
Kini semuanya sudah ada di kerajaan lagi, semua pasukan raja Agung di amankan termasuk raja Agungnya juga. Putri Laras dan ibunya di istirahatkan, dan pasukan raja Laksamana yang terluka sedang di obati tak terkecuali kedua pangeran dan Audrey.
Nenek menghampiri kedua cucunya dan juga Audrey yang sedang terbaring lemah, “Bagaimana apa ada luka yang parah?” tanya nenek pada tabib yang mengobatinya.
“Tidak ada ibunda, hanya saja luka gadis ini cukup parah karena tvsvkannya yang cukup dalam” jawab tabib dan membeitahu keadaan Audrey.
Nenek menatap sendu Audrey, “Audrey, cepat sembuh nak” ucap nenek mengelus surai hitam Audrey.
“N-nek....” panggil pangeran Cleo yang sudah sadar dan di susul pangeran Xelo yang juga sudah sadar.
Nenek beralih menapa kedua cucunya, “Apa ada yang sakit? Dimana yang sakitnya? Sini biar nenek lihat” ucap nenek terlihat raut wajah khawatirnya.
Pangeran Cleo hanya tersenyum saja, “Tidak ada nek, hanya saja badanku sedikit sakit” jawab pangeran Cleo.
“Xelo bagaimana denganmu?” tanya nenek, pangeran Cleo menatap adiknya yang hanya diam saja menatap Audrey yang masih belum sadar.
Nenek yang sadar dengan tatapan pangeran Xelo menghela nafas pelan, “Audrey baik-baik saja, hanya saja dia belum sadar” ucap nenek.
“Tidak, dia sedang kesakitan nek” ucap pangeran Xelo teus saja menatap Audrey.
“Dia kuat Xelo” saut pangeran Cleo.
“Tidak, dia hanya pura-pura kuat” pangeran Xelo menatap pangeran Cleo datar.
“Kau tau apa?” tanya pangeran Cleo yang juga menatap adiknya.
“Aku tau, kau kira selama ini aku tidak tau, aku tau semuanya. Emang kau sendiri tau apa, hah?” tanya balik pangeran Xelo.
Kedua pangeran saling menatap dingin satu sama lain, nenek yang melihatnya menghela nafas pelan, “hei sudah, kalian ini dalam keadaan seperti ini saja masih bertengkar” ucap nenek melerai.
“Dia duluan yang mulai” ucap pangeran Xelo bersedekap dada.
Pangeran Cleo hanya memutar bola matanya malas lalu kembali berbaring, nenek hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah mereka, dan pangeran Xelo terus saja menatap Audrey.
Sedari tadi raja Laksamana terus melihat mereka dan pandangan raja Laksamana beralih ke arah Audrey, ‘Audrey maafkan saya’ batinya lalu segera pergi untuk melihat sahabatnya eh lebih tepatnya mantan sahabatnya.
Sesampainya di tempat dimana raja Agung di penjara, raja Laksamana melihat mantan sahabatnya yang sedang di obati oleh tabib.
Ya setelah kejadian tadi memang raja Laksamana melayangkan pedangnya dan mengenai perut raja Agung setelah itu datanglah bala bantuan dari suruhan nenek.
Tabib itu yang melihat raja Laksamana segera pergi dan menunduk hormat, raja Laksamana hanya mengangguk saja lalu menghampiri raja Agung.
“Mau apa kau kesini hah?” tanya raja Agung nyolot.
“Aku hanya ingin melihat keadaan mantan sahabatku saja” jawabnya dingin dengan menekan kata mantan sahabat.
Raja Agung menatap sinis raja Laksamana, “Lebih baik kau pergi saja, aku muak melihat wajahmu” ucapnya sinis.
“Benarkah? Ku rasa nyatanya tidak seperti itu” saut raja Laksamana tak kalah sinisnya.
__ADS_1
“Terserah kau saja” raja Agung segera membaringkan tubuhnya di kasur yang di sediakan khusus untuk di penjara.
Raja Laksamana menghela nafas pelan, “Apa kau tidak mau meminta maaf padaku?” tanya raja Laksamana.
Tidak ada jawaban sama sekali dari raja Agung dan hanya ada suara angin saja, “Terserah kau saja, kau minta maaf atau tidak aku juga tak perduli” lanjutnya lalu segera pergi dan meninggalkan raja Agung sendirian.
Setelah kepergian raja Laksamana, raja Agung kembali duduk dan mentap punggung raja Laksamana yang sudah menjauh dari pandangannya, dia menghela nafas pelan.
“Masih ada rasa benci di hatiku padamu, Laksamana” gumamnya mengepalkan tangannya tapi tanpa sadar air matanya menetes membasahi wajahnya yang sudah tua tapi masih terlihat muda.
Bagaimana pun mereka sudah bersahabat dan bersama sejak mereka masih dalam kandungan dan tentu kekuatan batin mereka sangat kuat walaupun mereka bukanlah saudara kandung.
Setelah dari penjara raja Agung, raja Laksamana segera pergi ke penjara milik Yongi, dan dia melihat Yongi yang sedang terbaring lemah membelakanginya. Walaupun tadi Yongi terkena tvsvkan, untungnya tidak terlalu dalam dan masih bisa di selamatkan.
‘Maafkan saya Yongi, saya kecewa sama kamu’ batinnya lalu pergi setelah melihat bahwa putra pertamanya baik-baik saja
***
Sudah ada beberapa jam Audrey belum sadarkan diri dan selama itu pula pangeran Xelo dan yang lain menunggu Audrey untuk sadar.
‘Audrey sadarlah, kau mau aku membencimu dengan cara kau tidak sadar-sadar’ batin pangeran Xelo mengusap lengan Audrey.
