada anak panah yang melesat mengenai candi yang berada di atas gerbang kerajaan hingga pecah.
**PUSHH
PRANGG**
Candi tersebut pecah berkeping-keping, pangeran Cleo melihat pelakunya ternyata pangeran Xelo lah yang melakukannya.
__ADS_1
Semua rakyat pun yang tadinya memberontak mendadak terdiam. Pangeran Xelo maju satu langkah dan menghadap ke arah rakyat yang sudah tidak memberontak lagi.
“KALIAN SEMUA BUBAR SEBELUM SAYA MELEPASKAN ANAK PANAH KEPADA KALIAN!!!” teriak pangeran Xelo yang sudah sangat marah hingga tidak bisa ia pendam emosinya, berbeda dengan pangeran Cleo yang bisa menahan emosinya walau semarah apapun dirinya.
Semua pengawal segera membubarkan para rakyat ketika rakyat sudah tidak memberontak lagi dan ada kesempatan untuk mereka.
Semua rakyatpun akhirnya bubar walau masih dengan sumpah serpah yang masih di lontarkan mereka kepada kerajaan.
Pangeran Xelo segera masuk ke dalam dan di susul oleh kakanya, pangeran Cleo.
Pangeran Cleo melihat ayahnya, raja Laksamana yang sedang di obati oleh tabib dan pangeran Xelo di sampingnya, dan ada Audrey juga yang sedang di obati oleh salah satu pelayan wanita.
Pangeran Cleo menghampiri ayahnya, “Ayah apa kau baik-baik saja?” tanya pangeran Cleo duduk di samping kiri ayahnya sembari memegang tangan ayahnya.
Raja Laksamana tersenyum simpul sebagai jawaban.
“Yang mulia sepertinya terlalu banyak pikiran dan kecapean, beliau kurang istirahat yang cukup” jelas tabib yang memeriksa raja Laksamana.
“Dan ini berpengaruh kepada panyakit jantungnya” lanjutnya menjelaskan.
Pangeran Cleo dan Pangeran Xelo yang mendengarnya begitu sedih dan khawatir, Audrey yang mendengarnya juga ikut sedih, dia bisa melihat kesedihan dan kekhawatiran di wajah kedua pangeran.
Tiba-tiba nenek datang menghampiri mereka, “Laksamana, ada apa denganmu?” tanya nenek khawatir.
Pangeran Xelo minggir dan mempersilahkan neneknya untuk duduk di samping ayahnya.
“Ya ampun... Penyakitmu kambuh lagi, apa yang kau pikirkan Laksamana?” tanya nenek, matanya sudah berair dan tinggal di turunkan saja.
Audrey yang telah selesai di obati dan dipakaikan perban di kepalanya, menghampiri nenek dan memeluk nenek dari belakang.
“Nek jangan menangis” ucap Audrey mengusap bahu nenek.
Nenek tersenyum dan mengusap juga tangan Audrey yang berada di bahunya.
Raja Laksamana hanya melihatnya saja dengan tatapan lesu, dan ke dua pangeran ikut sedih melihatnya, tapi mereka sebagai pangeran dan anak lelaki tidak boleh terlihat lemah.
“Nanti akan saya kasih obat untuk meredakan sakitnya” ucap tabib sembari menyiapkan obat herbal.
Mereka semua menunggu tabib yang menyiapkan obat untuk raja Laksamana.
“Ini obat untuk raja” tabib memberikan obat herbal kepada pangeran Cleo.
Pangeran Cleo menerimanya, “Ini di minumkan kepada raja setelah makan” ucap tabib.
“Iya”
“Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu, permisi” tabib menunduk hormat lalu segera pergi.
Setelah tabib pergi pangeran Cleo segera memanggil Kris tangan kanannya raja Laksaman yang sangat di percaya oleh kerajaan.
“Iya pangeran anda memanggil saya” ucap Kris ketika sudah sampai di hadapan pangeran Cleo.
“Kau tau tentang pemberontakan tadi bukan?” tanya pangeran Cleo menatap datar Kris.
“Iya pangeran saya tau” jawabnya menunduk.
“Tapi pangeran saya sudah menyuruh para pengawal untuk mengirim bahan pangan dan kebutuhan lainnya kepada rakyat di desa tiga hari yang lalu, dan saya juga sudah memastikannya itu sudah terkirim, pangeran” jelasnya menunduk.
Semua saling pandang, “Lalu kalau sudah di pastikan kau mengirimnya kenapa bisa sampai tidak terkirim?” tanya pangeran Cleo lagi.
“Maaf pangeran saya akan cari tahu penyababnya, saya akan bicara pada pengawal yang saya suruh untuk mengirim bahan pangan” ucapnya terus menunduk.
“Baiklah kalau begitu urus semuanya dan saya tunggu kabar dari kamu, kau boleh pergi” ucap pangeran Cleo datar.
“Baik, kalau begitu saya permisi” Kris segera pergi setelah menunduk hormat.
Semuanya mengangguk dan terdiam dengan pikirannya masing-masing.
**To Be Continue....
***
Terimakasih sudah membaca dan selamat membaca di bab selanjutnya... Bye-bye**...
__ADS_1