
“Pangeran apakah seperti ini memegangnya?” tanya Audrey.
“Iya seperti itu, kau tinggal arahkan saja pada sasaran yang akan kau panah” ucap pangeran Cleo.
Audrey mengarahkan pada buah apel yang akan menjadi sasarannya saat ini.
Satu... Dua... Tiga
Pusshh
Anak panah sudah di lepaskan oleh Audrey, dan, “Yah melesat” ucap Audrey.
Pangeran Cleo terkekeh, “Tidak papa, kau harus mencobanya lagi, kau pasti bisa” semangat pangeran Cleo.
Audrey tersenyum, “He'em, aku pasti bisa” ucap Audrey semangat.
Dan mencoba lagi walau beberapa kali gagal, tapi itu tak membuat Audrey berhenti untuk mencobanya.
Dari kejauhan pangeran Xelo terus memperhatikan mereka berdua, “Ck dasar, payah” gumam pangeran Xelo.
“Sayang kau melihat apa sih, kau tidak mendengarkan cerita ku” ucap putri Laras kesal dan melihat arah pandang pangeran Xelo.
“Ihh kau memandangi gadis itu, sayang lihat aku saja kau tak boleh memandangi dia, kau hanya boleh melihatku, sayang!!!” ucap putri Laras kesal.
Pangeran Xelo tak menghiraukan putri Laras, dia menghampiri mereka berdua.
“Sayang... Sayang... Kau mau kemana.... Pangeran Xelo” teriak putri Laras, tapi pangeran Xelo seperti menulikan pendengarannya.
“Ihh pasti gara-gara gadis itu, awas aja akan ku balas kau huh” gumam putri Laras dan segera pergi dengan perasaan sangat kesal.
“Payah sekali” ucap pangeran Xelo bersidekap dada ketika sudah sampai di belakang mereka.
Mereka berdua menoleh ke arah belakang, “Eh pangeran Xelo, sejak kapan kau ada disini?” ucap Audrey.
“Sejak tadi” ucapnya dingin.
Sedangkan pangeran Cleo hanya diam saja.
“Kalau kau bilang aku payah, maka ajarkan aku agar aku tak payah, kata pangeran Cleo kau sangat pandai memanah, jadi ayo ajarkan aku” ucap Audrey.
“Bukan kau yang payah tapi yang mengajarimu payah” ucap pangeran Xelo melirik sekilas pangeran Cleo.
Pangeran Cleo yang tau kalau dia sedang di sindir oleh adiknya berdecak kesal, “Ck, kau meremehkan ku, kalau begitu ayo kita tanding” tantang pangeran Cleo pada sang adik.
“Huh menantang, siapa takut” saut pangeran Xelo menatap tajam pangeran Cleo.
Audrey di buat bingung sendiri oleh dua pangeran di hadapannya saat ini, mereka selalu saja berantem tak pernah akur.
“Sudah-sudah jangan berantem dong, kan Audrey yang mau belajarnya, kenapa ma-”
“Kau diam dan lihatlah saja” potong pangeran Xelo cepat memotong ucapan Audrey.
Audrey diam, pangeran Xelo mengambil panahan yang ada di tangan Audrey, sedangkan pangeran Cleo sudah ada panah di tangannya.
Pangeran Cleo menyuruh Audrey mundur, Audrey pun mundur beberapa langkah.
Mereka bersiap, Audrey menghitung nya, “Satu.... Dua.... Tiga... Lepas” ucap Audrey.
Pusshh
Dua anak panah melesat mengenai buah apel yang masih segar, hingga air dari buah apel tersebut keluar.
Pangeran Cleo dan pangeran Xelo saling menatap satu sama lain, pertandingannya tidak ada yang menang, seri.
Audrey di buat bingung lagi, “Mmmm... Wah kalian sangat hebat, hanya sekali tarikan, anak panahnya mengenai buah ap-” lagi dan lagi ucapan Audrey terpotong.