“Pasti dia akan sadar” saut raja Laksamana.
Pangeran Xelo menghela nafas tanpa mau mengalihkan pandangannya dari wajah teduh Audrey, dia tersenyum tipis ketika memandangnya, ‘Cantik’ batinnya tekekeh.
Tiba-tiba putri Laras datang bersama ibunya, “Permisi, maaf mengganggu” ucap putri Laras.
“Teimakasih ibu” ucap permaisuri Kasih tersenyum.
“Kami hanya ingin minta maaf dan teimakasih” ucap putri Laras.
“Minta maaf karena apa?” tanya pangeran Cleo.
“Maaf, karena ayah sudah melakukan hal yang sangat tidak baik kepada kalian, mungkin karena ayah tidak bisa menerima kenyataan jadi melakukan hal seperti itu” jawab putri Laras menunduk tanda maaf.
“Putri, kau tidak usah seperti itu, yang salah adalah ayahmu bukan dirimu atau pun ibumu” ucap pangeran Cleo mengangkat tubuh putri Laras agar kembali berdiri tegak.
“Iya putri, apa yang pangeran Cleo katakan benar, jadi kau tak usah merasa bersalah seperti itu” saut nenek.
“Tapi bagaimana pun aku masih tetap bersalah nek, ak-“ ucapannya terpotong oleh raja Laksamana.
“Sudah yang jelas ayahmu yang salah, biarkan saja. Kau tak perlu seperi itu, ayahmu sudah memperlakukanmu dan ibumu seperti b1n4t4n9, dan kau tak perlu minta maaf untuk ayahmu, itu sama saja kau mempermalukan harga dirimu” potong raja Laksamana cepat.
Putri Laas menunduk, “Tapi bagaimana pun dia tetaplah ayahku, walaupun ayah tidak pernah menganggapku ada” ucap putri Laras sedih, dan langsung di peluk oleh ibunya.
“Sudah tidak usah kau pikirkan lagi” ucapnya sembari mengelus surai putri Laras lembut.
Pangeran Cleo yang melihatnya tersenyum, entah kenapa dia ingin sekali memeluk putri Laras ketika melihat putri Laras sedih.
__ADS_1
Sedangkan pangeran Xelo tak menghiraukan mereka dan hanya menatap wajah Audrey saja.
***
Audrey sedang duduk di bawah pohon besar dia melihat pemandangan yang sangat indah yang dimana dia belum pernah melihat sebelumnya, dia tersenyum sangat indah di bibir kecilnya.
“Hmmm indah sakali, aku belum pernah melihat pamenadangan seindah ini” ucap Audrey meregangkan tangannya menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
“Audrey” panggil seseorang dari arah samping.
Audrey menoleh ke arah sumber suara dan dia melihat seorang wanita cantik, sangat cantik sedang tersenyum ke arahnya, Audrey menghampirinya.
“Kau siapa?” tanya Audrey.
Wanita itu hanya tersenyeum saja dan menatap kearah langit, “Audrey, apa kau suka di tempat ini?” tanyanya.
Audrey menatap wajahnya yang tersenyum tapi tidak dengan aura di wajahnya, seperti aura kesedihan, dia melihat dari tatapannya yang sendu.
“Iya aku sangat suka di tempat ini, adem, nyaman, dan tenang” jawab Audrey yang juga menatap ke arah langit.
“Apa kau tidak mau kembali, Audrey?” tanyanya lagi dan kali ini menatap Audrey.
Audrey menghela nafas pelan dan menunduk, “Untuk apa aku kembali, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi” jawabnya sedih.
“Ayahku tidak tau dimana, ibu dan kakaku sudah tidak perduli kepadaku. Lantas untuk apa aku kembali lagi, aku bahagia di sini, di sini tidak ada yang membuatku sedih ataupun kecewa, dan aku suka dengan tempat ini” lanjutnya dan kembali menatap pemandangan yang sangat indah.
Wanita itu perlahan menghampiri Audrey hingga berdiri di sebelahnya, dia menepuk pundak Audrey pelan hingga sang empu menoleh ke arahnya.
“Kau masih punya kita” ucapnya.
“Masih ada yang perduli kepadamu, tidak semuanya sama seperti keluargamu. Anggaplah kami ini adalah keluargamu Audrey, aku tau kau gadis yang baik” lanjutnya tersenyum.
Audrey membalas senyumannya, “Dan ini bukan tempatmu ataupun tempatku, kita harus kembali” lanjutnya lagi yang membuat Audrey bingung.
“Maksudmu apa?” tanya Audrey bingung.
“Audrey sadarlah, sadar. Jahat sekali kau tidak sadar-sadar, sudah lama kau tidak sadar Audrey, ayo sadarlah”
Audrey melihat sekeliling ketika suara itu memanggil namanya, dia menoleh ke arah si wanita yang hanya tersenyum saja.
“Ayo pergilah ini bukan tempatmu” ucapnya dan menunjuk ke arah cahaya yang sangat terang.
Audrey melihat kearah cahaya itu, lalu kembali melihat ke arah si wanita, “Lalu bagaimana denganmu, kau akan ikut bersamaku kan?” tanya Audrey.
“Tidak, aku tidak bisa ikut bersamamu, aku terjebak di sini selamanya” jawabnya dengan tatapn sendu.
Audrey bisa merasakan bahwa si wanita sedang sedih, “Kalau kau tak mau ikut bersamku, aku pun tak akan pergi, permaisuri Dewi Xian” ucap Audrey menatap si wanita yang membuat si wanita menatap Audrey kaget.
**TO BE CONTINUE....
__ADS_1
***
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR DAN SELAMAT MEMBACA DI BAB SELANJUTNYA, JANGAN LUPA DI LIKE YA, BYE-BYE**....