__ADS_1
“Diam” ucap pangeran Cleo dan pangeran Xelo bersamaan.
Audrey diam dan berkedip dua kali, “Iya aku diam” ucapnya.
“Kali ini tak ada yang menang” ucap pangeran Cleo.
“Tapi tidak dengan hari esok” ucap pangeran Xelo tajam, dan membuag alat panahan kasar kesembarang arah lalu segera pergi.
Audrey kaget dengan apa yang di lakukan pangeran Xelo alat panahan tersebut hingga patah dan rusak.
“Audrey kau istirahatlah, kita lanjut besok” ucap pangeran Cleo lalu segera pergi juga meninggalkan Audrey.
Audrey melihat punggung pangeran Xelo dan pangeran Cleo yang mulai menjauh.
“Huh pasti selalu seperti ini” ucap Audrey lalu dia mengambil alat panah yang tadi di pakai pangeran Cleo dan mencobanya asal.
Pusshh.... Jlebb
“Aaaaaaaaaa” teriak Audrey menutup mulutnya tak percaya.
Anak panah yang dia lepas asal ternyata mengenai buah apel nya, sangat tak percaya.
“Pangeran harus mengetahuinya” ucap Audrey girang dan segera berlari pergi.
***
“Hmmm pangeran siapa dulu yang harus ku kasih tau ya” gumamnya bingung.
Saat asik berjalan tiba-tiba ada yang menarik tangan Audrey kasar.
“Aaaaa, mmmppp” mulut Audrey di bekap oleh orang tersebut.
Audrey melotot saat tau yang menariknya, orang tersebut melihat sekeliling, di rasa aman tidak ada pengawal dan pelayan dia segera melepas bekapan dari mulut Audrey dan tersenyum miring kepada Audrey.
“Haii” ucapnya.
Ya orang itu putri Laras yang sengaja menarik Audrey.
“Kau... Jauhi pangeran Xelo dan jangan caper pada nenek, kalau aku masih melihatmu dekat dengan pangeran Xelo dan caper pada nenek siap-siap kau akan tau akibatnya, ingat itu!!” ancam putri Laras tajam pada Audrey dan segera berlalu pergi.
“Mungkin hari ini kau boleh senang tapi tidak dengan hari esok” ucapnya tersenyum smrik sebelum benar-benar pergi.
Audrey di buat diam oleh nya, ‘Apa yang akan di lakukannya padaku?’ cemas Audrey membatin.
‘Apakah aku haru bilang pada nenek, ah tidak aku takut menambah masalah baru lagi dengannya’ bantin Audrey lagi.
“Nona Audrey apa yang sedang anda lakukan disini?” tanya pelayan yang tak sengaja lewat dan melihat Audrey diam mematung.
Audrey menoleh padanya, “Ah tidak ada tadi aku hanya, mmm... Melihat lukisan ini, iya melihat lukisan ini, lukisan ini sangat cantik” alibi Audrey tersenyum kikuk.
Pelayan tersebut mengangguk paham lalu segera pamit, “Ya sudah kalau begitu aku pamit, mari nona Audrey” ucapnya lalu segera berlalu pergi.
Audrey tersenyum canggung, lalu dia juga segera pergi.
***
Selama perjalanan yang entah arah tujuan Audrey terus memikirkan perkataan putri Laras.
Jujur saja Audrey takut sangat takut, tapi dia tidak boleh menampilkan ketakutannya, apalagi yang sekarang mengancamnya adalah seorang putri raja dan juga calon tunangan pangeran Xelo.
‘Aku harus bagaimana?’ tanya Audrey membatin.
‘Tidak, aku tidak boleh takut, aku harus ingat dengan ucapan pangeran Cleo tempo hari’ batin Audrey mengingat ucapan pangeran Cleo padanya.
“Kau tidak boleh takut pada siapapun, mereka semua sama di mata tuhan, kau harus berani, apa pun yang terjadi padamu di masa yang akan datang kau harus berani melawannya.Tapi, kau harus melawan dengan cara yang elegant, ingat singa yang tertidur tidak akan terbangun jika tidak ada yang mengganggunya. Apa kau paham?”
__ADS_1
Perkataan pangeran Cleo sungguh sangat teringat jelas di dalam pikirannya.
‘Ya betul aku harus seperti singa yang tertidur’ batin Audrey berusaha meyakinkan dirinya bahwa dirinya pasti bisa dan akan baik-baik saja.
Tak sengaja sorot pandang Audrey melihat pangeran Xelo yang sedang duduk di bangku taman tempat favorite pangeran Xelo.
Audrey menghampiri pengeran Xelo yang sedang duduk sendiri.
“Pangeran” sapa Audrey dan duduk di samping pangeran Xelo.
Pangeran Xelo melirik sekilas Audrey lalu kembali menatap kedepan.
“Pangeran tau tidak?” ucap Audrey pada pangeran Xelo.
Tapi pangeran Xelo hanya diam saja tidak menyahut.
“Pangeran... Tadi aku bisa meluncurkan anak panah tepat pada sasaran lho” ucap Audrey lagi memberitahu bahwa dirinya berhasil.
Pangeran Xelo hanya memangut-mangut kan kepalanya.
“Pangeran kau tidak merespon yang lebih selain menganggukkan kepalamu” ucap Audrey yang sedikit kesal.
Pangeran Xelo pun menggelengkan kepalanya dan itu makin membuat Audrey kesal.
“Pangeran ihh, bukalah mulutmu jangan kau tutup terus” kesal Audrey.
Pangeran Xelo hanya tersenyum tipis sangat tipis.
Tiba-tiba putri Laras datang menghampiri mereka, dengan perasaan kesal.
Audrey yang melihatnya segera bangkit dari duduknya, sedangkan pangeran Xelo hanya diam saja.
Putri Laras menatap Audrey tajam, dan Audrey menunduk takut, tapi ketika dia mengingat perkataan pangeran Cleo Audrey mengangkat kepalanya dan berusaha menatap mata putri Laras.
Putri Laras memutuskan kontak mata mereka, dan dia duduk di samping pangeran Xelo.
“Sayang, ternyata kau disini aku cari dari tadi” ucap putri Laras merangkul tangan pangeran Xelo manja.
“Sayang, kita jalan-jalan yu, aku bosan di kerajaan terus” ucap putri Laras dengan manjanya.
Tapi tidak di tanggapi sama sekali oleh pangeran Xelo, Audrey yang melihat itu menahan tawanya.
Putri Laras yang tau kalau Audrey sedang menertawakannya segera menatap tajam Audrey.
“Kenapa kau ketawa? Apa yang kau tertawakan?” tanya nya kesal.
“T-tidak, tidak ada yang aku tertawakan ko putri” jawab Audrey santai.
Pangeran Xelo hanya tersenyum tipis melihat Audrey yang berhasil membuat putri Laras kesal.
“Awas saja kalau kau ketawa” ucap putri Laras.
Audrey mengangguk saja.
“Sayang ayolah kita jalan-jalan, aku sangat bosan berada di kerajaan terus” ucap putri Laras manja pada pangeran Xelo.
“Kalau kau tak mau tak apa, aku tinggal bilang pada yang mulia raja” karena tak ada respon dari pangeran Xelo, putri Laras mengancam akan mengadu pada raja Laksamana.
Pangeran Xelo mendengus kesal, “Baiklah, ayo” ucapnya dan segera bangkit dari duduk.
Putri Laras bersorak senang, “Ya sudah ayo kita jalan-jalan” putri Laras segera menggandeng tangan pangeran Xelo.
Sebelum pergi tak lupa dia tersenyum sinis kepada Audrey. Audrey yang melihatnya hanya mengangkat bahu nya acuh, lalu dia pun segera pergi.
**To be Continue...
__ADS_1
***
Terimakasih sudah membaca, selamat membaca di bab selanjutnya... Bye-bye**...